Perjanjian lagi? Kenapa banyak sekali perjanjian yang dibuat pria itu? Nisha membaca hati-hati setiap hal yang tertulis di dalam perjanjian. Mencoba menelaah setiap hal yang terkandung di dalamnya. Banyak hal dalam perjanjian yang membuatnya sangat keberatan. Seperti misalnya dia mendapatkan uang kompensasi?
Dia tidak membutuhkan uang itu. Yang dia butuhkan hanyalah cara agar dia bisa tetap melahirkan bayi itu tanpa sepengetahuan ibunya. Sepertinya dia harus menghubungi asisten laki-laki itu untuk mengajukan keberatannya.
Nisha mencari-cari kartu nama yang diberikan asisten itu. Setelah mendapatkannya, Nisha berusaha menghubungi nomor itu melalui telepon rumah sakit. Ponsel dan tasnya mungkin masih di loker kantor. Dan dia tidak memiliki cara lain selain menghubungi asisten itu melalui telepon rumah sakit. Pada deringan kedua, si pemilik nomor menjawab panggilan itu.
“Halo?”
“De…dengan Pak Asisten?”
“Maksudnya? Siapa ini? Dengan siapa Saya bicara?”
“Sa…saya Ta…Tanisha Pak…”
“Oh, Nona Tanisha?”
“Iy…Iya Pak…”
“Bagaimana Nona Tanisha? Sudah mengambil keputusan?”
“Eh…Eum…A…Ada pa…pasal yang tidak Saya sukai Pak…”
“Pasal yang mana? Oh, Anda tidak perlu menjelaskan. Saya dan pengacara Aji akan ke rumah sakit sekarang.” Dan asisten itu menutup teleponnya. Nisha menatap gagang telepon itu dengan hampa.
Dia bingung harus berbuat apa? Harus berkata-kata seperti apa? Dia bukan orang yang berpendidikan. Dia hanyalah gadis kampung lulusan SMA. Apa yang akan dikatakannya dhadapan orang-orang pintar seperti si asisten dan bapak pengacara itu?
Nisha menggigit-gigit ujung selimut. Bolak-balik membaca pasal per pasal itu dengan hati. Banyak dari pasal-pasal itu yang sungguh-sungguh tidak disukainya.
Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan pintu di kamarnya. Tanpa aba-aba dari dirinya, pintu kamar itu pun terbuka. Masuklah asisten direktur dan pengacara Aji ke dalam ruangan itu.
“Nona Tanisha, Kita bertemu lagi.” Pengacara Aji menyapa sembari mengulurkan tangannya. Namun karena takut Nisha tidak menyambut uluran tangan itu.
“Ehem, baiklah. Sepertinya Nona tidak senang berjumpa dengan Saya.”
“Sekarang bukan saatnya berbasa-basi Pak. Mungkin bisa Kita mulai saja?” tanya asisten Gerry.
“Pak Zico kemana? Sepertinya Kita membutuhkan kehadiran Pak Zico untuk mencapai kesepakatan ini.”
“Beliau menolak untuk kemari Pak. Kita hanya bisa melakukan panggilan suara saja.”
“Hem, baiklah. Kalau begitu, mari Kita mulai saja. Nona Tanisha, sepertinya Anda sudah mengambil keputusan?” pengacara Aji berbalik Menghadap Nisha.
“Ke…keputusan?” Nisha bertanya dengan suara bergetar.
“Anda tadi menelepon Kami. Itu artinya Anda sudah mengambil keputusan.”
Nisha menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa tidak setuju dengan perkataan pengacara itu.
“Sa…Saya belum memutuskan. Ta…tapi Saya keberatan dengan isinya…” Dengan gugup Nisha berusaha mengutarakan pikirannya.
“Sebenarnya Anda tidak punya hak untuk tidak mensetujui pernjanjian ini karena Anda hanya pihak kedua. Setelah Saya telaah, isi di dalam perjanjian ini lebih banyak menguntungkan Anda dibandingkan klien Kami. Lalu dimana letak keberatan Anda?”
“Eh…Eum… Mi…misalnya pasal 3 dan pasal 4. Sa…saya tidak membutuhkan uang kompensasi itu. Sa…saya benar-benar tidak menginginkan anak ini. Ta…tapi bukan berarti Saya akan menjualnya…”
“Nona Tanisha, itu bukan menjual. Uang itu hanya wujud terima kasih yang ingin diungkapkan klien Kami karena Anda sedang mengandung anaknya dan bersedia melahirkannya. Jadi saran Saya, Anda harus menerimanya.”
“Ta…tapi Saya benar-benar tidak menginginkannya. Saya hanya ingin anak ini segera keluar dan tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengannya dan pria itu. Ka…kalau dia memaksa Saya untuk memberi kompensasi, Sa…Saya memutuskan untuk tidak melahirkan anak ini…”
Nisha berusaha menggertak, suaranya terdengar bergetar. Di dalam suaranya terselip rasa tidak percaya diri sekaligus ketakutan.
“Baiklah Nona Tanisha. Akan Kami catat pasal-pasal yang membuat Anda keberatan. Nanti akan Kami sampaikan kepada direktur Kami. Ada lagi?”
“Eh, itu… Sa…saya keberatan bila harus tinggal satu atap dengannya… Sa…saya takut. Sa…saya tidak ingin tinggal dengannya. Sa… saya lebih baik bunuh diri bila harus tinggal dengannya…”
Suara Nisha pecah, dia mulai terisak. Tubuhnya bergetar ketakutan. Membayangkan harus tinggal bersama pria itu membuatnya sangat ketakutan. Dia benar-benar tidak ingin tinggal dengan pria itu.
Pengacara Aji dan asisten Gerry saling bertukar pandangan. Asisten Gerry menganggukkan kepalanya, memberi kode jawaban untuk pertanyaan pengacara Aji.
“Baiklah Nona Tanisha, Kami akan mempertimbangkan permintaan Anda. Ada lagi yang lain?”
Nisha menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia kembali menyembunyikan wajahnya dibalik lengannya. Pertanda ingin mengakhiri pembicaraan.
“Baiklah Nona, Kami akan menyampaikan keberatan Anda kepada direktur dan merevisi perjanjian ini. Kalau begitu, Kami pamit dulu.”
***
“Bagaimana hasilnya? Dia mau menyetujuinya?”
“Mohon maaf Pak. Sebagian besar Nona Tanisha menyetujuinya, tapi ada beberapa pasal yang membuatnya keberatan. Dia mengancam tidak akan melahirkan bayi itu bila Kita tidak memenuhi permintaannya.”
“Pasal yang mana?” Zico mendelik marah.
Dia sudah berusaha mengatur perjanjian itu sedemikian rupa agar lebih menguntungkan gadis itu. Kenapa masih ada pasal yang membuatnya keberatan? Apa uang kompensasi yang ditawarkannya masih kurang besar? Haruskah dia menaikkan uang kompensasi?
“Dia tidak menyetuji pasal 3, 4 dan 5 Pak.”
“Pasal apa itu? bacakan!”
“Pasal 3 dan 4, mengenai uang kompensasi Pak. Dia keberatan mengenai pemberian uang itu. Dia tidak ingin mendapatkan uang itu. Dia mengancam tidak akan melahirkan bayi itu bila permintaannya tidak dipenuhi. Kemudian Pasal 5 mengenai tinggal satu atap Pak. Dia tidak ingin tinggal satu atap dengan Bapak. Dia mengancam akan melakukan bunuh diri bila harus tinggal dengan…”
BRAAAKK!!
Zico meninju meja kantornya. Terlihat buku tangannya mulai berdarah. Tubuhnya bergetar karena menahan amarah.
“Ada lagi?!” tanyanya dengan suara berat.
“Tidak ada Pak.”
“Kamu boleh keluar!”
“Tangan Bapak berdarah, Saya panggilkan tenaga medis…”
“Tidak perlu. Kamu keluarlah.” Zico melambai-lambaikan tangannya.
“Baik Pak.” Asisten Gerry mematuhi perintah Zico, dia segera keluar dari ruangan itu.
Sekarang yang tinggal diruangan itu hanya Zico dan kemarahannya. Berani-beraninya wanita itu akan mengancam bunuh diri hanya karena tinggal dengannya? Semenakutkan itu kah dirinya? Sebejat itu kah? Bila harus memilih, dia juga tidak ingin wanita itu tinggal bersamanya!!
Dia membuat pasal itu karena khawatir dengan kondisi anaknya saja. Dia tidak ingin anaknya harus tinggal di kosan bobrok dan kumuh itu! Dia ingin anaknya mendapatkan segala yang terbaik meskipun masih dikandungan. Karena itu lah dia memutuskan untuk membuat wanita itu tinggal disampingnya, agar ia lebih mudah memantau pertumbuhan bayinya dari dekat.
Tidak disangka niat baiknya malah dibalas seperti ini?!! Bila tidak mabuk, dia juga tidak akan pernah menyentuh wanita itu. Wanita itu dibawah levelnya. Dari segi manapun tidak ada hal dari wanita itu yang membuatnya tertarik. Wanita itu berbeda 180 derajat dari tunangannya ( mantan tunangannya).
Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang? Apa dia harus membiarkan wanita itu untuk tinggal dilingkungan kumuh itu? Tidak, tidak. Dia tidak akan membiarkan anaknya tumbuh dilingkungan kotor seperti itu.
Apa dia harus membeli sebuah rumah dan membuat wanita itu tinggal disitu? Tapi, kalau dia melakukan hal itu wanita itu tetap akan sendirian. Tidak ada orang yang benar-benar akan mengawasinya. Hal apa yang harus dilakukannya agar wanita itu bisa tinggal dilingkungan yang bersih, diawasi oleh orang-orang kepercayaannya sekaligus jauh dirinya?
Lama Zico memikirkan kemungkinan itu. Otaknya berputar dengan cepat. Kemudian, seolah-olah mendapatkan suatu wangsit Zico menepukkan kedua tangannya.
“Ya!!”
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Sweet Girl
Yo wes Ndak usah dipaksa ditinggal...
2024-12-05
0
Sweet Girl
Catat... udah mantan...
2024-12-05
0
athaya_dèslyn
sabar sabar punya bos begini nish...
2024-05-24
0