𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝒓𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈 !!
...----------------...
Agasta tak peduli apa yang dipikirkan adiknya Sean dan juga Azura yang terpenting dia sudah menyadari kesalahannya jikapun mereka tidak menerima keberadaan putrinya ia malah bersyukur setidaknya si mungil ini akan selalu berada di sisinya tanpa campur tangan siapapun.
Mungkin Agasta lupa ketiga putranya pun sudah tertarik pada makhluk kecil yang berada di pangkuannya saat ini.
Sebelum Sean sempat berucap mengeluarkan kata Agasta sudah menyuruhnya pergi dari Mansion Apa lagi setelah mendengar perkataan kurang ajar dari Azura istri adiknya" bukankah dia terlihat mirip dengan Elizabeth...."
"si pembunuh kecil?"tebaknya pada Agasta terlihat raut wajahnya tak suka begitupun dengan adiknya Sean. Sebelum perkataan kejam lainnya keluar dari mulut itu,
Agasta terlebih dulu mengusir mereka keluar ketika melihat raut wajah putrinya yang murung. Si mungil mendongak menatap Ayahnya yang terlihat melamun" ya-yayah?" panggilnya ragu. Agasta tersenyum mendengar panggilan lembut dari
putrinya," kenapa sayang? Ingin sesuatu katakan jangan ragu Ayah akan memberikan apapun untuk baby" mencoba mengalihkan perhatian putrinya.
Tetap saja tidak mempan, si mungil tetap penasaran "namatu Anya, Anya.... ukan ci pembunuh kecil. Apa tu pembunuh? mengapa yayah, mbang cuka panggil Anya itu?"Si mungil dirinya sendiri " Anya ukan pembunuh, Anya adalah Anya" ucapnya polos pada sang Ayah..
Agasta terdiam seribu bahasa ketika netra coklat itu menatapnya penuh tanya dan bingung, pertanyaan polos yang keluar dari mulut putrinya membuat dirinya dilanda rasa bersalah kata kata itu akan selalu membayangi putrinya entah sampai kapan.
Si mungil mengerucutkan bibirnya, ketika Ayahnya diam"
Yayah, bibi, Aman cemuanya celalu iam, Anyakan beltanya. api celalu ndak di jawab"
"cucah ya? Yayah ndak tau?" si mungil menuntut jawaban.
Agasta memilih menggendong putrinya di bandingkan menjawab ia memilih mengecup pipi bulat itu, sebelumnya ia sudah memandikan putrinya dan sekarang si mungil tengah menggunakan piayama bergambar kucing di hiasi bando telinga hewan dan itu terlihat menggemaskan di matanya.
Tangan gempalnya menepuk wajah Ayahnya pelan" ain aja yuk, kejal kejalan. Anya jadi cinga besal" ucapnya melupakan pertanyaannya.
"mana ada singa bertumbuh mungil sepertimu baby" jawab Alaska. Si mungil menoleh menatap bingung wajah Abangnya yang
nampak memerah, menyadari tatapan si mungil pada wajahnya Alaska berkilah" Tadi Abang jatuh sayang sini minta di cup loh lukanya nanti cepat sembuh"
"lali lalian jatuh?"Alaska menatap Ayahnya sekilas menerima
hukuman karena lalai menjaga adiknya. Jangan tanya berapa pukulan yang harus ia terima tanpa melawan oleh bodyguard suruhan Ayahnya, hukuman ini
termasuk di keluarga Dirgantara. Alaska menerima karena dirinya salah, menitipkan adiknya pada bocah itu liat saja hukuman yang menanti Teo, memang mulut anak itu tidak bisa di percaya begitu saja.
"iya jadi dari pada berlari lebih baik baby nonton film Marsha and Bear sama Abang" memperlihatkan ponselnya.
Bukannya si mungil yang menjawab melainkan Agasta" Kau masih dalam masa hukumanmu Alaska. jadikan ini sebagai pembelajaran untumu keluarga Dirgantara tidak akan pernah memberi kesempatan untuk kedua kalinya kau paham itu?" Alaska tak beranjak sedikitpun dari tempatnya.
"Aku tidak suka kalimat itu dua kali" menyuruh
putranya untuk pergi dari ruangannya. Ail menatap Ayahnya dingin ini yang ia benci dari kelurganya terlalu otoriter bahkan pada keluarganya sendiri meskipun sudah menerima hukuman, hukuman yang lain
"Beri aku hukuman yang lain aku akan menerimanya asal biarkan aku bermain dengan milikku tangannya mengepal. Agasta tersenyum sinis atas keberanian Alaska karena untuk pertama kali putranya menentang perintah darinya" kau sudah menandai adikmu Alaska tetapi dia bukan barang ganti kosa katamu itu"
Hal yang menyebalkan melihat senyuman remeh itu dari wajah pria itu yang sayangnya adalah Ayahnya sendiri kau lupa tentang sesuatu Ayah hal yang berharga bagi keluarga Dirgantara di sebut jadi kenapa aku harus mengganti kata itu"
"adikku yang berarti Milikku tidak ada yang salah"bantahnya.
Sudahlah semua keluarganya memilki sifat dominan tidak ada yang mau mengalah ketiga sifat putranya menurun darinya.
"jangan anggap manusia sebagai barang yang bisa kau klaim milikmu Alaska semua itu berbeda"
"cara pandang keluarga kita memang seperti itu tapi tidak dengan manusia mengerti?"
"Aku mengerti Ayah" ucapnya, tentunya ia tidak akan seberengsek itu, jika ia salah ia akan mengakui. Salah satu sifat Alaska yang di sukai Agasta berbeda dengan Aidan.
...----------------...
Si mungil di dudukan dia atas meja kerja Agasta mengawasi pergerakkan si mungil yang suka sekali mengemut jari jempolnya jika di dudukkan di pangkuannya.
Menyelesaikan dengan cepat tanda tangan yang di perlukan setiap berkas.
Si mungil sibuk memasukkan kue keju ke dalam mulutnya" Enyak nyam nyam" ucapnya, Agasta tersenyum dengan gemas mengecup pipi putrinya. Jelas mendapatkan penolakan dari tangan si mungil yang berusaha menghindari serangan kecupan dari sang Ayah.
"kenapa kamu semenggemaskan ini, jika bisa Ayah ingin memakan pipi bulat ini, hidung ini, tanganmu, dan juga kaki hmm?" ucap Agasta membawa putrinya kepelukannya.
Lain dengan pikiran Ayahnya si mungil menganggap Agasta hendak memakannya. Mata bulatnya berkaca kaca menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang Ayah dengan gumamaman, tentunya Agasta belum menyadari hal itu.
"Anya ndak enak jangan akan yayah, ndak angan" ucapnya polos.
"au mbang!" teriaknya.
Agasta kaget mendengar teriakkan putrinya.
"sayang, baby tidak bukan makan seperti itu" kalut Agasta panik ketika putrinya menangis.
Menjauhkan wajah putrinya dari dadanya terlihat mata yang di penuhi air mata dan bibir yang bergetar.
Akhhh ia benar benar hatinya telah di rebut oleh putrinya ini.
Minggu depan ia harus mulai menyelesaikan urusannya, mungkin hari hari berikutnya si mungil akan ia titipkan pada ketiga putranya.
Hatinya benar benar tak rela.
"Ayah menyayangimu sayang" ucapnya tulus.
...----------------...
Sean menutup pintu mobil cukup kencang hingga mengagetkan istri dan juga kedua putranya yang masih berada di dalam mobil.
Di sepanjang jalan keduanya terlibat cekcok, terlihat mobil terparkir di halaman Mansion tak kalah luas dengan Mansion Dirgantara.
Sean menyayangkan perkataan kejam istrinya di hadapan anak sekecil itu entah mengapa membuat dadanya terasa sakit saat istrinya mengatakan hal kejam pada mahluk kecil itu tatapan mata bulatnya yang polos membuatnya terenyuh.
Sementara kedua bocah yang berada di belakang tempat duduk saling menatap satu sama lain tak berniat menyusul kedua orang tuanya.
Mereka mempunyai sepupu perempuan yang sangat menggemaskan. Hari hari mereka yang membosankan mungkin akan sedikit berwarna karena Anya.
Si mungil begitu aktif ketika ibunya menyapa tadi siang sebelum insiden perkataan ibunya yang kejam berlanjut.
"Benar apa kata Daddy Mommy jahat sekali padanya yakan?
"bagaimana bisa Mommy menyebutnya pembunuh, pembunuh itu identik dengan wajah seram yakan kakk?"
Mengacak rambutnya pusing" Akkh padahal aku ingin selalu mengecup tangan gempalnya itu setiap saat, kau tau? wangi bayinya begitu menenagkan aku menyukainya"
Tentu saja ia tak taulah belum sempat memperkenalkan dirinya apa lagi menyentuh tangan boneka cantik itu.
"apa lagi pipnya itu! aku hampir saja membuatnya menangis ketika tidak sengaja mencubitnya karena gemas"cerocosnya tanpa menjeda
"aku rasa aku terkena panah di sini" rujuknya pada dadanya.
"panah suka sama bayi loh kakak" melototkan matanya ketika Kakanya menatapnya penuh selidik.
"Astagfirullah aku mah gak kenal cinta cinta cintaan masik kecil juga nanti kalau udah gede baru boleh" ucapnya dengan menaikan kedua alisnya menggoda sang Kakak.
Devano menampilkan wajah datarnya" Masih kecil belajar yang benar"
"okelah kakakku yang ganteng, ngomong ngomong soal princess Anya, Aku juga mau marah sama Mommy udah jahat sama princessku"menggebu dengan hidung kembang kempis.
...----------------...
"Tidak bisa Ayah sudah menitipkannya padaku, jangan curang lagi pun kau masih dalam hukuman Bang Alaska!" Si mungil di kelilingi keempat pria tampan ia duduk anteng di karpet berbulu dengan boneka di sampingnya.
Tangan gempalnya memainkan boneka singa, dan kelinci tak terganggu dengan kebisingan yang Abangnya buat.
"atu ingin memakanmu enci kecil" menggerakan boneka singanya"gerakkan si mungil lakukan tak lepas dari tatapan dingin seseorang di sebrang.
"angan akan aku, kasihanilah pelutku saja belum telisi cinga"
"hahaha pelutku juga lapal kamu adalah makananku kacihanilah aku" ucap sang singa yang di mainkan si mungil.
Xabiru Alexsander Dirgantara 21 thn.
Malam itu ia berhasil menginap meskipun mendapatkan penolakan di awal ia tetap mendapatkan tempat melalui opahnya kepala keluarga Dirgantara setelah Agasta.
Celotehan Mahluk kecil itu menarik perhatiannya.
Alaska merebut paksa si mungil yang tengah bermain di dudukkan di pangkuannya, mengecup gemas pipi itu tiga hari tak bertemu membuatnya frustasi hatinya sudah jatuh pada adiknya itu.
raut wajah Xabiru terlihat tidak suka dengan cara Alaska, mengagetkan tubuh mungil itu.
"dari pada di Mansion kita ajak main baby di luar yuk?"Ajak Aidan.
Ingat Xavier masih dendam dengan adiknya itu saat meninggalkannya di arena balap"Gue setuju asal jangan di tinggal" sindirnya.
"oh sorry soal itu sekalian temen gue juga ikut"
...----------------...
"Bisa bisanya Sean mendiamkanku karena anak itu, ucapanku tidak salah. Bahkan orang tuanya sendiri menganggapnya begitu" kesalnya.
"Lo gila jelaslah dia marah, zura zura pikiran lo di taro di mana" ucap temennya menimpal tak habis pikir.
Azura berkumpul bersama teman temannya di Restoran, seperti biasa kegiatannya shoping, pergi ke salon kecantikkan menghibur diri.
Salah satu dari mereka memesan minuman tersenyum menatap temannya"Pikiran dari seorang menantu Dirgantara jauh lebih gila di bandingkan kepala kelurga itu sendiri jadi lo pada jangan kaget, benar begitu bukan Azura?" kekehnya terlalu banyak meminum.
Perhatian teman temanya teralih padanya yang memias" hahaha dia lagi mabuk jangan anggap serius kali"
...----------------...
GOOD NIGHT
Malam lagi day up date, maaf akhir akhir ini Day sibuk banget. Udah di panjangin loh ini.
250 vote + spam nexnya 100 Votenya
See you next time
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments