Bertemu

...🌾🌾🌾 CEO Masuk Desa 🌾🌾🌾...

Dewi saat ini? Kulitnya jauh lebih bersih, tidak begitu putih tapi benar-benar bersih. Penyebabnya? Jika ingin berjualan ikan, dirinya tinggal memesan pada juragan Burhan, melalui sambungan telepon. Kemudian mobil box akan menjemput. Selebihnya, hanya berbelanja keperluan di warung serta merawat kebun kecil milik suaminya.

Tapi siapa sangka, kebun sempit ini akan menghasilkan buah kwalitas unggulan dalam jumlah besar. Pernikahan dingin dalam imajinasinya, dengan suami anti bakteri, perlahan menjadi pernikahan menyenangkan.

Tas yang selalu dibawanya berisikan pakaian ganti milik suaminya, semprotan anti kuman, hand sanitizer, dan lainnya. Sudah terbiasa, memahaminya, itulah yang terpenting, tidak memaksa Jefri untuk bersentuhan.

Tapi.

"Dewi, perutmu kenapa masih rata!? Ini sudah bulan ke tiga kan? Sudah periksa ke Bu bidan?" Tanya pemilik warung curiga.

"Mungkin karena aku tidak terlalu gemuk, jadi belum kelihatan. Tapi sudah periksa di bidan. Katanya sehat." Dewi terkekeh mengelus perutnya yang rata. Jangankan gol, berciuman saja tidak pernah. Jangankan bibir, kening pun tidak. Tapi bagaimana cara menjelaskannya?

"Kalau belum membesar juga, coba kamu konsultasi ke dokter di kota. Mungkin pertumbuhan bayinya lambat. Jaga-jaga saja, ini kan anak pertama." Ibu berbaju merah memberi nasehat.

"Benar! Anak saya pernah hamil anggur. Pada akhirnya janinnya diangkat. Saya masih berduka sampai sekarang. Dewi, anak kamu benar-benar baik-baik saja kan?" Tanya, Ibu berbaju hitam padanya.

"I... iya, anakku sehat..." Ingin rasanya menangis, bahkan mereka saja masih tidur di kasur terpisah bagaimana bisa bunting?

"Baguslah, suamimu gantengnya kebangetan, anaknya pasti seperti anak artis. Omong-ngomong sudah dengar belum, Juragan Burhan mau mengadakan resepsi pernikahan besar-besaran untuk Junita dan Deni? Sampai-sampai sewa artis dangdut kampung sebelah."

"Iya! Katanya Deni sudah mulai pegang usaha penggilingan padi. Untung Deni tidak jadi menikah dengan Dewi. Dapat anak juragan yang---"

Kalimat-kalimat lainnya tidak didengarkan olehnya. Walaupun dirinya yang digosipkan dan dicibir.

Karena menurutnya sekarang yang terpenting dari pria bukan kaya hari ini, tapi prospek kedepannya. Suaminya pintar dan serba tahu, rajin bekerja walaupun takut kotor. Hanya saja yang jadi masalah baginya, kapan gol? Kapan lahan keringnya akan dialiri? Kapan mereka akan punya anak?

*

Kembali pada saat ini...

"Ayolah pompa aku supaya kembung!" Pinta sang istri ingin segera hamil, sebelum warga desa tahu semua kebohongannya. Untuk menikahi tetangga sebelah.

"Kenapa harus?" Pemuda yang mengerutkan keningnya.

"Aku malu pada warga desa, karena sudah berbohong. Kamu tidak kasihan pada istrimu yang imut ini?" Pinta Dewi memelas.

"Kenapa harus kasihan, kamu yang berbohong, kamu juga yang bertanggung jawab." Senyuman menyungging di wajah suaminya.

"Apa selama kita tinggal bersama kamu tidak pernah napsu padaku!?" Tanya Dewi penuh harap.

"Tidak." Dusta suaminya dengan raut wajah datar, padahal aslinya terkadang melakukan hal yang memalukan di kamar mandi.

"Kamu biksu!? Impoten!?" Bentak sang istri.

"Menjijikkan untuk---" Kalimat Jefri disela, bibirnya dibungkam dengan ciuman. Bahkan Dewi memasukkan lidahnya secara paksa.

Pemuda yang membulatkan matanya, mendorong tubuh Dewi dengan cepat.

Uueek!

Uueek!

Dewi memijit pelipisnya sendiri, menatapnya ke arah suaminya yang muntah."Seharusnya aku tidak makan jengkol, petai dan ikan pindang tadi..." gumamnya, menyesalkan sang suami yang masih saja muntah.

Ciuman pertama yang tidak romantis sama sekali. Sang suami sampai lari ke kamar mandi, kumur-kumur, gosok gigi. Entah kapan proyek besar membuat anak akan terjadi.

Tapi kala Jefri keluar dari kamar mandi, menatap ke arah Dewi yang tengah membersihkan sisa muntahan. Seharusnya sang suami marah bukan?

"Maaf...aku belum mampu..." Ucap sang suami, merasa bersalah akan kelemahannya. Dua bulan ini dirinya menyadari, tidak akan pernah dapat menjadi suami yang baik.

*

Memetik melon dan semangka, setidaknya Jefri sudah dapat terbiasa membantu segalanya. Cukup aneh memang, melon yang mereka kemas dalam kardus, dibantu beberapa orang berseragam White Rose.

Sesekali dirinya melirik ke arah suaminya. Apa benar CEO White Rose? Tapi tidak mungkin, pemimpin perusahaan besar menjadi petani yang menanam melon dan semangka. Apalagi menikah dengan dirinya, mungkin saja Jefri hanya sekedar mengenal orang yang bekerja di perusahaan tersebut.

Tapi yang pasti tahi kucing rasa coklat, kalau sudah cinta kesulitan apapun akan dihadapi olehnya. Kalau dulu prinsipnya cinta ditolak pak kades bertindak. Maka kali ini cinta ditolak jamu bertindak. Walaupun sang suami selalu enggan meminum jamu dengan telur ayam kampung mentah.

"Yang... semangka dan melonnya dijual berapa?" Tanya istrinya ingin tau, menatap sang suami tengah mengotak-atik M-banking di handphonenya setelah melon dan semangka diangkut ke dalam mobil box.

"Melon, berkisar 110-150 per buah tergantung kwalitas. Kalau semangka dijual per kilogram. Nanti aku ajarkan cara menghasilkan uang. Tugasmu sekarang cari tanah di dekat sini dengan harga yang murah. Kita membuat green house lagi, pastikan tanah yang akan dibeli dapat ditumbuhi semak belukar dengan mudah. Tidak boleh liat atau terlalu padat." Jefri menghela napas kasar, melangkah menuju laci, mengeluarkan amplop coklat tebal."Uang ini kamu boleh belikan apa saja. Aku sudah berjanji menghidupi mu, jadi bukan hanya sekedar makan saja. Pakai bersenang-senang."

Menelan ludah kasar, menatap merahnya uang yang lebih indah daripada merahnya semangka."Terimakasih! Ayang memang yang paling baik..."

Cup!

Satu kecupan mendarat di pipi Jefri. Istri yang tersenyum berlari melangkah keluar, melompat-lompat sembari membawa amplop berisikan uang tunai.

Sedangkan sang pemuda meraba pipinya sendiri sembari tersenyum-senyum. Terkadang ada yang tidak mereka sadari, seperti tanaman semangka yang tumbuh perlahan. Begitu juga rasa takut itu akan pudar.

Bukan hal instan seperti keajaiban sang mysophobia dapat melakukan one night stand. Tapi belajar perlahan agar dapat lebih berani dan terbiasa.

Dirinya tidak segera mengusap pipi. Malah tersenyum-senyum mengingat segalanya. Mengapa terkadang makhluk yang bernama istri begitu manis dan ceroboh? Berbeda dengan para wanita yang menggangu dan memaksanya.

Menghela napas kasar, ada kalanya ketika dirinya menginap di hotel untuk perjalanan bisnis, seorang anak pengusaha merayap di tempat tidurnya. Membuka baju, berusaha menciumnya. Atau salah satu pegawai yang memegang tangannya, merabanya usai memberikan obat.

Segalanya terasa begitu menjijikkan. Dirinya mysophobia, apa mereka tidak mengerti? Apa mereka fikir berhubungan semudah yang tertulis di cerita komedi romance?

Tinggal berhubungan sekali, maka mysophobia akan sembuh? Tentu tidak semudah itu.

Untuk menjadi teman yang tinggal bersama Dewi cukup baik. Setelah ini dirinya akan membawanya untuk tinggal di kota. Ingat! Ini bukan cinta! Bahkan tidak cinta, hanya kewajiban dasar sebagai suami.

Jefri menghela napas, mengecek krim perawatan wajah istrinya yang sudah mulai habis."Aku harus memesan lagi, bajunya juga sudah seperti kain pel." Keluhnya.

*

Gila! Entah berapa uang yang ada dalam amplop. 5 juta sebelumnya saja masih di simpan Dewi di bawah bantal. Ini ditambah dengan."10 juta..." gumamnya, tidak mengetahui itu hanya seujung jari bagi Joseph Northan Fredrik.

Berhati-hati menjaga tasnya kala melangkah keluar. Hal yang dibelinya? Dua set pakaian untuk menghadiri kondangan pernikahan mantan, sepatu murah untuk suaminya, stok masker, hand sanitizer, sarung tangan karet, berbagai cairan pembersih lainnya. Tidak lupa juga beberapa set pakaian untuk Jefri.

Eh! Tunggu dulu! Kenapa jadi terbalik. Dewi membelikan keperluan Jefri karena cinta. Sedangkan Jefri membelikan keperluan Dewi karena...

Sudahlah yang pasti bukan karena cinta. Pastinya karena tidak ingin ayang tampil buruk... karena perasaan peduli dan berdebar kala bersamanya. Ingat! Bukan cinta.

Namun.

Kala dirinya membawa banyak belanjaan langkahnya terhenti. Dirinya tersenyum canggung, untuk pertama kalinya bertemu setelah 2 bulan lalu."Juragan..." sapa Dewi sedikit menunduk.

🌾🌾🌾

...Tidak banyak yang dapat aku lewati di tempat ini....

...Salju turun membuat tangan ini terulur, hangatnya suhu tubuh, membuatnya cair....

...Menunggu di pemberhentian bis, bagaikan harapan yang sia....

...Gadis kecil berlari di selatan. Sedangkan aku? Mengais beras di Utara....

...Mengumpulkan uang, untuk mencari Lily-ku, yang selalu tertinggal di musim panas....

Joseph Northan Fredrik.

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

cinta karena terbiasa

2024-06-24

0

🌠Naπa Kiarra🍁

🌠Naπa Kiarra🍁

Cinta tubuh karena terbiasa

2024-04-27

0

Nur Wahyuni

Nur Wahyuni

waduh ketemu juragan lagi..

2024-04-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!