Keesokan harinya, setelah bekerja di rumah sakit Mira dan Shaka pun berkunjung ke kediaman Erik. Biah langsung menyambut mereka, sebelumnya Mira memang sudah mengatakan melalui pesan jika mereka akan datang. Biah menyambut mereka begitupun dengan Anisa, ia menyambut kedatangan Shaka dengan gembira bahkan tadi ia sudah menyiapkan mainan yang akan mereka mainkan.
"Ayo kita main di sana," panggil Anisa langsung menarik Shaka membuat kedua anak itu pun langsung berlarian menuju ke sebuah tenda yang sudah didirikan oleh Anisa dibantu oleh Erik dan ayahnya sebelum mereka pergi, mereka pun bermain piknik-piknikan.
"Kami nggak mengganggu kan, Bu?" tanya Mira, saat ini mereka memilih untuk duduk di bangku taman sambil memperhatikan anak-anak yang sedang asyik bermain.
"Tentu saja nggak mengganggu, sejak tadi Anisa menunggu kalian."
Bibi pun datang dan menyediakan jus dan juga cemilan untuk mereka, keduanya mengobrol ringan. Namun, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan Rangga ditemani oleh Aldi, kali ini mereka hanya berdua.
"Rangga, kenapa nggak bilang dulu jika mau datang? Erik baru saja keluar dengan ayahnya."
"Mereka keluar ya? Aku pikir mereka ada di rumah," ucap Rangga ikut berpura-pura jika dia datang ke sana memang untuk bertemu Erik atau Raditya.
"Dokter Mira? Kebetulan sekali kita kembali bertemu di sini, lama tidak berjumpa," ucap Rangga basa-basi membuat Mira hanya memutar bola matanya malas, walau Rangga mengatakan jika itu sebuah kebetulan Mira yakin jika mereka memang datang ke sana karena mengikutinya. Namun, tak mungkin ia langsung mengusir Rangga dari sana karena rumah ini bukanlah rumah miliknya.
"Ayo silahkan duduk, mungkin mereka nggak lama," ucap Dewi mempersilahkan keduanya duduk dan tentu saja Rangga langsung duduk tanpa malu di dekat Mira, sementara Aldi memilih untuk ikut bermain bersama dengan Shaka dan juga Anisa, sebenarnya Rangga juga sangat ingin ikut bermain dengan kedua anaknya melihat bagaimana keseruan mereka, tapi ia sadar dengan kondisinya membuat dia pun lebih memilih untuk duduk bersama dengan Biah dan juga Mira.
"Mereka sangat asik sekali," ucap Rangga menatap anak-anaknya, ada rasa hangat yang menjalar di hatinya. Mira juga melihat ke arah kedua anak mereka, ia pun mengangguk mengiyakannya. Selama ini ada rasa bersalah di hatinya karena selalu meninggalkan Shaka dan juga jika memang Anisa adalah anaknya ia sudah memisahkan mereka.
"Aku sangat bersyukur bisa memiliki Anisa, tadinya aku berpikir aku sudah tak bisa memiliki anak lagi. Aku berpikir tak bisa memiliki anak perempuan," ucap Biah yang juga bisa melihat bagaimana bahagianya putrinya.
"Maaf, Bu. Aku dengar Anisa adalah anak yang Ibu adopsi ya?" tanya Mira memberanikan diri.
"Iya, aku pernah melahirkan seorang anak, tapi meninggal sehingga suamiku membawa Anisa padaku, dia menjadi obat dari rasa sakitku akan kehilangan bayiku."
"Kehilangan bayi memang sangatlah menyakitkan, kita tak tahu apakah dia masih hidup atau sudah meninggal," ucap Mira masih menatap ke arah Biah.
"Apakah kamu juga pernah melahirkan dan anakmu meninggal?" tanya Biah.
"Nggak, Bu. Dulu aku melahirkan bayi kembar, Shaka dan juga adiknya, tapi karena sebuah peristiwa kecelakaan di rumah sakit aku kehilangan salah satu anakku, adik perempuan dari Shaka."
"Ya ampun, aku turut prihatin. Apa kamu tak punya kabar lagi tentangnya?"
"Aku sudah berusaha untuk mencarinya, tapi tetap saja tak ada kabar. Aku berharap di mana pun dia berada saat ini dia baik-baik saja, jika pun ada keluarga yang membesarkannya semoga saja dia dibesarkan oleh keluarga seperti ibu yang menyayanginya walau bukan anak kandungnya."
"Aamiin, dia pasti akan bahagia di mana pun dia berada," ucap Biah.
Mira dan juga Rangga saling menatap,
"Bu, apa Ibu tak pernah mencari tahu siapa orang tua Anisa?" kini Rangga yang bertanya.
"Aku tak pernah berpikir untuk mencarinya, aku pikir dia memang anak yang ditinggal oleh ibunya. Jika mungkin suatu saat nanti jika Anisa sudah tahu dan memang ia ingin mencari ibu kandungnya barulah kami membantunya."
"Bagaimana jika orang tuanya mencarinya selama ini dan dia menemukannya, apa Ibu rela memberikan kembali anaknya?" tanya Rangga kembali menatap Biah membuat Biah terdiam dan menatap Rangga balik kemudian ia menatap ke arah Anisa.
"Tidak, aku tak akan membiarkan siapapun memisahkanku dengan anakku. Dia adalah putriku dan menurut ayahnya Erik, ibu Anisa sudah tiada, ibunya meninggal saat melahirkannya."
Mendengar itu Mira langsung melihat ke arah ibu Biah, apakah hanya perasaannya saja jika Anisa adalah putrinya? Apakah benar apa yang ayah Erik katakan pada istrinya?
"Maaf sekali lagi Ibu Biah, apa Anda pernah mendengar jika ikatan antara orang tua dan anak itu sangatlah kuat? Jujur saat pertama kali aku melihat Anisa entah mengapa aku merasa dia adalah anak kami yang hilang."
"Anak kami? Maksudnya?" tanya Biah melihat ke arah Rangga dan juga Mira secara bergantian dengan raut wajah penuh tanya.
"Aku adalah ayahnya Shaka dan aku merasa Anisa adalah anak kami yang hilang, jika Ibu tak keberatan bolehkah kami melakukan tes DNA padanya?" tanya Rangga langsung pada apa yang selama ini ingin dimintanya dari keluarga yang mengadopsi Anisa, ia juga bisa melihat jika tadi Mira terlihat ingin mengatakan hal tersebut. Namun, ia tak berani.
Mendengar hal itu Biah sangat terkejut, bukan hanya Dewi yang merasa terkejut. Namun, begitupun dengan Lira, ia tak menyangka Rangga akan mengatakan kalimat yang sangat sulit diucapkannya. Kalimat itu kini terwakili oleh Rangga.
Biah terdiam, ada perasaan tak rela jika sampai ia dipisahkan pada Putrinya. Walau yang mengambilnya adalah orang tua kandungnya sendiri.
"Itu tak mungkin, orang tua Anisa sudah meninggal karena melahirkan dan ayahnya bahkan sudah meninggal saat Anisa masih berada di dalam kandungan," ucap Biah karena itulah yang dijelaskan oleh Raditya saat memberikan Anisa ke pangkuannya dulu.
Mendengar penjelasan itu Rangga dan Mira kembali saling menatap. Mira menggigit bibir bawahnya, ada rasa kecewa di hatinya saat mendengar hal itu. Ia tak mau percaya begitu saja, feelingnya mengatakan jika Anisa adalah putrinya, feelingnya begitu kuat.
"Maaf, Bu. Putriku kami memiliki tanda lahir di perutnya dekat di area pusatnya, apakah Anisa juga memiliki tanda lahir itu atau tidak?"
Biah kembali terdiam dan mengingat tanda lahirnya memang ada di tubuh putrinya sama persis dengan yang dikatakan oleh Mira. Namun, ia tak langsung menjawab. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkannya, mungkin saja tanda lahir itu hanyalah mirip atau sebelumnya Lira pernah melihat tanda itu pada Anisa.
"Lihat Bu, ini gambar putriku waktu kecil," ucap Mira memperlihatkan layar ponselnya yang menunjukkan foto putrinya dan Biah lagi-lagi terkejut saat melihat wajah yang sama dengan wajah Anisa saat bayi dulu, Mira memperbesar foto tersebut karena saat itu bayinya hanya memakai popok dan terlihat jelas tanda lahir yang ada di perutnya.
"Ini tanda lahirnya, Bu. Apa Anisa memang tak memilikinya?"
"Anisa tidak memiliki tanggal lahir seperti ini, mungkin anakmu dibesarkan oleh orang lain. Anisa adalah putriku," ucap Biah membuat Mira pun mengangguk dan mencoba untuk percaya. Ia tak boleh memaksakan kehendaknya, dalam hati jika memang Anisa adalah putrinya ia mengikhlaskan jika memang akan dibesarkan oleh ibu Biah, ia bisa melihat bagaimana sayangnya wanita itu pada Anisa.
"Ini sudah sore, aku mau membuat makan malam. Apa kamu mau ikut membantu? Kalian makan malam di sini saja ya?" ucap Biah membuat Mira pun mengangguk, mereka sama-sama membuat menu makan malam, sedangkan Rangga kini sudah bermain bersama dengan Anisa dan juga Shaka.
Namun, tiba-tiba karena kurang berhati-hati tangan Mira terluka, tangannya banyak mengeluarkan darah membuat Biah pun langsung membantu Mira membersihkannya.
"Kamu nggak papa kan?" tanya Biah khawatir.
"Nggak apa-apa kok, Bu," jawab Mira, ia pun memilih untuk mengobati lukanya sendiri setelah diberi kotak obat oleh Biah, Biah melanjutkan memasaknya di dapur. Namun, tiba-tiba ia melihat darah Mira tadi, membuat ia berpikir untuk membuktikan sendiri apakah Anisa memang anak Mira atau bukan, ia pun mengambil darah tersebut dan akan dijadikan sampel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Yani
Biah emang orang baik
2024-06-29
0
Zainab Ddi
Setu nih
2024-05-31
0
Eemlaspanohan Ohan
lanjut
2024-05-27
0