Oh...Dewi ku

...🌾🌾🌾 CEO Masuk Desa 🌾🌾🌾...

Senyuman menyungging di wajahnya. Tunggu! Apa tempat ini menerima uang via transfer? Jika tidak dirinya harus pergi ke ATM terdekat bukan?

"Merepotkan!" Gumamnya mencari di google map letak mesin ATM terdekat.

Jalanan di desa ini banyak yang tidak rata, jadi untuk mobil mewah juga kurang cocok. Membeli mobil tipe off road? Mungkin lain kali saja.

Suasana yang sejuk berbeda dengan kota yang dipenuhi polusi dan virus. Mungkin karena itu juga terkadang dirinya enggan memakai masker di tempat ini.

Membenci Dewi? Tentu saja, tapi tetap menerimanya. Sudah menikah, bagaikan memakan sayur pare yang pahit. Mau tidak mau harus dijalani. Dirinya bukan Jonathan yang sembarangan mengucapkan akan bercerai dari istrinya.

Menuruni jalan hingga sampai pada minimarket Indoapril di desa ini. Satu-satunya minimarket yang ada mengingat betapa terpencil nya tempat ini.

Membersihkan tombol pada mesin ATM di minimarket tersebut menggunakan tissue basah. Barulah mulai memasukkan kata sandinya.

"Apa 10 juta cukup? Lebih baik tarik tunai di kasir." Gumamnya menghela napas, melangkah menuju kasir, sudah siap membawa handphonenya.

Ada sekitar tiga orang yang mengantri di sana. Hingga seseorang yang mengantri di belakangnya menepuk bahunya. Dengan cepat Jefri menghindar.

"Kamu suaminya Dewi kan? Perkenalkan namaku Cakra, kita tidak sempat berkenalan sebelumnya. Tapi aku adalah suami adiknya Dewi." Ucap sang pemuda canggung. Sedangkan Jefri menatap tanpa ekspresi, kembali mengenakan maskernya.

"Begini-begini aku PNS! Lain kali kita bisa bermain catur sambil ngopi. Omong-ngomong kamu tidak belanja, lalu kenapa antri di kasir?" Tanya Cakra ceplas-ceplos.

"Tarik tunai." Jawaban hanya dengan dua kata.

"Memang bisa?" Tanya Cakra yang hanya sering melakukan pembayaran via QR, atau menarik uang di ATM.

Pemuda yang benar-benar melakukan tarik tunai melalui kasir. Membuat Cakra mengernyitkan keningnya, orang ini lebih modern dari dugaannya.

Melangkah keluar setelah memasukkan uang ke dalam ransel. Dengan cepat pula Cakra mengikuti setelah membeli rokok incarannya.

"Katanya kamu petani." Ucap Cakra lagi tidak mengerti.

"Memang, aku petani yang menanam melon dan semangka." Jawaban dari pria dengan tubuh semulus porselen.

Perlahan Cakra membandingkan dirinya yang PNS dengan sang petani. Kulitnya sawo matang, sementara alien berkedok petani ini bagaikan selebriti.

"Mana bisa!" Teriak Cakra iri. Mungkin besok dirinya akan mulai menggunakan produk pencerah wajah berbahan Mercure.

"Omong-ngomong istrimu dimana?" Tanya Cakra penasaran.

"Beli ikan mujair. Aku menyuruhnya membeli sebanyak mungkin. Kebetulan ada event di---" Kalimat Jefri disela.

"Ikan? Di tambak milik juragan Burhan? Kamu membiarkan istrimu pergi sendiri ke tempat aki-aki perkasa itu!?" Seketika kalimat Cakra membuat langkah Jefri terhenti.

Pemuda yang tiba-tiba berusaha tersenyum."Jadi tambaknya di tempat juragan Burhan!?"

"Iya... setahuku disini satu-satunya---"

"Dimana tempat tambaknya!?" Bentak Jefri tiba-tiba emosi. Ingat! Dirinya tidak cemburu atau membayangkan istri tercinta berselingkuh. Dirinya hanya kurang rela kalau ayang bertemu dua mantan.

"Disana!" Jawab Cakra gelagapan, menunjuk ke arah tambak yang berada di bawah jalanan.

Begini, jika melewati jalan biasa, maka akan turun perlahan melewati jalan aspal dan gang memerlukan waktu sekitar 30 menit dari tempat mereka berdiri.

Tapi...

Jefri melewati pembatas jalan, pemuda yang benar-benar membenci ini entah kenapa. Seharusnya dirinya tidak membiarkan Dewi membeli ikan.

Jurang? Seperti itulah jalurnya, atlet hangar ini bergerak dengan kaki lincah bagaikan ninja, Menuruni jurang dengan tingkat kemiringan 45 derajat. Salah pijak? Mungkin dirinya akan berguling membentur batu kemudian hilang ingatan.

Tapi tidak, benar-benar sial! Lain kali dirinya tidak akan membiarkan istrinya keluar sembarangan.

*

"Apa yang kamu lakukan disini? Pasti membeli ikan busuk untuk dijual." Sindir Yunita, bibirnya tersenyum benar-benar kesal pada orang ini. Ayahnya, juragan Burhan bahkan telah merencanakan pernikahannya dengan Deni karena tidak ingin menanggung malu.

Deni? Dirinya tidak mencintai Deni. Dirinya hanya menyukai kala berhubungan dengannya. Tapi menikah dengan Deni, siapa yang mau?

"Aku mau beli yang segar, kwalitas terbaik." Jawaban Dewi tertunduk tidak yakin.

Yunita seketika tertawa kecil."Uang darimana?" tanyanya.

"Suamiku yang menyuruh. Jadi..."

"Suamimu? Dia cuma petani miskin yang punya lahan sempit. Luas rumah kalian saja paling seukuran kamar tamu di rumahku." Senyuman menyungging di wajah Yunita. Tapi memang benar bukan? Rumah Jefri di desa tidak begitu luas. Beda dengan di kota yang... bahkan ruangan gym yang dilengkapi kolam renangnya seluas rumah Yunita.

Dewi masih saja menunduk, jujur dirinya tidak yakin, uang darimana suaminya akan membayar ikan-ikan ini. Pakai uang tabungannya pun sudah pasti kurang.

"Dewi?" Panggil seseorang, suara yang begitu familiar, berjalan tertatih mendekati mereka. Dapat diduga dari hancurnya wajahnya, juragan Burhan sudah pasti sempat memukuli Deni.

"Dewi! Kenapa kamu memutuskan menikah dengannya!?" Bentak Deni mempertanyakan hal yang sama lagi.

Dewi menatap jenuh pada akhirnya ucapan penuh senyuman keluar dari mulutnya."Karena punya Jefri besar, panjang, kuat dan tahan lama."

Benar-benar sebuah jawaban aneh bukan? Dirinya berusaha tersenyum benar-benar berusaha. Harus menjadi sinting untuk menghadapi orang sinting.

"Ka...kamu bukan orang seperti ini---" Gumam Deni dengan nada suara bergetar.

"Aku dengar-dengar kamu hamil duluan. Dasar bodoh! Tidak bermoral! Aku pastikan kamu tidak akan bertahan tinggal di desa ini!" Yunita mengepalkan tangannya menatap tajam.

"Kenapa kalian dendam padaku, padahal aku hanya ingin menyatukan kalian?" Tanya Dewi bagaikan wanita tidak berdosa.

"Aku tidak mencintai Deni! Sudah aku bilang kami hanya bersenang-senang! Tidak ada perasaan cinta sama sekali!" Bentak Yunita.

Dewi menghela napas kasar beralih menatap ke arah Deni."Kamu memang tidak memiliki perasaan pada Deni. Tapi Deni? 9 tahun aku menjalin hubungan dengannya. Paling romantis dibelikan martabak, itupun setahun dua kali. Sedangkan padamu? Nasi padang, aku yakin lebih dari sekedar nasi padang."

"Begini saja, kenapa kamu bisa berhubungan dengan Deni?" Tanya Dewi pada Yunita.

"Hanya ingin, kami hanya saling memuaskan. Gadis desa kolot sepertimu mana mungkin mengerti. Di kota sudah biasa, terkadang orang mabuk tidak sengaja melakukannya, walaupun mereka tidak saling mengenal." Geram Yunita bagaikan Dewi tidak mengerti akan maksud perkataannya.

"Jika begitu aku bersyukur tidak menikah dengan Deni. Misal, aku menikah dengan Deni, kemudian memiliki anak, butuh waktu satu atau dua bulan untuk bisa melayani suami. Maka Deni akan menghubungimu dengan dalih mencari kesenangan sebab selama fase nifas aku tidak mampu melayaninya, karena itu hal yang biasa. Yang terpenting tidak ada rasa cinta." Dewi tersenyum, sudah tidak sakit hati lagi. Yang terpenting sekarang adalah ikan pesanan ayang, tetangga sebelah yang sudah jadi suaminya. Malaikat paling rupawan tapi anti kuman.

"Kolot!" Cibir Yunita lagi.

"Wanita pinggir jalan 50.000..." Jawaban Dewi tepat sasaran, wanita lulusan SMP melawan calon sarjana.

"Ikannya jadi?" Tanya Junaidi.

"Jadi, kata suamiku sebanyak-banyaknya. Bawa langsung ke rumah, nanti sampai di rumah akan dibayar." Tangan Dewi gemetar, wajahnya pucat mengeluarkan keringat dingin.

"Paling tidak bisa bayar! Jangan tangkap dulu sebelum bayar!" Cibir Yunita.

"Tapi, Jefri bisa bayar! Pasti... mungkin..." Gumam Dewi tidak yakin.

"Nah! Begini! Berapa kilo kira-kira ikan kwalitas terbaik di tambak?" Tanya Yunita pada pegawai ayahnya.

"Tidak tau, mungkin 200 kg," Jawab Junaidi tidak yakin.

"Berapa biasanya harga per kilo?" Tanya Yunita lagi.

"Kwalitas super 40.000." Lagi-lagi Junaidi me jawab.

"Kalau begitu, jika kamu memang punya uang sekarang juga, di tempat ini, aku akan memberikan setengah harga, menjadi 20.000 per kilo. Kalau kamu melangkah pulang, sudah pasti kamu hanya penipu yang akan meminjam uang pada rentenir, hanya untuk gengsi. Harganya akan aku naikkan menjadi 80.000 per kilo kalau penipu sepertimu pulang dengan dalih mengambil uang, padahal mau pinjam." Kalimat dari Yunita yang memang ingin menghina Dewi di hadapan pekerja tambak.

Berapa pekerja tambak berbisik-bisik. Tidak mungkin Dewi mempunyai uang sebanyak itu, 4 juta rupiah? Bukan jumlah yang sedikit bagi orang di desa tersebut. Dewi memilin jemarinya.

Yunita tersenyum."Punya suami miskin seharusnya sadar---"

Srak!

Brug!

Byur!

"Agghhh! Sial aku basah! Baunya amis! Dewi sialan!" Suara teriakan yang dikenal oleh Dewi, membuatnya berlari ke arah belakang tambak.

Terpopuler

Comments

ahjuma80

ahjuma80

ga cemburu ya jef

2024-10-07

0

Miss Typo

Miss Typo

Jefri kecebur 😂

2024-10-02

0

Bzaa

Bzaa

Jefri kyknya yg sampe

2024-06-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!