Setelah beberapa waktu akhirnya mereka sampai di desa, para elf pun terkejut dengan keberadaan macan raksasa yang memancarkan aura kegelapan. Mereka berkumpul memenuhi balai desa untuk melihat secara detail.
"ada apa, mengapa kalian beramai ramai kesini, beri kami jalan" ucap kepala desa elf dan para pendeta elf.
"Astaga demi dewi pertiwi, makhluk apa ini. Mengapa wujudnya seperti macan, akan tetapi mempunyai aura yang sangat gelap seperti iblis. Walau sudah mati ini tetap menakutkan." Ucap pendeta elf dengan bergedik ketakutan.
"Ini lah sosok yang menyebabkan aura menakutkan beberapa tempo lalu, kami berhasil mengalahkan macan tersebut, selama kami melawannya, kami merasakan seperti ada suatu hal yang mencemari hewan hewan di hutan. Sesuatu yang menjijikan, menakutkan, ketidak sucian" ucap elf yang mengikuti ekspedisi.
"Baiklah, sebastian ayo ikuti aku. Aku ingin kau memeriksa sesuatu hal yang menyangkut kejanggalan ini." Ucap kepala pendeta elf.
"Baiklah, aku akan membantumu. Kita harus bergegas untuk memeriksanya" ucap sebastian.
Mereka pun menuju kedalam kuil, terkhususnya kedalam ruang laboratorium milik kepala kuil. Mereka memeriksa kekuatan suci dan kekuatan kegelapan yang saling melahap di dalam sebuah goa.
"Lihatlah sebastian, apakah kau mengenali energi suci ini, ini seperti melahap satu sama lain" ucap kepala pendeta elf.
"Sejujurnya aku kurang yakin, tapi alangkah baiknya kita periksa goa itu. Setidaknya aku akan memperkuat energi sucinya dengan kekuatan yang diberikan oleh dewi pertiwi, akan tetapi aku mengajukan ekspedisi tingkat bahaya. Sejujurnya, kami sangat beruntung kemarin bisa mengalahkan macan itu." Ucap sebastian.
"Ya aku juga merasakan ada yang tidak beres dari makhluk yang memiliki ukuran tidak lazim seperti macan yang kalian kalahkan tempo waktu lalu." Ucap kepala pendeta.
"Jadi bagaimana, apakah kau menyetujuinya?" Tanya sebastian kepada kepala elf.
"Aku menyetujuinya, akan tetapi aku tidak yakin bahwa kepala desa akan menyetujuinya. Karena tingkat bahaya adalah tingkatan dimana terjadinya perang suci" ucap kepala pendeta elf.
"Setidaknya tingkat waspada dan bersiap itu sudah lebih dari cukup." Ucap sebastian.
"Kalau kau mengajukan ekspedisi dengan kategori tersebut, aku sangat yakin kepala desa akan menyetujuinya. Ayo kita kembali, dan mengajukan ekspedisi kembali" ucap pendeta elf tersebut.
Mereka pun pergi ke balai kota untuk mengajukan ekspedisi. Dan mereka pun bertemu dengan kepala suku elf atau kepala desa tersebut.
"Aku sudah tau, kalian ingin mengajukan ekspedisi. apakah aku benar?" Ucap kepala dess tersebut.
"Benar tuan, setidaknya kami ingin mengajukan ekspedisi dengan tingkat waspada mengingat sebastian membawa macan yang memiliki ukuran tidak lazim dan memancarkan aura yang menakutkan." Ucap pendeta tersebut.
"Aku dan pendeta menggunakan kemampuan untuk memeriksa kondisi alam sekitar, akan tetapi ada suatu tempat yang sangat janggal. yaitu pada sebuah goa, pada goa tersebut terdapat dua kekuatan yang saling melahap yaitu cahaya dan kegelapan." Tambah sebastian.
"Heum, baiklah setelah mendengar apa yang kalian lihat aku akan mempertimbangkan pasukan untuk ekspedisi ini, beristirahat lah sebastian dan pendeta. Kalian telah menyelesaikan tugas dengan baik, tiga hari lagi temui aku pagi pagi. Dan jangan lupa mempersiapkan peralatan yang kau butuhkan pada saat ekspedisi" ucap kepala desa.
"Baiklah tuan, terimakasih" ucap mereka.
Sebastian dan pendeta pun kembali ke tempat peristirahatan mereka, tak terasa sudah tiga hari berlalu. Sebastian dan pendeta pun kembali ke balai desa atas permintaan kepala desa, terlihat ada sepuluh elf yang memiliki keahlian berbeda menunggu sebastian dan pendeta.
"Selamat pagi sebastian, selamat pagi tuan pendeta, bagaimana persiapan dan kabar kalian?" Ucap kepala desa.
"Ya baik, sangat baik. Kami siap untuk melakukan ekspedisi tingkat waspada" ucap sebastian yang dianggukan oleh sang kepala pendeta.
"Baiklah, ok kalian akan ditemani oleh sepuluh elf yang sudah terbiasa mengerjakan misi tingkat waspada, apakah kalian sudah siap?" Ucap kepala desa.
"Kami sangat siap" ucap mereka.
"Bagus, jangan membahayakan diri kalian, segera laporkan apa yang terjadi. Akan ku beri waktu selama 3 hari, sekarang bubar!" Ucap kepala desa.
"Siap, laksanakan. Bubar!" Ucap mereka.
Mereka pun melaksanakan perjalanan menuju goa tersebut untuk mencari tahu energi suci siapa yang menahan kegelapan tersebut. Di perjalanan banyak hewan hewan yang terkontaminasi oleh kegelapan seperti kelinci, kambing, kerbau, sapi, dan lain lain. Akhirnya, mereka sampai di tempat yang mereka tuju yaitu goa yang memancarkan kekuatan kejahatan.
"Goa ini sangat menyeramkan, kita harus berhati hati akan jebakan dan serangan yang tak terduga" ucap sebastian.
"Aku setuju, mari masuk secara bersama agar terhindar dari bahaya yang tak terduga" ucap pendeta tersebut.
Mereka pun memasuki area goa dengan hati hati. Setelah mereka memasuki area goa, mereka melihat beberapa bangkai serigala yang sudah membusuk.
"Siapa yang membunuh serigala ini, apakah holy knight kerajaan yang melakukannya?. Jika benar, tidak mengherankan bahwa terdapat kekuatan suci yang menahan kekuatan gelap yang terdapat pada goa ini" ucap pendeta.
"Aku setuju dengan mu, apa lagi serigala ini tidaklah sedikit dan mereka telah terkontaminasi oleh kekuatan kegelapan yang muncul dari goa ini" ucap sebastian.
"Baiklah, kita akan melanjutkan penelusuran ini, kita akan tau kekuatan siapa yang menyegel kegelapan dari goa ini" ucap pendeta tersebut.
" Ya kau benar, aku sangat setuju dengan mu. Persiapkan persembahan alam untuk memperkuat segel itu" ucap sebastian.
"Ya, ayo kita lanjutkan" ucap pendeta itu.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju inti goa. Sesampainya mereka di mulut goa, terdapat dupa pemurnian dan sebuah lambang yang tidak asing.
"Hei sebastian, aku merasa familiar oleh lambang ini, apakah kau pernah menjumpai lambang ini?" Ucap pendeta tersebut.
"Ya aku juga merasa tidak asing" ucap sebastian.
"Bisakah kau mengingatnya, aku rasa aku pernah melihat lambang ini" ucap pendeta tersebut.
Sebastian pun mengingat lambang tersebut.
"Astaga, aku ingat. Ini adalah lambang ares sang dewa keteguhan hati. Aku mengenal siapa utusannya, dia adalah henderson. Ia merupakan salah satu rekan ku, pantas saja aku tidak asing. Ayo kita harus bergegas, segel ini tidak akan bertahan lama" ucap sebastian.
"Baiklah, aku akan menggambar lambang dewi pertiwi." Ucap pendeta tersebut.
Mereka pun menggambar lambang dewi mereka, dan mempersembahkan hasil bumi untuk memperkuat segelnya. Mereka pun melakukan ritualnya, dan mereka telah mencapai titik keberhasilan untuk memperkuat segelnya.
"Akhirnya kita telah selesai, segel ini akan bertahan untuk beberapa waktu. Setidaknya sampai kita memperbaharui segelnya" ucap sebastian.
"Kau benar sebastian, ayo kita kembali. Kita harus melaporkan hal ini kepada kepala desa." Ucap pendeta.
"Ayo kita pulang" ucap mereka.
Mereka pun pulang ke desa elf, sesampainya mereka di desa elf. Mereka melaporkan apa yang terjadi, dan kepala desa memperkuat pertahanan desa. Di sisi lain, henderson menyadari segel yang ia buat telah di perkuat.
"Tunggu sebentar nona anne, aku merasakan sesuatu" ucap henderson yang menghentikan latihan.
"Kau merasakan apa?" Tanya nona anne.
"Aku merasa ada yang memperkuat segel yang ku buat di goa itu, dan aku sangat familiar dengan energi sucinya." Ucap henderson.
"Siapapun yang melakukannya, bukankah itu hal yang bagus?" Ucap nona anne.
"Ya kau benar. Aku harus segera melaporkannya kepada pendeta di kuil ares." Ucap henderson.
*spoiler alert
"hei elvin bagaimana kabarmu"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments