Bab 17

Jemima yang sedikit limbung, terkejut saat mendengar suara seseorang yang sedang memegang kedua bahunya. Jemima menatap ke arah lelaki yang sedang mencoba membantu menopang tubuhnya yang terasa lemas itu.

“Dokter Oscar…,” ujar Jemima lirih yang merasa lega karena ia mengenal lelaki yang menjadi pahlawannya hari itu. Oscar membawa Jemima ke klinik hotel dan membiarkan gadis itu beristirahat di ruangan itu. Oscar juga menghubungi ruangan divisi HRD untuk mengabarkan keberadaan dari Jemima.

Tak lama, Dante dan Pertiwi yang merupakan salah satu admin di divisi mereka mengunjungi Jemima. Jemima meminta maaf karena merepotkan kedua bawahannya itu. Setelah beristirahat selama dua jam, Jemima memutuskan untuk kembali ke ruangannya dan meminta ijin untuk pulang kepada Arion. Jemima merasa tidak memiliki kekuatan untuk menyelesaikan pekerjaannya hari itu.

Ia juga tak ingin merepotkan Oscar bila harus terus beristirahat di klinik.

“Ehmm, Pak Arion, saya ijin pulang untuk hari ini ya?” ujar Jemima dengan wajah yang masih terlihat pucat. Arion menatap ke arah Jemima yang memang terlihat seperti sedang menahan sakit.

“Aku antar! Kebetulan aku ada meeting dengan klien di luar!” balas Arion yang membuat Jemima kesulitan untuk menolak tawaran itu. Tatapan Arion adalah tatapan seseorang yang menyiratkan dirinya sedang tak ingin dibantah. Pada akhirnya, Jemima hanya pasrah dan menganggukkan kepalanya dengan pelan.

Setelah memberikan instruksi kepada Dante dan Pertiwi, Arion dan Jemima pun berlalu dari ruangan itu. Jemima tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak berada satu mobil dengan Arion. Ia seolah mengunci bibirnya rapat-rapat, ia hanya menatap keluar jendela.

“Ehmm, maaf karena perkataan aku tadi! Mungkin aku terlalu keras!” ujar Arion secara tiba-tiba yang membuat Jemima sedikit tersentak. Ia hanya menggumam pelan untuk membalas Arion. Ia sedang tak ingin beramah-tamah dengan lelaki yang telah menyebabkan dirinya menjadi seperti saat ini.

“Antarkan aku ke rumah kontrakan aja, please! Aku engga mau tante khawatir. Kamu bisa kan ngasih alasan yang masuk akal ke tante. Aku lagi pengen sendirian!” pinta Jemima. Arion tidak membalas, tetapi ia mengarahkan mobilnya menuju ke rumah kontrakan Jemima.

Setelah menurunkan Jemima, Arion kembali melajukan mobilnya. Jemima menatap sendu ke arah mobil Arion yang perlahan menjauh. Ia melangkah gontai saat memasuki rumahnya yang terlihat mulai ditemani oleh banyak debu.

“Ahhh, alamat manggil jasa cleaning lagi deh!” gerutunya sembari mulai membuka aplikasi untuk jasa pembersihan rumah. Tak lama suara mobil memasuki halaman rumahnya yang membuat Jemima membuka pintu rumahnya. Ia begitu terkejut saat melihat penampakan Arion yang turun dari mobil sambil membawa beberapa plastik belanjaan.

“Loh, kamu engga jadi meeting? Kenapa malah ke sini?” tanya Jemima saat melihat Arion sama sekali tidak membalas pertanyaan. Ia malah masuk ke rumah seolah rumah itu adalah rumahnya sendiri. Jemima mengekori Arion dan menunggu lelaki itu menjawab pertanyaannya.

Alih-alih menjawab Arion malah terlihat sibuk menyusun semua barang belanjaannya di lemari pendingin milik Jemima.

“Rion, kamu dengerin aku engga sih?” seru Jemima yang menjadi tidak sabar karena Arion seolah mengabaikan dirinya.

“Barang kamu yang di rumah entar pulang kerja aku antar ke sini! Sekarang kamu istirahat, aku engga mau dengar alasan besok kamu engga masuk kerja karena sakit lagi! Ini makan siang dan makan malam kamu!” ujar Arion lalu meninggalkan Jemima yang terlihat tertegun karena masih berusaha mencerna perkataan Arion.

Jemima mengejar Arion yang sudah berjalan melewati pintu rumah itu.

“Tunggu!” teriak Jemima yang terpaksa berlari kecil untuk mengejar lelaki itu.

Jemima menangkap tangan Arion agar lelaki itu berhenti berjalan. Arion menghentikan langkahnya dan menatap Jemima yang tengah menunduk sambil terengah. Jemima mencoba menetralisir deru nafasnya yang terdengar memburu. Ia masih merasa lemas, tetapi Arion kembali memaksanya untuk berlari menyusul lelaki itu.

Arion menatap ke arah tangannya yang masih digenggam erat oleh Jemima. Jemima tampaknya tak menyadari hal itu. Ia masih terlihat sibuk mengatur nafasnya.

Pada akhirnya, Jemima mengangkat kepalanya dan menatap lelaki itu dengan lekat.

“Makasih, Rion…,” ujar Jemima pelan sembari berjinjit.

Cup!

Arion terkejut saat merasakan bibir Jemima menyentuh pipinya, dan ternyata Jemima pun mengalami hal yang sama. Mata Jemima membulat sempurna saat melihat pipi Arion yang tersentuh oleh bibir dan hidung mancungnya.

“Ekhem. Permisi, apa benar ini rumah Ibu Jemima?” tanya seseorang yang menjadi saksi perbuatan Jemima itu.

Jemima langsung menjauhkan wajahnya dari pipi Arion. Wajahnya merah padam karena malu. Ia mengutuki perbuatannya itu. Arion berdeham dan menjawab pertanyaan lelaki yang berada di dekat mereka itu. Jemima hanya bisa mengangguk sambil menunduk untuk mendukung jawaban dari Arion itu.

“Kenapa kamu engga bilang kamu manggil jasa cleaning?” bisik Arion yang membuat Jemima menoleh bingung. Ia mengerjapkan matanya dengan wajah yang sedikit linglung. Arion menghela nafas panjang dan menarik tangan Jemima untuk masuk ke dalam rumah. Arion juga mempersilakan tim jasa pembersihan rumah itu untuk melakukan tugasnya.

“Kenapa kamu masih di sini?” tanya Jemima yang melihat Arion duduk di sampingnya dan terlihat sibuk dengan laptop miliknya.

“Kamu mau aku tinggal sendiri di sini?” tanya Arion tanpa menoleh ke arah Jemima yang membuat gadis itu menggelengkan kepalanya dan menyentuh lengan atas Arion seolah sedang menahan lelaki itu agar tidak pergi.

Sebenarnya Jemima baru pertama kali memanggil jasa pembersihan rumah online. Ia terpaksa melakukannya karena ia tak akan sanggup membersihkan rumah itu sendirian dengan kondisi tubuhnya sekarang. Ia benar-benar berterima kasih kepada Tuhan karena mengirimkan Arion untuk menemani dirinya.

“Sekali lagi, makasih Rion. Untung ada kamu!” bisik Jemima sesaat sebelum ia menutup matanya dan terlelap dalam tidurnya.

***

Jemima membuka matanya dan mendapati hari sudah malam. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan mendapati rumahnya sudah terlihat bersih dan  rapi. Ia celingukan untuk mencari keberadaan Arion, tetapi ia tidak menemukan lelaki itu. Ada perasaan kehilangan dalam diri Jemima, saat menatap ke sekeliling rumah dimana hanya ada dirinya.

“Kamu udah bangun?” tanya seseorang yang membuat binar bahagia terbit di mata Jemima. Jemima berbalik badan dan mendapati lelaki yang sejak tadi dicarinya baru saja selesai membersihkan diri.

‘Kenapa hari ini Rion kelihatan luar biasa tampan?’ batin Jemima yang membuat gadis itu terkejut dengan pemikirannya sendiri. Jantungnya tertalu yang menimbulkan semburat merah jambu di wajah gadis itu.

‘Perasaan apa ini?’ Tanpa sadar Jemima memegang dadanya yang membuat Arion menaikkan alisnya.

“Kamu kenapa?” Pertanyaan Arion  membuat Jemima tersadar dan berdeham. Alih-alih menjawab, Jemima malah menanyakan hal lain yang membuat Arion menatapnya dengan lekat. Jemima berjalan ke arah dapur untuk menjauhkan dirinya dari Arion yang sepertinya masih memperhatikan gerak-geriknya.

Jemima menyibukkan diri dengan memanaskan makanan untuk mereka berdua. Ia juga memasak beberapa bahan makanan untuk menambah menu makan malam mereka. Mereka berdua makan dalam diam, hanya suara sendok dan piring yang menemani makan malam mereka.

“Rion, maaf ya karena aku kamu jadi engga balik ke kantor!” cicit Jemima yang mendadak merasa bersalah kepada sahabat kecilnya itu.

“Selain makasih dan maaf, kamu engga punya kata-kata yang lain, ya?” balas Arion yang membuat Jemima cemberut.

“Aku udah bilang mama, aku nemanin kamu malam ini di sini. Jadi barang-barang kamu kita ambil besok!” lanjut Arion santai.

“Hah? Kamu nginap di sini?”

****

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!