𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝒓𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈 !!,
...----------------...
Alaska terlebih dulu membawa Ayahnya duduk di kursi, setelah mendengarkan penuturan Ayahnya mengenai suara suara aneh yang di dengar di kepalanya, menawarinya
minum terlebih dulu. "Dimana princess?" meyimpan air yang di sodorkan putranya Alaska menitipkan adiknya pada Aidan, ketika melihat
Ayahnya berjalan dengan wajah pucat ke arah mereka. "Ada bersama Aidan kebetulan temannya akan menginap disini, Ayah tenanglah princess aman bersama kami. Apa yang kau dengar itu hanya sebatas ke khawatiranmu atau ketakutanmu karena takut kehilangan" Agasta yakin semua itu bukan berasal dari ketakutannya, suara suara itu seperti
Agasta memejamkan matanya sejenak menghela nafas panjang Ayah tidak tenang Alaska bisa saja semua itu benar, jeritan putriku begitu memilukan untuk di dengar dan nyata jika itu hanya sebatas rasa kekhawatiranku saja. Bagaimana suara suara itu muncul bagaikan kaset rusak di kepala
"perasaan Ayah tidak enak, perketat lagi keamanan di Mansion jika perlu tambah bodyguard untuk berjaga menatap lurus kedepan melihat beberapa bodyguard yang sudah berjaga. Alaska mengagguk" jika itu bisa membuat Ayah tenang kita tambah bodyguard jika perlu cctv di tambah di beberapa sudut ruangan bagaimana?"
Pemuda itu merasakan ketakutan yang sama tanpa sebab, apa ini yang di namakan firasat. Semoga semua itu tidak terjadi, mungkin saja itu hanya sekedar ke khawatiran ayahnya
yang berlebihan hingga membuatnya berhalusinasi. "untuk menambah bodyguard kita membutuhkan waktu Ayah, bukan sembarang orang bisa masuk. Soal cctv ke mungkinan besok bisa di pasang"
Agasta menyetujui perkataan putranya" Ayah ingin Aidan
belajar mengenai perusahaan dari pada dia sering bolos dan ikut balapan tak jelas akan lebih baik belajar dari sekarang meneruskan perusahaan yang Ayah pegang. Ayah ingin beristirahat menghabiskan waktu dengan princess" Agasta
sudah memikirnya sedari malam bahkan sebelum kejadian tadi Alaska sejenak menatap Ayahnya datar, ada udang di balik batu rupanya" yayaya.... kau akan selalu menjadi
pemenangnya Ayah di bandingkan kami. Aku ingin sekali Egois membawa princees bersamaku dimana tidak ada orang yang mengganggu hanya aku saja yang bisa melihatnya"
menyindir Agasta, yang memang benar adanya itulah di pikirkannya saat ini.Bibir Agasta menyeringai" Berani kau melakukan itu, hancur perusahaanmu di tanganku boy"
"sayangnya aku tidak takut Ayah"bibirnya mengulas senyum.
"Sialani Kau" Alaska terkekeh menikmati wajah kesal Ayahnya, sudah lama.mereka tidak berbincang akrab seperti ini.
...----------------...
"Apa mata gue salah lihat, apa kalian melihat, apa yang gue lihat?" Xander mencoba untuk tidak percaya tapi semua
terjadi di depan matanya, di hadapannya. Aidan lansung menoleh, adiknya tidak mau di gendong olehnya. Si mungil malah asik bersama Xander entah sihir apa yang membuat adiknya dekat dengan pria sedingin kutub selatan itu
Menyadari sesuatu yang aneh pada tubuh adiknya yang jelas sekali terlihat" Apa yang terjadilah" ucapnya panik. Begitupun teman teman Aidan sama terkejutnya.Aidan merebut langsung adiknya dari pangkuan Xander
tangan gempal adiknya yang putih mulus sekarang memilki bekas bekas luka lebam. Pikiran berkecamuk bagaimana bisa luka ini muncul tiba tiba A-ada apa dengan adikku, Xander? Bukankah tadi baik baik saja? Kalian melihatnya bukan
"ah atau kalian kerjasama ngernyain gue, ini gak lucu sama
sekali!" ucapnya dengan mata mengedar menelisik badan adiknya, menyingkap baju terutama bagian perut.
Yang membuatnya aneh adiknya sama sekali tidak merasakan sakit membuatnya berpikir semua ini kejalian temannya ia
tak berani menyentuh luka yang membalas terlihat membiru
itu. "gak mungkin!" teriaknya, Xander, Saka, Zegran sama
terkejutnya bagaimana mungkin tubuh yang tadinya terlihat baik baik saja memiliki luka lebam sebanyak itu sekarang
"lo tou kita gak lakuin apapun sama dengan cuman main gak
lebih, Aidani Kita gak bercanda. Hal kaya gini bukan untuk "candaan Zegran angkat bicara setelah tersadar dari rasa keterkejutannya.
"luka itu muncul dengan sendirinya gue aja bingung. Gue "kira
"gue salah lihat, tapi ternyata Xander juga sama bingungnya sama Gue" sedangkan yang di khawatirkan sibuk dengan dot
yang berada di mulutnya. "baby, sayang apa luka ini sakit hmm? Katakan pada Abang, siapa yang melakukannya. Jangan takut ada abang di sini yang akan melindungimu" Aidan mengalihkan perhatiannya sepenuhnya untuk adiknya, hatinya sakit melihat luka yang
tak pernah keluarganya lakukan. Siapa yang melakukan ini semua pada adiknya? Sialan ia akan membunuhnya sekarang juga. Anya yang di tanya menggeleng polos tidak ada siapapun
yang menyakitinya disini, kecuali di mimpinya yang ia panggil sebagai Ayah dengan wajah yang berbeda dengan Ayahnya
sekarang. "Sayang jika ada yang mengancammu jangan takut, katakan pada Abang hmm" berusaha agar adiknya percaya. Anya yang di tanya kedua kalinya melepas dot di mulutnya,
dengan mata berkaca kaca mengingat apa yang di alaminya nou aman di mimpi jahat nakal pukul pukul, cubit, malah malah Anya. Aman benci Anya. Anya nakal di kulung, bentak bentak Anya. Anya takut. Aman biyang, Anya pembunuh.
"bubu. Cenapa? Cenapa yayah mbang celalu bilang gitu juga,
cenapa benci Anya? Anya ndak buat salah" . Bibi bilang "Anya anak baik"
"Anya cayang mbang, yayah juga. Jadi jangan benci Anya"
ucapnya dengan mata bulatnya yang sudah basah karena air mata yang menggenang
Mimpinya begitu menakutkan Ayah yang jahat menyiksanya membuangnya begitu saja di tengah hutan.
Begitupun yang mendengarkan menitikan air mata, mereka menangkap kesedihan gadis kecil itu yang si mungil Inginkan adalah kasih sayang bukan kebencian tanpa gadis kecil itu tau penyebabnya.
Seseorang tak jauh terdiam merenungi perbuatannya yang berniat menyakiti si mungil, apa lagi setelah melihat luka
lebam di tubuhnya yang jelas. Bodyguard memperhatikan seorang perempuan yang tertegun di ambang pintu lalu menghampiri" Nyonya ada yang bisa saya bantu?" ucapnya, sebab sedari tadi nyonyanya
hanya diam di tempat dengan gerak mata gelisah, Terkejut tentu saja ia melirik bodyguard di hadapannya." sejak kapan luka lebam itu ada?" tanya pada bodyguard penasaran.
"Nyonya mendegarnya?"Bodyguard langsung mengalihkan topik ketika pelototan" oh iya, saya kurang tau tiba tiba saja luka lebam itu terlihat dengan sendirinya"
Azura terdiam dengan pikiran berkecamuk, kemungkinan Agata pun tidak tau luka lebam itu berasal, atau mungkin pria itu belum mengetahuinya.
Azura ke sini bersama ke dua putranya yang terus merengek ingin bermain bersama gadis kecil itu. Kaki Aidan terasa lemas terduduk di rerumputan dengan Anya
di pangkuannya, sedalam itu luka adiknya penyebabnya. adalah keluarganya sendiri ja kira permintaan maaf dan
kesempatan yang di berikan tuhan padanya ini sudah cukup. ternyata tidak semudah itu" t-tidak sayang kam menyangkut sungguh jangan katakan itu, apa luka ini sakit?" Aidan mengalihkan perhatian adiknya la tidak suka melihat mata bulat itu menangis ia mengecup sayang pipi adiknya berkali - kali.
"no tidak cakit, cakit itu caat mbang yayah bentak Anya" ucanya polos masih dengan air matanya. Azura melangkah mundur perlahan ia harus memberitahu seseorang sebelum penyesalan datang terlambat. Kali ini ia mengalah demi gadis kecil yang amat ia benci setelah ibunya.
...----------------...
400+100 sapam nexnya. Konfliknya ringan ko jeyeng tenang aja.
Votenya
See you nex time
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments