"Kalian bisa menuliskan namaku disini... " Myra menunjuk ke pojok kiri kertas mereka.
Nalani dan Ivory mendongak untuk menatap Myra, ada sedikit kekaguman dan rasa percaya terhadapnya sebelum mereka melanjutkan tugas untuk mengisi lembaran kertas mereka.
Detak jantung Myra kembali normal. Mungkin tugas ini tidak terlalu buruk!
"Hehehehe... Ternyata tidak terlalu buruk!" monolog Myra dalam hati.
Beberapa menit kemudian, Myra bertemu dengan Bethany. Salah satu dari Nephilim kembar tiga yang berambut merah dan berpenampilan rapi.
"Kamu bisa membedakan kami dengan melihat ekor kami, ekor punyaku keriting... hehehehe" ujar salah satu dari mereka menjelaskan.
Levon, seorang cowok gempal pendek bersuara berat yang pernah menjelajah ke luar dunia pada liburan tahun lalu berkata.
"Itu adalah sebuah pengalaman yang menakjubkan! Sampai aku tidak tahu, harus memulai dari mana... " ujarnya sambil tersenyum.
Lalu ada Archie, yang merasa bisa membaca pikiran. Dan Myra tidak keberatan untuk menulis namanya di kolom kertasnya.
" Ck! Aku bisa membaca pikiranmu, bahwa kamu sama sekali tidak keberatan akan hal itu. Benar, kan?" ujarnya sambil membentuk pistol dengan kedua tangannya dan berdecak.
Myra masih mempunyai tiga kolom kosong, ketika tiba-tiba Skyler menarik kertas dari tangannya.
"Aku bisa melakukan dua hal ini... Yang mana harus aku isi?" ujarnya sambil menunjuk dua kolom.
'Bisa melihat kehidupan masa lalu dan bisa bisa berbicara lebih dari delapan belas bahasa'
"Tu... tunggu dulu! Kamu... kamu bisa melihat kehidupan masa lalu?" bisik Myra kepada Skyler.
Skyler mengangkat alisnya pada Myra dan menorehkan tanda tangannya di atas kolom, dan menuliskan nama di kolom 'delapan belas bahasa' sebagai tambahan.
Myra menatap kertasnya, dia membayangkan masa lalunya sendiri yang tidak bisa dia ketahui. Sungguh mengesalkan!. Dan dia telah menganggap remeh Skyler.
Skyler telah berlalu dari hadapannya. Dan sudah berdiri seorang cowok ditempat Skyler berdiri tadi. Dia adalah cowok yang duduk di samping Myra saat di dalam kelas tadi.
Tinggi cowok itu kira-kira lima belas sentimeter diatas Myra. Wajahnya tersenyum, dengan bintik-bintik di hidung dan bola mata yang berwarna biru cerah.
Ada sesuatu yang ganjil tentang cowok ini, bahkan dari cara dia menggigit pulpennya yang terlihat... kokoh! Myra sadar bahwa itu adalah sebuah kata yang aneh untuk menggambarkan seseorang yang belum dikenalnya, tapi dia tidak bisa menahan perasaannya.
"Oh, syukurlah! Satu-satunya yang aku bisa, ternyata ada di kolom kertasmu, hahahaha." ujar cowok itu tertawa, sambil menepuk. dahinya sendiri.
"Bisa menggandakan diri sendiri atau orang lain?" Myra membaca tulisan itu dalam hati.
Cowok itu menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, sedangkan Myra masih termangu. Lalu dia membubuhkan namanya di kolom itu, Brent Adair.
"Bakatku cukup mengagumkan untuk orang sepertimu, aku yakin itu!" ujarnya percaya diri.
"Umm... Ya!" jawab Myra sambil berpaling.
Seseorang seperti dirinya? Myra sama sekali tidak tahu, apa maksud dari kalimat itu. Lalu Myra bergegas meninggalkan cowok itu.
"Hey.... hey! Tunggu!... Kamu mau kemana?" ujar cowok itu sambil menarik lengan baju Myra.
"Hohoho! Ternyata kamu tidak menangkap kalimat itu ya? Itu adalah kalimat ejekan untuk diriku sendiri... " ujar Brent menjelaskan.
Myra menggelengkan kepalanya, dan wajah Brent terlihat kecewa.
"Itu adalah kalimat sarkas untuk diriku sendiri. Dibandingkan dengan semua orang yang berada di kelas ini, hanya aku yang nyaris tidak bisa bertahan. Satu-satunya orang yang bisa aku gandakan selain diriku sendiri adalah ibuku. Itu cukup membuat ayahku ketakutan selama sepuluh detik, lalu bayangan itu memudar," ujar Brent bercerita kepada Myra.
"Sebentar.... sebentar! Maksudnya, kamu menggandakan sosok ibumu?" tanya Myra sambil mengerjapkan matanya.
"Hum! Aku tidak sengaja. Orang-orang bilang, akan lebih mudah melakukannya dengan orang yang kamu cintai... " ujar Brent tersipu.
"Sekarang kamu pasti mengira aku anak mama, kan? Tidak apa-apa... Maksud aku tadi, sebenarnya kekuatan yang aku punya sangat mudah memudar. Sementara kamu... kamu adalah seorang Myra Ainsley yang terkenal!" ujar Brent sambil membuat isyarat dengan kedua tangannya.
"Aku harap semua orang berhenti berkata seperti itu!!" ujar Myra dengan nada membentak.
Tiba-tiba Myra tersentak, dia sudah bersikap tidak sopan! Lalu dia bersandar di pegangan tangga dan menghela nafasnya sambil menatap laut.
Dia hanya merasa sangat sulit, dimana orang-orang disekitarnya lebih tahu tentangnya dari. pada dirinya sendiri. Myra tidak bermaksud melampiaskan amarahnya kepada pemuda itu.
"Maafkan aku... Aku hanya berfikir, bahwa hanya aku yang tidak bisa bertahan di sini. Kok kamu bisa ada di sini?" tanya Myra kepada Brent, setelah dia meminta maaf.
"Oh, mereka menyebutku 'Sudah diencerkan'... Mom mempunyai darah Malaikat dari beberapa generasi sebelumnya, tapi seluruh keluargaku yang lain hanya manusia biasa. Kemampuanku hanya ada di tingkat paling rendah, dan itu cukup memalukan. Dan aku di sini karena orangtuaku menyumbangkan... um., teras yang sedang kamu pijak ini untuk sekolah... " ujar Brent menjelaskan.
"Waaah!"
"Ah, tidak terlalu mengagumkan! Keluargaku terobsesi untuk memasukkan aku ke sekolah ini. Seandainya kamu tahu tentang tekanan yang aku daoatkan di rumah untuk "Mengencani gadis Nephilim baik-baik sesekali"... " ujar Brent sambil cemberut.
"Hahahahahahaha"
Myra tertawa geli... Ini adalah tawa pertamanya sejak beberapa hari belakangan ini. Brent hanya bisa memutar bola matanya malas, ketika mendengar tawa Myra.
"So, aku melihatmu sarapan dengan Skyler tadi pagi. Apakah dia teman sekamarmu?" tanya Brent setelah Myra berhenti tertawa.
Myra mengangguk.
"Itu baru gadis Nephilim baik-baik... " ujar Myra bercanda.
"Yah, aku tahu... Dia agak... Um... Grrr!" ujar Brent mendesis dan membuat gerakan mencakar di udara dengan satu tangan.
Gerakan yang membuat seorang Myra Ainsley tergelak geli kembali.
"Woaaah! Hahahahahaha... "
"By the way, aku bukan murid istimewa atau apa pun di sini. Tapi aku sudah cukup lama di sini, dan masih menganggap jika tempat ini cukup gila! Jadi, jika kamu mau sarapan yang normal atau yang lain.... " ujar Brent terjeda.
Myra Ainsley mengangguk setuju. Normal... kata itu seperti sebuah suara musik yang indah di telinga manusianya.
"Bagaimana jika... besok?" tanya Brent hati-hati.
"Terdengar cukup... menarik!" jawab Myra sambil tersenyum.
"Baiklah... " ujar Brent bersemangat.
Brent Adair menyeringai dan melambai. Dan Myra baru sadar bahwa seluruh murid yang tadi ada disana sudah kembali ke dalam kelas.
Myra merasa sendirian sekarang. Dia menunduk untuk menatap kertas di tangannya, dia tidak bisa merasa yakin bagaimana menilai murid-murid lain di Laware.
Myra merindukan Ignatius... Hanya dia yang bisa menterjemahkan maksud dari semua kalimat untuknya. Jika saja pemuda itu tidak..... Dimana sih dia sebenarnya? Myra sama sekali tidak tahu jawabannya.
Terlalu jauh.....
Myra menekan satu jarinya ke bibir, mengingat ciuman terakhir Ignatius dan dekapan luar biasa kedua sayapnya. Myra merasa kedinginan tanpa Ignatius, bahkan di bawah sinar matahari California.
Myra berada di sekolah ini karena Ignatius. Dia diterima di kelas yang penuh Malaikat, atau apapun mereka, lengkap dengan reputasi terbarunya yang aneh, semua karena Ignatius. Anehnya, dia merasa senang sekali dihubungkan dekat dengan Ignatius.
Myra hanya menunggu pemuda itu datang untuk menjemputnya... Hanya itu yang membuatnya bertahan.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments