This Love

This Love

Prolog

"Aku mencintaimu Ay, sungguh aku mencintaimu. "

Derasnya air hujan tidak menghalangi langkah Paris untuk mengutarakan cintanya kepada Kiara. mungkin pria ini memang gila, tapi cinta tidak memandang kewarasan seseorang.

Kiara memandang Paris dari lantai atas kamarnya. Gadis itu tidak bergeming sedikitpun saat Paris terus berteriak menyatakan cinta kepadanya. Bukan Kiara tidak peka ataupun bodoh, Kiara juga bukan tidak mengasihani pria itu. Tetapi Kiara tidak ingin memberi harapan yang tidak mungkin Kiara berikan.karena sesungguhnya Kiara tidak mencintai Paris. Kiara juga tidak ingin persahabatan antara keduanya hancur karena cinta, yang menurut Kiara tidak penting baginya.

Kiara menutup jendela kamarnya saat seorang menepuk bahu gadis itu.

"Nak, setidaknya kamu temui paris. Bicara padanya, kasian dia di luar kehujanan. Dia bisa sakit Kia. " ucap Adel, Ibu Kiara.

"Ma, Kiara tidak mengerti kenapa Paris bisa sebodoh itu. Dia sudah tau jika Kia tidak mungkin mencintai dia, bahkan dia juga tau jika Kia membenci laki-laki. Itu semua karena Papa! " ujar Kiara

Masa lalu Kiara terhadap sang ayah memang buruk, terutama saat ayahnya melakukan tindak KDRT terhadap Ibu-Nya. Sejak saat itu Kiara tidak pernah ingin mengenal cinta, Kiara bahkan bersumpah tidak akan membutuhkan laki-laki di dalam hidupnya.

"Nak, mama mengerti apa yang kamu rasakan. Tetapi semua bisa di biacarakan baik-baik." Adel mengusap punggung Kiara. "Kalian sudah lulus sekolah, sebentar lagi kalian akan melanjutkan kuliah bukan? itu berarti kalian harus memulai kedewasaan kalian dari saat ini. Nak, jangan sampai kamu menyesal suatu saat nanti. Mama yakin kamu mengerti apa yang Mama katakan. "

Setelah mengatakan itu Adel meninggalkan kamar putrinya. Kiara menatap ke arah jendela, melihat hujan masih saja turun dengan deras. Tapi Kiara masih enggan untuk menemui Paris. Biarlah kali ini Kiara dianggap keras kepala, ini semua Kiara lakukan hanya untuk memberi pelajaran pada sahabatnya itu. Karena sekali Kiara memutuskan sesuatu, ia tidak akan menariknya kembali.

*****

Suara kicau burung terdengar begitu berisik, sinar mentari pagi pun mulai masuk ke sela-sela jendela. Kiara mengerjapkan matanya saat sinar mulai mengenai matanya.

Kiara merenggangkan otot-otot badannya yang terasa pegal. pada saat Kiara melihat ke jendela ia baru ingat jika Paris masih ada di luar, seketika itu Kiara berlari menuju balkon kamarnya.

"Hahhhh." Kiara menarik nafas panjang saat ia tidak menemukan Paris di bawah. Ia merasa lega karena Sahabatnya itu ternyata tidak sebodoh itu.

"Kia, buruan mandi nak. bukannya hari ini ada perpisahan di sekolah. " suara Adel terdengar menggema di seluruh ruangan.

Kiara yang baru saja ingat jika ada perpisahan di sekolahnya langsung berbegas pergi ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian Kiara turun dengan pakaian yang seharusnya dipakai saat perpisahan sekolah.

"pagi mah. " sapa Kiara

"Hmmm, pagi juga sayang. " balas Adel.

Adel menatap putrinya sambil menyuap sarapan di depannya. Kiara yang merasa di perhatikan merasa sangat tidak nyaman. pastilah Kiara tau maksud tatapan mamanya.

"Kia, Ma_

" Gak usah di bahas Mah. Kiara malas! lagian setelah ini juga pasti semua akan baik. Kiara yakin jika Paris itu cuma sedikit gila, nanti juga waras lagi. " ujar Kiara memotong kata yang akan keluar dari bibir Mamanya

Adel tersenyum mendengar ucapan putrinya. Tapi Kiara tidak tau apa yang akan terjadi setelah hari ini, entah putrinya akan menyesali ini atau malah sebaliknya.

"Jika kamu seyakin itu, Mama tidak akan bicara apapun lagi. Tapi Mama hanya akan mengingatkan kamu sayang, jika ketulusan tidak datang dua kali. " Adel menatap Kiara dengan senyum penuh arti.

Kiara menarik nafas panjang, entah kenapa napsu makannya menjadi hilang seketika. " Kiara sudah selesai Mah. Kiara pamit. "

Kiara bangkit dari tempat duduknya, memutari meja makan lalu mencium tangan Adel. Setalh itu Kiara berlalu begitu saja.

Adel melihat langkah putrinya semakin menjauh. Kini putri kecilnya itu sudah tumbuh menjadi gadis dewasa. Adel tau ia tidak bisa memaksakan kehendaknya. hanya saja sebagai seorang Ibu Adel takut jika putri satu-satunya itu akan menutup dirinya seumur hidup hanya karena kesalahan dirinya dan juga suaminya dulu.

Kiara tiba di depan gerbang sekolang, ia menatap bangunan di depannya. Mengingat hari yang ia lalui selama 3 tahun menempuh pendidikan. Suka dan duka Kiara lalui bersama tiga sahabatnya yaitu, Amel, Dian dan juga Paris. Kiara tersenyum mengenang masa itu, tapi mengingat apa yang terjadi tadi malam membuat senyum Kiara seketika sirna.

"Kia." suara familiar terdengar menyapa Kiara yang masih temenung di tempatnya.

"Lo sendiri aja, biasanya sama Paris!" ujar Amel saat ia sampai di hadapan Kiara

"Ehhh, iya. gue sengaja berangkat lebih pagi biar gak telat. Lagian ini hari terakhir kita di sekolah kan. " ujar Kiara.

"Hmmm, bener juga. Masuk yuk, tunggu Dian sama Parisnya di dalem aja. " ajak Amel

Kiara mengangguk sambil mengikuti langkah Amel.

Keduanya masuk ke dalam lingkungan sekolah, mereka mulai bergabung bersama teman-teman sekelas mereka. Amel milat jam yang melingkar di tangannya sambil melihat ke arah gerbang.

"Ki, kok Paris sama Dian belum datang ya? coba lo telepon Paris deh. biar gue yang telepon Dian. "

Kiara melihat ke arah pintu gerbang. Ia sebenarnya juga khawatir, tapi Kiara tau jika Paris pasti kecewa dengannya. atau mungkin Paris sakit karena semalam ia kehujanan.

"Ki, Dian gak angkat telepon dari gue. Lo gimana? ada kabar dari Paris gak? "

"Gak Mel, apa mereka gak datang ya? "

"Kira-kira mereka kemana ya? apa kita samperin mereka sepulang sekolah. " ujar Amel

"Ok deh, kita ke rumah Dian aja dulu. " Amel menganguk. Mereka kembali fokus ke depan, karena acaranya sudah dimulai sejak tadi.

Setelah pembagian ijazah keduanya langsung pergi ke rumah Dian. mereka sampai sekitar pukul 3 sore. Tapi sesampainya disana mereka malah mendapati rumah itu kosong. beberpa tetangga mengatakan jika Dian pergi ke luar kota bersama keluarganya dan sudah berangkat pagi tadi.

"Kenapa Dian gak ngasi tau kita ya. " ujar Amel saat mereka masuk ke dalam mobil.

"Udah lah, paling ada urusan mendadak. nanti juga pasti dia ngubungin kita." ujar Kiara berfikir positif.

"Kita kerumah Paris? " tanya Amel.

"Gak usah deh, besok aja. Gue capek. " ujar Kiara

Amel mengangguk, karena Amel juga merasa lelah. Gadis itu memacu mobilnya menuju rumah Kiara. Setlah mengantar sahabatnya itu Amel pun bergegas pulang.

Kiara masuk ke dalam rumah dengan dada berdebar, entah kenapa ia merasa gelisa. Kiara merasa ada yang kurang di dalam dirinya. tapi Kiara mencoba untuk menangkan diri.

Kiara masuk ke dalam kamar tanpa mengatakan apapun. Gadis itu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. menutupi wajahnya dengan bantal, mencoba menghilangkan fikiran buruk.

.

.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!