Fourteen

...****************...

Saat dirasanya cukup waktu membacanya, Alana segera keluar dari perpustakaan. Saat menginjakkan kakinya di depan pintu perpustakaan ia melihat Luan masih setia berdiri didepan pintu, segera Ia bertanya.

" Apakah selama 2 hari ini kau berdiri seperti seorang pantung di sini Luan? " Tanya Alana memastikan.

" Benar Nona. " Ucap Luan

" Astaga, apakah kau tak merasa lelah? " Tanya Alana lagi.

" Tidak Nona. " Jawab Luan.

" Astaga, yah terserah dari mu saja. " Ucap Alana pasrah.

" Apakah anda akan berendam Nona.? " Tanya Luan.

" Ya, aku akan berendam sejenak setelah itu aku akan kembali. " Ucap Alana.

" Baik Nona, silahkan. " Ucap Luan

***

Setelah selesai berendam Alana segera kembali ke dunia nyata. Tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara seseorang.

Tok tok tok

" Permisi Tuan putri. " ucap seseorang di balik pintu.

" Ya. Masuklah. " Ucap Alana

Dengan segera pelayan itu masuk kedalam kamar milik Sang putri. Saat melangkahkan kakinya, dirinya tiba-tiba dibuat mabuk oleh wangi mawar. Sang pelayan mencoba fokus sambil berkata

" Hormat saya tuan puteri. Anda diminta Yang Mulia Kaisar untuk segera bersiap, karena tepat pukul 13.00 makan siang akan segera dimulai. " Ucap sang pelayan terbata sambil menyeka darah yang keluar dari hidungnya seba ia tak mampu menahan harum mawar yang memabukkan ini.

" Baiklah. " Ucap Alana. " Ada apa dengan dirimu? " Tanya Alana.

" Menjawab Tuan puteri, saya baik-baik saja. Hanya saja harum mawar ini membuat saya sedikit linglung. " Ucap Pelayan tersebut.

Saat mendengar apa yang disampaikan oleh pelayan tersebut. Alana segera mengendus-endus tubuh nya. Dan ia merasa biasa saja, tak ada yang berlebihan dari wangi tubuh nya. Pikirnya mungkin orang-orang ini sangatlah berlebihan. Namun nyatanya aroma tubuhnya sangatlah memabukkan apalagi bila ia berendam di kolam air suci.

"Apakah anda membutuhkan bantuan Tuan puteri? " Tanya pelayan tersebut.

" Tidak, terimakasih. Aku akan melakukannya sendiri. " Jawab Alana

" Anda tidak perlu berterimakasih Tuan puteri itu sudah menjadi tugas saya. " Jawab pelayan terharu, karena semasa ia bekerja menjadi seorang pelayan tak pernah sekalipun ia mendengar ucapan terimakasih dari para bangsawan kecuali mendiang permaisuri.

" Ya, kau boleh kembali mengerjakan pekerjaanmu yang lain. " Ucap Alana.

Pelayan itu merasa sangat bersyukur mempunyai Tuan puteri yang mandiri dan sikap yang tegas namun baik seperti Alana. Ia berdoa semoga Yang Agung melimpahkan berkatnya selalu kepada Tuan puteri nya

" Baik Puteri. Hamba mohon undur diri. " Ucap sang pelayan sambil membungkuk.

Setelah kepergian pelayan, Alana segera bertukar pakaian. Saat melihat-lihat pakaian yang ada, tak satupun yang menarik perhatiannya. Saat hendak menutup pintu lemari, matanya tanpa sengaja melihat sebuah gaun biru tua yang tersembunyi diantara banyaknya gaun. Alana segera mengambil gaun tersebut dan saat dilihatnya ternyata gaun tersebut sangat indah walau kelihatannya sederhana.

" Gaun yang indah." Ucap Alana. Dengan cekatan Alana segera menggunakan gaun tersebut, setelah itu ia mulai menata rambut dan wajahnya. Rambutnya ia biarkan tergerai, sedangkan wajahnya ia taburkan sedikit bedak tabur. Setelah itu ia memasangkan cadar pada bagian depan wajahnya.

...(Anggap saja Alana menggunakan Penutup wajah berwarna hitam.)...

Dirasa cukup, Alana segera keluar dari kamar paviliun nya dan menghampiri seorang prajurit.

" Tolong arahkan jalan ke arah ruang makan. " Ucap Alana

" Baik Tuan puteri. Mari " Ucap Sang prajurit sambil membungkuk hormat, dengan segera ia berjalan mendahului Alana.

Setibanya di depan pintu yang menghubungkan ke ruang makan utama, seorang penjaga segera mengumumkan namanya.

" TUAN PUTRI ALANA DE SCIGLIO SEGERA MEMASUKI RUANGAN." Teriak Sang penjaga.

" Haruskah berteriak? Kupingku terasa berdentum. " Kesal Alana dalam batin.

" Hormat kepada semua yang ada, semoga Yang Agung senantiasa melimpahkan berkat. " Ucap Alana sedikit menundukan pandangannya.

" Ya, duduklah puteri ku. " Ucap Sang Kaisar.

Sedangkan Sang selir bersama anaknya mematung ditempat mereka masing-masing. Mereka tak mengira bila Alana akan se mempesona ini. Timbulah rasa iri dan dengki yang berlebihan kepada Alana.

" Ayahanda, bagaimana bisa seseorang menggunakan penutup wajah saat duduk di meja makan. Sama halnya ia tak menghargai makanan yang ada. " Ucap Anastasya dengan suara yang di buat selembut mungkin, sambil berusaha menjatuhkan Alana.

" Benar suamiku. " Sambung Sang selir.

" Lantas, pantaskah kalian berdua berbicara saat sedang duduk di meja makan? " Ucap Sang Kaisar.

" Maafkanlah Kami. " Ucap Sang selir dan anaknya bersama-sama.

****

Terpopuler

Comments

nacho

nacho

😍😘😍😘😍😘😍😘😍😘

2024-03-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!