Pertemuan Tak Terduga

Dewi yang melihat jika putranya ingin mengatakan sesuatu mendekatkan telinganya.

"Mira," ucap Rangga lagi walau dengan suara yang sangat pelan. Namun, karena Dewi mendekatkan telinganya membuat ia pun bisa mendengar apa yang dikatakan oleh putranya, ia menatap putranya dengan mata yang berkaca-kaca melihat dengan jelas bagaimana putranya terus mencoba mengatakan nama Mira.

Dewi mengusap dada putranya, ia pun mengangguk walau dengan mengatakan satu kalimat Dewi sudah paham apa yang ingin Rangga katakan.

Sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Dewi, ia pun langsung mengambil ponsel tersebut dan melihat jika itu adalah notifikasi pesan dari dokter yang diminta untuk menguji hasil tes DNA antara Rangga dan juga Shaka.

Air mata Dewi langsung menetes saat melihat hasil tes DNA-nya cocok, Shaka adalah anak dari Rangga. Shaka adalah putranya.

"Ibu, Mira," ucap Rangga lagi dengan susah payah dan kini suaranya jauh lebih jelas.

"Iya, Nak. Tenanglah, Ibu tahu siapa Mira, ibu juga tahu jika kamu memiliki anak bersamanya, tenang saja ibu akan mengatur semuanya. Untuk saat ini biarlah semua ini hanya kita berdua dulu yang tahu, jangan beritahu ayahmu. Sekarang kamu fokuslah pada kondisimu. Jika kamu ingin bertemu dengan Mira kamu harus sehat, Nak," ucap Dewi menggenggam tangan putranya membuat Rangga pun mengangguk pelan dan kembali menutup matanya, ia merasa sangat lelah.

"Dewi, ada apa dengan putra kita? Dia baik-baik saja kan?" tanya Bayu Aji menghampiri mereka saat melihat putranya kembali menutup mata, tadi ia menghampiri Andre menanyakan kabar kondisi putranya.

"Iya, dia baik-baik saja, dia hanya sedang beristirahat," jawab Dewi sambil menggenggam tangan putranya.

"Iya, Pak. Kondisi putra Anda baik-baik saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Saat ini ia hanya sedang beristirahat, sebaiknya kita tak usah mengganggunya beri dia waktu agar tubuhnya bisa pulih," jelas Andre membuat keduanya pun mengangguk dan membiarkan Rangga kembali beristirahat di ruangan itu seorang diri, keduanya memilih untuk keluar dari sana. Kini Dewi bisa bernapas lega, ia tak khawatir lagi jika sampai putranya itu meninggalkannya, Rangga adalah putranya satu-satunya ia tak tahu apa yang akan terjadi padanya jika sampai putranya itu meninggalkannya, kini hatinya merasa senang. Selain putranya yang sudah dinyatakan baik-baik saja ia juga mendapat kabar jika putranya ternyata sudah memiliki anak.

"Dewi, sebaiknya kita pulang dulu. Sudah beberapa hari ini kamu terus saja berjaga disini, kamu juga harus istirahat," ucap Bayu Aji pada istrinya.

"Iya," jawab Dewi, ia juga merasa jika dia membutuhkan istirahat, tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Bayu Aji dan Dewi menitipkan Rangga pada seorang perawat yang ditunjuknya menjadi perawat pribadinya selama proses penyembuhan Rangga.

Sambil berjalan menuju ke parkiran, Dewi terus berpikir bagaimana cara agar ia bisa bersama dengan cucunya, agar ia bisa bicara dengan Mira tentang kebenaran yang sebenarnya.

Tiba-tiba seorang anak kecil berlari dan tak sengaja menabrak Dewi, Dewi hampir saja terjatuh untung saja Bayu Aji sigap menangkap istrinya. Namun, tidak dengan anak kecil itu, anak itu terjatuh.

"Aww," ucapnya mengusap pantatnya yang terasa sakit, anak itu menatap ke arah Dewi dengan mata yang berkaca-kaca karena merasakan sakit di area yang terbentur saat ia terjatuh tadi.

"Kamu nggak apa-apa, Nak?" ucap Dewi dan Bayu Aji berusaha untuk membantu anak itu, membantunya untuk berdiri dan membersihkan gaunnya yang kotor karena terjatuh.

"Sakit," ucap anak itu memegang bagian belakangnya.

"Maaf ya, Bu. Ini putri saya, dia terlalu senang ingin bertemu dengan kakaknya, dia berlari dan tak sengaja menabrak Ibu," ucap ibu Erik.

"Oh iya, nggak papa saya juga minta maaf saya tidak melihatnya, dia jadi terjatuh," ucap Dewi merasa bersalah.

Anisa langsung berlari menghampiri ibunya.

"Oh ya, bagaimana kondisi Erik?" tanya Dewi.

"Erik sudah baik-baik saja dan hari ini kami akan menjemputnya pulang," jawab Biah.

"Ayah!" teriak Anisa saat melihat Raditya menghampiri mereka.

"Anak ayah kenapa menangis?" ucap Raditya yang langsung menggendong putrinya. Walau Anisa hanyalah anak angkat mereka. Namun, ia disayangi di keluarga Adimaya seperti anak kandung sendiri.

"Dia terjatuh karena berlari-lari dan tak sengaja menabrak Ibu Dewi," jelas Biah.

"Maaf ya, Bu. Anak ini memang sangat aktif."

"Iya, nggak apa-apa, Pak. Namanya juga anak-anak," ucap Dewi mengusap rambut panjang Anisa membuat Anisa pun tersenyum sambil mengusap air matanya, selain karena pantatnya sakit akibat terjatuh tadi ia juga takut pada Dewi karena telah tak sengaja menabraknya, ia sadar jika apa yang terjadi pada Dewi karena salahnya yang tak sengaja menabraknya.

"Ya sudah, Bu. Kalau begitu kami pamit dulu, sekali lagi maaf ya?" ucap Biah membuat Dewi pun hanya mengangguk, Diah dan Aditya serta Anisa pun berjalan meninggalkan mereka masuk ke rumah sakit, sementara Dewi dan juga Bayu Aji meninggalkan rumah sakit tersebut.

"Anak itu cantik sekali ya?" ucap Dewi membuat Bayu Aji pun mengangguk membenarkan jika anak itu memang sangat menggemaskan.

"Kamu nggak apa-apa kan, Sayang?" tanya Biah kembali mengusap rambut putrinya yang berada di gendongan sang suami.

Anisa hanya mengangguk dan memeluk ayahnya, begitu masuk ke dalam lift ia tak sengaja satu lift dengan dokter Mira yang kebetulan juga dokter yang selama ini memeriksa keadaan Erik bergantian dengan Dita.

"Selamat siang, dokter?" sapa Biah saat Mira juga masuk ke dalam lift yang sama.

"Selamat pagi, Bu. Aku dengar Erik sudah boleh pulang ya hari ini?" tanya Mira.

"Iya, Dok. Alhamdulillah semua juga berkat bantuan dokter. Terima kasih banyak."

"Sama-sama, Bu. Itu sudah tugas kami sebagai seorang dokter," ucap Mira menggantungkan kalimatnya dan mencubit gemas pipi Anisa yang sejak tadi menatapnya. "Ini siapa? Cantik banget, sih."

"Ini adiknya Erik," jawab Biah.

"Namanya siapa cantik?" tanya Mira.

"Anisa," jawab anak itu.

"Anisa suka minum susu?" tanya Mira membuat anak itu pun mengangguk, Mira pun mengambil susu kemasan dari dalam paper bag yang dibawanya, susu itu adalah milik Shaka, ia sengaja membeli stok susu kesukaan putranya itu.

"Bilang apa, Sayang?" ucap Biah begitu Anisa mengambil apa yang diberikan oleh Mira.

"Terima kasih," ucap Anisa dengan senyum manisnya.

"Sama-sama, Sayang," ucap Mira membantu membuka susu kemasan tersebut agar mempermudahkan Anisa untuk meminumnya, anak itu terlihat menyukai susu yang diberikan olehnya. Pintu lift pun terbuka dan mereka pun harus berpisah, kedua orang tua Anisa keluar dari lift tersebut sementara Mira masih berada di lift, ia terus menatap Anisa sambil memegang dadanya.

'Andai saja kamu masih bersama dengan ibu mungkin kamu akan sebesar dia, Nak,' batin Mira, entah mengapa ia merasakan sesuatu di dadanya saat melihat senyuman Anisa.

Sebelum pintu lift itu benar-benar tertutup Anisa melambaikan tangan padanya dengan senyumannya yang terlihat begitu manis membuat hati Mira pun menghangat, ia membalas senyuman dan juga lambaian tangan pada gadis kecil yang diduganya seumuran dengan gadis kecilnya yang hilang beberapa tahun yang lalu.

Terpopuler

Comments

supriyani sainu

supriyani sainu

sepertinya kembarannya Shaka

2024-07-12

1

Yani

Yani

Jangan" anaknya Mira yang hilang

2024-06-29

0

Zainab Ddi

Zainab Ddi

semoga Annisa anaky Mira yg hilang

2024-05-30

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!