Tak Berdaya.

Tangan Mira terkepal sempurna menatap Rangga. “Aku harus tega, kamu juga tega menghancurkan hidupku setelah aku memberikan semua cintaku padamu.”

Saat ini di ruangan itu hanya ada mereka berdua, di mana yang lainnya sedang sibuk menyiapkan peralatan untuk operasi yang akan mereka lakukan, termasuk Andre sendiri yang sedang meminta persetujuan dari keluarga Rangga.

Baru saja Mira ingin melakukan apa yang sejak tadi direncanakannya, tiba-tiba suara monitor menandakan jika kondisi Rangga sedang kritis, pisau di tangannya tiba-tiba terlepas dan memundurkan langkahnya sambil menatap wajah Rangga.

“Ada apa ini?” tanya Andre yang sudah tiba dan melihat kondisi jantung Rangga yang semakin melemah.

Dengan cepat ia memberikan beberapa suntikan di selang infus yang menempel di tangan Rangga. Namun, kondisinya masih tetap sama.

Mira pun perlahan menghampiri sebuah rak yang menyediakan beberapa obat-obatan di sana, ia mengambil obat dan mulai menyuntikkan obat tersebut pada Rangga dan dalam hitungan detik kondisi Rangga perlahan membaik.

Andre melihat ke arah Mira.

“Kondisinya kritis, ia harus segera mendapat tindakan jika ingin menyelamatkan nyawanya,” ucap Mira masih menatap Rangga. Kini ia menatap pria itu sebagai seorang pasien, jiwa dokter yang melekat pada dirinya tak bisa membiarkan pasiennya meninggal tanpa pertolongannya.

Rangga pun kembali dilarikan menuju ke ruang operasi dan kali ini Mira sendiri yang akan memimpin operasi tersebut.

“Tunggu! Siapa yang akan melakukan operasinya?” tanya Prabu pada Andre saat Andre sudah akan masuk ke ruang operasi menyusul Mira dan juga yang lainnya sudah masuk lebih dulu.

“Operasinya akan dilakukan oleh dokter Mira, percaya pada beliau. Dia pasti akan bisa melakukan operasi ini dengan baik,” yakin Andre.

“Mira? Apa maksudmu dokter yang telah membuat kondisi Rangga semakin drop seperti ini?” Tanya Dewi.

“Aku tahu Mira sudah melakukan kesalahan di awal, Bu. Akan tetapi, percayalah dia pasti akan memperbaiki masalah yang dibuatnya.”

“Tidak! Aku takkan membiarkan putraku ditangani oleh wanita itu, jika perlu datangkan dokter terhebat yang kalian tahu. Jika perlu datangkan dari luar negeri! Kalian jangan menghina kami jika kalian berpikir kami tak bisa membayar semuanya,” tegas Bayu Aji.

“Kami yakin Anda bisa membayar berapapun biaya untuk kesembuhan putra Anda, Pak. Namun, masalahnya saat ini kami berpacu dengan waktu. Jadi, mohon jangan menghalangi kami karena itu akan semakin mengurangi waktu dan kesempatan untuk keberhasilan operasi ini, pasien harus segera ditangani secepatnya, Pak. Kamu tak ada lagi waktu untuk mencari dokter atau mendatangkan dokter hebat dari luar negeri seperti yang Anda inginkan.”

“Baiklah, lakukan secepatnya, Dok. Tolong selamatkan putraku.” Dewi menimpali percakapan mereka, ia tahu suami dan putranya masih kesal dengan dokter yang telah mengabaikan putra bungsunya waktu itu, tetapi di sini Dewi percaya bahwa apa yang dikatakan oleh dokter Andre itu adalah benar. Jika mereka harus segera melakukan yang terbaik untuk Rangga saat ini juga, ia tak mau mengambil resiko hanya karena menuruti emosi keduanya dan mendengar perdebatan mereka.

“Baiklah, lakukan yang menurut kalian baik, tapi jika sampai operasi ini gagal bukan hanya wanita itu yang akan kami hancurkan, tapi kamu dan termasuk rumah sakit ini juga!” Ancam Prabu membuat Andre pun hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam ruang operasi tersebut.

Begitu Andre masuk ke dalam ruang operasi tersebut, ia terkejut saat melihat Mira ternyata sudah mulai mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakannya. Tangannya mulai cekatan mencari masalah dari kesehatan Rangga, masalah apa yang membuat kondisinya selama seminggu ini terus saja memburuk.

Dengan keahlian yang dimilikinya Mira, dengan cepat ia mampu menangani semua masalah tersebut. Andre hanya sesekali membantu sesuai dengan petunjuk Mira.

Semua keluarga Hartoyo menunggu dengan cemas di luar sana, mereka terus berdoa semoga saja kondisi Rangga baik-baik saja. Bahkan Bayu Aji sudah berencana akan membawa Rangga ke luar negeri untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik.

Dewi terus saja menangis, ia tak bisa membayangkan jika ia sampai kehilangan putranya itu. Ia memang memiliki dua orang putra. Namun, Prabu hanyalah anak tirinya. Anak Bayu Aji dari pernikahan pertamanya, ia hanya memiliki seorang putra yaitu Rangga. Walaupun Prabu hanyalah anak tiri, tetapi ia menyayangi keduanya.

“Sudah selesai,” ucap Mira yang berdiri dari duduknya saat ia sudah selesai mengerjakan tugasnya.

“Istirahatlah, selebihnya biar aku yang melanjutkannya,” ucap Andre membuat Mira pun mengangguk dan menuju ke sisi lain ruangan tersebut. Ia menghela napas sambil bersandar. Mira menutup matanya, bayang wajah Rangga saat di ruang operasi terus terlintas di benaknya. Sebenci apapun dia padanya, semarah apapun dia saat ini. Namun, ia sadar jika Rangga tetaplah ayah dari putranya, Shaka.

Mira terduduk dengan pakaian yang masih menggunakan pakaian operasi, ia mengambil ponsel dan melihat foto kedua bayi yang ada di sana. “Dimana kamu, Nak? Bagaimana kabarmu?” Mira hanya bisa mengusap foto salah satu bayinya.

Ya, Mira melahirkan bayi kembar. Namun, ia tak tahu di mana satu bayinya saat ini. Ia melahirkan bayi laki-laki dan perempuan, tetapi entah ke mana bayi perempuan yang dilahirkannya itu.

Mira hanya bersama bayinya selamat dua hari. Hari kedua kondisi putrinya memburu membuat ia dipindah ke ruang inkubator. Sebuah insiden kebakaran terjadi dan ia terpisah dari putrinya.

“Jika saja waktu itu kamu menemaniku, tak membiarkanku seorang diri menjaga keduanya, aku tak akan kehilangan bayi ku,” ucap Mira yang hanya bisa terduduk sambil terisak. Sekuat apapun keinginannya untuk membalaskan dendamnya. Namun, Ia yang selama ini selalu menyelamatkan orang tak bisa melakukan hal yang bertentangan dengan hati nuraninya sebagai seorang dokter. Ia yang selama ini selalu berusaha untuk menyelamatkan tak mungkin menghabisi seseorang dengan sengaja.

Operasi yang awalnya mereka perkirakan akan berlangsung selama 5 jam, kini hanya berlangsung selama 3 jam.

Operasinya pun sudah selesai, Andre keluar dan menghampiri keluarga Haryono dan mengabarkan jika operasinya berhasil.

Mereka semua barulah bernafas lega.

“Bagaimana kondisi putra kami? Dia akan sembuh,kan?” tanya Dewi.

“Kita doakan saja, Bu. Kami akan melihat kembali perkembangannya, semoga saja kali ini kondisinya semakin membaik. Kali ini ia ditangani langsung oleh dokter Mira. Salah satu dokter terbaik yang kami miliki di rumah sakit ini,” ucap Andre kembali memuji keahlian Mira, karena memang semua operasi yang dilakukan di dalam tadi dilakukan oleh Mira.

Rangga pun kembali dipindahkan ke ruang ICU dan masih mendapat pengawasan langsung dari Andre, setelah mengawasi selama beberapa jam. Andre bisa menyimpulkan jika kali ini operasinya benar-benar berhasil, kondisi Rangga semakin membaik di setiap jamnya dan kabar itu disampaikan pada keluarga.

“Dok. Aku ingin bicara dengan dokter yang bernama Mira itu,” ucap Dewi.

“Tentu saja, Bu. Mari aku antar ke ruangan dokter Mira,” ucap Andre membuat Dewi pun melangkah mengikuti Andre menuju ke ruangan Mira.

Di ruangan Mira.

Shaka sedang tertidur di sofa yang ada di ruangan Mira. Pengasuh yang selama ini menemaninya sedang ada urusan mendadak sehingga membawa Shaka ke rumah sakit.

Terpopuler

Comments

supriyani sainu

supriyani sainu

ternyata anaknya kembar.

2024-07-12

0

Yani

Yani

Ternyata Mira mempunya dua anak kembar semoga yang satu"nya baik" saja

2024-06-28

0

Zainab Ddi

Zainab Ddi

semoga aja Shaka mirip Rangga biar Dewi kaget

2024-05-30

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!