Dari dekat, gadis yang memakai syal warna hijau itu terlihat seperti Salma Hayek muda, berbibir tebal dan berdada besar. Sedangkan gadis yang satunya lagi, berkulit pucat, bermata cokelat, dan rambutnya pendek berwarna hitam. Mirip sekali dengan Myra...
"Tunggu! Apakah kamu benar-benar Myra Ainsley?" tanya gadis berkulit pucat itu kepada Myra.
Dia memiliki sederetan gigi kecil yang berwarna putih, dan sedang digunakan untuk menggigit sepasang jepitan berpayet, sementara tangannya sedang mengepang rambutnya yang berwarna gelap.
"Seperti rumor tentang 'Myra dan Ignatius'? Gadis yang baru saja datang dari sekolah mengerikan di Alabama...." tanya gadis itu beruntun kepada Myra.
"Ya... Tepatnya Georgia," jawab Myra sambil menganggukkan kepalanya.
"Itu sama saja! Oh my God! Bagaimana dengan Cyrill? Aku pernah melihatnya sekali di konser Death Metal... dan tentu saja, aku terlalu gugup untuk memperkenalkan diri. Kamu tidak tertarik dengan Cyrill? Oh, tidak... Tentu saja tidak! Kamu sudah bersama dengan Ignatius... hahahaha!" ujar gadis itu dengan tawa yang melengking.
"By the way, perkenalkan... Aku Ivory dan ini Nalani, " ujar gadis itu memperkenalkan diri.
"Hai... um... " sambut Myra perlahan.
"Hey, jangan hiraukan dia. Dia baru saja minum kopi sebanyak sebelas gelas!" ujar Nalani, yang berbicara lebih lambat dari pada Ivory.
"Maksudnya, kami senang berkenalan denganmu. Kami selalu membicarakan kamu dan Ignatius. Seperti sebuah kisah cinta yang hebat sepanjang masa!" ujar Nalani kembali.
"Kalian serius?" tanya Myra sambil menyembunyikan jemarinya.
"Yeah! Semua peristiwa tentang kematian lagi dan lagi itu.. Peristiwa hidup berkali-kali setelah mengalami kematian yang tragis! Dan ketika kamu mati terbakar... Sungguh tragis! Ibuku sering menceritakannya sewaktu aku masih kecil, " ujar Ivory gamblang.
Myra membelalakan matanya karena terkejut. Dia melirik ke sekeliling teras yang ramai, dia mengira-ngira apakah ada yang mendengar percakapan mereka.
Ngomong-ngomong soal terbakar, dia yakin jika pipinya sedang memerah saat ini.
......................
Lonceng besi berdering di atas atap pondok makan, menandakan bahwa waktu sarapan telah selesai. Dan Myra merasa lega, ketika melihat semua orang sibuk memikirkan hal lain. Seperti mulai memasuki kelas.
"Ibumu sering menceritakan apa kepadamu? Um... maksudku... Tentang aku dan Ignatius?" tanya Myra kepada Ivory.
"Hanya garis besarnya saja sih! Bagaimana rasanya? Apakah rasanya seperti semburan panas perubahan hormon? Seperti saat menopause... mungkin kamu belum tahu.... " tanya Ivory sambil membelalakan matanya penasaran.
"Yaaaak! Apakah kamu membandingkan hasrat terpendam Myra dengan semburan panas perubahan hormon?" seru Nalani sambil memukul lengan Ivory.
"Hehehehe... Sorry! Aku hanya kagum saja. Terdengar sangat romantis dan menakjubkan! Aku jadi iri.... dalam hal yang positif loh yah!" ujar Ivory sambil terkekeh.
"Kamu iri karena aku mati tragis setiap kali mencoba dekat dengan cowok idamanku? Sebenarnya..., itu adalah cara mati yang tidak menyenangkan," ujar Myra pelan.
"Harusnya kamu mengatakan itu pada gadis yang sampai detik ini, cuma pernah berciuman dengan Sjohn yang sering diare!" ujar Nalani sambil melirik ke arah Ivory.
Saat Myra tidak tertawa mendengar celoteh mereka, Ivory dan Nalani mencairkan suasana dengan kekehannya.
'Hehehehehe'
Mereka paham, jika Myra hanya berusaha bersikap sopan. Myra belum pernah tertawa lepas bersama cewek-cewek seperti mereka.
"Hmm... Apa yang sebenarnya ibumu ceritakan?" tanya Myra kepada Ivory.
"Hanya hal-hal umum, seperti: Tercetusnya peperangan, keadaan menjadi kacau, dan pembangkangan Ignatius saat mereka ingin membuat batasan di Surga. 'Tidak ada yang bisa memisahkan kami!', lalu mereka semua menjadi murka."
"Tentu saja itu merupakan bagian cerita favorite aku. Jadi sekarang, kalian CINTA kalian menderita dengan hukuman Abadi ini. Di saat kalian benar-benar menginginkannya, tapi kalian tidak bisa melakukannya. Seperti... kamu paham kan?" ujar Ivory mengakhiri ceritanya.
Myra mematung saat mendengarnya.
"Tapi dalam beberapa kehidupan, mereka bisa melakukannya.... " ujar Nalani mengkoreksi perkataan Ivory.
"Tidak mungkin!!" ujar Ivory sambil melambaikan tangannya acuh.
"Intinya, Myra akan terbakar saat dia.... Upsss! Sorry... Pastinya ini bukan hal yang ingin kamu dengar... " ujar Ivory ketika dia melihat mimik ketakutan di wajah Myra.
'Ekheeem... '
"Kakak perempuanku pernah memberitahu tentang salah satu cerita dari masa lalumu, yang aku berani bersumpah akan.... " ujar Nalani terpotong saat bicara dengan Myra.
"Owwhhh!" Ivory menggandeng tangan Myra dengan tiba-tiba.
Myra berfikir jika fakta ini... Fakta yang tidak Myra ketahui... Yang membuatnya menjadi teman yang sangat diinginkan. Ini sungguh menjengkelkan! Myra merasa sangat malu sekarang, dan mungkin sedikit bersemangat.
Myra masih belum yakin, apakah kisah-kisah itu benar adanya. Tapi satu hal yang pasti, tiba-tiba saja Myra merasa... Terkenal! Dia merasa seakan-akan menjadi salah satu gadis yang tidak dikenal, disamping seorang bintang film keren dalam sebuah foto jepretan paparazi.
'Guys!... Kita super telat! Kita harus cepat-cepat ke kelas!" ujar Nalani sambil menunjuk jam di handphonenya dengan gaya berlebihan.
Myra meringis, dengan cepat dia menyambar ranselnya. Dia sama sekali tidak tahu kelas mana yang harus dia masuki, atau harus mencari tahu kemana. Dia merasa bingung dengan antusiasme Ivory dan Nalani. Dia belum pernah melihat senyum lebar penuh semangat seperti itu sejak.... yah, mungkin seumur hidupnya.
"Apa kalian tahu bagaimana caranya aku mencari kelas pertamaku? Sepertinya aku belum punya jadwal," ujar Myra kepada mereka.
"Sudah pasti kami tahu! Kamu satu kelas dengan kami... Untuk semua mata pelajaran! Ini akan mengasyikkan! " ujar Ivory bersemangat.
Kedua gadis itu berjalan bersama Myra, masing-masing dari mereka berada di samping Myra. Mereka membawa Myra berjalan mengitari meja murid-murid lainnya yang masih menyelesaikan sarapannya.
Walaupun dalam keadaan "Super Telat", Ivory dan Nalani melenggang santai menyeberangi lapangan rumput yang baru saja dipangkas.
Myra menimbang-nimbang, apakah dia sebaiknya bertanya tentang sikap Skyler kepada kedua gadis itu? Tapi Myra tidak ingin terlihat seperti cewek tukang gossip.
Lagi pula, kedua gadis ini cukup ramah. Tapi Myra tidak merasa harus mencari sahabat-sahabat baru lagi. Myra terus mendoktrin dirinya sendiri, bahwa tempat ini hanyalah untuk sementara.
Ya... Sementara, tetapi sangat memukau pandangan mata Myra. Ketiganya berjalan di sepanjang jalan setapak penuh semak bunga hortensia, yang berbelok mengelilingi pondok makan tersebut.
Ivory berceloteh tentang sesuatu, tapi Myra tidak bisa melepaskan pandangannya dari pinggir tebing curam yang telihat dramatis. Ombak bergulung ke arah yang bentangan pantai kuning kecokelatan di kaki tebing, sesantai para murid Laware yang sedang berduyun-duyun menuju kelas masing-masing.
"Kita sudah sampai... " ujar Nalani.
Mereka tiba di sebuah kabin yang berbentuk huruf A bertingkat yang mengagumkan, berdiri sendirian di ujung jalan setapak. Bangunan yang dibuat di tengah-tengah hutan pinus yang rindang, sehingga atap kabin yang terbuka dan halaman luas kabin tersebut dipenuhi lapisan daun berbentuk jarum yang berguguran.
Terdapat sepetak halaman rumput yang indah dengan beberapa meja piknik, tapi daya tarik utamanya adalah kabin itu sendiri. Lebih dari setengah bangunan kabin tersebut terlihat seperti dari kaca, dengan jendela dan pintu geser yang terbuka lebar. Seperti sebuah bangunan yang dirancang oleh Frank Llyod Wright.
Beberapa murid sedang bersantai di teras lantai atas yang menghadap ke lautan, dan beberapa murid lainnya sedang menaiki anak tangga ganda yang berada di ujung jalan setapak.
"Selamat datang di Nephi-Lodge!" ujar Nalani kepada Myra.
"Woaah! Apakah ini kelas kalian?" tanya Myra dengan mulut menganga kagum.
Bangunan itu lebih mirip pondok penginapan dari pada sebuah bangunan sekolah. Tiba-tiba Ivory yang berada disampingnya menjerit dan meremas pergelangan tangan Myra tanpa sadar.
"Awwwsss!" ringis Myra pelan.
"Selamat pagi, Cheva!" seru Ivory ke seberang halaman dan melambai ke seorang pria dewasa yang sedang berdiri di ujung bawah anak tangga.
Pria itu memiliki wajah tirus dengan kacamata yang berbentuk empat persegi panjang yang keren, dan memiliki rambut tebal berombak yang sudah mulai beruban.
"Aku suka sekali jika melihatnya memakai setelan jas berompi" bisik Ivory kepada Myra.
"Selamat pagi, anak-anak!" ujar Pria itu tersenyum dan melambaikan tangannya.
Dia menatap Myra cukup lama, sehingga membuat Myra gugup. Lalu senyuman itu kembali tersungging di wajah Cheva.
"Sampai bertemu di kelas!" serunya sambil menaiki anak tangga.
"Cheva Rivery... Alias CR... Alias Cold Rain. Dia adalah salah satu guru kita, dan yah... Ivory tergila-gila padanya. Padahal dia sudah ada yang punya. Ivory benar-benar tidak tahu malu!" ujar Nalani menjelaskan sambil berbisik kepada Myra.
"Hey! Tapi aku juga suka sama Calliope. Jangan sampai kamu terpesona kepada pasangan itu yah!" ujar Ivory sambil menepuk pundak Nalani, lalu berpaling dan tersenyum ke arah Myra.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments