Dia Juga Anakku

Mereka semua mematung saat melihat tatapan Mira ke arah mereka, terlihat jelas jika tatapan itu adalah tatapan kekesalan.

"Mira," panggil Rangga dengan gugup. Namun, Mira hanya melengos dan meninggalkan mereka. Namun, tiba-tiba Mira yang berjalan ingin menuju ke ruangannya terkejut saat seseorang menarik tangannya. Mira terjatuh di pangkuan orang tersebut dan tiba-tiba sebuah kain menutup wajahnya, Mira bisa merasakan jika ia tiba-tiba bergerak, ia memberontak. Namun, ia tak bisa melawan saat tangan kekar memeluknya dan mengunci pergerakannya, Mira ingin berteriak, tetapi tangan kekar itu juga menutup mulutnya.

Ya, tadi Rangga menarik ke pangkuannya, Aldi menutupi wajah Mira dengan jaketnya sementara Wira langsung mendorong kursi roda Rangga menjauh dari sana. Rangga tahu jika Mira pasti tak mau berbicara dengannya sehingga ia tak punya cara lain agar Mira mau berbicara dengannya. Aldi membuka pintu ruangan Mira dan Wira pun mendorong mereka masuk ke dalam, setelahnya keduanya sudah berada di dalam ruangan Mira, ia langsung menutup pintunya dan membiarkan keduanya berada di dalam ruangan itu.

"Arrg!" Rangga memekik saat tiba-tiba Mira mencubit pahanya juga menggigit telapak tangan yang menutup mulutnya, Rangga yang melonggarkan pegangannya membuat Mira langsung berdiri melempar jaket itu ke lantai dan menatap tajam ke arah Rangga.

Satu tamparan melayang sempurna di pipi mantan suaminya itu, pria yang sudah dianggapnya sebagai mantan karena pergi bertahun-tahun tak ada kabar.

Rangga hanya memegang pipinya yang terasa sakit, ia masih bingung harus memulai dari mana untuk meminta maaf.

"Berani sekali ya kamu menyentuhku!" ucap Mira dengan mata yang menyala menatap Rangga dengan tatapan kesalnya.

"Aku tahu aku salah, tapi tolong dengarkan dulu penjelasanku, aku bisa menjelaskan semuanya."

Mira tertawa mengejek mendengar ucapan dari Rangga, "Ya sudah, jelaskan aku ingin mendengar penjelasan darimu Tuan Rangga," ucap Mira lagi melipat tangannya di dada.

"Waktu itu aku ingin kembali padamu, aku tahu aku salah karena telah meninggalkanmu. Namun, waktu itu aku mengalami kecelakaan dan mengalami amnesia, aku bisa memberikan bukti laporan kedokteran jika kamu tak percaya."

"Sebelum kamu kecelakaan, kamu ke mana?"

Rangga terdiam karena sebelum kecelakaan itu memang ia tak ada niat untuk bertanggung jawab atas kehamilan Mira.

"Mira, ayo kita mulai semuanya dari awal, kita besarkan anak-anak kita bersama-sama dia pasti membutuhkan ayahnya dan kamu tak bisa pungkiri jika aku adalah ayahnya."

"Anak-anak kita katamu? Dia adalah anakku, hanya anakku dan karena kamu aku kehilangan satu bayi ku, semua itu karena kamu! Kamu adalah pria b******* dan aku tak mau lagi berhubungan denganmu. Sudah cukup kamu melukai hatiku, sudah cukup kamu membuatku menderita," ucap Mira yang ingin mendorong kursi roda Rangga keluar dari ruangannya.

"Mira, tunggu! Percaya padaku, aku menyesal dan aku akan memperbaiki semua kesalahanku." Rangga menahan roda kursinya agar kursi itu tak bergerak, ia masih belum ingin keluar dari ruangan itu, tetapi Mira tetap kekeh mendorong kursi roda itu. Namun, saat ia ingin membuka pintu, pintunya tak bisa dibuka. Semua itu karena Aldi dan Wira yang menarik pintu itu dari luar.

"Aku mohon, aku mohon dengan sangat jangan menggangguku lagi, aku sudah bahagia dengan anakku."

"Tidak, kamu tak akan bahagia tanpa aku. Aku tahu kamu masih mencintaiku."

Mira tertawa, "Untuk apa aku mencintai pria yang hanya menjadikanku barang taruhan, kamu sudah memenangkan taruhanmu dari teman-temanmu kan? Kamu sudah berhasil mendapatkanku, menikahiku dan menghancurkan hidupku, lalu sekarang taruhan apalagi yang kamu lakukan dengan teman-temanmu itu?"

Rangga terkejut, dari mana Mira tahu jika dia menjadikannya barang taruhan bersama dengan teman-temannya. Yang tahu taruhan itu hanya mereka bertiga. Apakah salah satu temannya membocorkan rahasia mereka. Tidak ... mereka tak mungkin mengatakan hal itu pada Mira.

"Barang taruhan apa? Aku tak pernah melakukannya," ucap Rangga mengelak. Namun, sebuah tamparan kembali melayang di pipi yang sama yang tadi juga mendapat tamparan darinya, Rangga memegang pipinya tanpa melakukan perlawanan, ia pantas mendapatkan tamparan itu. Rangga hanya melihat Mira dengan tatapan kebingungan.

"Mungkin jika aku tahu dari orang lain, aku tak akan percaya. Aku pasti akan lebih percaya dengan kata-kata manismu selama ini dan akan menunggumu untuk menjemputku dan anak seperti wanita bodoh, tapi aku mendengarnya langsung dari mulut mu. Aku masih mengingat bagaimana kalian tertawa puas karena menjadikanku bahan taruhan kalian, kamu berhasil menikahiku bahkan menitipkan benihmu, kamu terlihat begitu puas setelah meninggalkan benih yang akan siap menghancurkan hidupku."

"Mira dengarkan penjelasan aku dulu."

"Tidak. Kamu yang harus mendengar ucapan ku ... apa kamu tak bisa berpikir bagaimana tanggapan orang-orang saat tahu aku hamil? Bahkan mereka tak tahu jika aku sudah menikah denganmu, tidak. Kamu takkan pernah tahu karena kamu hanya bahagia dengan teman-temanmu, mungkin bagi kalian semua itu hanyalah sebuah bahan candaan, merusak kehidupan orang lain."

"Mira, apa yang kamu katakan? Aku tak pernah melakukannya."

"Cukup, Rangga. Cukup! Semakin kamu mengelak semakin kamu terlihat buruk di mataku. Jadi, sekarang pergi dari sini, pergi!" teriak Mira sambil mengusap air mata yang tanpa sengaja menetes dari sudut matanya, ada rasa perih di hati.

Rangga mendengar keluh kesah dari wanita yang pernah disakitinya itu juga tak bisa berkata apa-apa. Hal itu semakin membuat ia merasa bersalah dan semakin ingin memperbaiki hubungan mereka, ingin membayar semua kesalahannya di masa lalu.

"Ibu!" panggil Shaka, ia terkejut saat mendengar teriakan ibunya di mana anak itu sejak tadi tertidur di sofa, sementara bi pengasuh sedang keluar untuk mengambil barang-barang Shaka yang ada di mobil. Tadi Shaka tidur di mobil saat mereka ke sana, membuat bibi pengasuhnya tak bisa membawa semuanya sekaligus.

Mira terkejut saat melihat putranya ada di sana, ia baru mengingat jika tadi bibi mengatakan jika mereka sedang menuju ke tempatnya.

"Apa dia anak kita?" tanya Rangga yang ingin mendorong kursi rodanya menghampiri anak itu yang melihat ke arahnya, dari wajahnya saja ia bisa melihat jika itu adalah anaknya, darah dagingnya. Anak itu anak yang sama yang diperlihatkan oleh ibunya di ponsel sang ibu sebelumnya. Namun, tiba-tiba pintu terbuka, depan pintu itu tadi bibi sempat berdebat dengan Aldi dan Wira. Namun, bibi yang berlatar belakang emak-emak tentu saja menang dengan mudah dan bisa membuka pintu itu.

"Bi, bawa dia keluar dan jangan biarkan pria ini mendekati Shaka!" ucap Mira yang langsung menarik kursi roda dan mendorongnya keluar dibantu oleh bibi, keduanya mendorong dengan cukup kuat hingga kursi roda yang dipakai oleh Rangga melaju keluar bahkan Wira dan Aldi tak mampu menahan agar Rangga tetap berada di ruangan tersebut.

"Mira, tunggu! Dengarkan aku dulu, biarkan aku bertemu dengan anak kita," ucap Rangga. Namun, pintu ruangan itu sudah tertutup, Mira menutupnya dengan cara membanting.

Terpopuler

Comments

norah selen

norah selen

bagaimana ya sampel dua kli hilang ingatan Thor confuse banget😂😂

2024-09-25

0

Biru Laut mama anggita

Biru Laut mama anggita

dasar laki laki luknut biadap

2024-06-03

1

Zainab Ddi

Zainab Ddi

parah Rangga Natali Uda ditidurin jg gimana tuh

2024-05-31

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!