Mendapati Reno sudah nangkring di pantri sepagi ini membawa kelegaan tersendiri bagi Ageeta. Setidaknya, dia tahu absennya Reno kemarin memang karena ada keperluan di luar kantor yang harus dikerjakan, bukan karena lelaki itu sakit atau ada hal-hal yang tidak diinginkan.
Tetapi, melihat lelaki itu di sana lengkap bersama dengan laptop dan map-map tebal berisi berkas-berkas penting tetap saja membuat Ageeta merasa penasaran. Karena tidak biasanya Reno melakukan itu. Sependek pengetahuannya, lelaki itu cukup strict kalau soal ruang kerja. Ageeta sendiri pernah diwanti-wanti untuk tidak memindahkan barang apa pun dari meja kerja Reno. Tidak peduli meski berpindahnya hanya satu senti. Akan susah mencarinya nanti, kata lelaki itu.
Karena enggan menyimpan rasa penasaran hanya di kepala, Ageeta mendekat, tanpa ragu bertanya. Tentu saja dengan gayanya yang khas, yang kadang-kadang membuatnya dihadiahi jitakan sayang oleh atasannya itu.
Begini cara ia bertanya, “Pak Reno lagi pindahan apa gimana, deh?” sambil melirik tipis-tipis pada tumpukan map yang sekali lihat saja dia sudah tahu tidak akan memahami isi di dalamnya.
Ditodong pertanyaan tiba-tiba begitu, terlebih saat dirinya sedang serius bekerja, membuat Reno sedikit terkejut. Kepalanya mendongak dengan gerakan cukup tiba-tiba, menimbulkan bunyi gemeletuk pertanda telah terjadi pergeseran tulang yang tidak dikehendaki.
Reno meringis, memegangi leher bagian belakang sambil memejamkan mata. Kemudian, setelah dirasa nyeri di lehernya sedikit mereda, dia membuka matanya lebar-lebar. Melotot pada Ageeta hingga bola-bola di dalam kelopak matanya nyaris berlarian keluar.
“Bisa nggak jangan ngagetin?” kesalnya.
Ageeta sudah terbiasa dengan respons Reno yang galak-galak seksi itu, jadi yang dia lakukan hanyalah menganggapnya angin lalu, sekonyong-konyong menarik kursi dan duduk di hadapan lelaki itu.
“Mejanya kecil gini, emang bisa konsen kerja?” tanyanya lagi seraya memperhatikan area meja tempat Reno mengungsi. Memang tidak banyak spot tersisa setelah diisi laptop dan seabrek berkas itu.
“Terpaksa,” sahut Reno. Nadanya masih ketus.
“Emangnya ruangan Pak Reno kenapa, sih? Kena banjir?”
Mendengar itu, Reno semakin sewot. Tangannya sudah meraih map di tumpukan paling atas, siap menggunakannya untuk menggeplak kepala Ageeta. Namun, gadis itu sudah lebih dulu melindungi kepalanya dengan kedua tangan sehingga ia urung melaksanakan niat.
Tetapi bukan itu sebenarnya yang membuat Reno tidak jadi memberi Ageeta hadiah. Ketika gadis itu menggunakan kedua tangannya untuk meng-cover kepala, Reno malah tidak sengaja melihat telapak tangannya terluka.
“Kenapa tangan kamu?” tanpa seizin sang empunya, Reno menarik kedua tangan Ageeta. Memperhatikan lecet kemerahan di sana. “Habis akrobat?” sambungnya, seraya menatap khawatir. Tetapi raut wajahnya masih galak.
“Jatuh,” jawab Ageeta jujur. Tanpa mengurangi rasa hormat, ia menarik kedua tangannya menjauh. “Pertanyaan saya belum dijawab. Ruangan Bapak kenapa?”
“AC-nya rusak.” Reno menjawab ketus. Sejatinya bukan karena kesal lagi pada Ageeta, itu adalah caranya untuk menekan rasa khawatir terkait luka di tangan gadis itu. Ia tahu Ageeta tidak akan mau membahasnya lagi, jadi Reno tidak akan mendesak. Setelah ini, dia akan mencecar Laras, meminta perempuan menggantikan Ageeta menceritakan semuanya.
“Rusak? Udah panggil tukang servis?”
“Udah.” Singkat, padat, udah. Reno kembali sibuk dengan pekerjaannya, membiarkan Ageeta tetap berada di posisinya asal gadis itu tidak mereog tiba-tiba.
Beberapa saat, keadaan begitu tenang. Ageeta tidak berbuat ulah, Reno pun bisa dengan nyaman dengan pekerjaannya. Sampai lama-lama Reno merasa awkward sendiri karena Ageeta tidak kunjung beranjak dari posisinya.
“Kamu lagi nggak ada kerjaan?” tanya Reno.
“Enggak.”
“Kalau gitu,” map ditutup, Reno mengeluarkan kartu debit dari dompet, menyurukkannya pada Ageeta. “Tolong ke coffee shop depan, beliin saya kopi sama butter croissant.”
Ageeta memandangi kartu debit tersebut cukup lama, nyaris tidak berkedip.
“Kan bisa pakai kartu kredit perusahaan. Anak-anak biasanya pakai itu kok kalau jajan,” herannya. Masih enggan mengambil kartu milik Reno.
“Saya mau bayar sendiri,” sahut Reno. Sebab Ageeta tak kunjung menerima kartunya, ia menarik tangan gadis itu lagi, meletakkan kartunya di telapak tangan sang gadis. “Sana, pergi. Beli sesuatu juga buat kamu.”
“Cafe Latte, kan?”
“Betul. Upsize, less sugar.”
“Oke.” Ageeta memundurkan kursi lalu berdiri. Kartu dimasukkan ke saku seragam bagian depan, memastikan benda itu aman sampai nanti dikembalikan.
Sudah putar badan dan mendapat tiga langkah, Ageeta mengerem mendadak. Berbalik cepat lalu bertanya, “PIN-nya berapa?”
“280119.” Tanpa menoleh Reno menjawab. Sudah kembali sibuk menekuri laptopnya.
Enam digit angka itu Ageeta hafal di kepala, sambil merajut kembali langkahnya untuk melaksanakan tugas sebelum Reno masuk ke mode reog lagi. Dan di tengah-tengah langkahnya itu, Ageeta mendapatkan pertanyaan baru di kepalanya. Kira-kira, enam digit angka yang digunakan sebagai PIN ATM Reno itu, tanggal apa ya?
...****************...
“Saya kan suruh kamu beli sesuatu juga buat kamu.” Reno mendesah panjang usai Ageeta kembali padanya hanya membawa satu cup kopi dan sepotong butter croissant pesanannya.
“Saya udah kenyang,” sahut Ageeta. Kartu debit yang disakui, dia kembalikan kepada sang empunya. “Jangan lupa ganti PIN-nya,” susulnya.
Reno mengambil kartunya sambil menaikkan satu alisnya, heran. “Kenapa?”
“Kok kenapa? Ya biar aman, lah.” Sahut Ageeta setengah sewot.
“Emang PIN yang sekarang enggak aman?” tanya Reno santai. Lelaki itu merogoh kantong berisi butter croissant, mulai mengunyahnya perlahan-lahan.
“Udah enggak aman, lah. Bapak udah kasih tahu saya. PIN-nya jadi udah enggak rahasia.” Tutur Ageeta.
Setelah mengetahui titik permasalahannya, Reno hanya mengedikkan bahu. “Itu tanggal penting, sayang kalau harus diganti. Lagi pula, cuma kamu yang tahu PIN-nya, jadi saya rasa enggak masalah.” Jelasnya. Dan dia bersungguh-sungguh, baik soal tanggal yang penting maupun soal hanya Ageeta yang tahu PIN ATM-nya.
Beberapa lama, Reno masih tak kunjung mendengar Ageeta menyahuti omongannya. Dan ketika ia meninggalkan butter croissant yang sisa setengah untuk sekadar mencari tahu apa yang gadis itu tengah lakukan, Reno malah dibuat bingung dengan ekspresi yang terpajang di wajah sang gadis.
“Kenapa ekspresi kamu begitu?” todongnya. Sebelum Ageeta sempat menjawab, ia menyambung lagi. “Jangan bilang kamu punya niatan buat maling kartu saya dan nguras semua isinya?”
Merasa tertuduh, Ageeta sontak menyalak, “Mana ada! Gila kali saya!” tubuhnya pun bergerak heboh. Seakan benar-benar tidak ingin dirinya dicurigai untuk sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas di kepalanya.
“Kalau kamu emang nggak ada niat buat maling kartu saya, ya udah, berarti nggak ada yang perlu saya khawatirkan.” Berbanding terbalik dengan Ageeta yang super heboh, Reno masih stay calm, malah kembali mengunyah butter croissant dan menyedot kopinya sedikit.
Sudah kadung speechless, Ageeta tidak menyahut lagi. Ditinggalkannya Reno bersama segala hal di dalam dunia lelaki itu. Memutuskan mencari kegiatan lain daripada dibuat naik darah dengan the one and only Reno Irvansyah yang tidak pernah mau kalah dalam setiap perdebatan.
Mengambil lap dari sisi meja, Ageeta mulai membersihkan area counter yang dipenuhi bubuk-bubuk kopi dan gula. Ada juga potongan-potongan plastik, entah potongan dari kemasan snack atau kopi instan yang tidak turut terbuang ke tempat sampah.
Karena tidak terbiasa melihat area counter berantakan, Ageeta membereskan semuanya sambil mengoceh. Mendumal layaknya emak-emak yang kesal karena anak-anaknya tidak disiplin mengerjakan pekerjaan rumah.
“Pada rusuh amat sih bikin kopinya, meluber ke mana-mana!”
Dari tempatnya uduk, Reno menyeletuk, “Grogi kali mereka karena ada saya di sini.”
Walaupun bibirnya berkomat-kamit dan hatinya bergemuruh menyuarakan banyak sekali umpatan, Ageeta juga diam-diam mengamini. Memangnya siapa yang tidak akan grogi kalau ada atasan galak seperti Reno di area sekitar? Masih mending mereka bisa tetap berdiri tegap. Kalau yang lemah iman, rasa-rasanya bisa sampai mengompol di celana!
“Ya lagian Bapak ngapain ngungsi ke sini, sih? Padahal ruangan di kantor ini ada banyak. Ruang meeting kecil yang di lantai tujuh kan kosong, kenapa nggak ke sana aja?” cerocosnya.
“Saya maunya di sini. Kenapa? Kamu keberatan?”
Mendengar pertanyaan sarkas itu, Ageeta membanting lapnya kemudian berbalik cepat sambil berkacak pinggang.
“Ada gitu hak saya buat merasa keberatan?”
“Nggak ada,” sahut Reno tanpa berpikir sama sekali. “Makanya, kamu diem aja, nggak usah protes. Kecuali kamu mau jidat kamu saya sentil lagi sampai bolong.”
Lagi-lagi Ageeta hanya bisa berkomat-kamit tanpa suara. Kembali berkutat dengan serbuk-serbuk kopi di counter yang rasanya tidak ada habisnya meski sudah dia lap susah payah.
Sementara itu, jauh dari balik pintu pantri yang terbuka setengah, ada Laras yang memperhatikan setiap pertikaian kecil yang terjadi antara Reno dan Ageeta. Perempuan itu berdiri di sana dan berkali-kali menggelengkan kepala seraya tersenyum penuh arti. Bolak-balik mengalihkan pandang dari Reno ke Ageeta, dari Ageeta ke Reno dan begitu seterusnya.
“Dasar Tom and Jerry. Kalau jauh nyariin, kalau dekat ada aja yang didebatin.”
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Dewi Payang
Ya ampun mulutnya si Reno😄
2024-07-12
0
Dewi Payang
tanggal penting pernikahaan
2024-07-12
0
Dewi Payang
Cieee traktir ceritanya🤣
2024-07-12
0