...----------------...
Mereka masih melepaskan rindu di Bandara itu, lalu Myra mencubit lengan Ignatius dengan lembut.
"Kamu sudah berada di sini..." bisik lembut Ignatius di telinga Myra.
"Kamu juga sudah berada di sini..." jawab Myra tidak kalah lembutnya.
"Artinya.... Kita sama-sama sudah berada di sini... hahahahaha" ujar mereka bersamaan sambil tertawa bahagia.
Myra melepaskan semua beban yang dia rasakan disaat berjauhan dengan Ignatius melalui dekapan eratnya.
"Aku sangat memahamimu... Ayo! Kita ambil tasmu dan pergi dari sini..." ujar Ignatius sambil melepaskan pelukan itu dan menarik tangan Myra dengan lembut.
Disaat Myra dan Ignatius ingin menuju ke tempat bagasi putar, Myra bertemu dengan teman sebangkunya di pesawat.
"Aku melihat tas ini lewat... Ini tas-mu, kan?" ujar pemuda tampan itu sambil memaksakan senyumannya.
Sebelum Myra sempat menjawabnya, Ignatius sudah mengambil tas tersebut dari tangan pemuda itu.
"Terima kasih, Dude... Aku yang akan membawanya..." tegas Ignatius untuk mengakhiri percakapan itu.
Pemuda itu hanya mengangguk dan memperhatikan saat Ignatius menyelipkan satu tangannya di pinggang Myra.
Ini adalah pertama kalinya sejak di Two Sword & Tiger, Myra melihat Ignatius seperti apa yang dunia lihat.
Ini adalah kesempatan pertamanya untuk membayangkan, apakah ada orang lain yang bisa menebak hanya dengan melihatnya? Ada sesuatu yang istimewa dan luar biasa dari pemuda itu.
Mereka berjalan melewati sebuah pintu kaca yang bergeser otomatis, dan Myra menghirup udara pantai barat untuk pertama kalinya.
"Aku tidak bisa mengatakan, bahwa aku terkejut atau tidak... Aku baru melepaskanmu dari balik sayapku selama dua hari, dan ada pemuda lain yang sudah menyambarmu..." ujar Ignatius dengan nada menggoda Myra.
"Hahahaha... Yang benar saja! Kami bahkan nyaris tidak bertegur sapa... Selama perjalanan, aku tertidur... Aku memimpikanmu..." jawab Myra sambil memutar malas bola matanya.
Wajah cemberut Ignatius berubah menjadi cerah, lalu dia mengecup puncak kepala Myra dengan sayang. Myra terdiam... Dia menginginkan lebih dari kecupan dikepalanya.
Myra tidak menyadari bahwa mereka sudah berhenti di depan sebuah mobil. Dan itu bukanlah mobil abal-abal! Itu adalah sebuah mobil Alfa Romeo hitam!
Myra membuka mulutnya saat Ignatius membuka pintu bagian penumpang.
"Haaaah! I...ini!...Ini... Apakah kamu tahu, bahwa ini adalah mobil impianku?" ujar Myra tergagap.
"Hahahahaha... Lebih dari itu, Sayang! Mobil ini pernah menjadi milikmu..." jawab Ignatius sambil tergelak.
"A...a... Apa???!"
Ignatius tertawa ketika Myra terjengkit kaget, ketika mendengar perkataannya. Myra masih ber-Adapatasi dengan bagian Reinkarnasi kisah mereka.
Ini benar-benar tidak adil! Hanya sebuah mobil, tidak akan membangkitkan kenangannya! Begitu banyak kehidupan yang tidak bisa Myra ingat. Myra sangat ingin mengetahui semuanya... Dia merasa bahwa sosok dirinya di masa lalu adalah saudara kandungnya yang dipisahkan sejak lahir.
Myra meletakkan tangannya di kaca depan mobil tersebut... Dia mencari kilasan-kilasan ingatan yang terlupakan, seperti... Deja vu. Tapi hanya kehampaan yang dia rasakan.
"Mobil ini adalah hadiah ulang tahunmu yang ke enam belas dari kedua orangtuamu di beberapa kehidupan yang lalu," ujar Ignatius dengan hati-hati.
Ignatius paham jika Myra haus akan rincian ingatannya, tapi Myra tidak akan sanggup menerima terlalu banyak dalam sekali penyampaian.
"Aku membelinya dari seorang pria di Reno... Dia membelinya setelah kamu...Uggh... Ya... Setelah kamu...." ujar Ignatius terputus-putus karena bingung untuk meneruskan perkataannya.
"Setelah aku mati terbakar...." ujar Myra menjawab kebenaran pahit yang tidak sanggup Ignatius ucapkan itu.
Itu adalah sebuah hal dalam kehidupannya di masa lalu... Bagian akhir dari takdirnya yang jarang berubah!
"Ekheeem..." Ignatius berdeham sambil menepuk kap mobil hitam itu.
"Dia melaju seperti juara... Satu-satunya masalah adalah...." Ignatius menoleh ke bagasi kecil mobil convertible itu, lalu ke tas jinjing milik Myra, dan kembali ke bagasi mobil itu.
"Hehehehehe..." Myra terkekeh malu.
Ini adalah kebiasaan buruk Myra yang selalu mengemas terlalu banyak barang.... Dan Myra mengakuinya.
Tapi, kali ini bukanlah kesalahannya... Gene dan Skyler yang mengemasnya dari kamar asrama di Two Sword & Tiger. Myra terlalu sibuk untuk berkemas... Ya, dia sibuk mengucapkan selamat tinggal pada makam sahabatnya, Faine.
Terasa sangat tidak adil! Dan Mr. Percy terus berusaha meyakinkan Myra bahwa Miss. Allondra akan mempertanggung jawabkan perbuatan dia terhadap Faine.
...----------------...
Ignatius memandang ke sekitar parkiran dengan waspada. Dia membuka bagasi, dengan tas jinjing Myra yang berukuran besar di tangannya.
Tas itu tidak akan mungkin muat disana, lalu terdengar suara desisan lembut terdengar dari bagian belakang mobil tersebut.
"Psssssshhhhh...."
Tas besar Myra mulai menyusut... Setelah itu, Ignatius membanting pintu bagasi mobil itu hingga tertutup rapat.
"Braaaakkk...."
Myra Ainsley mengerjap-ngerjapkan matanya dengan imut.
"Coba ulangi lagi..." pinta Myra.
"Apanya?" tanya Ignatius sambil tersenyum.
"Yang tadi itu... Yang dibelakang..." jawab Myra penasaran.
"Hehehehehe..." Ignatius tertawa gugup.
Tanpa menjawab apa pun, Ignatius segera duduk dibalik kemudi dan langsung menyalakan mesin mobil tersebut.
"Ada apa?" tanya Myra heran.
"Mr. Percy memberitahumu agar tidak menarik perhatian, bukan?" tanya Ignatius.
Myra mengangguk membenarkan.
Ignatius memundurkan mobilnya, lalu mengemudikannya keluar pelataran parkir. Dia menggesekkan kartu Bank-nya ke mesin penggesek, sebelum keluar.
"Bodoh!... Bodoh sekali! Seharusnya aku memikirkan...." gumam Ignatius mengumpat dirinya sendiri.
"Memangnya kenapa?... Apakah kamu berfikir, kamu akan menarik perhatian Cyrill saat memasukkan sebuah tas ke dalam bagasi?" tanya Myra sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
*Visual Myra Ainsley*
Ignatius terdiam sesaat, lalu menggeleng ketika mendengar pertanyaan Myra.
"Tidak.... Bukan Cyrill maksudku..." ujar Ignatius sambil meremas lutut Myra.
"Lalu?" tanya Myra penasaran.
"Haaah!... Sudah, lupakan saja yang aku katakan tadi. Aku hanya... Ah, tidak... Maksudku... Kita berdua harus berhati-hati..." jawab Ignatius terbata.
Myra mendengarnya, tapi dia kesulitan untuk mencerna perkataan Ignatius. Pemandangan yang paling Myra sukai adalah melihat Ignatius yang dengan lihai memainkan persneling mobil.
Mereka melewati lereng, menuju ke arah jalan bebas hambatan, dan melesat cepat di jalan raya. Myra merasa senang merasakan angin yang menerpa mobil, di saat mereka meluncur menuju kaki langit San Francisco yang tinggi. Myra menyukainya... Dia sangat menyukai di saat hanya berdua dengan Ignatius.
...----------------...
* San Francisco...
Myra memandang kota ini dari sisi yang berbeda. Pemandangannya terlihat tua dan baru secara bersamaan.
Gedung-gedung pencakar langit berjendela cermin bersisian dengan restoran dan bar yang terlihat sudah berumur satu abad.
Mobil-mobil yang diparkirkan di sepanjang sisi jalan, di parkirkan dengan posisi menentang gravitasi. Terlihat banyak anjing-anjing berkeliaran dan kereta bayi yang ada dimana-mana.
Kilau air biru di sekeliling sudut kota... Dan penglihatannya melihat sekilas jembatan Golden Gate berwarna merah apel di kejauhan.
Myra memperhatikan pemandangan di sekelilingnya dengan cepat. Walaupun dia menghabiskan beberapa hari belakangan ini dengan istirahat, tiba-tiba saja dia merasa diterpa gelombang kelelahan yang dahsyat.
"Myra...."
"........"
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
💫0m@~ga0eL🔱
tragis sekali /Sob/
2024-10-29
1
💫0m@~ga0eL🔱
andai ada reinkarnasi aku ingin jadi lebih baik dari dulu /Sob/
2024-10-29
1
⎯⎯꯭ᷤ💕Sisk𝚊⃤𝐊𝐔ˢ⍣⃟ₛ꙳❂͜͡✯:≛꯭➛
hihihi,, cembukur
2024-10-28
2