...𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝒓𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈 !!...
...----------------...
Benci jadi Cinta
Seperti kisah klise biasa ketika kebencian berubah menjadi cinta. Isi novel itu menceritakan seorang remaja yang jatuh cinta pada seorang gadis yang selalu ia bully di sekolah.
Protagonis pria bernama Aidan Caesar Digantara, hidup di keluarga yang penuh dengan tekanan membuatnya muak, semua terjadi setelah ibunya meniggal melahirkan si bungsu, banyak perubahan di dalam keluarga terutama sang Ayah dan kedua Abangnya.
Protagonis perempuan bernama Kasandra murid baru, sifatnya yang lembut, baik hati, namun tegas.
Caesar mencari kesengan dengan cara yang salah, membuly murid baru sebagai bentuk kepuasan baginya
.Sampai Akhrinya ia jatuh cinta pada gadis itu, karena satu kejadian, saat ia ingin mengakhiri hidupnya gadis itu datang bak malaikat, menolongnya hingga akhirnya persasaan cinta itu tumbuh.
Di sinilah Anya berperan sebagai figuran, si bungsu yang di lupakan keberadaannya.
...----------------...
Agasta menetralkan rasa keterkejutannya ketika Makhluk kecil itu hampir saja jatuh, beruntung ia langsung sigap menangkapnya.
Netra gelapnya tak lepas dari pergerakkan yang di lakukan si mungil di pangkuannya. Bibir kecilnya melahap makanan yang di berikan Agasta, berupa potongan buah.
Rasa lelahnya hilang seketika melihat Makhluk kecil ini membuatnya terhibur, saat mata bulatnya yang begitu jernih tengah menatapnya begitu polos.
Tersadar dengan sesuatu, Agasta menetralkan perasaanya, tubuh mungil itu ia angkat hingga berhadapan dengan wajahnya, dengan bibir masih sibuk mengunyah Anya menatap bingung pria di hadapannya.
Agasta memejamkan matanya sejenak, ketika tatapan polos itu membuatnya terhanyut" Kau pembunuh kecil, istriku" ucapanya dengan sorot mata dingin.
Untuk sejenak Anya terpaku, raga ini sering mendengar kata kata Agasta tapi untuk kali ini bukan berupa sentakkan amarah, tetap saja menakutkan.
"bubu~" kata itu sudah lama ia simpan di lubuk hatinya hingga pada akhirnya ia ucapkan di hadapan Ayah barunya.
Kasih sayang ibu itu seperti apa? Jangankan seorang ibu bahkan kasih sayang seorang Ayah pun ia tidak pernah mendapatkannya.
Bibir mungilnya bergetar dengan mata yang berkaca kaca jadi katakan! sosok ibu itu seperti apa? Pikirnya.
Hati Agasta terhenyak, sudut matanya terlihat memerah menahan cairan bening. Ucapan Makhluk kecil itu membuat hatinya berdenyut
sakit"Bubu!" suara halus itu kembali terdengar di telinga Agasta.
Elizabet Alise Dirgantara.
Sebuah foto figuran istrinya yang cukup besar ia letakkan di dinding tepat di sebrang mungkin itu maksud si mungil.
Jari jepol Agasta mengusap pipi gembul Anya yang terasa begitu lembut, tatapannya beralih menatap figuran istrinya.
air mata sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, ucapan polos si mungil menjadi pukulan keras baginya.
Bagaimana bisa anak sepolos dan semenggemaskan ini membunuh istrinya, pikirannya seakan terbuka detik itu juga bertepatan dengan jari jempolnya yang terasa basah, ketika ia kembali menatap si mungil jarinya sudah masuk dalam mulut Makluk kecil di hadapannya.
Tangisnya pecah di hari ini sungguh dirinya begitu bodoh sudah menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan Tuhan untuk menjaga Malaikat kecinya ini yang sudah ia lupakan.
...----------------...
Dengan tangan asik memainkan stic game di tangannya Aidan menjawab pertanyaan Abang keduanya.
"Lo, bisa gak sehari aja gak buat ulah Cape selalu gantinya Ayah dateng"geram Xavier.
setiap kali adiknya berbuat ulah dirinya selalu menggantikan Ayahnya Agasta pergi kesekolah, karena kesibukan orang tuanya membuatnya mau tak mau mewakili.
Sementara ketiga temannya menutup mulut mereka rapat sesekali memainkan ponsel di genggamannya pura pura tak melihat.
Zaegar Abimana, Saka Pratama, Xander Grayala ketiga teman Aidan.
"Gue minta Maaf bang gak akan lagi buat ulah" ucapnya permainannnya sejenak.
Walaupun terkesan berandalan tapi jika menyangkut kedua Abangnya ia harus siap terkena ceramah dadakan dari keduanya walaupun pada Akhirnya masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Xavier menghela nafas kasar" Gak cape minta maaf ulang lagi, minta maaf ulang lagi bosen gue dengernya"
Aidan memusatkan perhatiannya pada Xavier" Lo gak inget ya, bang? Tanyanya" Lo juga dulu pernah di posisi gue, Gue muak apa apa selalu di atur inilah itulah memurut gue apa yang gue lakuin masih tahap wajar"
Xavier menatap tajam adiknya tangannya mengepal" Lo!--"
"Gue juga tau posisi Lo gak jauh beda sama kaya gue, semua yang lo sampai saat ini karena terpaksa tuntutan sebagai keluarga Dirgantara"
"Ayah memang adil aturan pada setiap murid di sekolah milik keluarga kita sendiri"
"Gue ingin hidup bebas tanpa di atur"
Emosi Xavier semakin tersulut" Aidan!"teriaknya.
"kita balik yuk!"Bisik Zaelani pada Saka.
"Hmm Gue ayo ayo aja, tapi ga jadi nih, kita mabar" Bisiknya di balas pelototan dari Xander, tak lupa dengan tangan menyentil dahi temannya itu" Masih mikirin mabar tar malem juga bisa kali"
"sungguh tak tau situasi"
...----------------...
Seravina benar benar gelisah pandangannya tak lepas dari pintu tuannya sedari tadi ia berbolak melewati memastikan bahwa nonanya baik baik saja.
la lupa kamar di kampungnya dan kamar okay berbeda, bahkan suara tangisan nonanya tidak bisa ia dengar karena kamar tuanya.
Salah satu bodyguard yang memperhatikan gerak gerik Seravina angkat bicara" Tenanglah Seravina, Tuan mana mungkin menyakiti nona muda, apa lagi nona kita begitu anteng jika sudah tidur kau tidak perlu khawatir"
Seravina terdiam"Tetap saja aku khawtir. jangan lupakan salah satu sifat kelurga Digantara yang sudah melekat sedari dulu kejam"ucapnya cukup membungkam Bodyguard.
...----------------...
"Apa maksudmu pembunuh kecil itu bersama Ayah?"suara dingin itu menyapa Seravina.
Agasta mecium setiap inci wajah putrinya dari kening, mata turun kehidung, pipi terus menerus ia ulang.
Bibirnya menggumamkan kata maaf dengan isak tangis" "Maafkan Ayah, maafkan Ayah, Maafkan Ayahmu ini sayang"Tawa Anya terdengar
merdu di telinganya hanya karena pelukan, kecupan dan ungkapan kata sayang darinya begitu mudah memaafkannya. Tangan gempalnya bahkan mengusap air mata Agasta.
"Bubu, Anya au kut bubu" ungkapnya pada Agasta membutnya semakin dilanda rasa bersalah.
Bahkan Agasta menggigit bibirnya dalam, iya putrinya belum pernah merasakan kasih sayang darinya ataupun mendiang istrinya bagaimana ia berpikiran sebodoh itu dan membuatnya menderita setiap saat.
"Ayah akan melindungimu dan menyayangimu sekarang sayang"jawab Agasta mengecup kedua mata putrinya.
lya jiwa meyra sudah menyatu dengan Anya sikapnya dan sifatnya akan bertikah seperti anak kecil pada umurnya.
...----------------...
Good nigt, tak banyak kata dari Day hari ini mata udah 5 menit (TT) Dan Makasih untuk votenya di chapter sebelumnya~(^3^)-♡
150 vote + spam nexnya 100
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
* bertingkat
2024-07-02
1
*mencium
2024-07-02
0
ih podo
2024-07-02
0