Dokter dan dua perawat sudah pergi. Di dalam ruang rawat itu tersisa Paolo seorang diri yang duduk di atas tempat tidur. Tidak berselang lama pintu kamar rawat dibuka dari luar, masuklah seorang wanita paruh baya.
"Dan, kau sudah baik? Kata dokter kau mengalami hilang ingatan dan harus di rujuk ke dokter spesialis," ucap wanita paruh baya dengan raut cemas dan sangat mengkhawatirkan keadaan putranya itu.
"Bibi," ucap Paolo.
"Bibi?" Wanita itu mengerutkan kening dan melayangkan protes.
"Maaf, maksudku Ibu," ralat Paolo. "Maaf, aku sama sekali tidak mengingat namamu," lanjut Paolo dibarengi dengan helaan nafas kasar dan raut sedih.
Wanita paruh baya itu tersenyum simpul, memahami kondisi putranya, "tidak apa-apa. Nama ibu adalah Isabella," jelas Isa.
"Boleh ibu tahu siapa Paolo? Saat siuman kau terus menyebut dirimu ini adalah Paolo Sorgia?" tanya Ibu Isa kepada putranya.
Paolo terdiam dia tidak tahu harus menjawab apa, tidak mungkin dia memberitahukan kepada wanita itu bahwa dirinya adalah Paolo Sorgia sang mafia yang bertransmigrasi ke tubuh Daniel.
Ibu Isa menepuk punggung tangan putranya dengan lembut, "tidak apa-apa kalau kau tidak mengingatnya, jangan di pikirkan lagi, ibu hanya sekedar bertanya," ucap Isa pada akhirnya ketika melihat putranya diam saja dan tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
Paolo menatap tangannya yang ditepuk lembut oleh Ibu Isa, ada geleyar hangat merasuk di dalam hatinya. Tidak pernah dia merasakan sentuhan hangat dari tangan seorang ibu dari sejak kecil.
Ibu Isa tersenyum seraya membuang nafas kasar.
Bagaimana aku membayar tagihan rumah sakit ini? Biayanya pasti sangat mahal, dan uang tabungaku selama menjual bunga jauh dari kata cukup, batin Isa dengan perasaan resah luar biasa, dan tanpa dia sadari bahwa suara hatinya di dengar oleh Paolo.
"Bu, aku sudah sehat, aku tidak memerlukan dokter spesialis atau pun perawatan lanjutan. Aku ingin pulang," ucapan Paolo mengejutkan Isa.
"Tidak, Dan. Kau harus tetap di rawat, karena kondisimu belum stabil." Ibu Isa tersenyum tipis menyembunyikan beban berat yang selama ini dia tanggung.
Paolo mengangkat kedua tangan gempalnya, menggerakannya seperti seorang binaragawan yang pamer otot, "Ibu, lihatlah aku sudah sembuh!"
Ibu Isa terkekeh melihat tingkah putranya, "tidak, kau harus berada di sini, tetap di rumah sakit untuk menjalani perawatan intensif, apalagi luka di kepalamu sangat parah," ucap Isa sambil menunjuk kepala putranya yang diperban.
Paolo harus mencari cara untuk membantu Ibu Isa membayar tagihan rumah sakit. Ya! Kenapa baru terpikirkan, dia harus menghubungi anak buahnya, bukankah asetnya masih ada begitu juga kekayaannya.
Tapi, adakah anak buahnya yang masih tersisa?
Paolo kembali menjadi galau.
Apakah dia harus datang ke markas untuk melihat keadaan di sana? Barang kali masih ada anak buahnya yang masih tersisa.
"Ibu, akan berjualan bunga, apakah kau tidak apa-apa jika sendirian di sini?" Pertanyaan Isa menyadarkan Paolo dari segala pikirannya yang sedang kalut.
Paolo menatap Ibu Isa sambil menganggukkan kepala, "hati-hati, Bu."
"Jika ada apa-apa segera hubungi, Ibu. Ini ponselmu." Isa memberikan ponsel jadul kepada Paolo.
Paolo mengerutkan kening, dan menatap aneh pada ponsel tersebut, seumur hidupnya tidak pernah memegang benda murahan itu, tapi karena jiwanya berada di dalam tubuh Daniel, maka dengan terpaksa dia menerima ponsel tersebut.
"Apa ini bisa dipakai?" tanya Paolo, polos.
"Hei, itu ponsel kesayanganmu. Kau merawat ponsel itu melebihi dirimu sendiri, jadi pasti masih bisa digunakan," jawab Isa menatap putranya yang terlihat aneh, tapi dia memaklumi karena Daniel hilang ingatan.
"Oh, begitu ya." Paolo menganggukkan kepala seraya membolak-balikkan ponsel tersebut.
"Aku baru tahu kalau ada ponsel jelek seperti ini," batin Paolo sambil meringis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
LENY
😂😂😂LUCU JG PAOLO PONSEL JELEK
2025-01-09
0
Ayu Septiani
ayo paolo bantu bu isa membayar biaya rumah sakit
2024-11-30
1
Ayyub Difansyah
bagus nya
2024-08-27
2