Ikatan

Sepulang dari rumah sakit, Mira pun memperhatikan Shaka yang sedang bermain di kediamannya, ia mengajak putranya itu untuk bermain bersama, sejenak ia bisa melupakan tentang Anisa.

Sejak dulu Mira sangat sedikit memiliki waktu bersama putranya, sehingga setiap pulang dari rumah sakit ia menyempatkan diri untuk bermain bersama hingga anak itu benar-benar merasa puas dan saat anaknya itu tertidur barulah ia kembali menitipkannya kepada pengasuh dan mengerjakan beberapa pekerjaannya.

Terkadang ia tak tega meninggalkan Shaka kepada pengasuhnya. Namun, ia tak punya pilihan lain, jika dia tak bekerja bagaimana ia bisa menghidupi Shaka dan juga dirinya. Bagaimana dengan masa depan Shaka, karena dulu ia sama sekali tak berpikir akan bertemu dengan Rangga lagi, walaupun ia bertemu dengan Rangga ia tak yakin jika Rangga mau mengakui putranya itu sebagai putra mereka, mengingat pria itu hanya menjadikannya sebagai bahan taruhan.

Saat putranya itu sudah tertidur barulah Mira kembali ke kamarnya dan disaat seperti inilah ia merasa gelisah, ingatan akan Anisa kembali mengganggu pikirannya. Ia pun mencoba mencari tahu akun media sosial milik Erik dan ia pun akhirnya menemukannya, semua berkat bantuan Dita.

Mira dengan cepat melihat profil di akun media sosial tersebut, senyum di bibir Mira mengembang saat melihat begitu banyak foto-foto kebersamaan Erik dan juga Anisa, kemudian ia menscroll foto sejak kecil Anisa dan ia mendapati postingan Erik yang mengatakan jika dia memiliki adik baru dengan mengunggah foto bayi kecil yang Mira yakin itu adalah Anisa.

Mira melihat tanggal pengiriman tersebut, itu adalah sebulan semenjak kebakaran itu, sebulan semenjak Mira kehilangan putrinya, ia melihat wajah Anisa kemudian membandingkan foto bayi yang ada di ponselnya. Ia screenshot foto bayi tersebut dan membandingkan di galerinya.

Ya, itu adalah bayinya walau terlihat bayi itu lebih gemuk dan pipi lebih caby. Namun, ia bisa melihat jika keduanya ada persamaan.

Mira tak langsung mengklaim jika itu adalah bayinya yang hilang, karena terkadang ada beberapa bayi yang wajahnya mirip dan seiring berjalannya waktu barulah perubahan di wajah bayi itu mulai terlihat.

"Ini dengan Erik ya? Aku dengan dokter Mira dari rumah sakit X," tulis Mira dalam pesannya kemudian mengirimnya pada Erik, lama ia menunggu akhirnya pesan balasan Erik masuk juga.

"Iya, Dokter. Ini aku Erik, maaf tak sempat menemui dokter sebelum aku pulang," balas Erik.

"Kamu tinggal di mana? Aku tak sengaja bertemu dengan adikmu, kebetulan tadi aku membeli boneka dan mengingatnya, aku ingin memberikan kepadanya, kepada Anisa. Boleh aku minta alamatmu?" ucap dokter Mira mencari alasan.

"Oh iya, tentu saja Dokter," jawab Erik yang sama sekali tak merasa curiga apapun pada dokter Mira, selama ini dokter Mira selalu bersikap baik padanya, Erik pun memberikan alamatnya.

"Nggak masalah kan jika aku berkunjung besok?" balas Mira lagi.

"Iya, Dokter. Nggak masalah, aku akan memberitahu ibuku," balas Erik kemudian mereka pun mengakhiri panggilan mereka.

Mira langsung kembali menscreenshot alamat tersebut dan langsung menelepon Dita untuk menemaninya berkunjung ke rumah Erik, ia sudah menjelaskan terlebih dahulu kepada Dita jika dia memiliki kecurigaan jika adik Erik itu adalah putrinya, Dita juga sudah mendengar kabar itu dari Andre.

"Kamu bisa kan menemaniku?" tanya Mira.

"Iya, tentu saja. Kita pergi besok pagi, lagian besok kan kita nggak ada pekerjaan," ucap Dita.

Keesokan paginya sesuai dengan rencana mereka, Dita, Mira dan juga Shaka pun mengunjungi kediaman Erik. Erik yang sudah memberitahu kepada ibunya membuat Biah menyambut mereka.

"Anisa mana? Ini untuk Anisa," ucap Mira memberikan sebuah boneka, Biah pun memanggil putrinya. Anisa langsung berlari menghampirinya dan mengambil boneka tersebut.

"Terima kasih, Tante," ucapnya membuat Mira pun mengangguk. Namun, entah mengapa ada perasaan hangat di hatinya saat mendengar suara putrinya itu walau ia menyebutnya tante.

"Hai, namaku Shaka," ucap Shaka mengulurkan tangannya dan memberikan satu kotak susu, Anisa pun mengambil kotak susu yang diberikan oleh Shaka.

"Aku Anisa," jawab Anisa kemudian keduanya pun bermain bersama.

"Wah, mereka langsung akrab," ucap Dita yang melihat keduanya. Padahal selama ini ia tahu jika Shaka adalah anak yang tidak begitu bisa bergaul dengan anak sebayanya.

Mira hanya tersenyum menanggapi ucapan Dita, ia bahkan dengan cepat mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh membasahi pipinya sebelum ada yang melihatnya. Pandangan mereka semua tertuju pada Shaka dan juga Anisa yang bermain bersama.

"Oh ya Bu. Berapa usia Anisa sekarang? Sepertinya dia seusia dengan Shaka," ucap Mira berbasa-basi.

"Usianya 2 tahun 3 bulan," jawab Biah.

"Wah ternyata memang mereka seumuran, Shaka juga baru berusia 2 tahun 3 bulan pantas saja mereka bisa langsung cepat akrab," ucap Mira, mereka pun membahas masalah kesehatan Erik. Mira tak ingin langsung membahas masalah Anisa ia ingin mengakrabkan diri dulu dengan keluarga Erik, ia ingin mencari tahu seperti apa Erik dan keluarganya menjaga Anisa. Selain tak ingin langsung mencari tahu Mira ingin mencari bukti terlebih dahulu sesuai dengan saran dari Andre untuk melakukan tes DNA jika memang ia ingin lebih yakin, apakah Anisa adalah putrinya atau bukan.

Sore hari mereka pun pamit pulang, sepanjang perjalanan Mira terus diam, ia memikirkan cara bagaimana untuk mencari tahu apakah Anisa adalah putrinya atau bukan. Ia juga tak tahu bagaimana cara mengambil sampel DNA dari Anisa.

"Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan untuk membuktikan dia anakku atau bukan?" tanya Mira menatap ke arah Dita yang sedang membawa mobil.

"Aku lihat mereka adalah orang yang baik, ibu Erik juga sangat menyayangi Anisa. Aku rasa tak masalah jika kamu berbicara dari hati ke hati dengannya, kalian sama-sama seorang ibu dia juga pasti mengerti perasaanmu, dia juga punya anak."

"Maksudmu?" tanya Mira tak mengerti.

"Takut jika kamu diam-diam mengambil sampel DNA Anisa dan melakukan tes itu hanya akan menambah jarak diantara kalian, maksudku tentu saja Biah akan marah jika kamu melakukannya tanpa izinnya."

"Lalu aku harus bagaimana?"

"Cara ini sudah bagus, kita mendekatkan dulu Shaka dan Anisa begitupun kamu dan ibunya, nanti cobalah berbicara padanya menceritakan jika kamu pernah memiliki anak dan kehilangannya di rumah sakit."

Mira mengangguk, ia tak boleh membuat kesalahan sedikitpun.

"Apa kamu punya tanda-tanda fisik yang kamu ingat tentang bayimu?"

"Iya, dulu bayiku memiliki tanda hitam di perutnya."

"Coba tanyakan dulu nanti pada ibunya Erik, jika memang tanda itu ada kemungkinan besar kan anak itu memang anakmu, kamu boleh meminta izin padanya untuk melakukan tes DNA. Aku rasa dia tak akan keberatan jika memang ada kemungkinan Anisa adalah putrimu."

Mira pun berpikir, sepertinya itu lebih baik daripada saran Andre untuk mengambil secara diam-diam sampel DNA dari Anisa.

Terpopuler

Comments

supriyani sainu

supriyani sainu

saran yang bagus tuh Mir

2024-07-12

0

Yani

Yani

Mending ikutin saran Dita

2024-06-29

0

Elok Pratiwi

Elok Pratiwi

males melanjutkan membaca cerita nya bila ujung ujung nya kembali bersama orang yg sama yg sdh membuat banyak kesedihan

2024-01-06

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!