Ketahuan Boongnya

Seperti biasa setiap paginya Rangga tak henti-hentinya mengunjungi Mira, ia akan melakukan segala cara termasuk mengganggu Mira di pagi hari jika memang itu satu-satunya cara agar Mira mau bertemu dengannya. Ia sangat bersyukur ada Aldi dan juga Wira yang selalu setia menemaninya juga keluarga yang selalu mendukungnya dengan kondisinya saat ini.

Rangga kembali mengetuk pintu rumah Lira, ia sudah membawa sebuah coklat dan juga susu untuk Shaka tak lupa membawa bunga untuk Mira. Ia bisa mendengar suara langkah kaki mendekat membuat senyumnya pun mengembang, ia bersiap-siap dengan senyum terbaiknya.

Pintu pun perlahan terbuka, "Selamat pagi, Cant," ucapan Rangga terhenti, kata cantik yang ingin diucapkannya untuk Mira tak berhasil ia ucapkan karena matanya memicing saat melihat bukannya Mira yang keluar membukakan pintu seperti biasanya, tapi sosok pria yang tak ia kenalnya, senyumnya langsung sirna dalam seketika.

"Kamu siapa?" tanya Rangga dengan tatapan dinginnya.

"Seharusnya justru aku yang bertanya, kamu siapa dan untuk apa kamu datang ke sini?" tanya balik orang itu tak kalah sinisnya.

"Aku ingin bertemu dengan Mira dan juga anakku, panggilkan mereka."

"Maaf, aku dan Mira serta Shaka ingin menghabiskan waktu, aku baru saja pulang dari luar negeri dan sangat merindukan mereka. Jadi, maaf silakan Anda pergi dari sini dan jangan mengganggu kami lagi," ucap pria tersebut dimana hari ini adalah hari libur membuat Mira ada dirumah seharian ini.

"Mira, di mana kamu?" teriak Rangga mengabaikan ucapan pria tadi.

"Hei pria cacat, pergi dari sini! Aku masih berbaik hati dengan tak menghajarmu, aku sudah dengar dari Mira jika kamu selalu mengganggunya. Ingat, mulai sekarang jangan mengganggunya lagi, Mira itu adalah kekasihku dan takkan kubiarkan siapapun mengganggunya, termasuk kamu."

Dipanggil pria cacat tentu saja membuat amarah Rangga memuncak. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa selain mengepal tongkatnya.

"Pergi dari sini!" usir pria tersebut yang langsung menutup pintunya dengan kasar.

"Kurang ajar, tunggu pembalasanku!" kesal Rangga, ia pun pergi dari sana membawa kembali bunga, coklat dan juga susu untuk Shaka. Ia tak boleh gegabah dan justru memperburuk kondisinya yang masih dalam penyembuhan

"Siapa pria tadi?" tanya Aldi yang bisa melihat siapa yang menyambut temannya itu dari dalam mobil.

"Katanya dia kekasih Mira, tapi aku tak percaya," jawab Rangga ketus, Wira pun ikut mengangguk membenarkan ucapan Rangga, hasil penyelidikannya mengatakan jika selama ini Mira tak pernah menjalin hubungan dengan siapapun, ia menolak pernyataan cinta dari beberapa rekan kerjanya.

"Bagaimana, apa dia sudah pergi?" tanya Mira begitu pria yang dibayarnya itu masuk kembali ke dalam rumah.

"Iya, pria tadi sudah pergi dan aku yakin dia takkan mengganggumu lagi."

"Bagus, ini bayaran untukmu. Besok pagi datanglah lagi dan lakukan hal yang sama, kamu harus terus datang ke sini sampai pria itu sudah tak datang lagi, ingat kamu harus berhati-hati jangan sampai dia tahu jika aku hanya membayarmu untuk menjadi kekasih bohonganku," tekan Mira membuat pria tersebut pun mengambil uang bayarannya.

"Tenang saja jika pekerjaan seperti ini akulah jagonya," ucap pria tersebut mencium uang yang diberikan Mira, kemudian memasukkan ke dalam kantongnya. Keduanya bisa melihat jika mobil yang mengantar Rangga masih ada di sana membuat pria tersebut memilih untuk duduk di sofa sambil bermain ponsel, menunggu situasi aman. Sementara Mira sendiri masuk ke dalam bermain bersama dengan Shaka.

Sesekali pria itu mengintip ke arah luar berharap mobil Rangga pergi dari sana, ia sudah merasa bosan tak melakukan apa-apa. Namun, hingga menjelang tengah hari mobil Rangga masih ada di sana. Pria itu pun hanya bisa pasrah, jika dia pergi sekarang pasti Rangga tahu jika mereka tak ada hubungan apapun, biarlah Rangga menduga jika memang mereka menghabiskan waktu bersama layaknya keluarga.

Menjelang malam pria tersebut mendengar suara mobil yang meninggalkan area tersebut. Ia pun mengintip kembali dari balik jendela dan ia bisa melihat mobil itu sudah pergi, ia pun bernapas lega.

"Mira, aku pergi dulu ya? Besok pagi aku datang lagi," ucap pria tersebut.

"Apa Rangga sudah pergi?" tanya Mira yang tahu jika sejak tadi Rangga tak pergi dari depan rumahnya.

"Iya, mereka sudah pergi jadi rencananya besok bagaimana?" tanya pria tersebut.

"Besok datanglah pagi-pagi dan kemudian antar aku ke rumah sakit, setelahnya kembalilah ke rumah ini dan bermain bersama dengan Shaka."

"Oke, baiklah. Tapi besok aku ingin bayaran lebih, lihatlah aku menemanimu semalaman di sini."

"Baiklah, aku bayar dua kali lipat," ucap Mira membuat kesepakatan pada orang tersebut, Mira benar-benar tak mau lagi berhubungan dengan Rangga. Walaupun Ia sudah menyesali apa yang dilakukannya di masa lalu. Namun, semua sudah terlambat bagi Mira, ia memilih untuk hidup bersama dengan Shaka.

Pria tersebut keluar dari rumah Mira dengan senyum di wajahnya, hanya dengan berpura-pura menjadi kekasih wanita cantik itu ia sudah mendapatkan uang yang lebih banyak dari yang biasanya didapatkannya setiap hari dari hasil bekerja serabutan.

Saat sedang berjalan melewati area yang cukup sepi, ia terkejut saat tiba-tiba ada dua orang menghampirinya pria tersebut. Ia bisa melihat jika kedua pria itu terlihat melihat ke arahnya, ia pun mempercepat langkahnya ternyata pria itu juga mempercepat langkahnya mengikutinya, membuat pria yang dibayar oleh Mira pun berlari dengan cepat dan benar saja orang itu memang menargetkan dirinya, orang itu juga berlari mengejarnya.

Pria bayaran Mira menghentikan langkahnya saat melihat pria dengan tongkat tadi kini berdiri di hadapannya.

"Sial! Jadi mereka belum pergi!" umpat pria tersebut, baru saja ia ingin kembali berlari tengkuknya langsung dipukul oleh salah satu dari dua orang yang mengejarnya, ia hanya melihat mereka bertiga yang kini sudah berdiri di atasnya dan kesadarannya pun menghilang.

Pria bayaran Mira terkejut saat kepalanya disiram dan membuat ia langsung tersadar dari pingsannya.

"Kalian siapa?" tanya pria itu ketakutan di mana saat ini ia didudukkan di sebuah kursi dan kedua tangannya diikat begitupun dengan kedua kakinya.

Rangga yang berdiri di belakang pria tersebut memukul kepala orang itu dengan tongkat.

"Aku pria cacat yang kamu usir dari rumah Mira tadi," ucap Rangga kemudian berjalan ke arah depan pria tersebut membuat nyali pria tersebut menciut.

"Katakan, apa benar kamu ada hubungan dengan Miraku?" tanya Rangga sambil mengibas-ngibaskan uang yang sudah dipastikan jumlahnya lebih banyak dari yang diberikan oleh Mira, bukan hanya itu saja dua orang yang tadi mengejarnya kini memegang tongkat baseball bahkan Aldi berpura-pura ingin memukul kepala pria tersebut. Namun, tak sampai pada kepala pria itu seolah mengisyaratkan jika dia sampai berbohong tongkat itu benar-benar akan sampai ke kepalanya.

"Katakan yang sebenarnya jika kamu masih menyayangi nyawamu!" bentak Rangga.

"Tidak, aku hanya mengenalnya. Aku pernah memperbaiki ACnya yang rusak, aku bukan kekasihnya, tapi dokter Mira membayarku untuk berpura-pura menjadi kekasihnya di hadapanmu," jujur pria tersebut juga menceritakan berapa bayaran yang diberikannya dan juga rencana apa yang akan besok mereka lakukan.

Mendengar hal itu ada kelegahan di hati Rangga.

"Besok jangan datang ke rumah Mira lagi, aku tak mau melihatmu di sana! Jika tidak, aku akan mengirimmu keluar dari dunia ini," ucap Rangga membuat pria tersebut hanya mengangguk dengan penuh ketakutan.

Rangga melihat ke arah Aldi membuat Aldi pun mengerti dan melepaskan pria tersebut begitu ikatannya

Begitu terlepas, pria itu pun langsung lari terbirit-birit menghilang dari pandangan mereka bertiga.

"Sekarang apa rencanamu, sepertinya Mira benar-benar tak bisa lagi memaafkanmu dan memberikan kesempatan pada hubungan kalian," ucap Aldi membuat Rangga pun hanya mendesah pasrah.

"Apa kalian punya rencana?" tanya Rangga menatap kedua temannya.

"Aku dengar saat pulang bekerja besok Mira ingin mengunjungi kediaman Erik. Mungkin ia ingin bertemu dengan Anisa, aku mendapat kabar itu dari salah satu temannya," ucap Aldi yang mengetahui informasi tentang Mira, ia bahkan sampai merayu Dita sahabat dari Mira.

"Besok antar aku ke sana, aku juga akan menemui Anisa. Aku akan berpura-pura jika kita kebetulan bertemu di sana," ucap Rangga yang kembali memiliki harapan agar Mira menerimanya, Anisa putrinya adalah peluang satu-satunya yang saat ini diharapkannya.

Terpopuler

Comments

Yani

Yani

Ya... ketaun deh...Mira

2024-06-29

1

Zainab Ddi

Zainab Ddi

aduh Mira ketahuan

2024-05-31

0

Alanna Th

Alanna Th

trlambat sih; dulu mira mnunggumu smp 3 bln gk ada kabar, skrg baru ngotot mo ulang dari awal, emang klulusan sklh bisa diulang?

2024-03-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!