Seorang wanita cantik duduk di kursi roda di halaman panti yang cukup luas pada siang hari itu. Kedua manik indahnya menatap dedauan kering yang tertiup angin, beterbangan tidak tentu arah. Sama seperti hidupnya yang tidak tentu arah saat ayahnya menitipkan diirinya ke panti jompo milik teman ayahnya. Dan sampai saat ini Vittoria belum mendapatkan kabar dari ayahnya, padahal sebelumnya Arion berjanji akan terus memberikan kabar setiap hari, tapi kenyataannya Arion tidak menepati janji.
Vittoria merasa menjadi anak yang terbuang dan tidak diinginkan. Ibunya meninggal bunuh diri di dalam penjara karena depresi, sedangkan ayahnya pergi entah ke mana. Berkali-kali, Vittoria menghela nafas guna mengurai rasa sesak yang menghimpit dadanya.
"Vittoria, ada surat untukmu." Henry adalah teman ayahnya. Pria itu datang tergesa sambil membawa surat di tangan kanannya, lalu memberikannya kepada Vittoria.
(Di sini Vittoria masih di kursi roda belum operasi kaki dan masih tinggal di panti sama Henry)
"Surat dari siapa?" tanya Vittoria sebelum menerima surat tersebut.
"Dari ayahmu, Arion," jawab Henry. "Apa aku bilang, ayahmu tidak akan melupakanmu," lanjut Henry seraya mengusak pucuk kepala gadis itu dengan gemas sampai rambutnya berantakan.
Vittoria tersenyum senang, tapi beberapa saat kemudian cemberut karena rambutnya diacak-acak Henry.
"Ayo buka! Uncle penasaran dengan isi suratnya." Henry menundukkan setengah badannya, mensejajarkan tinggi badannya dengan Vittoria yang duduk di kursi roda. Dia sudah antusias sekali, karena penasaran dengan kabar Arion saat ini. Padahal zaman sudah modern banyak ponsel canggih untuk bertukar kabar, lalu kenapa pria itu mengirimkan surat untuk memberikan kabar? Sungguh aneh, tapi membuat Henry semakin penasaran dengan isi surat itu.
"No, ini rahasia. Aku akan membuka surat ini di kamarku. Uncle tidak boleh tahu, wlekkk." Vittoria memundurkan kursi rodanya, sambil menjulurkan lidahnya, meledek Henry, lalu segera masuk ke dalam panti, menuju kamarnya.
Henry berdecak sebal, rasa penasarannya semakin membuncah, tapi dia tidak bisa memuaskannya karena Vittoria tidak mengizinkannya melihat isi surat itu.
*
*
Douglass berjalan di koridor rumah sakit Milan, memakai topi dan masker untuk menutupi wajahnya. Langkah kakinya terhenti di depan meja resepsionis.
"Mi scusi signora (Permisi, Bu)," ucap Douglass pada wanita yang berdiri dibalik meja resepsionis yang sedang sibuk dengan layar komputer.
"Ya? Ada yang bisa kami bantu?" jawab wanita itu dengan ramah.
"Aku ingin mencari pasien di rumah sakit ini yang bernama Daniel," jawab Douglass seraya melirik ke kiri dan ke kanan, menatap sekitarnya. Tetap waspada.
Wanita itu segera memeriksa data pasien di rumah saki di komputernya, tidak berselang lama dia menyebutkan nama Daniel berada di ruang perawatan intensif.
"Grazie." Douglass mengucapkan banyak terima kasih lalu menuju ruang perawatan intensif di mana Daniel di rawat.
"Aku harus memastikannya sendiri, apakah pria itu Paolo atau bukan," gumamnya sambil terus berjalan. Kedua kakinya berhenti di depan pintu ruang rawat tersebut. Dia membuka pintu itu perlahan, menyembulkan kepalanya ke dalam ruangan tersebut, namun dia tidak melihat Paolo, yang dia lihat hanyalah seorang pemuda gendut yang sedang menikmati makan siang di atas tempat tidur. Douglass mengurungkan niatnya masuk ke dalam sana, karena dia kira salah ruangan. Tapi, langkahnya menggantung ketika mendengar pemuda gendut itu memanggilnya.
"Dog! Apa itu kau?" Suara pemuda gendut tersebut membuat Douglass terkejut bukan kepalang, dan hampir saja terjungkal.
"Si-siapa kau? Kenapa kau tahu namaku?" Douglass mengambil senjata api yang dia selipkan di sela ikat pinggangnya di bagian belakang. Dia harus siaga takut kalau semua ini hanya sebuah jebakan yang di susun pihak kepolisian untuk menangkapnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
🏘⃝AⁿᵘMd Wulan ᵇᵃˢᵉ 🍇
wkkwk dog ,itu bosmu
2025-01-05
1
Ayu Septiani
hati hati dengan senjatamu douglas
2024-11-30
0
Endang Sulistia
guk guk dong
2024-11-19
0