Tengah malam Nisha terbangun dari tidurnya (atau pingsannya?). Dia merasa seseorang menggenggam tangannya dengan hangat. Kehangatan itu mengingatkannya pada kehangatan seorang Ibu. Perlahan-lahan Nisha membuka matanya. Sangat berharap semua yang di laluinya saat ini hanyalah mimpi belaka. Dan berharap bahwa ibunya ada di sisinya. Mencintai dan menyayanginya seperti biasanya.
Namun ternyata bukan genggaman seorang Ibu yang di dapatkannya. Rambut orang itu terlalu pendek bila dibandingkan dengan ibunya. Dan tubuhnya juga tidak menunjukkan gesture seorang wanita. Nisha memperhatikan wajah itu dengan seksama, dan betapa kagetnya dia begitu mengetahui bahwa orang yang menggenggam tangannya adalah ayah dari bayinya!!
Dengan spontan Nisha menarik tangannya dari genggaman Zico. Reaksi spontan tubuhnya adalah menjauhi pria itu. Nisha terduduk dan beringsut, berusaha menjauhi Zico. Namun karena ada selang infus di tangannya, dia tidak bisa bergerak sesuka hatinya. Pada akhirnya Nisha hanya terduduk di ranjang rumah sakit itu.
Nisha memperhatikan Zico. Pria itu masih tertidur. Tidak ada tanda-tanda pria itu terganggu dengan kehadirannya. Nisha melihat kanan kirinya. Ya, sepertinya dia kembali ke rumah sakit dimana dirinya di rawat terakhir kali. Nisha mengingat-ngingat kejadian sebelum dirinya pingsan.
Dia sedang menyetrika ketika tiba-tiba pintu ruang tempatnya menyetrika terbuka. Ingatan terakhir yang ada di memorinya adalah kemarahan yang tampak sangat jelas di wajah Zico. Apakah pria itu sedang marah padanya? Apa dirinya sudah melakukan kesalahan lagi?
KRUUUKKK…KRUUUUKK…
Perut Nisha berbunyi dengan sangat keras. Dia sangat kelaparan. Dia ingat malam ini dia telah melewatkan makan malamnya karena harus menyetrika puluhan kilo pakaian. Nisha memegang perutnya yang perih karena rasa lapar. Dia mulai melihat sekelilingnya. Berharap ada makanan di kamar itu. Pandangan matanya tertuju pada kulkas dua pintu yang terletak beberapa belas meter dari ranjangnya.
Dengan hati-hati Nisha mengambil cairan infus dari pengaitnya. Dia berencana untuk berjalan kea rah kulkas sembari memegang cairan infusnya. Namun rencana hanya tinggal rencana. Karena kurang hati-hati cairan infus yang diambilnya terjatuh dan mengenai kepala Zico.
Merasa ada sesuatu yang jatuh ke kepalanya, Zico langsung terbangun dari tidurnya. Dengan linglung dia langsung berdiri.
“Ada apa? Ada apa?” tanyanya dengan bingung. Matanya menatap kesana kemari. Tatapan terakhirnya jatuh pada Nisha.
“Ada apa? Hah? Ada yang terjadi?” Zico mendekati Nisha, berusaha melihat kondisi wanita itu dengan jelas. Nisha tertunduk. Merasa takut sekaligus malu. Dengan takut-takut Nisha menunjuk cairan infus yang terjatuh di atas ranjang. Pandangan Zico mengikuti arah yang di tunjuk Nisha.
“Ini kenapa bisa jatuh?”
Zico bertanya sembari mengambil cairan infus, kemudian memasangnya lagi di pengait di samping tempat tidur. Setelah selesai melakukannya, dia mulai menatap Nisha dengan intens.
“Kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu? Apakah Kamu masih pusing? Ada bagian yang sakit?” Zico bertanya dengan khawatir. Dia ingin mendekat pada Nisha dan memeriksa tubuh wanita itu secara langsung. Tapi dia khawatir wanita itu akan takut padanya, untuk itu dia berusaha menahan diri.
Nisha menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menjawab setiap pertanyaan yang di ajukan Zico. Kepalanya tidak pusing. Tidak ada bagian dari tubuhnya yang sakit. Kesalahan hanya ada perutnya yang perih karena kelaparan. Namun Nisha terlalu malu untuk mengakui hal itu.
KRUUUUUKK…KRUUUKKK…
Perut Nisha kembali berbunyi dengan keras. Dengan cepat Nisha menutup perutnya. Berusaha untuk membuat Zico tidak mendengar suara-suara memalukan itu. Nisha menundukkan kepalanya, merasa sangat malu. Zico tersenyum melihat kelakuannya.
“Kamu lapar?” tanyanya dengan lembut. Nisha menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha untuk mendapatkan harga dirinya.
“Ingin makan apa? Aku akan membelikannya.”
“Ak…Aku tidak mau makan…”
KRUUUKK... KRUUUKK…
Perutnya kembali berkhianat. Ingin rasanya Nisha menenggelamkan kepalanya di bawah kasur dan tidak melihat pria itu lagi.
Zico tersenyum lucu melihat tingkah laku Nisha. Mungkin bila dia lebih mengenal wanita itu lebih jauh, dia akan menyukai karakternya.
“Ada makanan yang ingin di makan? Aku akan mendapatkan semuanya. Katakan padaku, Kamu ingin makan apa?” Zico kembali bertanya dengan lembut.
Nisha menunduk dalam-dalam. Terlalu malu dan takut untuk menatap mata Zico secara langsung. Perutnya kembali berteriak-teriak. Lambungnya menjadi semakin perih. Tanpa berpikir lagi,Nisha langsung mengatakan apa yang ingin di makannya.
“Aku ingin martabak, seblak, ayam pedas, ceker pedas, minuman coklat dan buah pear.” Nisha nyerocos tanpa henti. Selesai mengatakan apa yang ingin dikatakannya, dia langsung menyembunyikan wajahnya di balik selimut. Meninggalkan Zico yang masih tercengang. Tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Kamu yakin menginginkan semuanya?” tanya Zico dengan tak yakin. Bukannya dia malas untuk mencarikan semua makanan itu, namun dia hanya tidak percaya seorang wanita bertubuh kecil akan mampu memakan semua makanan itu.
“Hemmm.” Nisha menjawab singkat. Masih menyembunyikan wajahnya di balik selimut. Zico kembali tersenyum lucu.
“Baiklah. Tunggu di sini. Aku akan membawa semua makanan yang Kamu mau.” Kemudian Zico berbalik dan keluar dari kamar rumah sakit itu.
Sebelum benar-benar meninggalkan rumah sakit, Zico meminta para perawat untuk menjaga Nisha. Zico melihat jam di tangannya. Waktu menunjukkan pukul 00.17 WIB. Entah dimana dia akan mendapatkan semua makanan itu. Zico berusaha membuka aplikasi pesan antar makanan online. Namun ternyata sebagian besar rumah makan sudah tutup. Akhirnya dia mengandalkan bantuan terakhir yang bisa di hubunginya. Zico menghubungi asisten Gerry!
Pada deringan pertama Gerry langsung mengangkat panggilan teleponnya.
“Iya Pak? Saya Pak?” suara Gerry terdengar serak. Seperti suara orang yang sedang mabuk namun berusaha untuk mendapatkan kesadarannya.
“Ada dimana?”
“Saya…Saya sedang di luar Pak…”
“Bagus kalau begitu. Bantu Aku mendapatkan makanan-makanan ini. Martabak, seblak, ayam pedas, ceker pedas, minuman coklat dan buah pear. Aku memberimu waktu setengah jam untuk mendapatkan semuanya. Temui Aku di rumah sakit X jam 00.50 WIB. Sudah, itu saja.”
“Hah? Pak? Pak? Bisa di ulangi lagi…”
Zico menutup panggilan teleponnya. Karena tidak ingin kembali ke kamar Nisha dengan kondisi tangan kosong, akhirnya Zico pergi ke mini market terdekat untuk membeli makanan yang mudah di dapatkan. Zico kembali ke kamar Nisha dengan hanya membawa buah pear dan minuman coklat.
Kedatangan Zico di sambut dengan antusias. Mata Nisha tampak berbinar-binar menatap bungkusan di tangan Zico. Membuat Zico tersenyum geli.
“Maaf membuatmu kecewa. Yang Ku bawa hanya buah pear dan minuman coklat saja. Makananmu yang lain akan datang sekitar dua puluh menit lagi.” Zico menyerahkan bungkusan ke tangan Nisha yang dengan sangat cepat langsung menyambarnya.
Nisha membuka bungkusan itu dan langsung menyambar buah pear. Sebelum dia berhasil memasukkan buah it ke mulutnya, Zico segera merampas buah di tangannya itu.
“Buahnya belum di cuci. Aku cuci dulu.” Zico mencuci semua buah itu. Menyisakan Nisha yang menatap buah itu dengan mata yang lapar. Selesai mencuci buah, Zico langsung menyerahkannya pada Nisha. Yang langsung memakannya dengan lahap.
“Pelan-pelan makannya. Masih banyak makanan lain yang belum datang.”
“Heemmm…” Nisha tidak menghiraukan kata-kata Zico. Yang di pikirkannya sekarang adalah bagaimana caranya agar perutnya tidak lagi kelaparan. Ketika sedang menatap Nisha yang tengah asyik menyantap buah, ponsel Zico berdering. Rupanya Gerry menelponnya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Sukliang
nasib gerry
2024-04-15
1
Borahe 🍉🧡
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/bumil
2023-11-27
3
Supartini
hahaha namanya juga sedang hamil pasti sangat lah lapar
2023-10-01
0