Bab 11

“Tante, makasih buat semuanya ya, Mima pamit balik ke kontrakan, hari ini ya…. Udah terlalu lama juga kontrakannya ditinggal,” ujar Jemima saat ia memilih untuk kembali ke rumah kontrakannya karena ia tidak ingin tinggal lebih lama bersama Arion.

Jemima merasa bahwa ia dan Arion tidak akan pernah lagi bisa menjadi teman, baginya Arion hanyalah atasan di kantor. Ia tidak lagi menginginkan hubungan mereka kembali seperti masa kanak-kanak mereka. Tekanan yang berasal dari Rebecca membuat Jemima jengah.

Ia menyesali keputusannya kembali ke Bali, tetapi ia tak mungkin lagi mundur. Ia tidak ingin mengecewakan Michael yang sudah memberi kesempatan kepadanya untuk mengembangkan kariernya. Jemima juga ingin memenangkan tantangan yang diberikan oleh Arion, bahwa ia bisa menyelesaikan kontrak kerjanya di sana.

“Sayang, tante masih pengen kamu di sini. Tante senang ngobrol sama kamu. Hannah sama om kamu sering keluar kota. Arion…, kamu tau sendiri gimana! Tante kesepian tau!” bujuk Miranti yang membuat Jemima merasa serba salah.

Ia tidak tega melihat wajah memelas Miranti, tetapi bila mengingat wajah dan sikap dingin Arion, Jemima memilih untuk menjauh.

“Kamu baliknya setelah kita pulang dari Lombok aja! Biar engga susah di bandara nanti, aku malas nunggu lama!” ujar Arion yang tiba-tiba muncul di ruang tamu yang membuat Jemima terkejut. Miranti langsung mengangguk senang karena Arion ternyata mendukung keinginannya. Jemima terdiam beberapa saat sembari memandang wajah Arion yang tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

‘Kulkas aja engga sedingin sikap kamu! Minta aku tinggal tapi ekspresinya kayak gitu! Kesel aku!’ batin Jemima yang selalu merasa jengkel dengan sikap Arion.

Miranti menunggu dengan wajah penuh harapan yang membuat Jemima dengan terpaksa mengangguk. Miranti bersorak senang dan kemudian memikirkan sesuatu.

“Ehmm, Rion, Mima, kebetulan hari ini mama mau belanja, tapi kok kayaknya badan mama engga enak ya! Gimana kalo kamu sama Mima aja yang belanja? Boleh tolong mama kan, sayang?” ujar Miranti dengan nada yang dibuat selemas mungkin.

Arion menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengangguk, Jemima terpaksa ikut mengangguk karena tak ingin mengecewakan wanita paruh baya itu. Miranti segera bergegas dan menulis semua barang yang ingin ia beli. Jemima merasa Miranti sedang merencanakan sesuatu, Jemima mengingatkan dirinya agar tidak terjebak dalam rencana sang tante.

‘Kali ini aja, Mima. Lain kali jangan lagi.’

***

“Gimana udah semua?” tanya Arion sembari melihat ke arah Jemima yang sedang membaca daftar pesanan dari Miranti.

Jemima menggeleng dan menunjukkan daftar pesanan itu kepada Arion yang membuat lelaki itu menghela nafas panjang. Sudah tiga jam ia berkeliling dengan Jemima untuk mencari semua barang pesanan sang ibu.

“Kita makan dulu deh, kita bayar ini dulu. Nanti kita balik lagi ke sini!” ajak Arion yang membuat Jemima mengangguk cepat dan berterima kasih karena sikap tanggap Arion. Ia memang sedang letih dan lapar. Jemima tidak menyangka Miranti menyuruh mereka berbelanja bulanan dengan daftar pesanan yang panjang hingga membuat Jemima merasa pusing saat membacanya.

“Rion, kita bisa ngopi dulu engga setelah makan? Aku butuh tenaga ekstra!” ujar Jemima sembari menatap Arion penuh harap.

“Emang kamu belum kenyang, udah makan sebanyak itu?’ balas Arion yang membuat Jemima mencebik karena kesal.

“Aku cuma mau ngopi, Rion! Bukan mau makan lagi!”

Jemima menatap Arion dengan kesal sambil memanyunkan bibirnya. Arion tidak membalas perkataan Jemima. Ia beranjak dari tempat duduk dan menuju ke kasir. Jemima hanya bisa pasrah mengikuti lelaki itu, walau dalam hati kekesalan terhadap lelaki itu sudah memuncak.

Wajah Jemima seketika menjadi cerah ketika melihat Arion memasuki semua kafe. Jemima bergegas untuk menyusul Arion. Mereka duduk sembari menikmati kopi yang mereka pesan. Mereka tidak terlibat obrolan apa pun, mereka memilih berdiam diri.

“Ehm, Rion?” ujar Jemima secara tiba-tiba yang membuat Arion melihat ke arahnya.

“Sakit…,” cicit Jemima, yang membuat Arion melihat ke arah gadis itu.

“Kaki aku lecet, boleh minta tolong belikan plesterkah?” cicit Jemima lagi, sambil tersenyum sungkan. Arion mencibir sambil menggelengkan kepalanya karena kesal. Sejak tadi banyak sekali permintaan dari Jemima yang harus ia turuti. Jemima memandang Arion dengan wajah memelas yang membuat Arion menatapnya dengan raut wajah malas.

“Manja! Ntar aja kamu beli waktu kita balik ke supermarket!” balas Arion yang membuat Jemima terdiam. Ia tak membantah perkataan Arion, ia sudah malas berdebat dengan lelaki itu. Ia hanya tidak menyangka Arion bisa bersikap setega itu kepadanya.

Jemima tidak lagi membuka mulutnya hingga mereka tiba di rumah. Ia baru bersuara kala melihat Miranti yang langsung menyambut kepulangan mereka. Jemima membantu Miranti untuk menyusun barang belanjaan mereka, sementara itu Arion langsung meninggalkan kedua wanita itu setelah selesai meletakkan semua barang belanjaan.

“Gimana tadi belanja bareng Rion, sayang? Dia baik ‘kan sama kamu?” selidik Miranti.

Jemima hanya mengangguk sambil tersenyum simpul. Ia tidak ingin membahas tentang Arion lagi, karena ia sudah memutuskan untuk menjauhi lelaki itu. Ia akan melupakan kisah persahabatan masa lalu mereka. Ia menyadari bahwa bagi Arion persahabatan mereka adalah kisah usang yang tidak berarti.

‘Aku harus cepatnya keluar dari rumah ini!’

***

Hari ini dimana, Jemima dan Arion berangkat ke Lombok pun tiba. Miranti sibuk membekali mereka dengan makanan dan obat-obatan yang membuat Arion merasa kesal. Jemima merasa geli melihat kekesalan Arion, tetapi ia memilih untuk menampilkan wajah datar seolah ia sedang tidak melihat apa pun.

Miranti melepaskan kepergian Arion dan Jemima dengan wajah sumringah, seolah ia sedang mengantarkan anak dan menantunya pergi berbulan madu.

“Hati-hati di jalan ya, sayang. Jaga Jemima ya, Rion. Have fun kalian berdua di sana ya,” pesan Miranti yang membuat Arion mencebik kesal.

“Mam, kami ke sana untuk urusan kerjaan, bukan mau liburan!” ketus Arion tetapi diabaikan oleh Miranti yang memilih memeluk Jemima sambil membisikkkan sesuatu yang membuat wajah Jemima merona. Ia tidak berani menatap ke arah Arion yang membuat Arion mengerutkan dahinya sembari menatap kedua wanita yang berada di hadapannya itu.

***

Jemima dan Arion telah tiba di Bandara Internasional Lombok setelah 30 menit perjalanan via udara dari Bandara Internasional Ngurah Rai Bali. Arion dan Jemima langsung dijemput dan diantarkan ke hotel tempat mereka menginap. Kamar Jemima berada di sebelah kamar Arion, sehingga memungkinkan bagi mereka untuk berkoordinasi lebih cepat.

“Ketemu di resto jam 12 teng!” ujar Arion sebelum memasuki kamar hotel yang ditempatinya. Jemima tidak menjawab perkataan Arion, ia hanya melengos dan memasuki kamar hotel yang ditempatinya. Ia terus merasa kesal dengan sikap Arion kepadanya. Jemima sebenarnya tidak mengetahui kesalahan yang diperbuatnya kepada Arion sehingga lelaki itu bisa bersikap sedingin itu kepadanya.

Jemima segera membuang segala pikiran dan memusatkan perhatiannya untuk menyusun barang-barangnya. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Michael dan Rusli yang menjadi utusan dari Jakarta. Ia sudah merindukan atasan lama dan sahabat dekatnya itu. Ia ingin menceritakan banyak hal kepada Rusli yang menggantikan posisi Jemima sebagai Supervisor HRD di kantor mereka yang lama.

“Jemima, ayo semangat, ini hanya waktu yang buruk, bukan hari yang buruk. Semangat diriku.”

****

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!