Apakah Dia Anakku

Hari ini Shaka tak ikut ke rumah sakit karena sudah ada bibi yang menjaganya, seperti biasanya pagi hari dimulai Mira dengan memeriksa beberapa pasiennya. setelah Mira memeriksa beberapa pasiennya tersebut ia pun kembali ke ruangannya, begitu sampai di ruangan Mira membuka ponselnya ada foto anak kecil di sana. Foto bayi yang baru lahir, ada dua bayi satu Shaka dan satu Shira.

Mira menatap foto Shira, gadis kecil yang hanya sekali disusuinya, ia mengusap layar ponselnya dan tanpa terasa air matanya menetes. sampai saat ini ia masih merasa menjadi ibu yang gagal menjaga buah hatinya, seharusnya saat ini Shira juga ada bermain bersamanya.

Setiap ia memberikan sesuatu pada Shaka, ia selalu mengingat akan Shira, apakah Shira di manapun ia berada bisa membeli apa yang diinginkannya, bisakah anaknya itu memakan apa yang diinginkannya? Apakah anak gadisnya bisa tidur dengan nyenyak?

Mira tak punya kekuatan apapun untuk menemukan anaknya, ia sudah mencari kemana-mana tetap saja hasilnya tak ada, Mira hanya bisa berdoa semoga saja anaknya baik-baik saja, jika dia masih hidup semoga saja ia tinggal bersama dengan keluarga yang menyayanginya, jika memang ia sudah meninggal Mira berharap mereka akan dipertemukan di akhirat nanti, semoga ia tenang di sisi sang pencipta.

Mira terkadang merasa sakit saat melihat anak di jalan yang meminta-minta, takut jika salah satu dari mereka adalah anaknya.

Di saat Mira telah merenungi putrinya, tiba-tiba ingatannya pada anak yang digendong oleh ayah Erik tadi kembali terlintas di pikirannya, tiba-tiba dadanya bergemuruh, jantungnya berdebar hebat. Mira mengusap dadanya, mengapa ia mengingat anak itu.

Mira yang merasa gelisah dan tak bisa menahan rasa ingin bertemunya dengan gadis kecil yang tadi dilihatnya keluar dari ruangan tersebut, ia bahkan berlari menuju ke ruangan Erik, ada dorongan di hatinya agar bertemu dengan anak itu lagi.

"Di mana Erik?" gumam Mira saat ruangan tempat di mana dirawat dulu sudah kosong, Mira langsung merogoh sakunya, ia mengambil benda pipih yang selama ini selalu menemaninya kemanapun ia pergi.

"Dita, apa Erik sudah pulang?" tanya Mira, ia tahu jika hari ini Erik akan pulang. Namun, tadinya ia berpikir mungkin saja Erik akan pulang sore nanti.

"Iya, dia baru saja pulang, mungkin masih ada di parkiran. Memangnya ada apa? Aku sendiri yang memulangkannya tadi."

"Oh ya sudah, aku ingin bertemu dengannya," ucap Mira yang langsung mematikan panggilannya dan bergegas berlari menuju ke lift, menekan tombol yang akan membawanya ke lantai dasar. Begitu pintu lift terbuka, Mira kembali berlari ingin menuju ke parkiran, semoga saja ia masih bisa bertemu dengan gadis kecil tadi. Mira yang terburu-buru bahkan tak sengaja menabrak Andre.

"Maaf, maaf. Aku sedang buru-buru," ucapnya kembali berlari membuat Andre merasa bingung kemudian ikut berlari menyusur Mira, takut jika terjadi sesuatu pada Mira.

Begitu sampai di parkiran, Mira melihat di sekitarnya ia menghela napas panjang sepertinya ia terlambat. Sudah tak ada lagi Erik dan keluarganya di sana, Mira

berjongkok ia merasa lelah berlari dan merasa kecewa tak bisa bertemu dengan gadis kecil tadi, bahkan tanpa ia sadari air matanya kembali menetes, ada rasa sakit di hatinya karena tak bertemu dengan anak yang bernama Anisa tadi.

"Mira, kamu kenapa?" tanya Andre menghampiri Mira yang masih berjongkok dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Mira hanya menggeleng dan mengusap air matanya, ia berdiri dibantu oleh Andre.

"Kamu ngapain menangis di sini? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Andre melihat sekelilingnya, mungkinkah ada yang menyakiti Mira.

"Aku hanya ingin bertemu dengan adiknya Erik. Namun, ternyata aku terlambat, mereka sudah pulang."

"Adiknya Erik? Maksudmu gadis kecil yang bernama Anisa?" ucap Andre membuat Mira pun mengangguk.

"Kamu mengenal gadis kecil itu juga?" tanyanya.

"Aku hanya tau anak itu bernama Anisa," ucap Andre membuat Mira pun mengangguk.

"Aku tak begitu mengenalnya, tapi aku tahu dia putri angkat dari ibu dan ayahnya Erik."

"Putri angkat?" tanya Mira langsung menatap ke arah Andre mendengar kata putri angkat harapan jika mungkin saja Shira adalah Anisa.

"Sebaiknya kita ke ruanganmu dulu, aku ceritakan di sana saja," ucap Andre yang bisa melihat Mira begitu penasaran dengan apa yang ingin dikatakannya.

Pagi tadi Dita sudah menceritakan apa yang terjadi pada Mira, menceritakan jika Rangga adalah suami Mira di masa lalu, ayah dari Shaka dan Mira sangat membenci Rangga hingga saat ini karena apa yang dilakukan Rangga di masa lalu dan bukan hanya itu, Mira juga sangat membencinya dan tak bisa memaafkannya karena rasa bersalah di hati pada putrinya. Mira yang kehilangan salah satu anaknya menyalahkan semua itu karena Rangga mengabaikan mereka.

Sesampainya di ruangan Mira, Andre pun menceritakan bagaimana keluarga Adimaya mengadopsi Anisa menjadi bagian dari keluarga mereka. menceritakan jika Anisa dulunya adalah salah satu anak dari rumah sakit X yang terbakar, ada beberapa anak yang dikirim ke rumah sakit mereka waktu itu dan semua anak sudah diidentifikasi dan diambil oleh keluarganya. Namun, tidak dengan satu bayi yaitu Anisa dan kebetulan saat itu ibu Erik melahirkan dan bayinya meninggal. kondisinya sangat terpuruk dengan kematian bayinya, membuat rumah sakit dan juga Aditya sepakat untuk menjadikan bayi yang tak diketahui orang tuanya itu untuk diadopsi keluarga mereka.

"Andre, apa ada kemungkinan jika dia adalah anakku yang hilang?" tanya Mira menatap Andre dengan tatapan penuh harapan.

"Kita bisa menyelidikinya. Namun, bagaimana jika dia memang anakmu, apa kamu akan mengambilnya dari mereka?" tanya Andre membuat Mira pun terdiam.

"Apakah mungkin itu bisa?" tanya Mira lagi, ia bisa melihat bagaimana keluarga Erik sangat menyayangi Anisa begitupun sebaliknya.

"Aku tak begitu yakin karena ibu Erik sangat menyayangi Anisa. Namun, jika kalian membicarakannya secara baik-baik mungkin saja kamu bisa kembali mendapatkan putrimu."

"Iya, aku akan coba menemui dan mencari kebenarannya. Jika pun suatu saat nanti Anisa terbukti memang anakku dan ibu dari Erik tak mau memulangkannya padaku aku sama sekali tak masalah, kami bisa membicarakannya dan mencari solo. Lagian Anisa bahagia bersama dengan mereka dan aku juga bisa tenang karena anakku bahagia bersama dengan keluarga yang mencintainya. Namun, tetap saja aku masih berharap aku bisa berkumpul bersama dengan anak-anakku dan dia memanggilku dengan sebutan ibu," ucap Mira kembali terduduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia kembali menangis, ada rasa bahagia dengan harapan jika Anisa memanglah putrinya yang hilang, putri yang selama ini dicarinya.

Terpopuler

Comments

Fe

Fe

solusi kak bukan solo

2024-10-25

1

Yani

Yani

Kasihan Mira 😓😓

2024-06-29

0

Lia Kiftia Usman

Lia Kiftia Usman

dokter juga manusia... yg mempunyai cobaan seperti layaknya setiap manusia.. mira wanita kuat telah melalui masalah kehidupan yg tidak semua wanita bisa seperti mira... wajar jika mira begitu membenci rangga.. (terbawa saya thor dg karyamu 👍)

2024-06-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!