...🌾🌾🌾 CEO Masuk Desa 🌾🌾🌾...
Jefri mengerutkan keningnya. Sedangkan Dewi menatap penuh harap, bagaikan anak kucing kecil kecebur got. Berharap pemuda itu mengikuti dramanya.
"Sayang?" Pintanya berharap.
"Sial! Cuma ingin menolong, malah dimanfaatkan. Aku ingin membantingnya di...yang jelas bukan ranjang karena dia dipenuhi bakteri." Batin Jefri berusaha tersenyum, benar-benar berusaha.
Menghela napas kasar, tatapan merendahkan seorang CEO. Nada bicara picik bagaikan Sengkuni."Kamu yang bernama Deni? Ternyata hanya kotoran..."
"Kamu!" Deni yang hendak memukul Jefri, malah terjatuh, dijegal oleh kaki Jefri kala Jefri menghindar dari pukulan.
Jangan lupa Joseph Northan Fredrik merupakan atlet hangar, yang memiliki lumayan banyak pengalaman bertarung.
"Astaga! Sepatuku kotor!" Keluh Jefri, menyayangkan dirinya yang baru saja menjegal kaki Deni.
"Tenang sayang! Ada aku!" Ucap Dewi cepat, mengambil semprotan anti bakteri yang ditinggalkan Jefri di dekat pintu. Kemudian menyemprotkan pada kaki pemuda itu. Klien memang harus menuruti pengacaranya bukan?
Deni yang jatuh telungkup hanya mengenakan boxernya mulai berusaha bangkit. Harga dirinya terluka, 9 tahun menjalani hubungan dengan Dewi. Tapi karena pria ini dirinya tidak jadi menikah."Br*ngsek!" teriaknya, hendak kembali menyerang.
"Berhenti! Jefri tidak ada hubungannya dengan keputusanku." Dewi menghirup napas, berusaha menenangkan dirinya."10 tahun ini merantau, kamu sudah beli apa saja?" Tanyanya melirik ke arah dua porsi nasi padang dengan lauk ayam, telur, sayur dan hati. Rokok dengan harga sekitar 30 ribu sebungkus nya juga tidak lupa ada disana.
"A...aku, penghasilanku cuma segini. Sebagai pacar yang menerima apa adanya. Kamu seharusnya paham---" Kalimat Deni disela.
"Aku makan sayur dan nasi di kampung bagaikan kelinci. Pendapatanku lebih kecil dari mu, tapi setidaknya aku sudah bisa merenovasi rumah. Bisa menabung untuk biaya pernikahan. Kamu, memang apa yang kamu lakukan 10 tahun ini saat merantau?" Teriak gadis itu menitikkan air matanya.
Tangan Jefri gemetar, entah kenapa ingin menghapus air mata yang bercampur minyak jelantah itu. Tapi tetap tidak jadi karena takut pada bakteri. Karena itu."Ini tissue..."
"Terimakasih..." Gadis itu mengeluarkan ingusnya, membuat Jefri bergidik ngeri.
"Aku menabung, masih ada uang gajiku bulan ini!" Ucap Deni membela diri.
"Berapa? Jika dipotong rokok 60.000 sehari. Tempat kost 550.000 sebulan, ditambah dengan listrik dan air, uang sampah, uang keamanan, uang bensin. Ada lagi, satu porsi nasi padang 40.000, dua porsi termasuk untuk pacar rahasiamu 80.000. Belum sarapan dan makan siang yang entah apa. Dengan kata lain kalau kamu memiliki anak, aku pastikan anakmu menderita malnutrisi." Jefri mengangkat salah satu alisnya.
250.000 sehari? Mungkin berkisar itu gaji seorang kuli bangunan di daerah jakarta. Biaya hidup yang tinggi, orang ini seharusnya dapat lebih cerdas dan berhemat.
"Dewi! Tolong jangan lapor polisi atau mengatakan pada ayahku!" Pinta Yunita, yang telah lengkap berpakaian. Tapi sayangnya belum ke kamar mandi untuk membersihkan sisa...saus mayones...
"Jefri, aku ingin pulang..." Hanya itulah yang diucapkan oleh Dewi.
Jefri menghela napas kasar."Ayo..."
Hanya itulah jawabannya meninggalkan tempat tersebut. Mereka tidak mengejar, mungkin bingung bagaimana jika hubungan tersebut diketahui orang-orang di kampung halaman mereka.
Wajah gadis desa yang awalnya berusaha tegar, kini mulai menangis. 9 tahun menjalani hubungan bagaikan tidak berarti. Bersusah payah membela Deni didepan kedua orang tuanya.
Sesak rasanya, kala mengetahui kenyataan perasaannya tidak berarti. Wejangan orang tuanya lah yang benar, sedangkan dirinya salah. Salah karena mencintai pemuda itu.
"Deni ..." Ucapnya menangis, di tepi jalan raya. Mengundang perhatian orang-orang.
"Sudah! Jangan menangis! Dia itu hanya daki..." Jefri berusaha menenangkan.
"Daki! Daki! Daki begitu juga pacarku selama 9 tahun." Gadis yang malah menangis semakin kencang.
"Harus bagaimana..." Gumam Jefri menghela napas berkali-kali. Sejenak wajahnya tersenyum."Kita menghilangkan daki ya?"
"Menghilangkan daki?" Tanya gadis itu tidak mengerti.
*
Tapi benar bukan? Bukan di tempat spa mahal. Berkisar 500.000 dirinya mendapatkan treatment yang memadai.
Seluruh tubuhnya bagaikan diremukkan, dipijat seperti adonan roti yang rileks. Sedangkan Jefri mengatakan akan pergi beberapa saat.
*
Kemana? Tentu saja bertemu sekretarisnya. Seseorang yang menjemputnya di depan area salon. Membawanya ke salah satu cafe dekat lokasi tersebut.
"Tuan..." Sang sekretaris menyerahkan handphone milik Jefri. Setelah dihubungi sebelumnya olehnya menggunakan telepon milik salon.
"Jonathan sekarang yang mengambil alih pekerjaanku. Awasi dia, pastikan perusahaan dalam keadaan stabil dan lakukan seperti biasanya." Ucap Jefri, mengingat adiknya begitu keras kepala.
"Tuan tidak akan kembali?" Tanya Delon, sekretaris Joseph Northan Fredrik.
"Jika kamu bertemu dengan Jonatan katakan padanya, untuk sementara waktu aku akan tinggal di desa seperti keinginannya. Mendirikan anak cabang kerajaan bisnis White Rose, yang merambah ke bidang agrobisnis! Aku sudah mencium wangi uang!" Itulah sifat asli Joseph Northan Fredrik. Dimana ada uang, disana ada dirinya. Walaupun sejatinya anti bakteri.
"Baik!" Sang sekretaris tersenyum paham. Tidak mungkin kakak ini ditaklukkan dengan mudah oleh adiknya.
"Ini sampel tanah! Bawa ke laboratorium! Nanti kirimkan laporan, jenis pupuk dan tanaman apa saja yang sesuai. Tentang ketinggian dan suhu rata-rata akan aku kirimkan nanti." Kalimat demi kalimat dari pendiri White Rose. Dari seorang gelandangan hingga menjadi CEO berkelas saja dirinya bisa. Apalagi petani, walaupun tetap belum berani kotor.
"A...anda mengambil sampel tanah sendiri? Di dalam tanah ada jutaan bakteri dan virus!" Ucap sang sekretaris bagaikan melihat matahari terbit dari barat.
"Aku menggunakan sendok sedikit demi sedikit. Untuk modal, kartu rekening cadanganku masih ada. Lalat kotor (Jonathan) itu ingin mengalahkanku? Tidak akan pernah bisa..." Joseph tersenyum, meminum secangkir kopi di hadapannya.
"Tapi kenapa tuan tetap tinggal di desa?" Tanyanya.
"Dia tetap adikku. Walaupun ini kekanak-kanakan tapi yang kalah taruhan harus mendapatkan hukuman bukan?" Jefri tersenyum.
"Ini laptop dan WiFi yang bisa dibawa kemana saja. Saya akan mengirimkan data audit perusahaan. Dan ini tas anti bakteri milik tuan..." Delon tersenyum memberikan koper pada majikannya.
"Hanya dia (Dewi) dan kamu yang paling mengerti tentangku!" Teriaknya kegirangan bagaikan menemukan harta karun. Bukan harta karun, lebih tepatnya bagaikan selama ini tidak memakai pakaian, kali ini menemukan koper berisikan pakaian.
Itulah seorang mysophobia sejati. Benar-benar ketakutan akan kuman dan bakteri. Bukan seperti cerita novel atau drama romantis, dimana dapat dengan mudah tidur dengan wanita. Kemudian bergantung jatuh cinta padanya.
*
Cantik? Tidak, batu kali baru disikat sekali tidak mungkin langsung cantik. Setidaknya sudah lebih bersih dan rileks.
Hari sudah semakin malam kala itu, menunggu Jefri yang tidak kunjung datang.
Wajah? Dapat dikatakan lumayan. Ingat! Dia belum diamplas. Terkadang ada sudut dimana kejahatan dapat terjadi. Memutuskan untuk menunggu di halte saja, daripada menunggu di depan salon.
Dirinya berfikir kota begitu ramai, tentu saja tempat ini aman.
Namun.
"Beri uang rokok!" Perintah seorang preman dengan mulut berbau alkohol, menodongkan pisau.
"Tolong!" Teriaknya, tapi anehnya mobil didekatnya hanya bergerak berlalu. Sumpah dirinya ketakutan saat ini."Sa...saya cuma orang kampung."
"Uang rokok!" Sang preman tersenyum mengamatinya.
"Pantas saja Jefri menyuruhku menaruh uang kecil di saku. Sedangkan yang lain di berbagai tempat." Batin Dewi mengeluarkan uang dari sakunya."Uang saya cuma segini."
"Miskin! Cuh!" Sang preman meludah di sepatu milik Dewi."Tapi lumayan! Kamu punya saudara disini tidak?"
"Tidak." Jawab Dewi jujur.
Mata sang preman menelisik, didekat sini tidak ada mobil patroli polisi. Hanya ada beberapa tunawisma yang tidur di emperan toko."Mau abang ajarin cara senang tanpa uang tidak?" tanya sang preman mencolek dagu Dewi.
Dewi gemetar ketakutan, menampik tangan sang preman."A...aku tidak mau."
"Kemari ayo..." sang preman menariknya paksa.
"Tolong!" Teriakan dari Dewi tapi anehnya tunawisma yang ada disana seakan tidak peduli sama sekali. Dirinya semakin dipaksa menjauhi jalan raya, kala hampir memasuki gang.
Srak!
Suara sesuatu diseret terdengar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Miss Typo
pahlawan yg anti kotor dateng 😁
2024-10-02
0
Putri Nunggal
ada lagi pengikut tuan krep, si pecinta uang
2024-04-27
0
Putri Nunggal
wiiih di ajak perawatan luar dalam dikikis dakinya
2024-04-27
0