...🌾🌾🌾CEO Masuk Desa 🌾🌾🌾...
Menenangkan diri dengan secangkir teh dan musik sedih bagaikan orang patah hati. Pemuda yang begitu menghayati lagu, tidak menyadari dirinya sebenarnya memang patah hati. Karena ditinggal kawin oleh ayang.
Entah kenapa dirinya ingin menghilangkan penat. Kembali membersikan rumah kecilnya yang sudah bersih. Tapi yang ada diotaknya hanya."Tetangga sebelah hari ini kawin."
Membaca data tentang proyek apa saja yang dipegang oleh adiknya. Namun yang ada diotaknya hanya."Tetangga sebelah hari ini kawin."
Mengecek pemasaran melon dan semangka kwalitas super nantinya. Tetap saja berfikir."Tetangga sebelah hari ini kawin."
"Memangnya kenapa kalau kawin? Bukannya bagus..." Gumam Jefri tidak mengerti dengan perasaannya yang campur aduk.
Sejenak kala dirinya membuka media sosial, ada cuplikan film dewasa. Membayangkan Dewi melakukan hal yang menjijikkan, dirinya bukannya jijik malah marah-marah sendiri."Dasar! Memang pantas tikus dan kambing tua menikah!"
Lagi-lagi hatinya resah gelisah tidak tahu harus bagaimana. Makan tidak selera, tidur pun tidak nyenyak.
Hingga.
Suara ketukan pintu terdengar. Siapa yang mengganggu rubah putih ini disaat-saat tergalau dalam hidupnya?
Kala pintu dibuka maka puluhan orang terlihat, membuat rasa galaunya lenyap seketika. Dirinya mundur tidak ingin tertular kuman dan bakteri dari orang-orang desa yang entah sudah cuci tangan atau belum.
"Ke... kenapa kalian kemari?" Tanya Jefri gelagapan, meraih masker dan sarung tangan dengan cepat.
"Jadi kapan kamu melamar anak saya?" Pertanyaan dari Supra, seseorang yang diketahuinya sebagai tetangga sebelah sekaligus kepala desa.
"Melamar!?" Teriak pemuda itu tidak mengerti.
"Yap! Menikahi anakku! Kapan kamu akan melamarnya. Tidak! Langsung menikah hari ini saja! Bikin malu! Kalau punya burung itu dijaga. Punya nafsu ditahan!" Bentak sang kades pada pria mysophobia tidak berdaya.
"Aku tidak mau menikah." Ucapnya kebingungan.
Dalam hatinya masih yakin, jika ini hanya perangkap.
Namun...
"Sayang, aku hamil anakmu..." Kalimat Dewi membuat dirinya terpojokkan.
"Kalian sudah gila! Saat pulang nanti desa kotor ini akan ku ratakan dengan tanah!" Ancaman darinya, jujur dirinya benar-benar takut akan situasi saat ini.
Tidak ada bodyguard di tempat ini. Menghubungi polisi? Dengan akses jalan yang rusak, satu jam baru petugas kepolisian akan sampai.
"Sayang... saat menyakinkanku untuk melakukannya, kamu berjanji kita akan menikah." Dewi tertunduk menitikkan air matanya. Sungguh gadis sialan! Air susu dibalas dengan saus mayones.
"Ini tidak benar! Secara hukum ada yang namanya asas praduga tidak bersalah. A...aku akan menghubungi pengacaraku. Jika ini tidak benar aku bisa menuntut kalian atas pencemaran nama baik, kalian tau aku CEO White Rose? Harga saham perusahaan dapat anjlok, kalau issue buruk tersebar. Aku bisa menuntut jutaan dollar pada kalian sebagai ganti rugi!" Kalimat demi kalimat ganjil yang sejatinya disadari Supra dan Dewi.
Sang kepala desa sedikit ragu. Bagaimana jika putrinya berbohong dan pria ini benar-benar meminta ganti rugi. Jangankan jutaan dollar, tabungan bersama keluarga mereka pun hanya baru sampai 1.500.000.
Tapi Dewi berfikiran berbeda. Asalkan sudah menikah, suaminya mau mengatakan apapun tidak akan bisa. Menuntut istrinya? Berarti yang bayar suaminya bukan?
"Di...dia tidak mau bertanggungjawab. Ini benar-benar anakmu, saat itu hujan deras. Kita baru pulang dari kota, dalam perjalanan, kamu mengajakku ke penginapan. Katanya kalau sentuh sedikit tidak apa-apa. Tapi keterusan, aku bilang jangan masukkan, tapi kamu bilang sedikit saja, se... setelahnya malah gol...aku tidak perawan lagi. Kamu berjanji untuk menikahiku kamu lupa? Apa kamu hilang ingatan seperti di film-film?" Tanyanya, tertunduk masih menangis.
"Aku tidak lupa! Kamu yang delusi! Kapan kita melakukannya---" Kalimat Jefri disela.
"Aku saksinya! Satu bulan yang lalu, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Dewi berjalan mengendap-endap keluar dari rumah ini, waktu itu sekitar jam 3 pagi. Saya sempat mengintip dari jendela di dalam kamar, orang ini tiduran cuma pakai boxer. Kalau bukan berbuat mesum lalu apa!?" Pada akhirnya sang penjaga warung maju. Inilah saatnya sang pembela kebenaran dan keadilan mengalahkan kejahatan.
"Itu tidak bisa dijadikan landasan. Apa kamu punya bukti seprei dengan jejak cairanku atau Dewi! Atau kamu punya rekaman video aku yang melakukannya!? Jika ada maka aku bersedia bertanggung jawab. Jika tidak aku akan menjebloskanmu ke penjara." Sebuah ancaman tidak main-main dari sang CEO yang menguasai kerajaan bisnis.
Kasak-kusuk para warga mulai terpengaruh. Beberapa yang bersemangat sebelumnya kini bungkam.
Tapi ini tidak boleh berakhir seperti ini. Ingat! Kemanusiaan akan mengalahkan pengacara sehebat manapun.
"Kamu jahat..." Dewi menangis pelan."Anakmu sedang ada di rahimku. A...aku tidak tau harus bagaimana. A... anakku..."
"Hajar saja!" Teriakan salah seorang ibu-ibu yang terprovokasi. Membayangkan jika anak perempuannya berada dalam posisi Dewi.
Sang kepala desa melangkah mundur, seakan sangat mempercayai anaknya. Memeluk erat Dewi yang masih terisak.
Dipukuli? Bagaimana kalau mati? Bagaimana kalau dibakar!? Tuntutan hukum apapun tidak akan berguna. Mereka mulai menendang kursi depan rumahnya hingga hancur.
Menelan ludah, jika dirinya berkata bersedia saja, tetap akan dipukuli, baru disuruh menikah. Atlet hangar? Itu tidak berguna jika di hadapan puluhan warga desa yang murka. Salah-salah lehernya terkena sabit. Ingat! Ini bukan karena dirinya cinta pada Dewi. Karena tidak akan pernah ada cinta diantara mereka.
Dirinya tertunduk, air matanya mengalir."Aku hanya takut tidak dapat membahagiakannya. Aku bukan orang kaya, aku baru sebulan pindah ke desa ini. Hanya yatim-piatu... tidak ada warisan tanah. Apa Dewi akan bahagia denganku? Dia akan lebih bahagia jika dengan juragan. Karena itu..."
Amarah warga mereda, mereka tertunduk tidak dapat menyalakan malaikat yang tengah menitikkan air matanya ini.
Apa yang ada di otak Jefri? Tentu saja mengulur-ulur waktu dengan alasan faktor ekonomi.
"Aku bahkan tidak memiliki mahar, tidak punya biaya untuk pernikahan, aku hanya kebetulan merantau ke desa ini. Aku mencintainya, jadi bisa diberi waktu seminggu saja, agar dapat melamar Dewi dengan cara yang pantas? Aku tidak akan melarikan diri, kalian boleh membawa tanda pengenalku." Ucap Jefri meyakinkan, berlutut di hadapan seluruh warga."Aku benar-benar mencintainya, aku membiarkannya menikah karena tidak ingin dia hidup susah denganku."
"Tidak! Jika diberi waktu seminggu orang licik ini pasti memiliki cara agar lolos!" Batin Dewi.
"Sayang...kamu tenang saja, walaupun sedikit aku punya tabungan. Kita menikah sekarang, ayahku akan mengurus surat-suratnya. Jangan cemas aku mau hidup susah denganmu." Dewi ikut berlutut mensejajarkan tingginya dengan Jefri.
"Wanita sialan ini!" Jeritan hati, pemuda yang begitu geram, tapi takut diamuk massa.
"A...aku akan membatu membuat hidangannya."
"Saya yang sumbang beras."
"Walaupun kecil-kecilan tidak apa-apa. Yang penting kalian harus segera menikah."
Itulah para warga yang akan bergotong royong. Menikahkan anak kades dalam waktu satu jam.
"Mampus!" Batin Jefri berusaha terlihat terharu.
🌾🌾🌾
...Salju ditengah musim semi. Itulah pertemuan kita. ...
...Hal yang mustahil bukan? Hanya sebuah keajaiban....
...Menginjak daun musim gugur berwarna kemerahan. Terkadang aku berfikir, bagaimana perbedaan itu dapat bersama....
...Tidak pernah bertemu, namun ingin saling melengkapi... Lily-ku....
Joseph Northan Fredrik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
ahjuma80
medusa dilawan wkwkw
2024-10-07
0
Miss Typo
tenang Jefri alias Jo, kamu akan menikah dgn Lily mu kok 😁
2024-10-02
0
Dede Mila
Jefri salah lawan....🤣🤣🤣🤣🤣
2024-07-20
0