BAB 2

Sebuah tinju melayang ke wajah Bastian dan membuat hidung Bastian mengeluarkan darah.

Semua orang yang hadir di upacara tersebut jelas terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Caroline, apalagi setelah dia memutar badannya menghadap keseluruh tamu undangan dan mencari seseorang diantara mereka.

"Ketemu...!!!!" mata Caroline akhirnya tertuju kepada sosok Veronica bersama seorang gadis kecil yang berusia 2 tahun, Caroline segera turun dari altar dan menghampiri Veronica yang saat ini lebih muda dari yang dia ingat.

"Kau pikir aku sudi menikah dengan laki - laki sepertimu yang berselingkuh dengan perempuan ini hingga memiliki anak?!!!" Teriak Caroline sambil menunjuk ke arah Veronica dan Ophelia

"Hey, nama anak ini Ophelia kan? Kasihan sekali anak itu memiliki ibu pela*cur sepertimu" olok Caroline.

Mendengar itu baik Bastian dan Veronica sama - sama terkesiap ketika Caroline mengetahui soal hubungan mereka terlebih lagi soal Ophelia.

"Caroline.... Hentikan sikapmu, apa kau ingin mempermalukan dirimu sendiri lebih lanjut?" tanya seorang pria yang akhirnya berjalan menghampiri Caroline.

Melihat sosok laki - laki dihadapannya, laki - laki yang begitu dia rindukan, tanpa sadar air mata terjatuh dari pelupuk matanya.

"Dad....." lirihnya

"Dad, Sorry karena aku tidak mendengarkanmu. Dia memang bukan laki - laki yang baik" kata Caroline dan langsung memeluk ayahnya.

Ayahnya tersenyum, "Semua orang pernah melakukan kesalahan dan sebagai seorang ayah sudah pasti aku akan memaafkanmu terlepas apapun kesalahan yang kau lakukan. Karena kau adalah putriku satu - satunya yang aku cintai"

"Aku yakin kau punya banyak hal untuk kau katakan padaku, lebih baik sekarang kita kembali pulang kerumah" ajak Edward.

Sebelum pergi Edward menatap keseluruh tamu yang hadir dalam upacara tersebut, "Sepertinya hari ini tidak akan ada pernikahan yang terjadi diantara putriku dan laki - laki itu. Jadi kami permisi terlebih dahulu" pamitnya.

Caroline tersenyum dan segera menggandeng tangan ayahnya.

"Caroline tunggu....!!!!" Bastian mencegat Caroline, sorot wajahnya menampakkan kemarahan yang begitu besar apalagi dirinya merasa dipermalukan oleh Caroline.

Bagaimana tidak, ditinggalkan begitu saja dihari upacara pernikahannya sendiri tentu akan menjadi sebuah aib baginya apalagi semua orang jadi mengetahui dirinya memiliki anak dari hubungan gelapnya bersama Veronica.

Tangan Caroline bergerak menepis Bastian yang akan menyeretnya pergi, "Bastian Hill aku rasa kau bukan orang bodoh yang mengerti bagaimana situasinya sekarang. Apa kau ingin membuat keributan dan membuatku mengatakan apa saja hal buruk yang sudah kau lakukan didepan semua orang?"

"Lebih baik kau masih memiliki akal sehat jika kau ingin membuat keributan lebih dari ini, karena apapun itu hanya akan membuatmu menderita kerugian yang jauh lebih banyak" sinis Caroline.

"Caroline, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita itu. Anak itu... Anak itu bahkan bukan anakku. Kau salah paham!!!!"

"Kumohon jangan lakukan ini" Bastian semakin putus asa melihat Caroline sedikit pun tidak bergeming dengan permintaannya.

"Hah.... Kalau begitu apa kau berani untuk melakukan test DNA? Dengarkan aku keparat, aku sangat tahu anak itu anakmu. Melihat usianya dia berusia sekitar 2 atau 3 tahun. Sementara kita bertunangan sudah 3 tahun, artinya kau berselingkuh dariku" Seru Caroline.

"Dad, ayo kita pulang. Aku tidak mau disini lebih lama mendengar omong kosong darinya" ujar Caroline lagi.

"As you wish dear" jawab Edward.

Bastian seketika pucat, "Kenapa dia seperti ini? Seharusnya semua berjalan lancar. Kalau aku batal menikah dengannya, aku tidak akan bisa menikmati hidup bergelimang harta" batin Bastian.

"Tuan Edward, anda harus menghentikan Caroline. Bagaimana mungkin anda membiarkannya melakukan ini? Bukankah ini juga akan mencoreng nama baik anda?" bujuk Bastian.

Bastian tidak ingin kesempatan emasnya untuk menikah dengan Caroline hilang begitu saja setelah apa yang dia alami selama ini.

"Victor... Singkirkan dia dari hadapanku!!!" kata Edward kepada seorang pria besar keturunan Rusia itu. Victor dengan mudah menyingkirkan Bastian yang duduk bersimpuh sambil terus menahan malu.

Upacara pernikahan yang dia inginkan akhirnya menjadi berantakan.

"Hahhhhh.... Jadi ternyata seperti ini akhirnya? Tapi memang, dia bukan wanita yang cocok untukmu. Bagaimana mungkin kau bermimpi untuk menikah dengan Caroline sementara posisimu sendiri adalah anak ha*ram dari ayahku" ledek Patricia dan Patrick saudara sepupunya sendiri.

"Patty lebih baik kita pergi dari sini. Biarkan saja si bodoh ini meratapi kegagalannya. Aku tidak sabar mengatakan hal ini kepada Mommy" ajak Patrick.

Mereka berdua meninggalkan Bastian sendirian dengan senyum lebar mengembang dari bibir mereka.

"Dasar pecundang.... Kau yang seorang anak ha*ram memiliki anak ha*ram dengan seorang penari di sebuah klub malam. Aku rasa darah memang lebih kental daripada air, melihatmu yang tidak jauh beda dengan ibumu" seru Patrick dari kejauhan.

...****************...

Sesampainya di kediaman Caroline, dia langsung melepas gaun pengantin dan menyuruh para pelayan untuk membakar gaun itu. Selain itu dia juga meminta mereka untuk membuang semua barang - barang yang berkaitan dengan Bastian tanpa terkecuali.

"Caroline, apa kau didalam. Apakah aku boleh masuk?" tanya Edward yang berada di depan kamar Caroline.

"Masuklah Dad...."

Edward masuk dan sedikit kaget melihat para pelayan yang tampak sibuk mengeliminasi barang - barang yang ditunjuk oleh Caroline.

"Buang semuanya, aku tidak ingin melihatnya lagi" kata Caroline.

"Baik nona...." para pelayan itu buru - buru pergi setelah Edward memerintahkan mereka untuk meninggalkan kamar itu.

Edward memandang Caroline, sesaat dia merasa jika kepribadian Caroline telah berubah.

"Jadi apa yang sebenarnya terjadi hari ini? Kenapa kau tiba - tiba membatalkan pernikahanmu dengan Bastian. Bukankah kau memang menginginkan hal ini?" tanya Edward to the point.

Caroline memeluk Edward sekali lagi, kali ini lebih lama. "Ada apa ini? Apa kau sedang merajuk supaya aku tidak memarahimu?" tanya Edward.

"Hentikan Dad, aku ingin memelukmu lebih lama. Aku sangat... sangat merindukanmu" isak Caroline.

Edward menarik tubuh Caroline dan melihat wajah Caroline yang telah basah dengan air mata, "Dear... Kenapa kau menangis? Apa Bastian telah berbuat sesuatu yang menyakitimu? Katakan pada Daddy, biar aku yang menghukumnya. Beraninya dia berbuat seperti ini kepada anakku" ucap Edward.

"Dia memang pria ba*jingan, kepa*rat dan rendahan. Tapi saat ini dia tidak melakukan apapun padaku selain perselingkuhannya dengan Veronica" kata Caroline.

"Setidaknya untuk saat ini" pikirnya.

Edward menghela nafas dan kembali memeluk putrinya, "Sudahlah, lupakan hal itu. Aku senang akhirnya kau batal menikah dengannya, bagaimanapun juga dia tidak pantas denganmu. Akan jauh lebih baik kau menikah dengan Louis, kepribadiannya sangat baik dan dia juga menyukaimu" kata Edward.

"Oh jangan lagi ayah, aku masih cukup lelah dengan drama pernikahanku. Jangan membicarakan orang yang bahkan tidak berada disini lebih lama lagi" elak Caroline.

Edward tertawa terbahak - bahak, "Tapi ada baiknya kalau kau bertemu dengannya. Terakhir kali kalian bertemu saat kau masih sangat kecil, sekarang dia sudah menjadi pria yang gagah dan tampan. Daddy rasa jika kau bertemu dengannya kau pasti akan menyukainya. Kalau kau mau aku bisa mengatur pertemuan itu" bujuk Edward.

"Hentikan... Aku tidak mau melakukannya. Meskipun kami dulu berteman, aku tidak pernah berkomunikasi dengannya. Siapa yang tahu kalau dia menyembunyikan kepribadian jeleknya dengan baik seperti yang dilakukan oleh Bastian" kilah Caroline.

Edward kembali mencoba meyakinkan Caroline kalau hal itu tidak akan terjadi.

"Percayalah pada Daddy, dia adalah pemuda yang baik. Cobalah bertemu dengannya sekali, jika setelah kau bertemu dengannya kau tidak menyukainya maka daddy akan berhenti memaksamu" janji Edward langsung disambut baik oleh Caroline.

"Daddy, ingat kau sudah berjanji. Setelah aku bertemu dengannya dan aku tidak menyukainya, maka kau tidak boleh memaksaku lagi" kata Caroline.

"Daddy berjanji.. Kau bisa mempercayainya"

Caroline membayangkan seperti apa pria itu, terakhir yang dia ingat Louis adalah anak laki - laki yang dulu sangat cengeng dan penakut ditambah lagi dia juga termasuk kutu buku diantara mereka.

"Hhhh.... Sebaiknya ku ikuti saja dulu apa maunya daddy" batinnya

...****************...

...****************...

...****************...

Terpopuler

Comments

Endang Supriati

Endang Supriati

hrsnya kamu bantang suruh tampar selingkuhannya dan syruh maki2 dan suruh lempar anak haramnya keluar gedung.

2024-06-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!