...🌾🌾🌾 CEO Masuk Desa 🌾🌾🌾...
Cinta datang karena sang pengidap mysophobia bersentuhan dan tidur dengan seorang wanita? Itu sulit terjadi di kehidupan nyata. Ketakutan berlebihan terhadap kuman dan bakteri menbuat kamarnya tidak ada sedikitpun debu.
Walaupun rumah kecil di desa dapat dikatakan rumah ini mungkin akan mendapatkan penghargaan sebagai rumah terbersih di tempat ini.
Hal pertama yang dilakukannya adalah membayar orang untuk membangun green house. Membutuhkan biaya memang, tapi namanya juga memulai sebuah usaha. Ingat! Joseph Northan Fredrik berasal dari anak jalanan, menghidupi adiknya, hingga berhasil mendirikan White Rose bersama sang adik, perusahaan yang terus berkembang sampai sekarang.
Jadi jika Jonathan Northan mengira dapat membuat hidup kakaknya sengsara? Dirinya salah besar.
Dalam sehari green house sudah berdiri di lahan kecil miliknya. Bahkan sedari tadi Joseph hanya meminum teh sembari membaca laporan tentang hasil lab kandungan tanah dan metode tanam yang sesuai. Tidak lupa, jenis bibit, pestisida alami dan pupuk.
"Baik! Pertama-tama menghubungi pegawaiku." Jefri tersenyum mengirim pesan pada Dewi.
'Aku punya pekerjaan untukmu. Gaji 30.000, pekerjaannya tidak sampai sejam.' Pesan yang dikirimkan olehnya.
Maka proses pembibitan pertama pun dimulai. Kerajaan agrobisnis berawal dari lahan kecil.
"Yang kaya akan bertambah kaya jika menggunakan otak dan insting mereka dengan baik, harus juga jujur dan dapat dipercaya. Tapi tergantung nasib juga... syukurlah aku bukan pengusaha timah." Gumamnya tersenyum, sudah dirinya pastikan, tangannya tidak akan kotor sama sekali.
*
Kasak kusuk orang-orang bergosip di warung terdengar kala gadis itu melangkah masuk. Baru saja pulang dari menjual ikan, tubuhnya masih lengket dan berbau amis. Membeli kopi pahit hanya untuk memberi sedikit semangat bekerja, jika mendapatkan asupan caffeine.
"Sudah lihat bangunan yang dibuat warga baru? Dia membuat rumah dari plastik. Memang gila! Lantainya saja masih tanah." Salah seorang warga desa tertawa kecil.
"Iya! Tapi apa tidak berbahaya? Mungkin itu rumah pemujaan sekte sesat?" Seorang bapak-bapak mengambil pisang goreng menyela pembicaraan.
"Benar juga ya!? Kalau tidak ada bukti akan susah menangkap---" Kalimat mereka disela.
Salah satu anak juragan Burhan yang lulusan SMU menyela."Itu namanya... namanya... green house (rumah hijau)! Seperti pertanian modern."
"Oh!"
"Oh!"
"Oh! Berladang toh! Mungkin karena takut panas ya? Dasar orang kota." Mereka malah terkekeh kembali.
Tapi Dewi hanya menguping sambil memesan nasi bungkus. Menyipitkan matanya, dirinya benar-benar mengenal Jefri. Tetangga barunya tidak takut terhadap sinar matahari, hanya saja takut hal-hal yang dianggapnya kotor.
Jadi sudah pasti, seperti MCK, ini ide cemerlang lainnya.
Senyuman menyungging di wajahnya. Impian memiliki suami bertanggung jawab, dapat diandalkan, dirinya memiliki kandidat kali ini. Ini fix sudah pasti ada udang di balik penggorengan, mengapa Jefri membuat."Grey horse (kuda abu-abu)?" Gumam wanita itu salah menyebutkan.
Kuda abu-abu? Apa karena Jefri kuat tangguh dan tahan lama? Walaupun sejatinya bukan, hanya salah dalam pengejaan bahasa inggris.
*
Tidak sabar rasanya melihat keajaiban macam apa lagi yang akan dibuat pemuda itu. Namun langkahnya terhenti kala menatap bangunan bagaikan rumah plastik semi transparan."Be... benar-benar rumah plastik!? Apa yang difikirkannya!?" teriak Dewi merutuki kebodohan calon suami idamannya.
Melangkah dengan cepat memasuki Green house. Tempat yang begitu luas, dimana sang pemuda berada memakai pakaian serba putih, tidak menggunakan masker sedikit pun.
Menoleh padanya, pencahayaan yang memadai membuat sang pemuda terlihat lebih tampan dari biasanya. Dirinya tertegun diam sejenak, menatap sang malaikat dengan wajah bagaikan bersinar mendekat.
"Aku mencintaimu..." Ucap Dewi spontan.
"Kamu bilang apa?" Jefri mengernyitkan keningnya.
"A...aku bilang aku menyukai uangmu. Jadi apa tugasku!?" Tanya Dewi gugup, gila ternyata memang malaikat yang diturunkan ke bumi hanya untuk gadis cantik, bersih seperti dirinya.
Jefri memberikan penggaris dan kantong kecil berisikan bibit melon dan semangka."Gampang tinggal isi tanah dalam kotak itu lalu tanam bibirnya setiap lima centimeter."
"Hah?" Dewi meraih penggaris dan bibit berkwalitas premium milik Jefri. Ini bibit dalam artian sebenarnya bukan bibir cair berbentuk saus mayones.
"Kamu mau menanam dalam jarak yang dekat? Nanti tanamannya mati! Seperti cintaku padamu!" Ucap Dewi lagi-lagi keceplosan.
"Sudah kerjakan saja." Jefri terlihat acuh kembali masuk ke dalam rumahnya. Tempat ini benar-benar seperti rumah dari plastik semi transparan. Cahaya matahari masih dapat masuk. Tidak mengerti sama sekali dengan apa yang dilakukan pemuda aneh ini yang jelas dirinya mendapatkan honor 30.000.
Tidak ada yang aneh setelahnya hanya ada pipa-pipa dan sebuah mesin pompa. Pemuda yang tersenyum tidak menyentuh tanah sama sekali menyiram kotak kecil berisikan tanah gembur pelan."Ayah mencintai kalian..." gumam Jefri pada sumber uangnya.
"Gila!" Celetuk Dewi menggeleng memasukan uang ke dalam sakunya. Begitu baik dan rupawan, sayangnya sinting.
Tapi memang begitu bukan? Pemuda yang bahkan pernah menjadi sales produk elektronik itu begitu mencintai sumber uangnya. Jika dulu dirinya memanggil sayang pada televisi dan kulkas, maka saat ini dirinya menganggap bibit tanaman bagaikan anak.
*
Tidak ada kabar lagi selama beberapa hari dirinya juga penasaran. Benar-benar penasaran, apa tanamannya sudah mati?
Baru saja hendak membantu panen di kebun orang. Sebuah pesan kembali masuk ke dalam handphone kentang miliknya.
'Kali ini pekerjaan mudah. Honor 70.000! Segera datang!' Lagi-lagi pesan dari Jefri.
"Apa lagi yang akan dibuat orang gila ini." Gumamnya.
Namun, kala dirinya masuk barulah gadis itu mengerti. Bibit yang sudah tumbuh dipindahkan dalam media tanam sementara. Matanya menelisik Jefri bagaikan menghela napas terlihat bimbang.
"Kenapa?" Tanya gadis itu tidak mengerti.
"Aku ingin membeli mesin penggembur tanah tapi kalau membeli yang besar harus diimpor waktu kirimnya terlalu lama. Apa sebaiknya beli yang kecil dulu ya? Tapi kalau yang kecil nanti jika yang besar aku beli, yang kecil tidak terpakai." Komat-kamit mulut itu mempertimbangkan.
"Memang kamu punya uang?" Tanya Dewi meremehkan. Tidak terbayang apa yang akan dibeli oleh orang ini.
"Ada tabungan sedikit." Sebuah jawaban jujur jika itu dari sisi Joseph Northan Fredrik. Namun, kalau Dewi mengetahui uang sedikit yang diucapkan Jefri itu berapa, dirinya mungkin akan pingsan.
"Beli yang kecil, kalau datang yang besar, jual saja yang kecil, pasti ada yang mau beli." Jawaban datar dari gadis yang tengah memasukkan pupuk dan tanah gembur ke dalam media tanam.
"Baik! Pesan yang kecil saja! Beberapa hari lagi aku akan memanggilmu lagi, mengajarimu apa yang disebut cara bertani modern." Senyuman aneh menyungging di wajah sang pemuda.
Tidak ada pembicaraan lagi, namun senyuman menyungging di wajahnya kala menatap ke arah wajah Jefri. Aneh bukan? Untuk pertama kalinya Dewi mencuri pandang kala menatap seorang pemuda.
"Ganteng!" Batinnya.
*
Tidak melaporkan tindakan Yunita, beberapa pesan dikirimkan oleh Deni. Walaupun hingga kini Dewi tidak membalas sama sekali. Lebih fokus untuk bekerja, apalagi terkadang Jefri tetap memanggilnya untuk melakukan sesuatu.
Pada awalnya mengeluh tentang dirinya yang masih berbau amis. Tapi sekarang Jefri tidak mengeluh lagi, bagaikan Jefri sudah terbiasa.
"Hidupkan mesin penggembur tanahnya!" Ucapnya mengajarkan cara memakai pada Dewi. Alat yang bagaikan traktor namun hanya difungsikan pada lahan kering.
"Begini?" Tanya Dewi mulai melangkah menggemburkan tanah.
"Iya! Lanjutkan!" Ucap Jefri tersenyum. Tidak melakukan interaksi lebih sama sekali. Namun perlahan dirinya terbiasa dengan udara desa yang bersih dan juga gadis ini, pegawai pertamanya di tempat ini.
Kali ini pekerjaan lumayan banyak, plastik dibentangkan. Bibit ditanam berjarak, tentunya setelah pupuk khusus digunakan.
Sesekali matanya tertuju pada Jefri yang terlihat duduk dengan tenang mengamati segala yang dilakukan olehnya.
Pemuda yang menghela napas kasar berjalan mendekatinya."Ini kotak bekal! Cuci tanganmu lalu makan."
Tentu saja dengan cepat dirinya keluar dari green house kemudian mencuci tangan. Sedangkan Jefri duduk berjauhan dengannya, mulai mengamatinya yang tengah makan.
"Kamu beli di warung mana?" Tanya Dewi dengan mulut penuh makan menggunakan tangan. Tanpa menjaga gengsi sama sekali.
"Aku membuatnya sendiri." Sebuah jawaban yang membuat Dewi hampir tersedak. Satu nilai plus lagi untuk pemuda ini, agar menjadi tumbalnya, membatalkan lamaran juragan Burhan.
"Bukannya kamu---" Kalimat Dewi disela.
"Untuk makan, aku menyapu beras di lantai pasar. Kemudian mengumpulkan beras yang kotor, mencuci dan memasaknya menjadi bubur agar aku dan adikku bisa makan. Terkadang ada wortel busuk, yang aku potong bagian busuknya untuk dibuang, sisanya aku masukkan ke dalam bubur, hanya agar kami kenyang. Begitulah masa kecilku." Sebuah jawaban yang membuat perhatian Dewi teralih.
"Memasak seperti ini sudah biasa bagiku. Aku bahkan pernah nekat menjadi TKI ilegal bersama adikku saat berumur 15 tahun. Mengumpulkan modal, membuka toko kecil, menjatuhkan bisnis orang lain, hingga kami dapat memakan daging setiap hari. Aku jahat bukan? Tapi itulah kenyataannya... seseorang tanpa perlindungan hanya akan diinjak seperti bibit tanaman kecil." Sebuah jawaban aneh.
Mereka tetap duduk berjarak, namun Dewi bagaikan dapat merasakan kesedihannya. Berusaha tersenyum, mengalihkan pembicaraan."Rasanya enak! Tapi kenapa tidak pernah makan di luar?"
"Aku terbiasa mencuci sayur beberapa kali sebelum dipotong. Daging juga harus direbus dengan suhu yang sesuai agar kumannya mati. Kalau makan di luar aku tidak dapat membayangkan proses pengolahannya. Apalagi kadang tangan penjaga warung belum dicuci setelah menerima uang atau benda dari pelanggan." Pemuda anti bakteri yang bergidik ngeri.
Pantas saja Jefri membayangkan semua benda yang ada di tempat ini kotor. Perlahan suara hujan turun terdengar begitu lebat di luar sana. Sedangkan dalam green house tidak hujan sama sekali. Bibit cinta, eh salah bibit semangka yang baru mereka tanam sama sekali tidak terganggu oleh perubahan cuaca.
Mungkin kini dirinya mengerti mengapa green house dibuat. Tapi harga jual semangka tidak akan sebanding dengan pembuatan tempat ini.
Menghela napas kasar, besok juragan Burhan akan kembali meminta jawaban pada keluarganya. Dirinya mengepalkan tangan dengan gagah berani Dewi mengatakan."Kawin yuk...!"
🌾🌾🌾
...Derai hujan membawa perpisahan, menatapmu pergi terpisah takdir....
...Derai hujan mengembalikan dirimu, berlindung bersama, hanya tersenyum tanpa sapaan....
...Kala derai hujan, maka aku ingin mendekapmu. Apa sebuah perasaan yang salah......
Joseph Northan Fredrik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
ahjuma80
keren
2024-10-07
0
Putri Nunggal
ada nyanyian gak saat menyiramnya, seperti saran Mey Mey saat menanam bunga matahari harus di iringi bernyanyi saat menyiramnya
2024-04-27
1
🌠Naπa Kiarra🍁
mudah banget ngajak kawin 🤭
2024-04-26
0