Zico memeluk tubuh Nisha. Perasaannya campur aduk. Antara marah pada keluarganya dan kesedihan serta kekhawatiran yang mendalam melihat Nisha. Zico memilih untuk memprioritaskan kesehatan Nisha.
Dengan sedih dan khawatir Zico segera membopong tubuh Nisha. Berusaha membawanya ke rumah sakit. Ketika akan mencapai mobilnya, Zico melewati ruang keluarga yang masih di huni oleh orang-orang itu.
“Aku tidak akan pernah melupakan apa yang Mama lakukan pada dia! Bila terjadi apa-apa pada dia dan bayinya, Aku tidak akan pernah memaafkan Mama! Aku tidak akan pernah memaafkan kalian semua!” Zico berkata dengan suara rendah. Nada suaranya bergetar, berusaha menahan kemarahan.
“Aku akan membawanya keluar dari rumah ini. Aku dan bayi ini tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Silakan Mama nikmati kebersamaan bersama para menantu dan para cucu yang bibit, bebet, bobotnya jelas itu!”
Zico melangkahkan kakinya, keluar dari rumah besar dengan mantap. Dia segera membawa Nisha masuk ke dalam mobil dan mengarahkan mobilnya ke arah rumah sakit. Di perjalanan dia menelepon Gerry, menyuruhnya untuk menelepon dokter obgyn terakhir yang menangani Nisha.
Sesampainya di rumah sakit, Nisha segera mendapatkan penanganan yang cepat. Mungkin karena Zico menempatkannya sebagai pasien VVIP, jadi semua hal berjalan dengan lancar. Setelah berbagai macam pemeriksaan yang detail dan panjang, akhirnya dokter memanggil Zico selaku wali Nisha.
”Apa Bapak wali dari Ibu Nisha?”
“Iya Dok.”
“Anda suaminya?”
“Bukan Dok.”
“Lalu apa hubungan Bapak dengan Ibu Nisha?”
“Saya ayah dari bayi di dalam kandungannya Dok.”
Dokter tertegun mendengar jawaban Zico. Sepertinya dia mulai memahami hubungan antara Zico dan Nisha.
“Dengan siapa Saya bicara?”
“Saya Zico Dok.”
“Bapak Zico, Anda adalah ayah dari bayi ibu Nisha, tapi Anda bukan suami ibu Nisha. Benar begitu?”
“Benar Dok.”
“Bapak Zico, dari laporan pemeriksaan ibu Nisha sebelumnya sudah jelas menyatakan bahwa dia harus banyak beristirahat dan di larang melakukan pekerjaan berat. Namun kenapa Anda membawa dia dalam kondisi seperti itu? Tubuhnya kelelahan dan kekurangan nutrisi. Kehamilan ibu Nisha tergolong lemah. Sedikit lagi dia melakukan pekerjaan yang memforsir tenaganya, nyawa bayi Anda akan menjadi taruhannya. Atau mungkin itu tujuan Anda? Sengaja membuatnya kelelahan agar dia kehilangan bayinya? Jadi Anda bisa terlepas dari tanggung jawab?” tanya Dokter Sofia dengan kejam.
Dia begitu tidak suka dengan tipe pria seperti Zico. Seorang pria yang tidak bertanggung jawab. Seharusnya berani berbuat, berani bertanggung jawab. Berani menghamili, berarti harus berani juga untuk menikahi. Namun pria itu tidak melakukannya. Hal itu sangat membuatnya kesal. Di tambah lagi, pria itu membawa wanita yang tengah hamil bayinya dalam kondisi yang memprihatinkan. Sungguh menambah kebenciannya.
“Bukan seperti itu Dok. Saya membawanya kesini karena mengkhawatirkan kondisinya…”
“Jika Anda mengkhawatirkan kondisinya, seharusnya dari awal Anda menjaganya. Bukan membawanya kesini sudah dengan kondisi seperti itu.”
“Baik Dok. Itu salah Saya. Bisakah Anda lebih profesional lagi? Dengan tidak mencampuri urusan Kami?” Zico berkata dengan dingin. Aura direkturnya keluar lagi. Membuat dokter Sofia sedikit sungkan padanya.
“Bagaimana kondisinya Dok?”
“Ehem. Seperti yang Anda lihat, ibu Nisha pingsan karena kelelahan dan kekurangan nutrisi pada tubuhnya. Entah siapa yang membuatnya bekerja seperti di jaman penjajahan seperti itu. Ehem. Kami sudah berusaha memberi asupan nutrisi dan vitamin melalui injection. Untungnya meskipun kondisi tubuhnya lemah, namun janin yang di kandungnya kuat. Tidak ada tanda-tanda masalah yang berarti pada janinnya. Untuk sementara waktu, biarkan ibu Nisha beristirahat di rumah sakit Kami. Setelah kondisi tubuhnya pulih kembali, Anda bisa membawanya pulang. Mungkin membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga hari untuk memulihkan tubuhnya. Mungkin itu saja. Ada yang ingin Anda tanyakan?”
“Tidak ada Dok.”
“Kalau begitu, Anda boleh keluar.” Dokter Sofia mengusir Zico dengan sebal.
“Baik. Terima kasih.” Meskipun kesal karena di perlakukan dengan buruk, namun Zico menahan kemarahannya. Dia harus sabar menghadapi dokter menyebalkan itu, karena menurut Gerry dokter Sofia adalah salah satu dokter obgyn terbaik di rumah sakit itu.
Zico kembali ke kamar tempat Nisha di rawat. Di dalam kamar dia melihat Nisha masih tertidur? Atau pingsan? Entahlah, dia juga tidak yakin dengan hal itu. Zico menatap wajah Nisha. Sudah dua minggu dia tidak bertemu dengan wanita itu. Seharusnya wanita hamil akan bertambah berat badannya seiring dengan pertambahan umur janin, tapi itu tidak berlaku untuk Nisha. Hal itu terbukti dengan semakin mengurusnya tubuh wanita itu. Apa dia mengurus karena sikap mama padanya? Apa saja yang di lakukan mama terhadapnya?
Zico menjadi gemetar tubuhnya mengingat perlakuan keluarganya terhadap wanita itu. Dari awal dia menitipkan wanita itu di rumah besar agar keluarganya memperlakukan dia dengan baik. Dengan penuh kasih sayang dan menganggapnya sebagai bagian dari keluarga mereka. Apa harapannya terlalu tinggi? Kenapa keluarganya menjadi sangat picik? Mengkotak-kotakkan seseorang karena statusnya. Ahhh… dia juga menjadi salah satu dari mereka.
Dia juga pernah berpikir untuk tidak menikahi wanita itu karena derajat mereka yang terlalu berbeda. Mungkin gen kesombongan sudah mendarah daging di keluarganya. Zico menjadi malu sendiri. Malu karena kesombongannya. Menganggap bahwa dirinya lebih tinggi di banding wanita itu.
Tapi memang ada alasan masuk akal kenapa dia tidak bisa menikahi Nisha. Dia tidak mencintai Nisha. Sudah ada wanita lain di hatinya. Wanita yang sampai saat ini masih memporak-porandakan hatinya. Wanita yang membuatnya patah hati. Wanita yang memilih untuk meninggalkannya. Wanita yang membuatnya menjadi seperti ini.
Andaikan Zevana tidak meninggalkannya, dia tidak mungkin mabuk-mabukan pada malam itu. Dia tidak akan memperkosa Nisha dan membuat wanita itu hamil. Selamanya dia tidak akan pernah berurusan dengan wanita bernama Nisha. Mungkin dia tidak akan pernah tahu bahwa wanita bernama Nisha hadir di dunia ini.
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Apa yang sudah terjadi memang harus terjadi. Mungkin ini memang sudah takdirnya. Memiliki anak dari wanita yang tidak di cintainya bahkan sebelum mereka menikah.
Zico kembali menatap Nisha. Merasa kasihan terhadap wanita itu. Merasa kasihan karena takdir telah mempertemukan Nisha dengannya. Seorang pria yang merusak masa depannya. Mungkin bila tidak bertemu dengannya, Nisha akan bertemu dengan orang yang di cintainya. Dia akan menikah dan memiliki anak dengan pria itu. Tapi nasib sudah berkata lain. Wanita itu hamil bayinya. Dia pria brengsek yang tidak berniat untuk menikahinya. Keluarganya memperlakukan wanita itu dengan buruk. Masa depan apa lagi yang di miliki Nisha? Mungkin apa yang terjadi saat ini akan menjadi trauma besar di sepanjang hidup Nisha.
Zico merasa sangat bersalah. Dengan lembut dia mengusap kening Nisha dan memegang tangannya yang kurus. Dia menatap tangan kurus di genggamannya. Sangat merasa kasihan dengan pemilik tangan itu. Zico berharap, suatu saat nanti wanita itu akan melupakan semua trauma yang di sebabkan oleh dirinya dan menemukan kebahagiannya sendiri. Sambil berpikir seperti itu, tanpa sadar Zico terlelap.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Sweet Girl
Bukan Ayah Bayinya yang melakukan dok...
tapi keluarga nya.
2024-12-05
0
Sweet Girl
Aamiin
2024-12-05
0
Leni Marlina
baca novel ini u/ yg kesekian kalinya tapi gak pernah bosan😊
2024-05-29
0