"Kalian semua pasti sudah pernah melihat Para Pemberitahu," ujar Calliope perlahan, sambil berjalan menyusuri meja para murid.
"Dan beberapa dari kalian...., bahkan pernah punya pengalaman dengan mereka. Tapi apakah kalian tahu, apa sebenarnya mereka itu? Apakah kalian tahu, apa yang mereka bisa lakukan?" ujar Calliope sambil matanya mengawasi Myra.
Bergosip!... Myra menjawab dalam hati. Dia teringat kembali drngan apa yang pernah Ignatius katakan pada malam pertempuran itu. Myra masih merasa kurang nyaman untuk memberikan jawaban, karena dia baru saja masuk ke Laware. Tapi tidak ada seorang murid pun yang tahu akan jawabannya, perlahan Myra mengangkat tangannya.
"Yup!.... Myra..." ujar Calliope sambil memiringkan kepalanya.
"Mereka membawa pesan.... Tapi mereka tidak berbahaya," ujar Myra percaya diri menjawabnya, sambil mengingat kembali apa yang Ignatius katakan.
"Hm... Membawa pesan? Benar!... Tapi..., tidak berbahaya? Apakah kamu yakin?" ujar Calliope sambil melirik ke arah Cheva.
Nada suara Calliope tidak menunjukkan apakah jawaban Myra benar apa tidak, yang akhirnya membuat Myra merasa malu.
Seluruh isi kelas terkejut, ketika Calliope melangkah mundur ke samping Cheva. Dia memegang satu sisi bayangan itu, sementara Cheva memegang sisi lainnya. Lalu dia menariknya dengan kuat.
"Kami menyebut hal ini adalah penglihatan sekilas..." ujar Calliope.
Bayangan itu membengkak dan membesar seperti balon yang ditiup. Bayangan itu mengeluarkan suara meletup-letup saat kegelapannya berubah, memperlihatkan warna-warna lebih cerah daripada yang pernah Myra lihat sebelumnya.
Warna hijau muda kekuningan yang pekat, emas gemerlap, serta pola marmer berwarna merah muda dan ungu. Seluruh warna yang berputar itu bersinar semakin cerah dan semakin jelas di balik gumpalan bayangan.
Cheva dan Calliope masih saling menarik, melangkah mundur perlahan, sehingga ukuran dan bentuk bayangan itu sebesar layar sebuah proyektor, lalu mereka pun berhenti.
Mereka tidak memberikan peringatan, atau sekedar 'Apa yang akan kalian lihat'. Dan setelah menunggu beberapa saat dalam ketakutan, Myra paham alasannya. Tidak akan ada persiapan untuk hal-hal seperti itu.
'Wussssh....Set....Set....Set...'
Warna-warna yang saling tumpang tindih itu mulai terpisah, dan mulai terbentuk dengan jelas. Mereka sedang melihat sebuah kota. Kota kuno berbenteng tembok batu...Terbakar! Penuh sesak dengan penduduk dan tercemar, dilahap kibaran api yang ganas.
'Arrrgh.... Arrrrgh! Tolong kami ya Dewa!'
Terlihat orang-orang yang terpojok oleh kobaran api, mulut mereka menampakkan kegelapan hampa, dan mengangkat tangan mereka ke langit. Dan seluruh kota dihujani oleh percikan-percikan dan kobaran-kibaran api kecil, hujan cahaya mematikan jatuh di mana-mana dan membakar segalanya yang tersentuh.
'Tolong kami, Dewa! Tolonglah kami....!'
Myra hampir bisa mencium bau busuk dan malapetaka yang terlihat melalui layar bayangan itu. Pemandangan yang sangat mengerikan untuk disaksikan, tapi yang paling aneh, tidak ada satu pun suara para murid yang ada di kelas itu.
Para murid di sekeliling Myra terlihat menundukkan kepala, seakan-akan mereka sedang mencoba meredam ratapan atau pekikan yang terdengar. Tidak terdengar apa pun, kecuali kesunyian total saat mereka menyaksikan banyaknya orang yang tewas.
Di saat Myra sudah tidak kuat lagi menahan rasa mual di perutnya, titik fokus gambaran tadi mulai bergerak. Seakan layar itu bergerak mundur, dan Myra bisa melihatnya dari kejauhan. Bukan hanya satu kota yang terbakar, akan tetapi ada dua kota!
Pemikiran aneh merasuki Myra.... Seperti sebuah kenangan yang dia pernah alami, tapi sudah lama dia melupakannya. Myra tahu apa yang sedang mereka saksikan saat ini.... Sodom dan Gomora, dua kota di dalam Alkitab... Dua kota yang dibinasakan oleh Tuhan.
Lalu seperti menekan tombol lampu, Cheva dan Calliope menjentikkan jarinya, lalu gambaran itu pun lenyap. Sisa-sisa bayangan itu melebur jadi awan abu hitam kecil yang akhirnya turun ke lantai kelas. Dan murid-murid di sekeliling Myra mulai menarik nafasnya.
'Huuuftt.... Aaakhhh!'
Sedangkan Myra, dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari tempat dimana bayangan tadi itu berada. Bagaimana bayangan itu bisa melakukannya? Bayangan-bayangan itu mulai berbentuk lagi, potongan-potongan bayangan itu perlahan kembali, dan membentuk bayangan yang lebih jelas.
'Wussssh....Seth....Seth...Seth....'
Tugasnya sudah selesai, Para Pemberitahu itu beringsut lamban di sepanjang lantai kayu, lalu menyelinap keluar kelas... Seperti bayangan pintu yang ditutup.
"Kalian mungkin mengira-ngira, kenapa kami membuat kalian menyaksikan gambaran tadi..." ujar Cheva kepada seluruh muridnya.
Cheva dan Calliope saling bertukar pandang, ada rasa khawatir di saat mereka memperhatikan seisi ruangan. Terdengar suara lirih Ivory merintih di tempat duduknya.
"Seperti yang sudah kalian ketahui, sebagian besar waktu di kelas ini... Kami memusatkan pelajaran pada apa yang bisa kalian lakukan sebagai Nephilim. Bagaimana kalian bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik, dan itu hak kalian untuk mengartikannya masing-masing. Kita lebih suka melihat ke depan, bukan ke belakang!" ujar Calliope menjelaskan dengan nada tegas.
"Tapi apa yang kalian saksikan hari ini, lebih dari sekedar pelajaran sejarah dengan efek khusus yang menakjubkan! Bukan hanya sekedar perumpamaan yang kami ciptakan... Bukan... Itu adalah kejadian yang sesungguhnya di Sodom dan Gomora, saat kedua kota itu dimusnahkan oleh Sang Tiran ketika dia....." ujar Cheva menjelaskan dan terjeda.
"Nah...nah...nah! Kita tidak boleh menggunakan istilah julukan sendiri di sini," ujar Calliope menyela ucapan Cheva.
"Ah! Tentu saja apa yang Calliope katakan benar seperti biasanya. Bahkan diriku sendiri terkadang bisa tergelincir dalam propaganda," ujar Cheva sambil tersenyum cerah kepada seluruh muridnya.
"Tapi seperti yang sedang aku sampaikan, Para Pemberitahu lebih dari sekedar batangan. Mereka bisa membawa sebuah informasi yang berharga. Di satu sisi, mereka adalah bayangan..., tapi mereka adalah bayangan masa lampau... Kejadian yang sangat lampau dan kejadian yang berlangsung belum terlalu lama," ujar Cheva menjelaskan.
"Dan apa yang kalian lihat hari ini, hanyalah sebuah demonstrasi ketrampilan tidak ternilai yang mungkin bisa dimanfaatkan oleh beberapa dari kalian suatu hari nanti," ujar Calliope menyelesaikan penjelasannya.
"Kalian tidak diharuskan untuk melakukannya sekarang. Malahan kami melarang kalian untuk mencoba hal ini! Jangan sampai kalian kehilangan kendali dan kehilangan jati diri kalian dalam bayangan. Tapi...., suatu saat nanti.... Mungkin saja hal itu bisa dilakukan," ujar Cheva memperingatkan sambil membersihkan kedua tangannya dengan sapu tangan.
Myra saling berpandangan dengan Brent. Pemuda itu tersenyum sambil terbelalak, seakan dia merasa lega ketika mendengar larangan Cheva. Kelihatannya, Brent sama sekali tidak merasa dikesampingkan... Tidak seperti apa yang Myra rasakan.
"Lagipula..., sebagian besar dari kalian mungkin sudah merasa kelelahan," ujar Calliope.
Myra melihat ke sekeliling ruangan, tepatnya ke wajah-wajah para murid ketika Calliope berbicara. Suara wanita itu memiliki efek 'lidah buaya pada luka bakar', atau bisa juga disebut 'menenangkan'. Sebagian murid-murid tersebut memejamkan matanya, seakan mereka sedang ditenangkan.
"Hal itu terlihat cukup normal. Penglihatan sekilas gambaran dari bayangan tidak bisa dilakukan tanpa 'pengorbanan'. Dibutuhkan energi yang sangat besar untuk melihat beberapa abad ke belakang... Well, kalian bisa merasakan sendiri efeknya, kan? Dan kabar baiknya adalah...., kami akan membubarkan kelas lebih cepat hari ini untuk kalian beristirahat!" ujar Calliope sambil menoleh ke arah Cheva.
"Baiklah! Kita akan melanjutkan pelajaran besok, jadi jangan lupa untuk membaca bagian Disapparition! Pelajaran selesai!" ujar Cheva membubarkan kelasnya.
Murid-murid beranjak perlahan dari bangkunya. Myra melihat mereka tampak linglung dan kelelahan. Ketika Myra berdiri, kedua lututnya juga sedikit gemetaran. Tapi entah mengapa, dia tidak merasa begitu terguncang seperti murid-murid yang lainnya.
Myra mengencangkan ikatan kardigannya yang berada di sekeliling bahunya dan mengikuti Brent keluar kelas.
"Huffftt! Melelahkan sekali! Apakah kamu baik-baik saja?" ujar Brent sambil menuruni anak tangga.
"Aku baik-baik saja.... Bagimana dengan kamu?" jawab Myra dan bertanya balik ke Brent.
Brent menggosok dahinya.
"Rasanya seperti kita benar-benar ada di sana. Aku merasa lega, ketika mereka membubarkan kelas lebih cepat. Aku rasanya ingin tidur sebentar," jawab Brent lesu.
"Benar sekali!... Itu tadi hal terakhir yang aku harapkan dari hari Rabu pagi, dan sekarang kepalaku terasa sangat pusing!" ujar Ivory yang menyusul mereka di jalan setapak menuju asrama.
Apa yang dikatakan Brent sangat benar! Pemusnahan Sodom dan Gomora memang sangat mengerikan! Tampak sangat nyata, dan kulit Myra masih terasa sangat panas karena kobaran api tadi.
"Yah! Sangat mengerikan! Aku masih bisa merasakan panasnya api di kulitku..." ujar Myra bergidik ngeri.
Mereka mengambil jalan pintas untuk menuju ke asrama dengan mengitari sisi utara pondok makan, dan berjalan dibawah naungan pohon cemara.
Rasanya sangat aneh melihat lingkungan sekolah yang sangat sepi, karena seluruh murid lain di Laware masih berada di dalam kelas yang berada di gedung utama.
Satu persatu anak Nephilim keluar dari jalan setapak tersebut dan langsung menuju ke kamarnya masing-masing.
Berbeda dengan Myra, dia tidak merasa lelah sama sekali. Dan yang aneh, dia merasa mendapatkan kekuatan! Myra sekali lagi berharap, jika Ignatius ada di sini.
Myra sangat ingin berbagi drngan Ignatius, tentang demonstrasi Calliope dan Cheva... Dan dia ingin tahu, kenapa pemuda itu tidak memberitahunya bahwa bayangan-bayangan itu memiliki sesuatu yang 'lebih' dari pada yang bisa dia lihat.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments