Sudah hampir dua minggu Nisha tinggal di rumah besar. Setiap pagi dia selalu muntah-muntah. Setiap kali mencium bau masakan keinginannya untuk muntah semakin bertambah besar. Oleh karena itu bu Lastri menjauhkan Nisha dari dapur. Berusaha membuat Nisha melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil yang tidak begitu membutuhkan tenaga ekstra seperti misalnya mengelap perabotan atau menyiram tanaman.
Namun bila Nyonya besar mengetahui hal itu, dia akan menyuruh Nisha untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang melelahkan seperti misalnya mengepel seluruh area rumah yang memiliki luas bangunan 1000 meter lebih itu. Tentu saja pekerjaan itu akan sangat menguras energy Nisha. Setiap hari tubuhnya menjadi semakin mengurus.
Setiap malam tiba nafsu makannya akan tumbuh berkali-kali lipat. Nisha akan memakan begitu banyak makanan yang di siapkan bu Lastri secara diam-diam, namun paginya Nisha akan kembali memuntahkan makanan itu. Sepertinya tidak ada gizi dari makanan itu yang tertinggal di tubuhnya.
Setiap hari Zico selalu mengiriminya pesan. Laki-laki itu secara konsisten mengiriminya pesan. Rata-rata tiga sampai empat pesan yang di kirim Zico kepadanya. Isi pesannya bermacam-macam. Di lain waktu laki-laki itu akan menyuruhnya untuk memperhatikan tubuhnya, makan-makanan yang sehat, jangan melakukan hal-hal yang membuat lelah. Di lain waktu laki-laki itu akan memberikannya sebuah tips untuk mengurangi rasa tidak nyaman di awal-awal kehamilan. Seperti misalnya menyuruhnya memakan biscuit di pagi hari untuk mengurangi mualnya, hal-hal semacam itu.
Entah darimana laki-laki itu mempelajari hal itu semua. Setiap pesan yang di kirim, tidak ada satu pun yang pernah di balasnya. Namun Nisha mulai merasa menunggu-nunggu pesan itu datang. Meskipun dia masih membenci laki-laki itu, namun kebenciannya tidak sebesar dulu. Terkadang Nisha membayangkan, bagaimana reaksinya bila bertemu dengan laki-laki itu? Apakah dia akan setakut dulu? Apakah tubuhnya tetap akan gemetaran? Apakah mulutnya tetap akan tercekat dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya? Entahlah, dia tidak bisa mengetahui hal itu.
Sepertinya laki-laki itu benar-benar ingin memegang kata-katanya. Dia sadar bahwa Nisha takut dan benci padanya, oleh sebab itu dia berusaha untuk membuat Nisha untuk tidak melihatnya dengan cara tidak mengunjungi rumah besar selama dua minggu ini.
Malam ini, ketika sedang berbaring di tempat tidurnya Nisha mulai melihat-lihat ponselnya. Berharap ada pesan masuk. Biasanya ponselnya akan mendapatkan pesan di waktu-waktu tertentu. Pagi hari ketika waktu berangkat kerja, siang hari ketika waktunya jam istirahat, dan malam hari ketika waktunya orang-orang kantoran pulang kerja dan menjelang malam hari ketika orang-orang sudah akan pergi ke tempat tidurnya.
Dan seperti dugaannya, pesan itu kembali datang.
Ting…Ting…Ting… (Bunyi notif pesan masuk)
“Sudah tidur?”
“Apa yang Kamu lakukan hari ini?”
“Apakah tubuhmu baik-baik saja? Sudah pergi ke dokter kandungan?”
Biasanya Nisha akan mengabaikan pesan-pesan seperti ini. Dia akan membaca pesan-pesan itu dan akan mengabaikannya, tidak pernah membalasnya. Namun entah mengapa malam ini dia ingin membalas pesan itu. Hatinya jadi sedikit mellow. Apakah ini bawaan bayinya? Yang membutuhkan perhatian ayahnya? Entahlah, dia tidak tahu hal itu. Tanpa sadar Nisha mulai mengetik balasan dan mengirimnya.
“Aku belum tidur. Aku tidak melakukan apa-apa. Tubuhku baik-baik saja. Aku belum ke dokter.”
Hampir semenit Nisha menunggu balasan pesan, namun bukan balasan pesan yang di dapatnya melainkan panggilan telepon. Nisha begitu kaget mengetahui laki-laki itu meneleponnya. Karena terlalu kaget, ponselnya sampai terlempar dari tangannya. Nisha mengambil ponselnya dan me-reject panggilan itu. Hatinya masih belum siap mendengar suara laki-laki itu. Beberapa saat kemudian, muncul sebuah pesan di ponselnya.
“Aku tidak akan meneleponmu lagi. Bisa kah Kamu membalas pesanku?”
“Ya.”
“Apa yang Kamu lakukan hari ini?”
“Aku tidak melakukan apa-apa.” (padahal seharian Nisha melakukan pekerjaan rumah karena Nyonya besar sedang berada di rumah. Sampai-sampai tubuh Nisha kelelahan. Tulang-tulangnya seperti mau lepas dari tubuhnya. Namun Nisha memilih untuk tidak mengatakan hal itu. Dia tidak ingin hubungan ibu dan anak itu akan semakin renggang karena kata-katanya)
“Kenapa belum ke dokter kandungan? Bukankah Aku sudah menyuruhmu untuk meminta bantuan Kak Qintan?”
“Nyonya Muda sedang sibuk. Kalau sudah tidak sibuk, beliau pasti akan mengantarkanku.”
“Nyonya Muda apa? Dia sama sepertimu. Jangan memanggilnya seperti itu. Anggap dia sebagai kakakmu sendiri. Dia akan memperlakukanmu dengan baik.”
“Iya.” (Nisha membalas pendek. Dia sedikit kesal dengan pesan yang di kirim Zico. Nyonya Qintan akan memperlakukannya dengan baik? Selama ini yang baik padanya hanya bu Lastri, Tutik dan Zizah. Mana mungkin para majikan akan baik padanya? Apalagi kehadirannya tidak di inginkan di rumah itu. Sepertinya itu hanya ada dalam angan-angannya saja.)
“Apakah bayinya baik-baik saja?”
“Iya.”
“Apakah Kamu mengalami muntah-muntah di pagi hari?”
“Tidak.” (Nisha berbohong, karena dia tidak ingin laki-laki itu mengkhawatirkannya.)
“Syukurlah kalau seperti itu. Aku membaca hanya sebagian kecil wanita yang tidak mengalami morning sickness. Syukurlah Kamu salah satunya. Bila ada yang Kamu inginkan, katakan padaku. Aku akan berusaha mewujudkan.”
“Tidak, tidak ada. Aku mau tidur.”
“Ah ya…Tidurlah. Terima kasih sudah membalas pesan-pesanku. Selamat malam, tidurlah yang nyenyak.”
Nisha membaca ulang pesan-pesan itu. Entah mengapa hatinya menjadi sedikit damai. Sepertinya laki-laki itu tidak seburuk perkiraannya. Nisha mengganti nama kontak laki-laki itu, yang awalnya dia beri nama “laki-laki jahat” berubah menjadi “ayah si bayi”.
Mungkin bila hubungannya dengan laki-laki itu semakin membaik, kondisi bayi juga akan semakin baik. Kata orang mood seorang ibu akan dirasakan bayinya juga. Bila dia menjalin hubungan baik dengan ayah si bayi, mungkin baik untuk tumbuh kembang si bayi. Nisha memejamkan matanya, memutuskan untuk tidur.
***
Pagi datang begitu cepat. Hari ini Nyonya Besar sepertinya memutuskan untuk sedikit menyiksanya. Masih pagi Nisha sudah harus mengepel seluruh rumah. Membersihkan kamar-kamar dan menyikat setiap toiletnya. Meskipun morning sickness kembali melandanya, namun Nisha berusaha menahannya. Selesai menyikat toilet, Nyonya besar menyuruhnya untuk mengelap seluruh perabotan dengan teliti.
Pekerjaan itu dilakukannya sampai menjelang siang. Ketika sudah selesai bersantap siang dan saatnya bersantai seperti teman-teman ART yang lain, Nyonya besar menyuruhnya untuk mencuci semua baju kotor di rumah itu. Nyonya Besar melarang siapapun untuk membantunya.
Hampir jam empat sore Nisha berhasil mencuci semua baju-baju itu dan mengeringkannya. Sepertinya Nisha sudah paham pekerjaan selanjutnya yang akan di tugaskan padanya. Tanpa di perintah, Nisha mulai mengumpulkan semua baju-baju yang bila di timbang beratnya bisa berpuluh-puluh kilo itu dan mulai menyiapkan peralatan untuk menyetrika.
Sudah tiga jam Nisha menyetrika baju, namun tumpukan baju itu tidak berkurang setengahnya pun. Nisha menghela napas berat. Tubuhnya mulai merasakan kelelahan yang luar biasa. Perutnya mulai kelaparan. Kepalanya mulai pusing. Nisha berusaha untuk tetap fokus. Tiba-tiba terdengar suara bunyi pintu terbuka dengan keras di ruang setrika itu.
BRAAAAKKK!!
Nisha memalingkan wajahnya, ingin melihat siapa yang datang membuka pintu itu. Samar-samar Nisha melihat wajah ayah si bayi di depannya. Terlihat sangat marah.
“Apa yang Kamu lakukan?!!” Zico bertanya dengan marah.
Nisha tidak bisa menjawab pertanyaan itu, karena di detik selanjutnya dia sudah kehilangan kesadarannya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Sweet Girl
Jadi sedih lihat Nisa diperlukan begitu ..
2024-12-05
0
Nindi Silvana
gemess🥰😍
2023-10-28
2
Anonymous
Ayah si bayi
2023-07-23
0