Setelah selama 2 jam, operasi yang dilakukan oleh Dita pun selesai. Dokter Dita keluar dari ruang operasi dan menemui keluarga Erik. Ia mengatakan operasinya berhasil. Namun, Erik masih dalam kondisi yang membutuhkan banyak istirahat. Membuat keluarga Erik pun merasa lega mendengar putra mereka baik-baik saja baik. Erik pun langsung dipindahkan ke ruang perawatan.
Namun, berbeda dengan ruang operasi tempat dimana Rangga dirawat. Di ruang itu belum ada tanda-tanda jika dokter di dalam sudah menyelesaikan pekerjaan mereka.
“Dokter? Mengapa anak saya belum juga selesai? Apakah kondisinya baik-baik saja?” tanya Dewi menghampiri dokter Dita.
“Kita tunggu dan berdoa saja ya, Bu. Dari hasil pemeriksaan tadi memang kondisi pasien yang ditangani oleh dokter Mira jauh lebih berat dari apa yang saya tangani. Pasien yang saya tangani hanya mengalami beberapa masalah saja, tapi Ibu tenang saja. Dokter Mira adalah dokter yang terbaik di rumah sakit ini, dia pasti bisa menyelamatkan putra ibu,” ucap Dita berusaha menenangkan Ibu dari Rangga, dia bisa melihat bagaimana terpuruk dan khawatirnya wanita itu.
Tak lama kemudian pintu ruangan tersebut terbuka, membuat mereka semua melihat ke arah ruangan tersebut dan berpikir jika operasi telah selesai.
Bukannya dokter, malah seorang perawat keluar dari sana, “Bagaimana kondisi anak saya, Sus?” tanya Bayu Aji menghampiri perawat tersebut.
“Kami masih berusaha untuk menanganinya, Pak,” jawab perawat tersebut kemudian ia melihat ke arah dokter Dita.
“Maaf, Dokter. Silakan Anda masuk ke dalam ruangan operasi untuk membantu
Dr Andre jika memang operasi Anda telah selesai.”
Dita tak menjawab, ia hanya mengangguk sebagai jawaban. Tak biasanya dokter Mira tak bisa menangani pasiennya seorang diri, kemampuan sahabatnya itu jelas jauh di atas kemampuannya.
“Di dalam ada dokter Andre juga?” tanya Dita pada perawat tersebut sembari berjalan menuju ke ruang operasi, di mana Dita tadi mendengar nama dokter Andra disebut oleh perawat tersebut.
Jika memang sudah ada dua dokter mengapa ia juga harus dipanggil masuk ke ruangan tersebut.
“Tidak, Dok. Hanya dokter Andre yang melakukan operasinya,” jelas perawat tersebut membuat Dita mengerutkan keningnya, pasalnya yang ia tahu 2 pasien yang datang malam itu di satu ditangani olehnya dan satu ditangani dokter Mira.
'Mengapa tiba-tiba dokter Andre yang menangani operasinya?'
Begitu Dita masuk ke dalam ruang operasi ternyata memang hanya dokter Andre yang ada di dalam sana.
Dita melihat di sekitarnya dan ia tak melihat sahabatnya ada di sana, ia langsung mengambil posisi dan membantu operasi tersebut.
“Dokter, aku pikir dokter Mira ada di ruangan ini membantu Anda?” tanya Dita sambil mengerjakan apa yang diminta oleh Andre.
“Aku juga tak tahu ada apa dengannya. Tadi dalam kondisi darurat ia tiba-tiba pingsan, membuat aku yang menggantikan operasinya. Sekarang entahlah bagaimana kondisinya.”
“Pingsan? Ada apa dengannya? Tadi dia baik-baik saja kok, Dok,” ucap Dita walau mereka terus mengobrol, tetapi tangan mereka terus mengerjakan pekerjaan yang mereka saat ini lakukan berusaha mengerjakan sebaik mungkin, agar bisa menyelamatkan nyawa pasien.
Setelah di dalam ruangan operasi selama 5 jam akhirnya operasinya pun selesai. Andre langsung menghampiri keluarga pasien sedangkan Dita langsung mencari sahabatnya.
Pintu ruang operasi terbuka. Semua keluarga langsung menghampiri Andra.
“Dokter. Bagaimana keadaan putraku?” tanya Bayu Aji.
“Alhamdulillah, Pak. Operasinya berjalan dengan lancar. Namun, kondisinya saat ini masih dalam kondisi kritis, kita tunggu saja perkembangannya kami akan terus memantaunya malam ini. Semoga ia bisa melewati malam ini,” jawab dokter tersebut membuat mereka pun mengangguk dan mendoakan yang terbaik untuk Rangga.
Rangga pun dipindahkan ke ruangan ICU agar mendapat perawatan lebih intensif disana.
Dita yang sudah menemukan Mira yang masih terduduk di lantai dengan menatap tangannya yang masih berlumuran darah dan juga terlihat bergetar langsung menghampirinya, ia bisa melihat wajah ketakutan, wajah cemas di wajah sahabatnya itu.
“Mira, ada apa?” tanya Dita panik melihat kondisi sahabatnya. Dita mendengar dari yang lainnya jika mereka melihat Mira terkejut saat melihat pasien tersebut.
Mira, dokter terbaik di rumah sakit itu tak akan melakukan kesalahan dan membahayakan nyawa pasien. Jika alasannya hanyalah masalah kesehatan dan juga hal sepele Mira tak mungkin meninggalkan pasien dalam kondisi seperti itu.
Bukannya menjawab Mira justru menangis, membuat Dita pun menarik sahabatnya itu ke dalam pelukannya. Cukup lama Lira menangis dipelukan Dita hingga akhirnya isakannya pun mulai tenang. Rasa sesak di dada yang sejak tadi ditahannya selama berjam-jam juga kini sudah mulai terasa lega, ia menatap Dita dengan mata yang masih meneteskan air mata dengan tangan yang masih bergetar.
“Katakan! Ada apa? Kamu bisa bercerita padaku agar kondisimu akan lebih baik,” Dita menggenggam erat tangan Mira yang masih bergetar.
“Pria itu … pria itu adalah Ayah Biologis Syaka,” ucap membuat Dita tak kalah terkejutnya.
“Maksudmu … dia …?”
Mira hanya mengangguk.
Ya, mereka semua tahu jika Mira memiliki seorang putra bernama Syaka, putra tampan yang berusia 5 tahun dan mereka semua tahu jika Mira adalah seorang janda. Ayah dari Syaka sudah meninggal, itulah yang di katakan Mira pada teman-temannya.
“Jadi, pria itu ... Ayah Syaka?” Dita masih tak percaya jika pria yang baru saja diselamatkan yaitu adalah ayah dari anak sahabatnya.
“Sekarang sebaiknya kamu pulang saja, ayo aku antar pulang,” ucap Dita membuat Mira pun yang sudah merasa lebih baik mengangguk, mereka sama-sama mengganti pakaian mereka menjadi pakaian biasa tak lupa meminta izin pada Andre untuk pulang. jam sudah menunjukkan pukul empat dini hari.
Seminggu setelah kejadian itu, Mira selalu menghindar ruangan yang ia tahu adalah ruangan Rangga. Setiap harinya kondisi Rangga yang berada di ruang ICU terus menurun. Setiap hari Andre terus memantau kondisinya, ia tak yakin pasiennya itu bisa bertahan.
Sementara itu di ruangan ayah Andre selaku pemilik Rumah Sakit tersebut, Bayu Aji marah besar saat mengetahui kondisi putranya. Ia meminta dokter yang mengabaikan putranya malam itu dipecat dari rumah sakit Itu sekarang juga. Mereka semua sudah tahu apa yang terjadi di ruang operasi malam itu. Mereka bahkan mengancam jika terjadi sesuatu pada putranya, ia akan menuntut dokter itu yang tak lain adalah Mira.
“Dia seharusnya memberikan pertolongan pertama pada putraku, tetapi ia justru diam tanpa berusaha menolong bahwa justru pingsan,” kesal Bayu Aji.
Apa yang dilakukan Mira malam itu, membuat mereka berasumsi jika kondisi Rangga saat ini, itu adalah tanggung jawab Mira. Kelalaiannya penyebab kondisi putra mereka semakin memburuk.
Andre yang mendengar hal itu langsung hampiri mereka.
“Andre, sebenarnya apa yang terjadi? Apa benar yang dikatakan oleh mereka jika dokter Mira tak langsung menangani pasien, tetapi justru mengalami syok dan sampai pingsan?” Tanya Mahesa pada putranya.
Andre terdiam, karena itulah situasi yang terjadi di ruang operasi malam itu.
“Pokoknya kami tidak mau tahu, dokter itu harus dipecat sekarang juga, jika tidak kami akan membawa kasus ini ke polisi dan tentu saja nama baik rumah sakit ini dipertaruhkan!” tegas Bayu Aji.
Saat mereka tengah berdebat tentang pemecatan Mira, tiba-tiba suster menghampiri mereka dan mengatakan kondisi Rangga menurun. Andre langsung berlari dengan cepat menuju ke ruangan dimana Rangga dirawat, tak lupa ia menelpon Mira..
Mira berada di minimarket yang ada di depan rumah sakit, ia ingin membeli beberapa makanan untuk putranya sebelum pulang. Jam kerjanya sudah berakhir.
“Iya, Dokter. Ada apa?” tanya Mira menjawab panggilan dari dokter Andre.
“Kamu di mana?”
“Aku masih di depan minimarket membeli sesuatu untuk Syaka sebelum pulang!”
“Kembali ke rumah sakit, kondisi pasien atas nama Rangga kritis. Aku tahu kemampuanmu bisa memperbaiki situasi ini,” ucap dokter Andre di mana mereka semua tahu hal yang tak mungkin bisa saja menjadi mungkin jika dikerjakan oleh dokter Mira. Dokter yang terkenal bertangan dingin dan cekatan, keahliannya sudah tak diragukan lagi. Keahlian yang dimilikinya itulah yang menyebabkan ia dipindahkan ke rumah sakit terbesar di kota itu, yang dulunya hanya bekerja di rumah sakit yang ada di kabupaten.
“Tapi, Dok!” Mira berusaha menolak, ia tak mau berurusan lagi dengan Rangga.
“Jika kamu masih ingin bekerja di rumah sakit ini, cepat datang dan bantu aku menyelamatkan pasien yang bernama Rangga. Jika terjadi sesuatu pada pasien ini aku tak bisa mencegah siapapun untuk memecatmu dari rumah sakit ini dan mungkin juga nama baikmu sebagai seorang dokter akan tercoreng bahkan kamu bisa berurusan dengan hukum.”
“Apa? Kok bisa?”
“Pikirkan baik-baik apa yang kamu lakukan malam itu." Andre tak punya pilihan lain selain mengatakan hal itu, ia menceritakan bagaimana pihak keluarga pasien mempermasalahkan sikap Mira dalam menangani pasien itu sebelum.
“Baiklah. Aku ke rumah sakit sekarang,” ucap Mira yang tak mau mempertaruhkan karirnya. Saat ini ada anak yang harus dipenuhi kebutuhannya, ia harus terus bekerja agar bisa menghidupi anaknya. Ia akan mengesampingkan rasa bencinya pada Rangga dan akan berusaha untuk menyelamatkannya. Semua itu demi masa depan Syaka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Siti Marwah
semangat mira..sabar slalu
2024-10-15
0
Yani
Semangat Mira 💪💪
2024-06-28
0
Zainab Ddi
😭😭😭kok malah Mira yg diancam
2024-05-30
0