𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝒓𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈 !!
...----------------...
Alaska menatap tajam bocah yang memeluk kaki kanannya terlihat anak itu seperti monyet yang tengah bergelantung pada ibunya tidak melepaskan kakinya sedikitpun, ia tak peduli tetap melangkah mengunci pintunya kembali.
Alaska terpaksa membuka pintu, ia tak mau kehebohan bocah ini malah mengacau hingga ketahuan oleh Sean dan juga Azura paman dan bibinya.
Si mungil tentunya berada si dalam gendongan abangnya, tangan mungilnya terus menepuk dada bidang Alaska ingin turun"Anya au ain ulun ulun" antusiasnya.
Hancur sudah rencana memonopoli si mungil jika sudah datang pengacau tetapi tetap saja Alaska tak terima kekalahan"tidak kamu bermain bersama Abang, jangan bermain bersama anak nakal baby"
"nanti baby di gigit, di dorong, di buang "ucap Alaska menambahi supaya adiknya takut. Tentu saja perkataan Alaska membuat bocah yang tengah memeluk kakinya menceburkan bibirnya kesal enak saja di kira ia hewan apa?..
Mata bulatnya berkedip setelah mencerna ucapan Abangnya" akal ndak boyeh jadinya?" tanya polos si mungil.
Ekpresi si mungil ini benar benar membuat Alaska menggigit bibir dalamnya gemas "benar benar polos sekali"
"Tidak! Abang Alaska bohong princess. Mana ada gigit gigit aku baik loh, jika ingin tau ayo kita berteman?" melepaskan dari kaki Alaska, tersenyum cerah ketika perhatian boneka cantik itu beralih padanya.
Teo menganggap gadis kecil itu boneka cantik, karena baru pertama kali baginya melihat wajah semenggemaskan Anya kulit putih, mata coklat, bibir pink, rambut ikal panjang yang terlihat imut dan lucu apa lagi mendegarkan suaranya yang lembut.
"Namaku Teo si ganteng kalem anak nya daddy Sean, namamu siapa Princess?" mengabaikan tatapan dingin Alaska yang di tunjukkan padanya.
"Anya, Anya mungil susah payah mengucap
namanya baginya begitu sulit.
Teo bertepuk tangan "wah nama yang cantik sama seperti orangnya "pujinya dengan senyum ceria, kemudian beralih menatap pria tinggi menyebalkan di hadapannya"Ayolah. bang Alaska turunkan baby Anya! Kau tidak ingin mengalah padaku pada anak kecil sepertiku leherku pegal nih jika harus mendongak terus menerus"dumel ya.
Alaska mencoba mengabaikan dan membawa kembali si mungil duduk di tepi ranjang di ikuti bocah itu yang
menghentakkan kakinya kesal.
Teo mencoba menaiki ranjang dengan susah payah ketika badan boneka cantik itu di dudukan di sana" Baiklah abang menginjinkanmu bermain bersama tapi ingat baby nanti, kamu tidur di sini bersama Abang okey"tanganya mencubit gemas si
Si mungil tertawa dengan Anggukkan" Teo secepat mungkin di samping Anya.
"ya ampun wangi khas bayi!" ucapnya, aroma minyak telon lebih tepatnya" kalo gini mah mau gak culik terus jadi adik aku nanti kita bisa main sepuasnya?" tawar bocah itu,
Tentu saja hal itu membuat tangan Alaska melayang menggetok kepala bocah itu cukup kuat" Berani sekali kau bocah sudah berbaik hati aku mengijinkanmu masuk dan bermain kau ingin mengambil Millikku, maka pergi Keluar" usirnya pada bocah itu.
Teo mengusap kepalanya cukup sakit, terlihat matanya yang berair" Mommy!"teriaknya di dalam kamar Alaska berpura pura menangis demi menarik perhatian si mungil.
Tentu saja suaranya tak bisa di dengar, kamar Alaska kedap suara.
Wajahnya si mungil memberengut dengan kedua alis menekuk tak suka jika Abangnya melukai teman barunya, berdiri dari kasur dengan kedua tangan memegang pinggangnya."ndak boyeh gitu cama eo kan angis, bang ahat. Anya ndak cuka" marahnya.
Untuk kali ini Alaska terkekeh melihat marah adiknya yang menggemaskan itu, apa lagi ketika kedua tangan gempalnya di letakkan di pinggang bukannya terlihat garang malah jatuhnya lucu.
Kedua orang tuanya berdiri di luar kamar Alaska ketika putranya itu berteriak dan berlari membuat keduanya mau tak mau mengikuti.
Jika tak di turuti putranya itu akan menangis dan berakhir marah seharian.
"ketuk saja pintunya sayang, Alaska tidak akan marah lagian pasti putra kita mengganggu di dalam" ucap Sean pada sang istri.
Azura khawatir sebab ia tau perangai keluarga Dirgantara takut putranya melakukan kesalahan Apa lagi ketika mendengar penjelasan dari putranya Devano, yang melemparkan batu kerikil ke kamar Alaska.
Devano pun terlihat khawatir terlihat dari gerakkan matanya. yang gelisah meskipun adiknya sering menggagunya tetap saja ia peduli bagaimanapun juga yang selalu menemani hari harinya dengan celotehan randomnya.
"Boneka, Apa yang di maksud adikmu Devan?"tanya sang Ayah ketika istrinya mengetuk pintu kamar Alaska.
"Boneka Cantik tapi aku tidak tau apa yang di maksud, bukankah tadi juga dia berteriak saat masuk Mansion Dadd"
"kenapa Alaska tidak membuka pintunya mas? Dobrak saja Aku khawatir pinta Azura pada suaminya.
"kakak ipar pasti tidak akan marah Mas"desak Azura ketika suaminya terdiam.
Sementara di dalam kamar bocah yang di khawatirkan sibuk memakan makanan yang di sediakan Alaska supaya keduanya diam di tempat.
Perutnya, merasakan sakit tiba tiba mungkin terlalu banyak minum membuatnya harus menuntaskan terlebih dulu hingga menitipkan si mungil pada bocah itu, beruntung amarah adik bungsunya reda karena permintaan maafnya pada Teo itupun dengan terpaksa, walaupun ia tau
keponakannya tengah berbohong.
"hahaha lucu ya masa gitu aja gak bisa tangkep" tawa Teo memenuhi ruangan di ikuti tawa si mungil.
Tom and jerry yang sekarang sedang mereka tonton, Teo ingin keluar bersama Anya tapi
malah di larang pria dingin itu menyebalkan sekali bukan. Tangan Teo menggenggam tangan gempal milik Anya tak
henti hetinya ia mengecup tangan gempal itu karena gemas, ia juga yang menyuapi makanan ringan pada si mungil termasuk coklat yang ia potong memudahkan Anya coklatnya.
Meskipun terlihat membantu tapi terkadang Teo salah mengarahkan coklat pada mulut itu dan alhasil pipi putih. Anya yang terkena.
Ide jail terlintas begitu saja di pikirannya mumpung Pria dingin itu sibuk di kamar mandi tidak ada salahnya mengajak main Anya keluar lagian apa yang perlu di khawatirkan tidak mungkin ada penculik setiap penjuru Mansionkan di jaga
bodyguard pikirnya. Padahal bukan itu alasan Alaska.
Teo mengambil bantal di atas kasur kemudian ia lempar kebawah untuk memudahkannya menurunkan Anya, dan juga dirinya.Tentunya si mungil memperhatikan tindakan Teo yamg lansung melompat dari atas kasur turun ke bawah.
"princess kita main di luar yuk, eo bosen" ucapnya menerima panggilan khusus dari Anya untuknya.
"ndak boyeh pelgi cama bang" ucap si mungil mengingat
perkataan Abangnya.
Teo mengeleng cepat" boleh kok sini kita main di luar ada ikan loh" ucapnya mengiming ngimingi.
Anya menggusur antusias melupakan pesan Abangnya karena ia menyukai ikan hias.
"turunnya jangan lompat ya princes nanti jatuh, pelan pelan
aja kaki aja dulu yang turun" meskipun sudah ada bantal di bawah ia ingin menjaga boneka cantiknya. Si mungil menuruti perkataan Teo.
Bertepan membuka pintu terlihat kedua orang tuanya terdiam mematung dengan mata terkejut, sang ibu yang
pertama kali menyadari" Ya Ampun boneka cantik ini yang kamu Maksud?" gemas Azura berjongkok mensejajarkan. dirinya dengan si mungil...
Mata bulatnya yang mengerjap lucu di tambah pipi gembul yang belepotan coklat tangan ketik Azura mengusap pipi itu."Ya ampun habis makan coklat ya sayang?" tanya Azura pada si mungil.
Tak jauh berbeda dengan sang istri Sean pun merasa gemas
dengan wajah imutnya.
"Momm apa itu boneka hidup?" tanya Devano tak percaya dengan apa yang ia lihat, suara lain menyaut.
"Sedang apa kalian disini bukankah aku sudah bilang diamlah di tempat Sean" ucap Agasta yang belum menyadari.
Agasta pergi mengambil berkas penting yang ia akan berikan pada Sean, tapi setelah ia kembali adiknya malah tidak ada.
...----------------...
Sorak sorai dari para penonton membuat susana sore
semakin memanas beberapa mobil berhenti di garis finis. Xavier keluar dari mobilnya, di ikuti Aidan yang langsung disambut teman temannya.
lya mereka pergi sebelum Teo memasuki Mansion, dan mendapatkan pesan dari teman temannya sendangkan
Xavier mengikuti dan mengambil alih tempatnya. Tak lama salah satu mobil berhenti tepat menerjunkan kaca mobil" pantesan lo yang ngendarai nya" yang di maksudkan nada Javier
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments