Meskipun Caroline menyatakan bahwa dirinya sudah tidak lagi mencintai Bastian, rupanya beberapa orang yang ada di kediamannya masih tidak percaya jika Caroline benar - benar sudah tidak mencintai Bastian lagi. Bagaimana tidak, selama 8 tahun Caroline mengejar cinta Bastian sampai akhirnya mereka bisa bertunangan lalu menikah. Apalagi muncul rumor bahwa Caroline sengaja mengarang cerita soal hubungan Bastian dan Veronica.
Masalah baru muncul adalah Bastian berencana untuk menuntut Caroline atas pembatalan pernikahan mereka melalui pengacara keluarga mereka. "Hmmm aku rasa dia tidak akan menyerah semudah itu melihat tabiatnya selama ini" batin Caroline disela - sela perjalanannya menuju kediaman Phillip yang berada cukup jauh di pedesaan didaerah pegunungan.
****
Sepanjang perjalanan, Caroline lebih banyak terlelap karena rute tujuan mereka cukup jauh dan Phillip menolak untuk melanjutkan perjalanan mereka menggunakan pesawat pribadi milik Edward jadilah Caroline harus bertahan selama kurang lebih 7 jam perjalanan bersama dengan kakeknya.
"Aku ingin segera sampai, energiku seperti terkuras habis hanya dengan mendengar grandpa menceritakan kisah masa mudanya" batin Caroline gemas.
Phillip adalah kakek Caroline dari pihak ayahnya, dan sangat menyayangi Caroline. Tapi rasa sayang yang ditunjukkan pada Caroline sedikit berbeda dengan kebiasaan orang lain pada umumnya.
Setiap ada kesempatan, Phillip selalu menculik Caroline untuk melatih kemampuan fisiknya. Sebagai salah seorang veteran perang, Phillip menguasai berbagai macam teknik beladiri, bahkan saat Caroline berusia 8 tahun dia sudah diajarkan untuk berburu kelinci di hutan di belakang tempat tinggal Phillip.
Itulah kenapa Caroline sedikit tertekan jika dirinya bersama dengan Phillip, karena kepribadian Caroline yang lebih suka bersantai berbanding terbalik dengan Phillip yang terlalu aktif.
"Pumpkin, setelah kita melewati jalan ini kita akan sampai. Sudah lebih dari 5 tahun kau tidak mengunjungi grandpa. Apa kau tahu betapa aku merindukanmu" ucap Phillip.
"Maafkan aku grandpa, mulai sekarang aku akan lebih sering mengunjungimu" bujuk Caroline.
"Oh ya satu lagi, aku rasa kau akan senang disana karena kita akan mendaki gunung bersama - sama. Selain itu teman lamamu juga sepertinya sudah sampai di kediamanku" kata Phillip lagi.
"Temanku? Maksud grandpa?" tanya Caroline penasaran, dirinya sama sekali tidak tahu menahu soal kehadiran teman yang dimaksud oleh Phillip ini.
"Louis.. Bukankah kau mengenal dia. Dulu kalian sering berburu dan bermain bersama" kata Phillip.
Caroline membeliakkan matanya, "Louis, dia juga ikut berlibur? Dulu memang aku sering bermain dengannya tapi itu sudah lama sekali. Aku bahkan tidak ingat seperti apa wajahnya" batin Caroline dalam hati.
"Yah sepertinya tidak ada yang bisa aku lakukan, untuk sementara biarkan saja seperti ini dulu" pikirnya
***************
Akhirnya perjalanan yang melelahkan itupun sampai, kediaman Phillip tidak sebesar kediaman Caroline yang berada di ibukota. Tapi suasana disekitarnya begitu asri dengan banyaknya pohon rindang dan taman - taman bungan dan taman obat - obatan. Caroline disambut oleh pelayan yang mendampingi Phillip.
Untuk kediaman sebesar itu, Phillip hanya tinggal bersama 3 orang pelayan dan 1 orang tukang kebun. Semenjak neneknya meninggal, Phillip lebih banyak menghabiskan waktunya di kediaman yang menjadi tempat favorit Clara, nenek Caroline.
Phillip tersenyum melihat Caroline memandangi sekeliling kediamannya, "Tidak ada yang berubah sejak kau datang kemari terakhir kali. Semuanya masih tetap sama seperti dulu. Aku yakin kau pasti lelah setelah perjalanan yang melelahkan, sudah cukup lama bukan kau menempuh perjalanan sejauh ini tanpa menggunakan pesawat pribadi milik ayahmu?"
"Iya sudah lebih dari 5 tahun aku tidak kemari"
"Kau benar, waktu begitu cepat berlalu. Aku ingat saat kau masih kecil dan mengikutiku berburu kelinci di hutan di bukit belakang kediaman ini dan sekarang kau sudah menjadi gadis dewasa yang bahkan dengan berani membatalkan pernikahannya sendiri" jawab Phillip seraya tertawa lepas.
"Semakin kau dewasa kau semakin mirip dengan ayahmu, dan terus terang aku membencinya. Kau tahu seberapa keras kepala ayahmu itu" Caroline menanggapi cemoohan Phillip atas ayahnya dengan senyum canggung karena menurutnya kakeknya pun juga sama keras kepalanya dengannya dan juga ayahnya.
"Oh ya, kurasa Louis sudah tiba. Sally, panggil Louis kemari. Aku rasa dia pasti ada dibelakang membantu membelah kayu bakar untuk perapian" ucap Phillip.
Louis memasuki ruang tamu dan langsung berdiri disamping Caroline, "Kau masih ingat kan dengan Louis?" tanya Phillip.
Melihat Louis berdiri disampingnya, Caroline kehilangan kata - kata karena tinggi badan Louis yang jauh dari bayangannya, "da fuq... Kenapa dia tinggi dan besar sekali?!"
"Aku memang mendengar dari daddy kalau Louis memiliki tubuh yang tegap dan gagah, tapi...."
Caroline masih terus memandangi Louis tanpa mengatakan apapun, ditambah lagi Louis menunjukkan ekspresi dingin dihadapannya.
Sementara itu Louis berusaha menyembunyikan rasa gugup berada dihadapan Caroline, "Apa dia mengenaliku? Kami sudah bertemu waktu itu ditaman. Kenapa dia sepertinya masih tidak mengenaliku? Apa perubahanku begitu drastis?" berbagai macam pertanyaan muncul dibenak Louis karena Caroline tidak juga mengatakan apapun setelah mereka bertemu.
"Apa yang kalian berdua lakukan? Kenapa kalian berdua tidak mengatakan apapun?" tegur Phillip
Baik Caroline maupun Louis sama - sama tersadar dari lamunan mereka masing - masing, satu sama lain pun akhirnya mulai bersalaman.
"Ha-halo... su-sudah lama kita tidak bertemu" kata Caroline
"A-ah... iya.. Sudah cukup lama ya. Hahahaha. Anda terlihat cantik seperti bunga krisan" kata Louis.
"Huh... bunga krisan?" tanya Caroline tidak mengerti.
Louis pun tersadar jika dirinya baru saja mengatakan hal yang aneh, wajahnya menjadi memerah karena menahan malu. "Apa yang ada diotakku. Kenapa aku mengatakan hal bodoh seperti itu" batin Louis.
Caroline memandang takjub pada Louis, dirinya benar - benar sama sekali tidak mengingat tentang Louis saat mereka masih kecil. Hanya satu yang dia ingat jika Louis dulu adalah anak kutu buku dan gendut. Melihat Louis dihadapannya sekarang adalah pria yang gagah dan tampan tentu saja membuat Caroline sedikit canggung berlama - lama dengannya.
"Kalau begitu aku permisi dulu, karena bibi Magdalena memintaku untuk membantunya memotong kayu bakar lebih banyak" pamit Louis.
"Cepat sekali, kenapa kalian tidak mengobrol dulu satu sama lain?" tanya Phillip.
Mendengar Louis langsung pergi begitu bertemu dengannya membuatnya berpikir jika Louis tidak menyukainya, "Kalau begitu aku tidak perlu susah - susah meyakinkan daddy kalau aku tidak menyukainya. Karena toh, dari sikapnya yang begitu formal denganku dia pasti tidak menyukaiku" pikir Caroline.
"Brakkkkkkk!!!!!" Caroline yang sedang larut dalam pikirannya sendiri dibuat terkejut dengan suara keras dibelakangnya, saat dia menoleh rupanya Louis sudah terjatuh akibat membentur meja dan membuatnya menahan rasa sakit di kakinya.
"Louis, kau baik - baik saja?" tanya Phillip khawatir.
"Sa-sa-saya baik - baik saja" teriaknya sambil berlari menutupi wajahnya yang memerah menahan malu hingga ke ubun - ubun.
"Ada apa dengannya? Apa dia sebegitu tidak sukanya denganku sampai - sampai dia buru - buru pergi seperti itu?" batin Caroline heran.
"Yah biarkan saja, lagipula aku juga tidak memiliki perasaan apapun setelah melihatnya. Tapi kurasa kakinya terbentur cukup keras tadi, apa dia akan baik - baik saja?" tanyanya dalam hati.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Riski Fausianto
p
2024-06-13
0