Tak ada Maaf

"Maafkan aku," ucap Rangga nyaris tak didengar. Namun, Mira masih bisa mendengarnya.

Walau dengan sangat pelan Rangga yang berusaha memegang lengan Mira yang  ingin pergi. Pegangan yang lemah membuat Mira bisa melepasnya dengan begitu mudah.

Mira memperhatikan kondisi Rangga, ia terlihat masih ingin berbicara. Namun, terlihat kesulitan bahkan ia bisa melihat tangan Rangga mencoba untuk kembali menggapainya. Tangannya bergetar, ia terlihat sulit untuk mengendalikan tubuhnya.

Mira yang tadinya sudah mundur kini kembali berjalan mendekat, ia ingin memastikan kondisi Rangga. 

"Maaf katamu? Setelah kamu melakukan semua ini padaku kamu dengan  mudahnya meminta maaf? Tidak, aku tak akan pernah memaafkanmu, kamu telah menghancurkan hidupku, menghancurkan kebahagiaanku, Rangga. Kamu membuat luka yang begitu dalam hingga tak akan sanggup tertutupi hanya dengan sebuah kata maaf saja."

Rangga kembali ingin bicara, mulutnya bergerak mengucap sesuatu. Namun, Mira tak ingin mendengar suara apapun yang keluar darinya, tangannya juga masih terus bergetar dengan  mata menatapnya. Mira tahu jika saat ini Rangga sedang bersusah payah untuk menggerakkan tangannya, ingin mengatakan sesuatu.

Mira bisa melihat setetes air mata jatuh di pelupuk mata Rangga.

"Setetes air mata yang kamu keluarkan itu tak akan mampu menggantikan air mataku yang tumpah karena perbuatannya kejammu, selama ini kamu tak tahu betapa beratnya kehidupan yang aku jalani bersama anak yang aku lahirkan, benih yang  kau tinggalkan untuk. Rangga, aku sangat membencimu dan akan kupastikan anakmu juga akan membencimu selamanya. Apa kamu tau? Karena apa yang telah kamu lakukan padaku, salah satu anak yang aku lahirkan harus terpisah dariku! Apa kamu tahu rasanya? Tidak, kamu tak akan pernah tahu dan aku yakin kamu juga tak akan mau tahu apa yang terjadi pada kami. Aku tak tahu anak itu masih hidup atau sudah tiada. Aku tak tahu jika dia masih hidup apakah anak itu menderita di luar sana dan semua itu karenamu, kamu penyebab semua kesengsaraan dalam hidupku dan anak-anakku!" ucap Mira dengan suara bergetar, dengan  air mata yang tergenang.

Mira masih ingin mengeluarkan segala sesak yang selama ini ia tahan, tetapi ia menghentikan ucapannya saat mendengar suara monitor detak jantung dari Rangga terdengar cukup cepat,  menandakan jika kondisinya tidak dalam keadaan baik-baik saja. 

"Dengar Rangga, sampai mati pun aku tak akan pernah memaafkanmu," ucap Mira meninggalkan Rangga begitu saja.

Mira dengan cepat meninggalkan ruangan tersebut sambil mengusap air mata yang sejak tadi ditahannya, air mata itu tumpah begitu saja tanpa izinnya. Kebenciannya semakin besar terhadap pria itu, bayangan-bayangan saat Rangga menertawakannya karena memenangkan pertarungan dari kedua temannya kembali terlintas di benaknya. Mira yang tadinya ingin memeriksa kondisi pasiennya memutuskan untuk kembali ke ruangannya, ia meminta dokter lain yang melakukannya.

Sementara itu seorang perawat menghampiri kamar Rangga, berniat untuk mengecek keadaannya. Namun, ia sangat terkejut saat melihat kondisi Rangga tidak dalam keadaan baik-baik saja, ia bisa melihat jika pasiennya itu sudah membuka mata. Namun, suara monitor terdengar sangat cepat , pasien juga terlihat kejang-kejang. Perawat itu langsung menekan tombol darurat untuk memanggil para dokter.

Para dokter pun termasuk Andre berlarian menuju ke ruangan yang menandakan adanya kondisi darurat di ruangan tersebut membuat Bayu Aji dan juga Dewi yang sedang menuju ke ruangan putranya sangat terkejut. Mereka  baru saja dari kantin.

Mereka pun ikut berlari sembari bertanya-tanya dalam hati ada apa dengan putranya.

Andre dengan cepat memeriksa kondisi Rangga, menyuntikkan cairan ke selang infusnya dan itu bisa membuat perlahan Rangga mulai tenang dan kembali menutup matanya. Andre kembali melakukan beberapa pengecekan.

"Ada apa ini?" tanya Bayu Aji menghampiri Rangga dan menatap Andre dengan panik.

"Anda tenang saja, Rangga baik-baik saja. Sebenarnya tadi dia sadar dan mengalami syok, kami sudah menenangkannya kita tunggu 1 sampai 2 jam lagi. Setelahnya kita lihat perkembangannya."

"Jadi putriku sudah sadar?" tanya Dewi.

"Semoga saja  kondisinya baik-baik saja, biarkan saat ini pasien beristirahat," ucap Andre membuat Bayu Aji dan Dewi pun hanya menurut sambil menatap putranya yang sudah kembali terlelap.

Andre keluar dari ruangan itu dan langsung menuju ke ruangan Mira, ia curiga kondisi Rangga tadi ada hubungannya dengan Mira. Mira pasti tahu sesuatu, mengapa ia tiba-tiba menanyakan kondisi Rangga. Andre bahkan meminta rekaman CCTV yang mengarah ke kamar ruang perawatan Rangga. Andre ingin  melihat siapa orang terakhir yang masuk ke sana. 

Sebelum sampai ke ruangan Mira, Andre sudah mendapatkan apa yang dimintanya dan ia bisa melihat orang yang terakhir masuk ke dalam ruangan Rangga adalah Mira. Ia bisa melihat Mira berjalan cepat sembari mengusap air matanya.

"Sebenarnya ada apa dengan mereka?" tanya Andre bertanya-tanya, sikap Mira sejak pertama Rangga masuk rumah sakit tersebut sangatlah mencurigakan. 

Terpopuler

Comments

Yani

Yani

Yang sabar Mira 😓😓

2024-06-29

0

Zainab Ddi

Zainab Ddi

sabar Mira😭😭😭

2024-05-30

0

sherly

sherly

Mira kamu tu dokter ngk bisa seperti itu... pasien gawat malah ditinggal ya ampun miraaa

2024-05-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!