Hati riang, tidur pun tenang. Kira-kira, mungkin begitulah yang tengah Ageeta rasakan. Setelah beberapa hari sempat mengalami insomnia, tidurnya semalam sangat nyenyak usai menerima kabar bahwa Reno telah sampai di rumah dengan selamat. Tak hanya itu, tanpa diduga, Reno juga menyempatkan diri mengucapkan selamat tidur. Katanya, “Tidur yang nyenyak, Git. Semoga besok bisa bangun dengan keadaan fisik dan jiwa yang lebih baik dan bersemangat.”
Katakanlah Ageeta lebay, dia tidak keberatan. Tetapi sebagai seseorang yang sudah lama tinggal sendirian, diberikan perhatian sekecil itu juga sudah membuat hatinya nyaman. Dipikir-pikir, Reno juga adalah orang pertama yang melakukannya. Ageeta punya banyak teman dan kenalan selama bekerja, tetapi hampir tidak ada satu pun di antara mereka yang masih peduli pada kehidupannya ketika tidak sedang dalam jam kerja.
Pagi ini, sesuai harapan yang Reno paparkan melalui pesan singkat, Ageeta benar-benar bangun dengan kondisi fisik dan jiwa yang sehat. Ini mungkin adalah kondisi paling baik selama ia hidup. Segar bugar, sama sekali tidak mengeluhkan rasa pegal atau datangnya kantuk yang masih bergelayut di kelopak mata.
Dengan langkah yang melambung-lambung, Ageeta berjalan menuju locker room. Masih sepi, sebab jam memang baru menunjuk pukul tujuh pagi. Kerajinan, memang. Biarkan saja, kalau sedang bahagia, memang suka ada-ada saja kelakuannya.
Usai meletakkan tasnya di loker, Ageeta segera memeriksa ponselnya. Biasanya, group chat khusus yang dia buat sudah akan penuh dengan beragam request sejak malam sebelumnya. Tetapi hari ini, tumben sekali belum ada seorang pun yang mengajukan request. Maka, Ageeta berinisiatif bertanya. Satu dua orang membalas cepat, beberapa anggota lain membalas dalam waktu lebih dari enam menit, beberapa lagi masih tidak ada yang merespons karena mungkin belum bangun.
“Apa-apaan, kok tumben pada kompak nggak request apa pun?” gumamnya heran. Sebab dari sekian banyak yang menjawab, semuanya kompak bilang tidak. Seakan-akan sudah janjian, dan hanya Ageeta yang tidak diberi tahu cara mainnya.
Meskipun keheranan, Ageeta lagi-lagi tidak mau ambil pusing. Akan dia anggap hari ini adalah harinya untuk melanjutkan kedamaian jiwa dan raga. Tidak banyak request artinya dia bisa meluangkan waktunya untuk melakukan hal lain, benar?
Kebetulan, hari ini adalah jadwalnya Ageeta mengecek stok keperluan kantor di pantri. Mulai dari gula, kopi sampai camilan, semuanya tidak boleh ada yang telat diisi ulang. Kalau tidak, seluruh penanggung jawab logistik akan kena semprot.
Berbekal aplikasi notes di ponsel, Ageeta mulai mengabsen satu persatu laci penyimpanan, mencatat apa-apa saja yang habis sekaligus kuantitas barang yang harus dibeli. Tugas berbelanja di supermarket bukanlah miliknya, Ageeta hanya perlu membuat list untuk kemudian diserahkan kepada rekannya yang lain.
Kurang dari lima belas menit, Ageeta sudah selesai. Ia juga sudah memeriksa ulang sebelum mengirimkan list yang telah dia buat. Setelah itu, dia mulai beralih membereskan area counter dan meja tempat Reno biasa nongkrong.
Oh, omong-omong soal Reno...
“Aduh!” Ageeta menepuk jidatnya keras-keras setelah baru mengingat sesuatu. Melemparkan lapnya asal, ia bergegas berlarian keluar dari pantri, kalang kabut memencet tombol lift.
Semalam, Reno meminta tolong padanya untuk mengecek ruang kerja lelaki itu untuk memastikan air conditioner di sana sudah berfungsi dengan baik. Nasib baik Ageeta segera ingat, kalau tidak, bisa buyar sudah semua afirmasi positif yang dia bawa ke dalam dirinya hanya karena mendengar Reno mengoceh begitu lelaki itu tiba.
Sesampainya di ruang kerja Reno, air conditioner langsung dinyalakan. Ageeta berdiam diri di sana cukup lama, memastikan udara dingin yang keluar menyebar sempurna ke seluruh sudut tanpa ada yang terlewat. Seperti yang sudah dia ketahui, tangannya dibiarkan diam, tidak geratakan menyentuh apa pun terlebih yang ada di atas meja kerja Reno.
Akan tetapi, Ageeta tidak bisa menahan diri dari rasa penasaran tatkala menemukan sebuah pigura foto yang terpajang di meja lain dekat meja kerja utama. Jadi, meskipun dirasa agak lancang, Ageeta tetap berjalan mendekat ke arah meja tersebut. Tanpa berani menyentuh, ia hanya memperhatikan pigura yang membingkai foto berusia empat orang pemuda dengan latar bangunan pura. Ageeta duga, itu diambil di salah satu tempat wisata di Bali.
“Ini Pak Bas, kan?” gumamnya, menunjuk salah seorang di antara empat pemuda di dalam foto. Salah satu yang mengenakan kemeja biru dengan garis vertikal warna putih yang lengannya dilipat sampai sebatas siku, memakai kaca mata, berambut ikal kecokelatan dan berpose seperti anggota band metal.
Satu orang lagi yang berambut gondrong, berhidung tinggi, mengenakan kaus hitam tanpa lengan yang memamerkan otot-otot bisep yang menakutkan, adalah sepupu Reno. Ageeta tidak ingat siapa namanya, tetapi lelaki itu pernah beberapa kali berkunjung ke kantor ini membawa serta putri kecilnya yang berumur 3 tahun.
Yang satu lagi, Ageeta tidak kenal. Lelaki berambut hitam dengan bola mata mirip boba dan bibir semerah darah itu belum pernah Ageeta lihat sebelumnya. Mungkin seorang teman dekat yang sekarang tidak tinggal lagi di kota yang sama?
“Pak Reno kalau lagi sama teman-temannya kelihatan happy banget, ya. Beda kalau lagi di kantor, nggak enak mulu air mukanya,” cetus Ageeta lagi. Cukup lama ia mendiami sosok Reno yang tersenyum cerah di foto tersebut. Rasa-rasanya, ia belum pernah melihat lelaki itu tersenyum secerah ini secara langsung. Sepertinya akan menyenangkan untuk melihatnya, apalagi kalau dialah yang menjadi penyebab terbitnya senyum indah itu.
“Ah....” Ageeta mendesah, lantas menepuk pipinya pelan. Lagi-lagi, dia terlalu larut dalam kekagumannya pada sosok Reno. Kalau diteruskan, dia mungkin akan mulai mengkhayalkan yang aneh-aneh lagi. Maka, sebelum itu terjadi, Ageeta segera menegakkan punggungnya, berjalan menjauh dari pigura foto yang sudah menghipnotisnya.
Dirasa sudah cukup memastikan air conditioner di sana bekerja dengan baik, Ageeta memutuskan pergi. Membawa serta potret tawa Reno di dalam kepalanya. Hanya bisa berharap semoga itu cukup untuk dia gunakan sebagai penyemangat saja, tidak untuk menghantuinya dan mendatangkan ilusi-ilusi aneh seperti yang hampir terjadi pada dirinya.
...****************...
Saya taruh bubur ayam di meja pantri, buat kamu.
Langkah Ageeta terhenti. Berkali-kali dia ulangi membaca pesan yang Reno kirimkan beberapa saat lalu, ketika ia baru saja kembali dari ruang meeting mengantarkan kopi untuk tamu yang tempo hari memberinya gantungan kunci.
Oh, makasih banyak, Pak. Balasnya, walaupun sebenarnya dia ingin bertanya dalam rangka apa lelaki itu membelikannya bubur ayam. Ini juga sudah bukan jamnya sarapan, sudah jam 10 lewat, sudah kesiangan.
Tidak ada balasan lagi dari Reno, Ageeta juga tidak berharap lelaki itu akan meluangkan waktu untuk membalas mengingat pekerjaannya mungkin masih terlalu banyak untuk diurusi. Jadi, sambil mengantongi lagi ponselnya dan memeluk nampan bekas mengantar kopi, Ageeta kembali berjalan menuju pantri.
Sesampainya ia di pantri, matanya langsung tertuju pada meja bundar tempat biasa Reno nongkrong. Lantas dirinya dibuat keheranan karena tidak menemukan bubur ayam dibungkus sterofoam seperti yang biasa dia beli dari abang-abang yang mangkal di depan. Sebagai gantinya, yang ia temukan di sana adalah dua susun kotak makan tahan panas berwarna navy, sebuah botol minum warna senada, dua botol kecil vitamin dan... kertas note.
Ageeta menyambut kertas note kuning gonjreng itu, membaca baris kalimat yang ditulis tangan.
Cuaca lagi nggak oke akhir-akhir ini, pastiin banyak minum air putih sama konsumsi vitamin biar kondisi tubuh tetap terjaga.
“Emangnya wajar, ya, seorang General Manager seperhatian ini sama office girl?” monolognya. Sungguh, Ageeta tidak ingin berimajinasi terlalu jauh, tetapi perlakukan Reno terhadap dirinya beberapa waktu terakhir membuatnya mau tidak mau jadi mulai mempertanyakan banyak hal.
“Nggak wajar.”
“Astaga!” nyaris saja Ageeta melayangkan pukulan ke wajah Laras, saat tahu-tahu saja perempuan itu sudah berada di belakangnya, ikut mencuri pandang pada kertas memo yang dia pegang.
“Mbak Laras! Ngagetin aja!” tegurnya. Karena tidak sampai memukul wajah perempuan itu sebagai gerak refleks, Ageeta beralih melayangkan pukulan cukup keras ke lengannya.
Laras meringis, mengusap-usap lengannya yang dibalut blouse warna khaki. Tak lama berselang, perempuan itu malah menerbitkan senyum meledek seraya menaik-turunkan kedua alis.
“Apa?” tantang Ageeta. Sudah tahu bahwa Laras tidak akan membiarkan momen ini terlewat begitu saja.
“Ini nggak wajar,” bisik perempuan itu, tepat di telinga Ageeta, membuatnya bergidik ngeri.
“Nggak ada sejarahnya General Manager mau repot-repot beliin makanan sama vitamin buat karyawan di bawah pimpinannya kecuali...”
“Kecuali apa?” sela Ageeta. Tak membiarkan Laras semakin menjadi-jadi dengan spekulasi yang bisa-bisa akan membuat angannya benar-benar terbang ke udara. “Nggak usah aneh-aneh Mbak Laras, ini cuma karena Pak Reno lagi baik aja.”
Laras mencebik, tak setuju. “Sebaik-baiknya Pak Reno, nggak pernah tuh traktir aku makan siang? Padahal kalau ada apa-apa, selalu aku yang dicari.”
“Itu karena Mbak Laras nyebelin,” omel Ageeta. Cepat-cepat dia memasukkan memo ke dalam saku seragamnya, lalu membawa kotak makan dan botol minum serta vitamin menjauh dari Laras yang mulai mengoceh tidak jelas.
“Cie ... diperhatiin sama GM kecintaan sejuta umat...,” ledek Laras di belakang.
Ageeta mengoceh balik, seakan tidak terima diledek sedemikian rupa oleh Laras. Padahal diam-diam, ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Entah sedang kesambet setan baik dari mana, tetapi Ageeta bersyukur karena Reno sudah mau bersikap baik kepada dirinya.
“Awas, Git, berdoa dulu sebelum makan, takutnya ada jampi-jampinya!”
“Bodo amat!!!”
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Dewi Payang
Ga pa2 dijampi jampi😄
2024-07-21
0
Dewi Payang
Bakal jadi bulan2an ini😁
2024-07-21
0
Dewi Payang
Bahaya Ageeta, cemburu tar bininya😁
2024-07-21
0