Beberapa hari berlalu setelah terakhir kali Dika bertanya kepada Silvya mengapa dia belum juga mau pulang ke rumahnya. Di rumah Dika, Silvya melakukan pekerjaannya seperti biasa. Membereskan rumah, memasak, dan berlatih fisik pada pagi hari, ya seperti itulah rutinitas sehari harinya.
Namun hari ini sedikit ia merasa aneh. Silvya merasa dirinya tengah diawasi, namun ia tidak merasakan hawa musuh. Sebagai seorang pembunuh yang disegani Silvya sangat bisa membedakan mana musuh mana yang bukan. Ia pun membiarkan hal tersebut dan tidak juga melaporkannya kepada Dika.
Silvya sudah selesai memasak dan menatanya di meja makan, tinggal menunggu Dika untuk turun dna sarapan sebelum bekerja.
"Kok belum turun juga. Padahal bentar lagi kan harus buka klinik. Apa dia ketiduran?"
30 menit berselang dan Dika belum kunjung turun. Akhirnya Silvya berinisiatif untuk ke atas dan memanggil Dika.
"Tok tok tok… Dika… Dokter Dika… Apakah sudah bangun?"
Hening tidak ada jawaban di sana. Silvya mencoba untuk mengetuk lagi.
"Tok...tok...tok… dok… apa kau di dalam."
Tak kunjung mendapat jawaban Silvya pendobrak pintu kamar Dika.
Bruak……!!!
Silvya menendang pintu kamar Dika dengan keras. Silvya terkejut, ia melihat Dika sedang tergeletak di lantai kamarnya tak sadarkan diri. Silvya pun berlari mendekati dan mengangkat Dika ke atas tempat tidur.
"Hei… dok… bangun… dokter dika bangun…"
Nihil, Dika bergeming. Silvya mencoba mengecek denyut nadi dan jantung Dika.
"Huft…" Silvya bernafas lega. Detak jantung Dika tampak normal.
Ting tong….ting tong…
Bel pintu rumah berbunyi. Silvya kembali terkejut. Ia baru ingat kalau hari ini waktunya Dika buka praktek.
"Sial… aku lupa. Hari ini Dika buka praktek dokter. Aduuuh aku harus apa."
Sejenak Silvya berpikir, ia kemudian turun menuju ke kamarnya dan berganti dandanan menjadi gadis cupu seperti tempo hari.
"Ya, begini saja." Ucapnya sambil menuju ke pintu gerbang.
"Maaf mas dan mbak mbak saya telat bukanya. Itu den Dika nya pingsan."
Nia, Risa, dan Teo terlihat kaget dengan kemunculan seorang perempuan dari rumah dalam rumah Dika, namun mereka lebih terkejut mendengar Dika pingsan. Mereka bertiga pun langsung bergegas menuju kamar Dika dengan diarahkan oleh Silvya.
"Mbak.. Dimana kamar dokter Dika." Tanya Risa.
" Mari mbak ikuti saya."
Sampai di kamar Dika Teo pun langsung memeriksa Dika. Ada gurat kelegaan di wajahnya.
"Syukurlah dokter Dika tidak apa apa, kayaknya dokter hanya kecapekan."
Silvya pun menghembuskan nafasnya lega.
Setelah memasang infus ketiga perawat itu keluar dari kamar Dika. Mereka sedikit merasa aneh dengan pintu yang terlihat agak sedikit rusak namun mereka tak mau banyak bicara.
"Mas mbak silahkan duduk dulu. Oh iya berarti hari ini praktek libur ya." Tanya Silvya.
"Iya mbak, kalau boleh tau mbak siapa ya?" Tanya Nia sopan.
"Oh nama saya Vya, saya art baru di sini." Jawab Silvya tenang. Untuk bersandiwara seperti ini ia sangat ahli.
Risa dan Nia membatin, sejak kapan dokter Dika punya art. Dan art ini meskipun terlihat cupu tapi dia adalah gadis muda.
15 menit berlalu, akhirnya ketiga perawat itu pun pamit undur diri. Silvya kemudian kembali ke kamar atas untuk membawakan Dika sarapan.
"Dok… apakah kamu sudah sadar."
Silvya memasukkan kepalanya ke dalam kamar Dika, ternyata Dika sudah dalam posisi duduk bersandar di headboard tempat tidur.
"Apa kamu yang mengangkatku?"
"Eh… tentu bukan, tadi dibantu dengan para perawat."
Silvya mengelak, ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinyalah yang mengangkat Dika sendirian, bisa bisa Dika curiga kepadanya. Padahal tanpa Silvya ketahui, Dika beberapa kali melihatnya berlatih fisik di pagi hari.
" Dengan penampilan seperti itu?"
Dika kembali bertanya kepada Silvya sambil melihat penampilan Silvya yang tidak seperti biasanya.
"Iya… aku bilang kalau aku ini art barumu."
"Lantas, mereka percaya begitu?"
Silvya mengangguk lalu menyerahkan nampan yang berisi sarapan. Dika mengambilnya dan memakan perlahan.
"Terimakasih."
"Mengapa bisa pingsan."
"Entah mungkin kecapekan. Kemarin sampai dini hari masih ada jadwal operasi."
"Apakah pekerjaan dokter begitu sibuknya dan apakah tidak ada dokter lain hingga kamu sangat bekerja keras."
Dika meletakkan sendoknya perlahan dna meminum air mineral di gelas hingga tandas.
"Bukan tidak ada dokter lain. Karena memang statusku sebagai dokter spesialis bedah terbaik negeri ini sehingga membuat pihak rumah sakit memberikan tanggung jawab lebih saat ada tindakan operasi."
"Huh, sombong."
"Bukannya sombong, tapi memang itu kenyataannya. Apakah kamu akan berpenampilan seperti ini sekarang?"
"Yes, of course. Jadi aku tidak perlu mengurung diriku lagi di kamar."
"Ya terserahlah. Aku sudah selesai makannya. Tolong bawa kembali. Terimakasih."
Silvya tidak banyak bicara, ia mengambil nampan tersebut lalu keluar kamar Dika menutup pintu yang sedikit koyak karena ulahnya.
Dika mengernyit aneh melihat pintunya.
"Perasaan itu pintu tadinya baik baik aja, kenapa jadi ada kayak penyok terus sedikit berlobang dna sedkit miring ya. Ah sudahlah."
Dika kembali merebahkan badannya. Rasanya memang ia sangat lelah. Namun pikirannya kembali tertuju pada Silvya.
"Apa benar dia mau berubah menjadi cupu begitu. Apa sebenarnya yang sedang ia rencanakan. Sepertinya aku pun harus menyelidikinya."
Di lantai bawah Silvya menghembuskan nafasnya perlahan. Ia sungguh merasa lega setelah beberapa momen hampir hampir saja yang terjadi.
Ya, ia hampir ketahuan oleh para perawat jika tidak buru buru menyamar. Ia hampir saja dicurigai sola pintu kamar Dika yang sedikit rusak. Semua hal tapi membuatnya sedikit panik karena saat ini di masih membutuhkan rumah Dika untuk bersembunyi. Dan sementara ini dia juga akan menggunakan penampilan cupu ini untuk identitasnya.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Nur Bahagia
pintu mu ambrolll bang 🤣
2024-10-06
1
Her Lina
padahal kan bisa ngontrak atau nyewa rmh. ga harus tetap tinggal disana.
2024-03-10
0
Nadiyah1511
d dobrak dong...emng Q
2024-02-11
0