BAB 18

Caroline bersama - sama dengan Louis, Polly dan Victor pun akhirnya dibawa oleh pria yang bernama Lorenzo itu. Sepanjang jalan banyak orang - orang yang memperhatikan mereka dengan mata penuh awas. "Aku membawa kalian kesini karena aku merasa kalian bukan orang jahat, tapi jika kalian macam - macam maka kami tidak akan segan - segan menyakiti kalian" ucap Lorenzo.

Disebuah rumah kecil yang bahkan tidak layak dihuni, Caroline melihat ibunya begitu sibuk merawat beberapa orang pasien dibantu oleh seorang laki - laki yang terlihat masih sangat muda dan juga beberapa wanita yang sepertinya adalah perawat.

"Dokter Alicia ada yang ingin bertemu denganmu" seru Lorenzo.

Alicia menoleh, berbeda dengan Caroline yang tampak berkaca - kaca melihat ibunya. Alicia justru melihat seseorang yang tidak dia kenal tiba - tiba datang memeluknya. "Mom.... Mommy. Aku merindukanmu, kau kemana saja selama ini"

Raut wajah Alicia tampak kebingungan, dia membiarkan Caroline memeluknya untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia bertanya, "Nona muda, kau siapa? Kenapa kau memelukku?" tanya Alicia.

"Mom, apa kau lupa denganku karena aku sudah dewasa? Ini aku Caroline putrimu. Anak kandungmu" ucap Caroline.

Terang saja Alicia semakin kebingungan, "Sepertinya kau salah orang, tapi aku tidak memiliki putri. Aku hanya memiliki seorang putra dan dia bernama Evan" ucap Alicia seraya menunjuk anak laki - laki yang juga tampak kebingungan dengan sikap Caroline.

"Tidak, aku tidak mungkin salah orang. Kau adalah ibuku, lihat foto - foto ini. Ini adalah dirimu saat masih muda, dan ini adalah aku" ucap Caroline sambil menunjukkan foto - foto itu kepada Alicia, tapi tetap saja Alicia menggeleng.

Lorenzo yang ikut melihat foto - foto itu juga dibuat keheranan, pasalnya foto itu memang sangat mirip dengan Alicia versi muda. Bahkan jika ada yang mengatakan itu adalah Alicia dia akan percaya.

"Nona, maaf tapi saat ini aku sedang memiliki banyak pasien yang harus aku rawat. Lorenzo, bisakah kau membawa mereka pergi terlebih dahulu" pinta Alicia.

"Baik dokter" Meskipun enggan untuk pergi, Caroline akhirnya bersedia menunggu Alicia ditempat lain. Matanya berkaca - kaca melihat ibunya tidak lagi mengenalinya bahkan menyangkal dirinya.

"Aku harus menghubungi daddy" batinnya.

Caroline mengeluarkan ponselnya, "Huh, kenapa tidak tersambung? Apa tidak ada jaringan disini?" tanyanya.

"Kau tidak akan bisa menghubungi siapapun disini" kata Lorenzo dingin.

Laki - laki itu kemudian menjelaskan bahwa jaringan komunikasi di area mereka telah terputus, dan jika dia ingin menghubungi seseorang atau menelpon seseorang maka dia harus pergi ke balai kota dimana disana satu - satunya tempat dimana mereka bisa menghubungi orang luar.

"Lalu bagaimana kalian menghubungi orang luar?" tanya Louis, Lorenzo tidak menjawab dan malah pergi meninggalkan mereka.

Sejak kedatangan mereka ke kota ini, berbagai macam keanehan mereka rasakan sejak mereka menginjakkan kakinya di kota ini. Kota kecil ini letaknya cukup terpencil, bahkan untuk sampai kesini mereka harus naik kereta selama 18 jam dari ibu kota. Tidak banyak tujuan ke kota ini, itulah kenapa saat mereka tiba stasiun sebelumnya, mereka harus menunggu selama kurang lebih dua hari untuk kedatangan kereta yang akan membawa mereka ke kota ini.

Jadwal kedatangan dan keberangkatan kereta ini hanya ada tiga hari untuk kedatangan dan tiga hari untuk keberangkatan. Sementara akses jalan raya yang menuju kota ini pun juga cukup sulit dijangkau karena jalanan yang tidak rata serta melewati jalan yang dikelilingi oleh hutan lebat sehingga rawan perampokan.

"Kita sudah sejauh ini, bagaimana kalau ternyata dia benar - benar bukan ibuku?" tanya Caroline muram.

Louis menyandarkan kepala Caroline ke bahunya, "Dia adalah auntie Beatrice. Aku yakin itu, mungkin selama dia menghilang dia mengalami sesuatu yang membuat dia kehilangan ingatannya" kata Louis berusaha menenangkan calon pengantinnya itu.

Sementara itu Polly dan Victor yang baru bekerja beberapa tahun di keluarga Rexalion tidak bisa mengatakan apapun karena mereka hanya mengetahui Beatrice dari foto keluarga yang terpajang diruang tamu kediaman keluarga Rexalion saja.

"Kalau begitu, apa pria yang tadi ditunjuk oleh dokter Alicia adalah saudara nona muda? Tapi dia terlihat seusia dengan nona muda" tanya Polly

"Hush... jangan bicara sembarangan" ucap Victor.

"Aku bukan anak kandungnya" ucap pria yang tadi membantu Alicia merawat pasien.

"Perkenalkan, namaku Evan. Aku adalah anak angkat dokter Alicia. Usiaku saat ini 22 tahun" ucap Evan.

Evan lalu mengajaknya ke tempat dia dan dokter Alicia tinggal, "Maaf kalau rumah kami berantakan" ucap Evan seraya mempersilahkan mereka duduk.

Evan lalu masuk ke sebuah kamar dan membawa sebuah kotak kecil, "Kalau kau adalah putrinya. Kau pasti mengenali benda yang ada didalam kotak ini" ucap Evan.

Caroline menerima kotak itu dan membukanya, didalam kotak itu berisi sebuah cincin dan juga kalung dengan liontin berbentuk mawar yang dihiasi oleh batu ruby. Sekali lagi mata Caroline berkaca - kaca, "Ini milik mommy, ini cincin pernikahannya dengan Daddy karena model cincin ini didesign khusus oleh daddy. Sedangkan kalung ini adalah hadiah ulang tahun yang aku berikan pada mommy saat aku berusia 9 tahun"

"Dia benar - benar ibuku" isak Caroline.

"Syukurlah, akhirnya dokter Alicia ditemukan oleh keluarganya" ucap Evan.

"Apa yang terjadi dengan ibuku? Kenapa dia tidak mengingatku?" tanya Caroline.

Evan kemudian menceritakan pertama kali dirinya bertemu dengan Caroline adalah saat dia berusia 7 tahun. Saat itu dia dan ibunya baru saja kembali dari kota besar untuk berobat, sudah sejak lama ibu kandung Evan memiliki riwayat penyakit jantung sehingga setiap bulan dia dan ibunya harus bepergian ke kota besar untuk memeriksakan kesehatannya karena di kota ini tidak ada dokter sama sekali.

Beatrice atau Alicia mereka temukan dalam kondisi demam di peron stasiun, karena kasihan Evan dan ibunya pun membawanya kerumah untuk dirawat dan ketika Beatrice sadar, dia tidak megingat apapun termasuk namanya sendiri, bahkan dia juga tidak membawa identitas apapun. Nama Alicia adalah nama yang diberikan oleh mendiang ibu kandung Evan, setelah ibunya meninggal Alicia berperan sebagai ibu bagi Evan.

Satu - satunya yang dia ingat hanyalah keahliannya sebagai dokter dan karena itulah dia membangun sebuah klinik kecil dan tidak pernah memungut biaya untuk setiap orang yang memeriksakan kesehatannya.

"Kalung dan cincin itu sempat dia jual untuk biaya membeli obat - obatan bagi orang - orang yang ada disini dan dengan uang yang dikumpulkan oleh orang - orang yang dibantu oleh dokter Alicia, kami berhasil menebus kembali perhiasan ini dengan harapan jika suatu saat keluarganya menemukannya mereka dapat mengenali 'satu - satunya identitas' yang ada pada dokter Alicia.

"Lalu kenapa klinik itu seperti dihancurkan?" tanya Louis penasaran.

Evan menghela nafas, "Ini semua karena keberadaan walikota yang baru. Pria bernama Gaspar itu memonopoli fasilitas kesehatan yang ada di kota ini, sehingga orang - orang yang ingin berobat harus membayar mahal kepadanya. Keberadaan dokter Alicia menjadi ancaman baginya karena dia menyediakan pengobatan gratis bagi warga miskin"

"Selain itu juga karena Gaspar ingin menjadikan dokter Alicia sebagai istrinya. Itulah kenapa orang - orang menyembunyikan dokter Alicia ditempat ini, karena hanya tempat ini yang tidak bisa dijangkau oleh Gaspar" ucap Evan lagi.

Caroline tergugu mendengar penjelasan Evan, "Nona, sekarang apa yang akan kau lakukan setelah mengetahui kebenarannya, apa kau akan membawa dokter Alicia pergi dari sini?" tanya Evan.

****

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!