...🌾🌾🌾 CEO Masuk Desa 🌾🌾🌾...
Pengacara sehebat apapun pasti akan dikalahkan oleh kemanusiaan dan main hakim. Dalam artian jika dirinya terus menolak maka warga desa akan segera mengeksekusi dirinya, walaupun tidak ada bukti pasti. Apapun pembelaannya, akan dikalahkan oleh air mata dan cinta kasih ala Ultraman yang mendapatkan dukungan seluruh umat manusia. Sedangkan dirinya hanya monster yang disumpahi untuk mati.
Gila! Ini Sengkuni yang benar, tapi bisa-bisanya harus menurut jika ingin hidup. Tatapan matanya kosong, baru saja dirinya resmi mengucapkan sumpah di hadapan Tuhan.
Cincin perak yang katanya milik kedua orang tua Dewi melekat di jari manisnya dan Dewi.
"A...aku menikah..." Gumamnya dengan suara kecil tertunduk, gemetar. Warga desa yang cara makannya tidak higienis. Mencuci tangan hanya menggunakan air tanpa sabun, kemudian duduk sembarangan makan memakai tangan.
Ada yang duduk ada yang berjongkok. Dekorasi? Tidak ada dekorasi, ini hanya acara makan-makan yang bar-bar. Air matanya mengalir, berharap ini hanya mimpi buruk. Tidak mungkin dirinya menikah. Jika pun harus menikah, harusnya dengan cinta pertamanya. Di gedung hotel, undangan dari orang-orang yang disayangi Lily, lalu adik tengilnya Jonathan juga harus tahu. Sumpah! Itu sudah cukup untuknya.
Acara pernikahan mewah dengan kue pengantin yang dipesannya dari jauh-jauh hari. Lily tersenyum, memotong kue kemudian menyuapinya. Itu sudah cukup...
Selain mysophobia, ini adalah alasan mengapa Joseph belum menikah sampai sekarang. Mysophobia membuatnya menjaga jarak dari orang lain, namun selain itu...
Mungkin ada satu keinginannya, jika bukan dengan Lily lebih baik dirinya membujang selamanya. Namun kenyataan tidak sesuai ekspektasi.
Dewi mengambil salah satu jajanan pasar untuknya. Bukan kue pengantin indah, bukan pula Lily yang memakai gaun tapi...
"A...aaa...kamu pasti lapar..." Ucap Dewi berusaha menyuapinya. Namun Jefri duduk bergeser menjaga jarak. Air matanya masih mengalir, dirinya benar-benar menjadi melow karena menikah.
"Bagaimana harus hidup dengan seorang wanita jorok? Tapi aku tidak bisa bercerai! Prinsipku, janji di hadapan Tuhan tidak boleh diingkari. Dan...dan...aku mengkhianati Lily..." Batinnya masih menangis.
"Lihat! Pengantin prianya sebegitu terharunya, sampai menangis."
"Iya! Pantas saja Dewi selalu ke rumah tetangga sebelah. Sudah sempat menanam benih toh! Untung segera dinikahkan, kalau lahir tanpa ayah kan bisa bawa sial."
"Amit-amit, anak saya supaya tidak hamil di luar nikah. Seganteng apapun..."
Komat-kamit mulut ibu-ibu itu bergosip. Terutama sang penjaga warung yang paling heboh. Menjadi saksi cinta sejati yang melanggar moral dan etika. Mungkin kita bisa membawa kasus ini ke MK?
*
Namun terkadang ada kalanya seseorang dipaksa untuk lebih dewasa.
Lebih tepatnya 27 tahun yang lalu. Kakak beradik yang saling memeluk. Menatap ke arah api yang membakar rumah mereka hingga tidak bersisa.
Kebakaran pada puluhan rumah petak semi permanen padat penduduk.
"Kakak, ibu dan ayah masih didalam..." Gumam Jonatan berusaha berlari namun dirinya dicegah oleh Joseph.
Sang kakak hanya menangis dan menggeleng."Ja...jangan ke sana..."
Satu? Tidak puluhan rumah mengalami kebakaran kala itu. Kebakaran yang terjadi kala dini hari. Saat itu kedua orang anak ini, tengah menginap di rumah paman mereka yang memang tinggal berdekatan.
Rumah mereka yang ada di tengah-tengah, pusat kebakaran. Dipastikan kedua orang tua mereka tidak selamat.
Kerabat? Kerabat mereka juga menangis melihat rumahnya yang sedikit lebih jauh terlalap api. Hanya sempat menyelamatkan satu set perhiasan dan pakaian yang melekat di tubuh.
"Ibu...ayah..." Sang adik yang berusia 4 tahun masih saja menangis.
"Tidak apa-apa, ibu dan ayah merasa sejuk tidak kepanasan. Ka... karena mereka tidak ada dalam api. Me... mereka tinggal di surga..." Sekedar ucapan asal dari seorang anak berusia 6 tahun memeluk erat tubuh adiknya. Dipaksa berfikir dewasa? Itulah yang terjadi pada Joseph. Paman yang hanya memeluk keluarganya saja, tidak akan dapat merawat mereka.
"Ibu, ayah... kenapa tidak membawa kami..." Batin Joseph, menatap kepulan asap hitam yang mencapai langit.
*
Pakaian bekas yang bersih, sang paman berusaha tersenyum berucap pada mereka.
"Maaf...paman tidak bisa membawa kalian. Paman tidak punya rumah dan---" Kalimat sang paman disela.
"I...ibu dan ayah sudah dikubur?" Tanya Joseph pelan. Sang paman hanya mengangguk menitikkan air matanya, menatap betapa manisnya dua orang anak yang harus dititipkannya di panti asuhan.
"Syukurlah..." Jawab Joseph tanpa menanyakan dimana makam kedua orang tuanya. Adiknya terus saja menangis.
Sedangkan Joseph, mengusap pelan air mata adiknya."Ayah dan ibu disayangi Tuhan, jadi mereka bekerja pada Tuhan di Surga. Agar kita tetap sehat dan dilindungi Tuhan. Nathan jangan menangis ya? Ayah dan ibu masih menjaga kita..."
Nathan masih menangis namun sedikit lebih tenang. Memeluk erat tubuh kakaknya. Rasa bersalah tertanam dalam benak sang paman, dirinya merupakan kerabat satu-satunya, meninggalkan kedua anak ini. Namun, anak dan istrinya yang sedang hamil membutuhkan makanan dan tempat tinggal.
Tidak ada kalimat yang terucap saat itu. Sang paman hanya memeluk kedua orang anak yatim-piatu. Hanya menangis bersama sembari memeluknya. Berharap mereka dapat diadopsi oleh keluarga yang baik.
"Tidak apa-apa, paman tenang saja, aku akan menjaga Jonatan..." Ucap Joseph dengan suara bergetar. Bohong jika mengatakan dirinya tidak terguncang, namun ada Nathan yang masih hidup. Adiknya yang bahkan masih belum begitu mengenal dunia.
*
Kehidupan di panti asuhan? Mereka diajarkan untuk lebih mandiri. Makan apapun yang disajikan, tidak ada kemewahan atau kehangatan keluarga.
Hingga ada pasangan suami-istri yang datang, benar-benar sudah tua. Dua warga negara asing yang tersenyum menunjuk ke arahnya. Anak yang dianggap paling rupawan di tempat ini.
"Joseph! Kemari!" Panggil sang pekerja panti.
Dirinya paham setelah satu tahun tinggal di tempat ini, mungkin dirinya akan diadopsi. Matanya menatap ke arah pasangan paruh baya yang bicara menggunakan bahasa inggris. Mengusap-usap kepalanya, bahkan memeluknya. Air matanya mengalir, apa dirinya akan memiliki keluarga baru? Tapi bagaimana dengan Jonathan?
"Joseph, apa kamu menyukai mereka? Mereka akan mengadopsi mu. Nyonya Smith akan menjadi ibumu dan tuan Smith akan menjadi ayahmu. Kamu mau kan?" Tanya sang pengurus panti.
"Ke... kenapa?" Tanya Joseph tidak mengerti, mengingat sebagian besar anak yang cepat diadopsi masih balita, sedangkan dirinya telah berusia 7 tahun.
Sang pekerja panti menatap ke arah pasangan suami istri yang hanya tersenyum.
"Nyonya Smith tidak dapat memiliki keturunan lagi. Anak mereka satu-satunya tinggal jauh di negara lain. Karena itu mereka ingin mengadopsimu, agar ada yang menjaga dan menghibur mereka di masa tuanya." Jawab sang penjaga panti terus terang.
Tangan Joseph mengepal, meyakini kedua orang ini tulus."A...apa Jonathan bisa ikut?"
"Joseph, ini kesempatan baik." Sang pengurus panti menghela napas kasar. Namun, hening tidak ada jawaban dari Joseph.
Sang pengurus panti menggeleng pada nyonya dan tuan Smith. Mereka sempat berdiskusi dan bicara, entah apa yang mereka katakan Joseph juga tidak mengerti sama sekali.
Tapi yang pasti kedua orang itu bersikeras memilihnya di bandingkan anak panti lainnya. Apa karena usia? Entahlah...
Namun, mereka menghela napas beranjak pergi setelahnya.
"Kak?" Jonathan mendekatinya membawa cemilan puding yang memang dibagikan hari ini.
"Terimakasih..." Tangan Joseph gemetar kala meraihnya. Takut dengan masa depan adiknya, mencemaskan siapa yang akan bersama Jonathan nantinya. Bagaimana adiknya dapat makan...dan dirinya mencintai satu-satunya anggota keluarganya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Miss Typo
nangis bacanya nyesek 😭
2024-10-02
0
Bzaa
masa kecil yg menyedihkan...
2024-06-23
0
endang sri sejati
yuk gas ke MK sampai disahkan negara 😆😆😆
2024-05-30
0