𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝒓𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈 !!,
...----------------...
"kematian Elizabeth istri pria silan itu! Cih" decihnya sinis. "Kau yang membawaku kesini, kenapa bukan kau saja yang mencari tau semuanya. biarkan aku hidup tenang dan mencari sesuatu dalam diriku yang hilang berhentilah mengatakan putriku sudah meniggal dia masih hidup!"
Ku rasa kau benar benar sudah kehilangan akalmu itu Arthur Regan Dinantara, la tak peduli seluruh keluarganya menyebutnya sudah gila, dan lebih parahnya lagi mereka memborgol kedua tangannya agar tidak mengamuk dan menghancurkan barang barang
. Mereka menyuruhnya meminum obat jelas ia tak mau. Doktor mengatakan jika dirinya terlalu banyak memakan obat tidur hingga membuatnya selalu berhalusinasi bahwa dirinya memiliki putri bernama Anya Quinzy.
Tidak ia yakin semua itu bukan mimpi melainkan petunjuk untuknya sama seperti terakhir kali itu. Bermimpilah jika kau ingin bertemu dengannya.
"tidak, Aku tidak perlu bermimpi untuk bertemu dengannya dia ada bersama pria itu, jelas dia putriku. Pria itu menyakitinya. Keluarganya membencinya, dia menangis. sendirian, tubuh mungilnya kedinginan, dia.... dia menatapku dengan mata bulatnya yang berlinang air mata dia memanggilku dengan sebutan yayah"
Lalu bagaimana dengan putrimu yang meniggal Laura laurens Dianantara. Arthur terdiam dengan rasa sesak memenuhi rongga dadanya mengingat semua itu.
"Laura laurens bukan putriku, sudah ku katakan berhenti berpura pura tidak tau sialan!" amarahnya tersulut.
suara teriakkan putranya dari luar kamar membuat pria yang berstatus Ayahnya itu langsung membuka pintu kamar yang sengaja ia kunci.
melihat putranya yang sudah tertunduk di lantai dengan suara tangisan yang memilukan, benar benar terlihat kacau di mana putranya yang dulu" Anya, aku ingin putriku Ayah berikan dia padaku. Aku tidak sedang bermimpi, dia sungguh ada di dunia ini. Mengapa kalian tidak percaya padaku"
"ku mohon biarkan aku mencarinya jangan borgol tanganku.
Kasihan dia putriku Anya..."
"sebutkan ciri cirinya" ujar Zegran Anatama Dinantara pria paruh baya yang berusia 55 tahun. la hanya ingin
menghentikan kegilaan putranya dengan menuruti apa kemauannya setidaknya. Putranya bisa tenang bahwa sesuatu yang ia cari tidak ada. Arthur mendongak dengan pancaran mata bahagia, Akhirnya
Ayahnya percaya padanya setelah di kurung selama seminggu membuatnya semakin tertekan. Tangannya meraih tangan Zegran" terimakasih Ayah sudah percaya padaku, dia... dia berusia empat tahun, matanya
bulat dengan manik mata coklat, surainya panjang bergelombang, pipinya gembul putih merona, dia sangat menggemaskan pasti kau menyukainya"
"dia di kurung di rumah besar putriku yang malang, Anya
Quinzy aku tidak tau dia di mana tapi yang kuingat di berada di sebuah Mansion bertuliskan keluarga Dirgantara. Ayah tolong cari dia"
Mendengar penuturan putranya Zegran menggangguk
mengiyakan setidaknya bisa membuat putranya tenang dan mau memakan obatnya Ayah akan mencari tahu asal kau mau memakan obatmu ini Arthur, bagaimana?"tawarnya
. Melihat obat yang di sodorkan padanya tanpa pikir panjang ia langsung mengambil obat di tangan sang Ayah dan langsung menelannya dan meminum segelas air yang di sodorkan sang ibu yang sedari tadi diam tanpa suara selain menahan. tangisnya.
"pertemukan aku dengannya kau sudah berjanji Ayah"
Zegran tidak bisa mengelak dan menyanggupi" sekarang tenangkan dirimu sementara sang istri menggenggam tangan
suaminya dengan sorot mata penuh tanya. Elisa Seline Dinantara 56 tahun,
Sebagai seorang ibu ia hanya khawatir suaminya menjanjikan hal yang tidak
mungkin bisa mereka berikan. Arthur tersenyum menyeringai tanpa mereka sadari "Aku berhasil dan apa yang akan kau lakukan?" batinnya yang di tunjukkan pada seseorang.
...----------------...
"jika mereka datang tinggal usir saja, aku tidak rela bukankah sudah bagian kita bermain dengan adikku" ucapan Aidan memeluk tubuh mungil adiknya yang sudah duduk berada di pangkuan.
Sedangkan kedua Abangnya menatapnya cemburu, si mungil selalu duduk kembali di pangkuan Aidan.
Mereka berkumpul di pagi hari di belakang Mansion menikmati matahari pagi untuk berjemur. Bagus untuk masa pertumbuhan babynya.
Bertanya tentang Agasta, Agasta masuk ke dalam Mansion untuk mengambil boneka putrinya yang ia letakan entah di mana. putrinya mencarinya.
Anya menarik rambut Aidan penasaran dengan warna rambut yang terlihat mengkilat berwarna biru.
Aidan mewarnai rambutnya."ambutnya cakit ya, kacian"Aidan menahan ringisan kedua Abangnya hanya terkekeh melihat ke aktifan si mungil. Akhir akhir ini adiknya begitu aktif hingga membuat mereka harus siaga.
"ndak lambutnya hitam halus kacih obat" ucap si mungil setelah di ambil alih Abang keduanya Xavier.
Alaska kalah telat dari Xavier jadi ia bisa lakukan hanya mengulas senyum dan menyentil dahi adiknya Aidan. Sudah rambutnya di tarik adik kesayangan sekarang Alaska menyentil dahinya cukup sakit.Padahal ia hanya ingin bergaya dengan rambut barunya.
"bukan di kasih di botakin sayang, kita cukur rambutnya mau?"ucap Xavier memperagakan sebuah gunting di tangannya, tentu saja mengundang tatapan tajam dari sebrang.
Si munggil menggeleng cepat" nou angan anti milip uyul"sontak saja ucapannya menghadirkan tawa kedua Abangnya.
"Aidan sudah ketemu sayang sini Ayah" ucap Agasta baru datang dengan keringat di keningnya. Di ikuti adiknya Sean mengintili Agasta" Wah lagi apa nih
piknik, paman juga mau ikut dong" ucap Sean berniat menyapa si mungil terleboh dulu. kau mengikutiku!" Agasta menatap tak suka kehadiran adiknya.
Pria itu menepuk bahu Agasta"Aku sudah meminta maaf bersama istriku, bisakah kita bersenang senang hari ini?"
"kamu merindukan hari hari dimana tawa itu kembali terdengar di Mansion ini bang?"
Agasta terdiam mengenang semua yang sempat berusaha ia lupakan" Sini sayang!" panggilnya Sean kepada istrinya yang berjalan dengan senyuman melewati suaminya.
Melangkah mendekati gadis kecil yang tengah di pangku Xavier, Xavier berdiri dari Aku hanya ingin meminta padanya Xavier" menyadari tatapan tidak suka ketiganya.
...----------------...
"Maafkam bibi sayang sempat menakutimu, mau kah kamu memaafkan bibi" memberikan coklat pada si mungil. Tangannya ingin menyentuh pipi gembul Anya tapi di tepis oleh Alaska. Azura mengangguk, sedangka si mungil mengambil coklat
"jangan menyentuhnya" peringat Alaska.
yang masih di sodorkan Azura padanya. Semua yang berhubungan dengan coklat ia akan lansung menerimanya. Bukankah anak kecil akan selalu luluh jika di tawarkan
makanan favoritnya belum mengerti orang dewasa fatal atau tidak. Azura terkejut "wah! princess memaafkan bibi sayang terimakasih"
Si menggangguku antusias, "yeay bisa main bareng setiap hari!" ujar Teo menyusul kedua orang tuanya di ikuti Devano. Sedangkan ke empat pria itu hanya menatap datar Azura.
"Ayolah tunggu Apa lagi Ayo kita bermain"Sean menggoda Agasta dengan kedipan.
"sialan mereka masih mewaspadaiku" batin seseorang. Jadwal up ganti sore aja gitu, ya. Malem day suka ketiduran sekitar jam 17: 00 wib in saya Allah.
...----------------...
300 vote + spam nexnya 100
Votenya
See you nex time
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments