Tatkala menemukan Reno kembali ke ruangannya dengan langkah gontai dan wajah yang ditekuk, Laras tahu pertemuan lelaki itu dengan Darius tidak berjalan mulus. Mereka pasti kembali membahas sesuatu yang serius, sesuatu yang seharusnya tidak lagi diungkit karena beberapa waktu ini, Reno telah menjalani kehidupannya dengan baik.
Melemparkan berkas-berkas untuk meeting selanjutnya ke tangan rekan yang lain, Laras melipir dengan alasan hendak mengambil berkas lain yang tertinggal di ruangan Reno. Rekan-rekannya tidak akan menaruh curiga, sebab mereka sudah cukup tahu bahwa Laras adalah salah satu yang paling diandalkan oleh Reno setiap harinya.
“Jangan lama!” seru salah seorang rekannya, mengingatkan untuk tidak membuang waktu karena meeting akan dimulai dalam 30 menit ke depan.
Laras berbalik, mengangguk dan mengacungkan jempol lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangan Reno. Tanpa mengetuk pintu dan mengucap permisi, ia menerobos masuk, hanya untuk menyaksikan Reno baru hendak berbaring di atas sofa.
“Ada apa?” tanya lelaki itu. Nadanya lesu, seperti manusia yang seluruh tetes darahnya barusan habis disedot vampir.
“Ada apa?” Laras balik bertanya.
“Kamu yang kenapa? Kok malah balik tanya.” Reno urung membaringkan tubuhnya, bergeser jauh ke sisi kiri demi memberikan ruang bagi Laras untuk ikut duduk di sofa.
“Muka Bapak lesu banget, abis ngobrolin apa sama Pak Direktur?”
Menghela napas selalu menjadi awalan. Seperti sebuah ritual khusus yang wajib dilakukan sebelum masuk ke dalam obrolan yang serius dan memusingkan. Lalu sambil mengibaskan tangan, Reno menjawab, “Biasalah.”
“Dasar orang tua, nggak pernah paham sama situasi!” usai berdecak sebal dengan bola mata yang berotasi, Laras mengomel sesuka hati. Akan kedengaran tidak sopan baginya untuk mengomel seperti itu kepada sang Direktur Utama, tetapi Laras tidak cukup peduli untuk mengurungkan hasrat mengomelnya. Ini juga bukan yang pertama, sudah sering ia mengomel bahkan langsung di depan wajah Darius.
Lama keadaan menjadi senyap setelah Laras selesai mengoceh. Perempuan itu lalu mulai sibuk dengan rencana-rencana untuk membantu Reno berhenti mendapatkan gangguan dari Darius, terutama ketika mereka masih dalam lingkup perusahaan. Sedangkan Reno sendiri sudah kembali membiarkan pikirannya melayang jauh, memutar kembali memori dari kejadian beberapa saat lalu ketika dirinya memaksa Ageeta untuk mengaku.
Lalu, embusan napas panjang yang keluar secara bersamaan dari mereka membuat keduanya serempak menoleh ke arah masing-masing. Mata mereka terpaku pada titik yang sama, diam beberapa detik untuk kemudian menghela napas lagi dengan lebih berat dan panjang.
“Saya tadi ketemu Ageeta,” dan Reno menjadi yang pertama mengungkap isi kepala. Pandangannya ditarik, berlabuh pada lukisan besar di dinding ruang kerja yang entah hasil karya siapa. Ia tidak terlalu mengerti seni, hanya menerima dengan senang hati ketika Noa mengirimkan lukisan itu sebagai hadiah untuk bergabungnya ia di perusahaan ini.
“Saya tanya kenapa dia menghindar terus dari saya,” sambungnya. Netranya masih menatap lekat lukisan pemberian Noa, sementara isi kepalanya kembali penuh dengan sosok Ageeta.
“Terus? Dia jawab apa?”
Lagi, Reno membuang napas kasar, lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Kepalanya mendongak, matanya terpejam. “Dia tahu soal Scarlett,” ungkapnya.
Detik itu juga, Laras menahan napas. Ia tahu tidak ada satu rahasia pun yang akan bertahan selamanya. Ia tahu cepat atau lambat Ageeta memang akan tahu semuanya. Akan tetapi, Laras tidak pernah menduga bahwa akan secepat ini semuanya terungkap. Tidak pernah ada di dalam rencananya untuk membiarkan Ageeta tahu sendiri, alih-alih diberitahu olehnya atau oleh Reno sendiri.
“Kok bisa?” menjadi satu-satunya pertanyaan yang bisa Laras sampaikan di antara banyaknya pertanyaan lain di kepala.
Setelah beberapa waktu terdiam menenangkan diri, Reno menegakkan kembali tubuhnya dan mulai menceritakan semuanya dari awal. Mulai dari tindakan impulsifnya menyeret Ageeta ke gudang penyimpanan yang disaksikan oleh beberapa orang, sampai ketika gadis itu akhirnya mengungkapkan secara gamblang alasan mengapa ia menghindar. Bibirnya lancar sekali memuntahkan kata demi kata, tidak seperti ketika bersama Ageeta; kelu dan beku.
“Tunggu,” di tengah-tengah cerita, Laras memotong. Otaknya yang tidak bodoh-bodoh amat mulai mencerna adanya kejanggalan sewaktu Reno menyebut-nyebut soal istri dan menjadi family man. Dan dari sepenggal cerita yang belum selesai itu, ia dapat menyimpulkan bahwa Ageeta tidak sepenuhnya tahu tentang Scarlett.
“Betul.” Kepala Reno mengangguk, menyetujui apa yang ada di pikiran Laras kendati perempuan itu belum benar-benar mengucapkannya. Menjadi dekat dalam kurun waktu beberapa tahun membuatnya mulai bisa berkomunikasi dengan gadis itu meski tanpa kata. “Ada bagian yang missed, yang itu artinya, dia nggak tahu soal Scarlett secara utuh dari orang lain. Bisa jadi dia cuma nggak sengaja ngeliat saya jalan sama Scarlett, lalu menyimpulkan sendiri tanpa mau repot-repot bertanya.”
Sejenak, Laras terdiam dengan otak yang bekerja lebih keras. Jika Ageeta memang belum tahu semuanya secara utuh, maka itu adalah kesempatan yang lebih bagus. Ini bisa dimanfaatkan untuk membuka jalan bagi Reno mengungkap segalanya, alih-alih membiarkan Ageeta tahu lebih banyak tanpa pantauan mereka berdua.
“Kalau gitu....” Laras menggeser duduk dan mencondongkan tubuhnya ke arah Reno, lalu mulai membisikkan sesuatu di telinga lelaki itu.
Sang adam mendengarkan dengan saksama setiap kata yang terlontar, memprosesnya dengan benar dan teliti di dalam kepala sampai kemudian Laras selesai dengan seluruh rencana.
Begitu Laras menarik kembali tubuhnya dan netra mereka bisa kembali bertatapan, satu pertanyaan lolos begitu saja dari belah bibir Reno. “Kamu yakin nggak apa-apa?” sebab jauh di benaknya, masih menggunung ragu yang sulit sekali diusir pergi.
Berbanding terbalik dengan Reno yang diselimuti keraguan, Laras mengangguk mantap dengan penuh keyakinan. Tidak ada rencana yang lebih sempurna dari ini, dia yakin.
“Saya bantu eksekusi sore ini juga. Saya yang buka gerbangnya, Bapak yang urus sisanya. Gimana?”
Usai berpikir lagi selama beberapa detik, Reno akhirnya mengangguk setuju. Tidak ada salahnya mencoba, ide yang Laras usulkan tidak kedengaran buruk. Kalaupun respons yang Ageeta berikan pada akhirnya meleset jauh dari dugaan, itu tetap lebih baik daripada harus membiarkan gadis itu terus-menerus salah paham.
“Makasih, Ras. Memang cuma kamu yang bisa saya andalkan.”
...****************...
Sesekali dalam beberapa bulan, Laras akan mengajaknya untuk menghabiskan Jumat malam berdua. Sekadar nongkrong di cafe-cafe hit untuk menikmati menu-menu baru seraya mendengarkan live music, pergi ke tempat karaoke, atau ke mal untuk nonton film di bioskop. Karena sudah terbiasa dan tidak ada yang aneh dengan itu, maka kali ini pun Ageeta menerima ajakan Laras dengan senang hati.
“Kita ke mana dulu?” tanyanya. Laras yang berjalan di sampingnya seraya menggamit erat lengannya itu sedang asyik memulaskan lipstik merah menyala. Tak terusik sama sekali walau postur tubuh mereka yang berbeda membuat langkah tidak stabil dan mengganggu jalannya pengaplikasian lipstik. Perempuan itu tetap berhasil memulas bibirnya dengan sempurna.
“Makan dulu yuk, lapar.”
“Oke.” Ageeta mengangguk tanpa banyak perlawanan. Ke mana pun Laras membawanya pergi hari ini, akan ia jabani. Hitung-hitung merilekskan pikiran dari banyaknya beban yang dia tampung sendirian.
Satu demi satu langkah mereka terus beradu, bersahutan menyusuri basemen untuk sampai di lokasi Laras memarkirkan mobilnya. Kemudian, ketika sedikit lagi mereka tiba, Laras tahu-tahu mengerem mendadak, membuat Ageeta turut terhuyung ke belakang lalu ikut berhenti bergerak.
"Kenapa?" tanyanya heran.
Disaksikannya Laras menepuk jidatnya begitu keras. Ia yakin, tidak lama lagi akan muncul bekas tangan kemerahan di jidat perempuan itu yang seputih porselen.
"I forgot my wallet," ucap Laras dramatis.
"Ya udah, ayo kita ambil." Ageeta sudah putar balik, membawa serta tangan Laras di genggamannya, hendak menyusuri jalan kembali ke ruang kerja perempuan itu untuk menemukan dompetnya.
Namun, langkahnya tertahan tatkala Laras malah melepaskan tangannya cepat-cepat. Kemudian, Ageeta tidak diberi waktu sedetik pun untuk menggaungkan penolakan ketika Laras menyerahkan kunci mobil miliknya.
"Tunggu di mobil aja, I'll be right back!" seru Laras. Posisinya sudah berlarian meninggalkan Ageeta yang masih cengo di tempatnya. Heels tujuh senti yang melekat di kakinya seolah bukan hambatan besar, ia bisa mengayuh langkahnya cepat tanpa kelihatan oleng sama sekali.
Setelah menghilangnya Laras dari pandangan, Ageeta mengawali pergerakannya dengan helaan napas panjang. Tanpa menaruh curiga, ia lantas betulan datang ke mobil Laras, membuka pintu dan langsung duduk di kursi penumpang. Tas besar kebanggaannya dititipkan di jok belakang, menyisakan dirinya bersama ponsel yang dalam sekejap telah menyita seluruh perhatian.
Satu detik, dua detik, lima detik, sampai mungkin hanya memakan waktu sepuluh detik setelah ia tenggelam dengan ponselnya, Ageeta dibuat tersentak tatkala pintu mobil sebelah kanan dibuka tiba-tiba. Ia pikir itu Laras, walaupun agak aneh karena kedatangannya terlalu cepat daripada yang seharusnya.
Tetapi, ketika ia menoleh, yang Ageeta temukan justru adalah sosok yang masih ingin dia hindari untuk beberapa waktu ke depan; Reno.
"Bapak ngapain?!" tanyanya panik. Tangannya secara refleks meraih handle, hendak melarikan diri. Tetapi tak berhasil, pintunya sudah lebih dulu terkunci.
"Pak!" serunya lagi, namun tetap tidak ditanggapi. Malahan, Reno mulai menyalakan mesin, memasang seatbelt dengan gerakan cepat dan tahu-tahu saja mobil yang mereka tumpangi sudah melesat meninggalkan posisi awal.
"Pak Reno udah gila, ya?! Ini kita mau ke mana?!" sembari memasangkan seatbelt ke tubuhnya sendiri, Ageeta masih berusaha untuk menemukan jawaban atas tindakan Reno yang di luar perkiraan.
"Ketemu anak saya."
"HAH?!"
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Dewi Payang
Ngapain pak Retno ajak si Ageeta ketemu anaknya.
2024-08-06
1
Dewi Payang
tuh kan....
2024-08-06
1
Dewi Payang
Apa ini salah satu rencana hasil bisik2 tadi?🤭
2024-08-06
1