Apa yang harus dilakukannya sekarang? Dia tidak mungkin menikahi wanita itu! Selain karena mereka bukan berasal dari golongan yang sama, keluarganya juga pasti menolak ide itu. Dia juga tidak mencintai wanita itu. Dia sudah memiliki wanita lain di hatinya.
Ta…Tapi, dia juga tidak mungkin menyuruh wanita ini mengugurkan janin itu. Bagaimana pun, suka tidak suka janin itu adalah anaknya, darah dagingnya. Dia tidak mungkin membunuh anak sendiri bukan? Lalu dia harus bagaimana?
Zico menatap anak buahnya dengan intens. Tatapan matanya berusaha meminta jawaban dari asistennya tersebut.
“Bagaimana menurutmu?”
“Ehm… menurut Saya, sebaiknya Kita menyuruh wanita ini untuk menggugurkan kandungannya Pak. Nanti Kita akan memberikan kompensasi yang sepadan untuknya…”
“Aku tidak setuju!!”
“Ke…kenapa Pak?”
“Bagaimana pun itu bayiku!! Aku tidak ingin membunuh bayiku sendiri! Cari cara lain untuk menyelesaikan masalah ini!”
“Ba…Baik Pak… La…Lalu bagaimana dengan wanita ini Pak?”
“Bawa dia ke rumah sakit. Carikan dokter obgyn terbaik. Periksa tubuhnya secara detail. Berikan perawatan terbaik untuk tubuhnya. Bagaimana pun dia sedang mengandung anakku.”
“Baik Pak.”
“Jangan lupa carikan cara terbaik agar Aku tetap bisa memiliki bayi itu tanpa harus menikahi dia.”
“Baik Pak. Kalau begitu, Saya permisi dulu Pak.” Asisten Gerry pamit undur diri. Dia segera menelepon beberapa bawahannya. Menyuruh beberapa anak buahnya untuk membawa Nisha ke sebuah rumah sakit tanpa meninggalkan kecurigaan bagi orang-orang dikantor.
***
Nisha pelan-pelan membuka matanya. Rasa pusing dikepalanya sedikit demi sedikit sudah menghilang. Tubuhnya tidak sesakit terakhir kali diingatnya. Nisha memperhatikan sekelilingnya. Sedang dimana dirinya? Apakah ini sebuah kamar dirumah sakit? Kenapa dia bisa berada di rumah sakit? Seingatnya, dia tadi pagi masih berada di kantor. Membersihkan closet dan akan naik ke lantai atas. Tapi tiba-tiba di lift dia bertemu dengan pria jahat itu. Dan tiba-tiba saja dia tak sadarkan diri.
Tapi kenapa dia berada dirumah sakit sekarang? Siapa yang membawanya ke rumah sakit? Tidak mungkin pria menakutkan itu kan? Apa mungkin rekan-rekan kerjanya yang membawanya kesini? Tapi bila melihat ruangan dirumah sakit, ini jelas-jelas bukan ruangan kelas tiga seperti yang tertera di kartu kesehatannya. Ini jelas ruangan super mahal, khusus untuk orang-orang kaya.
Hanya dirinya yang berada diruangan luas itu. Begitu lengkap fasilitas di kamar itu. Ada sofa besar, tv besar, kulkas besar dan barang lainnya yang tidak akan pernah ada diruangan kelas tiga. Apakah pria jahat itu yang benar-benar membawanya ke rumah sakit ini? Kenapa? Bukannya pria itu jahat, kenapa bersikap baik begini padanya? Benar-benar aneh.
Nisha berusaha untuk duduk ketika pintu kamar terbuka. Dengan takut-takut Nisha melihat siapa yang datang. Dan ternyata pria jahat itu dann asistennya yang datang. Nisha tiba-tiba kembali mengerut. Tubuhnya kembali ketakutan.
“Nona Tanisha ternyata sudah sadar. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk membicarakan segala sesuatunya.” Asisten Gerry datang mendekat pada Nisha, sementara Zico memilih untuk duduk di sofa jauh dari Nisha.
“A…aa…ada apa lagi?”
Nisha bertanya ketakutan. Dia benar-benar tidak ingin berurusan dengan pria itu dan asistennya secara pribadi. Dia menjadi begitu cemas ketika si pria jahat dan asistennya kembali menemuinya. Sebenarnya ada masalah apalagi ini? Dia sudah benar-benar menepati janji. Dia tidak melaporkan pria jahat itu ke polisi, namun kenapa pria jahat itu masih menemuinya? Apa salahnya?
“Rileks Nona Tanisha. Jangan takut. Kami tidak akan menyakitimu. Ada sesuatu yang ingin Kami bahas denganmu.”
“Sa…saya tidak ada…”
“Ini menyangkut hidupmu Nona. Tentu saja ada yang harus Kita bahas.” Dengan sabar asisten Gerry berusaha menenangkan gadis didepannya. Asisten Gerry mengeluarkan beberapa kertas dan beberapa foto hasil USG. Kemudian dia menyerahkan foto itu ke tangan Nisha.
“Nona Tanisha, mungkin Nona sudah mengetahui masalah ini dan memilih untuk tidak memberitahu Kami.”
“Ma…masalah apa? Sa…Saya benar-benar menepati janji. Sa…Sa…Saya tidak pernah melapor ke polisi…”
“Iya, Kami tahu Nona tidak pernah melaporkan Kami. Tapi ada hal lain yang seharusnya Nona laporkan pada Kami. Mungkin bila Nona tidak pingsan di depan direktur, beliau tidak akan pernah tahu kenyataan ini.”
“Mem…memberitahu masalah apa?” Nisha mulai bingung.
“Entah Nona sedang berpura-pura atau bagaimana. Namun Kami tidak memiliki waktu untuk meladeni sikap pura-pura Nona. Silakan Nona lihat foto di tangan Nona.”
Nisha menatap foto hasil USG ditangannya. Dia tahu itu gambar apa. Waktu di SMA dia pernah melihat gambar itu. Di internet juga banyak bertebaran foto yang serupa. Itu adalah foto rahim yang berisi janin.
“In…Ini gambar rahim dan ja…janin. Ma…maksudnya apa?” Nisha bertanya dengan wajah kebingungan. Hal itu membuat asisten Gerry yakin bahwa wanita itu sedang tidak mencoba berpura-pura.
“Itu adalah foto USG rahim Anda. Di dalam rahim Anda sedang tumbuh seorang janin. Anda sedang mengandung sekarang.”
DEEEG!!!!
Nisha menatap asisten Gerry dengan tatapan tak percaya dan syok. Raut wajahnya berubah-ubah. Dia berusaha mencerna informasi itu dan menelaahnya. Namun dia tetap tidak bisa menerima informasi itu dengan baik.
“Ti…tidak mungkin…Ti…Tidak mungkin Saya hamil…”
Nisha menyanggah ucapan asisten Gerry dengan lemah. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha menolak kenyataan yang ada di depan mata.
“An…Anda pasti salah. Ti…tidak mungkin Sa…Saya hamil… Itu tidak mungkin.” Nisha menggeleng-gelenkan kepalanya. Air mata mulai mengambang di sudut matanya.
“Nona boleh sekuat tenaga menolak dan lari dari kenyataan. Namun kenyataan yang sebenarnya tetap sama. Nona sedang mengandung anak direktur Kami.”
“Ti...tidak… Sa…Saya tidak boleh hamil Pak. Ba…bagaimana bila Ibu tahu? I…Ibu a…akan sangat kecewa dan malu. Ibu akan dihina orang-orang. Sa…saya tidak boleh hamil Pak. Saya tidak ingin membuat Ibu kecewa. Saya tidak ingin membuat Ibu malu. Sa… Saya tidak ingin hamil. Saya tidak ingin hamil. Saya tidak ingin hamil!!”
Nisha membenamkan kepalanya diantara sela-sela jarinya. Air mata mengalir dengan sangat deras. Dia mulai menangis dengan sangat keras. Mulutnya mulai meracau tidak karuan.
“Aku tidak ingin hamil. Aku tidak ingin anak ini. Aku tidak mau. Keluar dari tubuhku sekarang. Keluar!”
Nisha memukul-mukul perutnya. Berusaha untuk membuat penghuni di dalam perutnya untuk segera keluar. Melihat hal itu, secepat kilat Zico berlari ke arah Nisha dan memegang tangan gadis itu.
“Kalau Kamu tidak ingin bayi itu, berikan bayi itu padaku!! Jangan Kamu siksa bayi ini dengan tanganmu!!” Zico membentak Nisha sembari memegang kedua tangan gadis itu.
“Aku benci Kamu! Kamu jahat! Aku benci. Aku benci!!” Nisha berteriak. Seluruh tubuhnya bergetar karena ketakutan sekaligus amarah. Dia begitu takut pada Zico, namun dia juga sangat marah dan benci pada laki-laki itu.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
ba ulan lagi kangen sma daniel😂😂😂😂😂
2024-10-15
0
Nila Wati
ini novel yang pertama kali aku baca d sini,,dan aku masih sering kaamgen mampir ksini,,lov yu thor
2024-06-05
2
Cidah Rosidah
aku baca ulang Thor udah GX keitung bacanya😁
2024-06-02
1