...🌾🌾🌾CEO Masuk Desa 🌾🌾🌾...
Tidak mengerti apapun, tidak memiliki keluarga di tempat ini, celah untuk melakukan kejahatan. Dirinya ditarik paksa, sedangkan tunawisma di tempat ini bagaikan tidak peduli. Mungkin karena ini wilayah kekuasaan sang preman.
Srak...srak...
Benda yang terus diseret membentur jalan trotoar yang tidak rata. Tidak ada kalimat yang terucap.
"Tolong..." Hanya itulah kalimat yang terdengar dari mulut Dewi menyadari ada yang tidak beres.
Kala dirinya mulai memasuki gang dengan penerangan minim.
Brak!
Suara benturan yang cukup keras terdengar. Seorang pemuda yang masih mengenakan maskernya, membawa pipa besi. Sedangkan sang preman roboh tidak sadarkan diri.
Pipa besi berlumuran darah, sudah pasti bukan cidera ringan yang dialami oleh sang preman. Kala itu Dewi tidak menyadari wajah di balik masker itu tersenyum. Kembali mengayunkan pipa besinya. Pada tubuh yang tidak sadarkan diri itu.
Dua kali? Tidak! Kali ketiga pipa besi diangkat...
"Jefri! Hentikan bagaimana jika dia mati?" Teriak Dewi ketakutan.
"Akan lebih baik jika mati. Itulah intinya..." Ucap Jefri bagaikan mengalami trauma mendalam. Matanya memerah tangannya yang memegang pipa besi menegang.
"Jangan membunuh! A...aku takut!" Teriak Dewi menangis memegang pipa besi agar tidak berayun lagi.
"Jangan membunuh? Sampah sepertinya sudah---" Kalimat Jefri terhenti, Dewi memeluknya secara paksa. Mengetahui ada luka yang disimpan Jefri seorang diri.
"Lepas!" Ucap Jefri, tidak nyaman.
"Kamu takut bersentuhan, tidak ingin tertular kuman dan bakteri? Tapi manusia tidak bisa sendiri..." Dewi yang memeluknya menyadari pemuda itu mulai terisak.
"Kamu tidak akan tau bagaimana jalanan di tempat ini. Bagaimana mayat membusuk perlahan tepat di depan wajahmu. A...aku..." Kalimat Jefri disela, tidak ada penghakiman sama sekali.
"Biar aku memelukmu sebentar. Setelah ini kamu bisa mandi sebersih mungkin." Jawaban yang menenangkan dari Dewi, gadis yang juga sejatinya ketakutan.
Masa kecil yang dilalui di jalanan tidak sekeras ini. Memang ada beberapa preman yang meminta setoran pada mereka. Dan seorang anak yang selalu menjadi korban penganiayaan, karena setoran yang kurang. Seorang anak yang juga harus memberi makan adiknya.
Terkadang Dewi yang iba memberikan uang hasil mengamen dan mengemis berlebih kepada sang anak. Hanya agar anak yang sedikit lebih tua darinya itu tidak dihajar oleh preman akibat setoran yang kurang.
Hidup di jalanan memang keras, anak-anak tanpa orang tua yang melindungi hidup mereka.
"Sial!" Jefri masih menangis entah apa yang terjadi padanya. Namun perlahan membalas pelukan Dewi.
"Seharusnya aku yang dihibur karena patah hati. Kenapa jadi aku yang menghiburmu?" Dewi terkekeh.
Romantis bukan? Tapi sekali mysophobia tetap mysophobia.
*
Sebelum mereka berangkat kembali ke kampung, pemuda itu sempat-sempatnya mandi di salah satu kamar mandi umum.
Jangan fikir mandinya seperti manusia pada umumnya. Dimana 15 menit kelar, tidak pemuda itu mandi seperti anak perawan yang akan menemui presiden. Cukup lama memastikan kuman dan virus yang tersebar kala dirinya memeluk Dewi mati.
"Sudah?" Tanya Dewi yang sejatinya jenuh menunggu di depan toilet umum.
"Sudah! Ayo kita pulang!" Jawab Jefri penuh semangat. Tidak seperti tadi terlihat benar-benar terpuruk.
Sejenak dirinya menatap punggung kokoh berjalan membawa ransel dan tas tambahan yang melangkah mendahuluinya. Pemuda yang tidak buruk sama sekali.
"Jefri, apa rencanamu selanjutnya. Mau garap lahan sendiri atau bekerja di kebun orang?" Tanyanya ingin tahu.
"Begini, aku masih tidak bisa mengurus tanah. Kamu mau bekerja padaku? Nanti aku bayar upah harian." Jefri menghela nafas kasar, berharap wanita ini akan setuju.
"U...upah harian? Semua uangmu akan terkuras. Lihat saja rumahmu begitu kecil. Lahan mu begitu sempit tidak akan---" Kalimat Dewi disela.
"Aku berbeda dengan mantan pacarmu. Dia bekerja menggunakan otot, tapi aku bekerja menggunakan otak..." Wajah di balik masker itu tersenyum. Mendahuluinya menaiki bis.
Sejenak Dewi mengerutkan keningnya, menyipitkan matanya. Setiap kalimat yang keluar dari mulut berbisanya seakan memiliki makna. Tidak mungkin hanya kata-kata dengan cangkang kosong.
"A...apa rencanamu?" Tanya Dewi penasaran kala sang pemuda membersihkan kursi bis tempat dirinya akan duduk.
"Green house, tidak butuh lahan besar dengan hasil maksimal. Tentunya harus bibit tanaman unggulan, rencananya melon unggulan dari Jepang dan semangka unggulan. Tentu ada peluang kerugian, tapi tidak akan begitu beresiko dibandingkan---" Kalimat Jefri disela..
Dewi malah menertawakannya."Melon dan semangka, kamu tau perubahan musim. Kalau yang dihasilkan buah busuk baru tahu rasa. Memegang tanah saja masih takut. Dasar!"
Jefri menghela napas memang susah bicara dengan orang ini. Tapi modal awal yang diperlukan cukup besar. Perlu juga pekerja harian, mengingat green house nya baru percobaan maka."Mau bekerja padaku tidak?" Tanyanya.
"Gajinya?" Tanya gadis itu mengernyitkan keningnya.
"Upah harian, tergantung jenis pekerjaan yang diambil." Jawaban Joseph.
"Aku pastikan kamu tidak akan berhasil. Tapi aku mau, asal ada bayarannya." Dewi terkekeh, benar-benar lucu orang ini. Berani semangka dan melon di kebun yang tidak begitu luas. Bahkan menyewa buruh?
"O... omong-ngomong yang tadi terimakasih. A...aku membenci orang yang berotot besar dan bertato. Ja...jadi, terimakasih menghentikanku membunuhnya." Jefri menatap ke arah jendela, tidak berani menoleh langsung pada Dewi.
"Tidak masalah." Hanya itulah jawaban dari Dewi tidak ingin tau lebih banyak. Tapi dirinya yakin, Jefri bertindak demikian bukan hanya untuk melindunginya. Ada rasa benci, takut bercampur aduk menjadi satu.
Mereka terdiam tanpa kata dengan isi fikirannya masing-masing. Jefri memikirkan hal yang baru saja terjadi, sedangkan Dewi memikirkan masa depannya. Entah alasan apa lagi untuk menolak juragan Burhan. Darimana dirinya bisa mendapatkan calon suami yang baik dalam waktu satu bulan.
Yang pasti tidak boleh seperti Deni yang mengandalkan napsunya tanpa otak. Lebih baik lagi kalau pria itu impoten seperti biksu.
"Harus ganteng, harus mau bekerja keras, pandai mencari uang, setia, dan kalau bisa menyaingi suami adik-adikku." Batinnya mulai berfikir, di desa apa ada yang sesuai kriterianya.
Sedangkan Jefri perlahan tenang tengah memikirkan bagaimana pemasaran produk unggulan."Agribisnis! Aku akan menghasilkan uang yang tidak sedikit!" Batinnya, telah berencana membeli tanah lagi jika bisnisnya pada penanaman pertama berhasil.
Berani kotor itu baik? Bagi Joseph Northan Fredrik, uang lah yang terbaik. Tidak kotor tapi harus ada uang.
*
"Bagaimana?" Tanya ayahnya kala dirinya baru saja sampai rumah. Lebih tepatnya menanyakan tentang keseriusan Deni.
Hening... tidak ada jawaban menghela napas berkali-kali dirinya berusaha untuk tersenyum. Mengalihkan pembicaraan mungkin lebih baik."Pak di ujung jalan ada proyek apa?" tanyanya, meminum air putih.
"Oh itu... pembangunan MCK." Ucap sang ayah penuh kebanggaan.
Bagaikan Mbah dukun dirinya menyemburkan air."Pembangunan MCK? Bukannya ditolak, tidak diurus pak bupati?" tanya wanita itu tidak mengerti.
"Ingat tetangga kita? Bapak mengikuti sarannya, mengirim proposal ke salah satu perusahaan swasta. Tidak disangka mereka setuju, membuat program amal tahunan di desa ini, pembuatan MCK umum. Lalu ada aktivis lingkungan yang juga didatangkan. Video tentang jamban di desa ini viral dalam sehari. Pak Bupati yang terlanjur malu, rencananya akan datang besok, memberi bantuan pembangunan MCK, bagi rumah-rumah yang tidak memiliki kamar mandi dan toilet." Kepala desa terkekeh, pada akhirnya dirinya lah yang mendapatkan pujian sebagai kepala desa terbaik. Karena usulan mulut pedas tetangganya.
"Jenius!" Dewi membulatkan matanya, kemudian menengok ke arah luar rumah, melihat ke arah rumah tetangganya. Senyuman menyungging di wajahnya."Pak aku jatuh cinta pada tetangga sebelah. Boleh aku kawin?" tanya Dewi antusias.
"Edan!" Celetuk sang ayah menggeleng melihat kelakuan putrinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
ahjuma80
/Drool/
2024-10-07
0
Dede Mila
🤣🤣🤣🤣🤣
2024-07-20
0
Bzaa
wkwkkwk minta kawin kayak yg minta permen
2024-06-23
0