“Gue cuman minta. Ijinin dia tinggal disini sampai bayi Gue lahir. Setelah itu, Gue akan bawa cewek itu pergi dari rumah ini!”
“Trus Lu mau buang dia gitu aja? Lanjut nikahin Zevana? Enak banget hidup Elu ya!!” Erick berkata dengan nyinyir.
“Dia gak mau bayi itu Bang. Dia mau gugurin bayinya. Jadi Gue yang harus ambil bayi itu. Gue yang harus ngerawat bayi itu. Gue kasih dia kompensasi yang pantas…”
“Lagi-lagi Lu ngehargain wanita dengan duit!”
“Ahh, tauklah!! Susah emang ngomong sama Abang!”
“Bang, Gue minta bantuin Gue bujuk Mama. Malam ini Gue tinggalin dia disini. Gue pergi dulu, besok Gue balik kesini lagi untuk ketemu Mama.” Zico berbalik, berbicara dengan Nathan yang dianggapnya lebih mudah untuk diajak komunikasi.
“Ya, Gue usahain untuk bujuk mama.”
Zico keluar dari ruangan itu tanpa pamit pada kakak tertuanya. Sebelum keluar dari rumah, dia terlebih dahulu pergi ke dapur. Mencari kepala ART disana dan memerintahkan sesuatu. Setelah itu dia pergi dari rumah itu, pulang ke apartemennya sendiri.
***
Nisha menatap kamar luas itu dengan kebingungan. Kalau penilaiannya tidak salah, dia sedang berada di kamar seorang pria. Kamar itu di dominasi warna gelap. Kamar itu berukuran tiga kali lipat dibandingkan rumahnya di kampung. Perabotan di kamar itu tampak manly sekali. Terdapat kasur besar yang dilapisi dengan bedcover berwarna putih bersih. Dinding dan tirai di dominasi warna abu-abu. Di seberang tempat tidur, terdapat TV layar datar berukuran raksasa. Mungkin itu adalah TV paling besar yang pernah di lihatnya seumur hidupnya. Di depan TV besar itu, terdapat kursi yang desainnya belum pernah di lihatnya. Tapi desain kursi itu sangat cocok berada di kamar itu. Entahlah, sulit sekali dia mendiskripsikan keberadaan kursi itu melalui kata-kata.
Nisha masih tercengang-cengang melihat ke sekelilingnya ketika terdengar ketukan pintu dikamar itu. Nisha meloncat karena terlalu terkejut. Tak berapa lama kemudian, seorang wanita paruh baya berseragam hitam memasuki kamarnya.
“Nona muda, Kami bawakan makan malam untuk Anda. Dan barang-barang Anda sudah Kami bawa semua.”
Prok…Prok…
Wanita itu menepuk tangannya dua kali. Kemudian seorang wanita berseragam lainnya, yang berumur lebih muda masuk ke kamar itu dengan membawa makanan di ikuti wanita lainnya yang membawa tas yang sangat familiar bagi dirinya.
Nisha memperhatikan tas-tas itu dengan intens. Merasa sangat mengenal beberapa tas yang dibawa masuk itu.
“Semua barang Anda sudah Kami masukkan. Ada lagi yang Anda butuhkan?”
“Ba…barang? Barang Saya? I…ini barang-barang Saya?” Nisha bertanya tak yakin sembari menunjuk tumpukan tiga tas yang berada di depannya.
“Iya Nona. Semua itu adalah barang-barang Anda yang Kami dapatkan dari asisten Gerry. Atas perintah tuan muda, asisten Gerry memerintahkan Kami untuk memasukkan tas-tas ini ke kamar ini.”
“Ta…tapi…harusnya tas-tas ini berada di kosan Saya? Tapi kenapa berada disini?”
“Untuk hal itu, Kami tidak mengetahuinya. Kami hanya menerima perintah. Bila tidak ada pertanyaan lain, maka Kami akan undur diri.” Wanita paruh baya itu memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk keluar dari kamar itu, menyisakan Nisha yang masih tercengang-cengang seorang diri. Kenapa barang-barangnya ada disini? Bukankah semua barang-barangnya ada di kosan?
Dengan cepat Nisha memeriksa isi di dalam tas itu. Dan benar saja, semua itu adalah barang-barangnya. Hanya sepeda kayuhnya saja yang tidak ada di sini. Kenapa semua barangnya berada di sini? Apa pria itu yang membawanya? Apa itu artinya dia tidak akan tinggal di kosan kumuhnya lagi dan tinggal di sini? Tapi rumah mewah ini begitu menakutkan. Sebelumnya dia bersedia menjadi pembantu untuk bisa tinggal di tempat seperti ini, tapi keinginan itu sudah tidak ada lagi.
Tidak ada satu pun penghuni di rumah ini yang menyukainya. Bagaimana mungkin dia bisa tinggal di lingkungan yang tidak menyukainya.
Kruuuuukkk…Kruuuukkk…
Perut Nisha mulai berbunyi. Pertanda lapar sudah menyerangnya. Tanpa dipikir lagi, dia mendekati meja dorong yang berisi makanan dan membuka penutupnya. Selera makannya langsung bertambah begitu melihat hidangan di depannya. Perutnya semakin berbunyi. Tanpa berpikir panjang Nisha memakan makanan lezat itu dengan lahapnya. Seumur hidupnya belum pernah dia memakan makanan seenak ini. Itu adalah jenis makanan yang hanya bisa dilihanya di TV atau makanan yang biasanya di hidangkan di hotel-hotel mewah.
Nisha begitu menikmati makan mewahnya. Dia tidak pernah berpikir apakah makanan itu memang miliknya atau makanan itu di racun? Yang dipikirkannya adalah bagaimana caranya agar perutnya bisa segera kenyang. Ketika sedang asyik menyantap kudapan, tiba-tiba terdengar suara bunyi-bunyian dari dalam tasnya. Nisha sangat familiar dengan bunyi itu. Itu adalah bunyi ponselnya.
Nisha segera mengaduk-ngaduk isi tasnya, mencari sumber dari bunyi-bunyian itu. Dan benar saja, ponselnya ada disitu. Rupanya asisen Gerry sudah mengambil ponselnya dari dalam loker miliknya. Nisha mengecek ponselnya, ternyata terdapat sebuah pesan baru di dalamnya dari nomor tidak di kenal.
“Malam ini kamu tidur di rumah itu. Sampai anak itu lahir kamu akan tinggal disana. Tenang saja, aku tidak akan tinggal disitu. Jadi kita tidak akan satu atap. Jaga anak itu baik-baik. Ingat aku bisa menuntutmu jika terjadi sesuatu padanya.” Zico.
Nisha membaca pesan itu bolak-balik. Merasa tidak percaya bahwa pria psikopat itu mengirim pesan padanya. Dia memilih mengacuhkan pesan itu.
Selesai makan membuat Nisha sangat kekenyangan dan kelelahan. Matanya mulai terkantuk-kantuk. Nisha menatap ranjang besar di depannya. Merasa ragu apakah dia harus tidur di atas ranjang itu atau di lantai berkarpet saja? Namun karena kelelahan, akhirnya Nisha memilih tidur di ranjang besar itu. Apa yang terjadi esok, maka pikirkan esok sajalah. Pikir Nisha sebelum terlelap dari tidurnya.
***
Ketika Nisha sudah terlelap dari tidurnya, terdapat perdebatan sengit di ruang lainnya di rumah itu.
“Pokoknya Mama tidak setuju! Mama tidak ingin wanita yang gak jelas asal-usulnya itu tinggal disini!”
“Tapi Ma, dia sedang hamil. Dia hamil anak Zico lho Ma. Itu artinya, dia sedang mengandung cucu Mama. Darah daging Mama sendiri…” Erick berusaha membujuk.
“Mama gak butuh cucu dari wanita yang bibit,bebet,bobotnya gak jelas seperti itu!! Mama sudah punya cucu dari kalian-kalian, Mama gak butuh cucu lain yang lahir dari rahimnya!!” Mama meraung-raung.
“Tapi Ma, Zico pihak yang salah disini. Dia sudah memperkosa gadis itu Ma. Seharusnya Zico dipenjara untuk perbuatannya itu. Tapi gadis itu tidak melaporkannya. Seharusnya Kita berterima kasih padanya karena sudah membuat Zico tidak perlu berurusan dengan hukum.” Nathan menimpali.
“Wajar kalau dia tidak melaporkan Zico!! Si anak kurang ajar itu sudah membayarnya. Itu bayaran mahal untuk pelacur seperti dia!!”
“Ma! Wanita itu bukan pelacur. Kata Zico wanita itu masih perawan ketika Zico melakukannya…”
“Jadi kenapa kalau dia perawan? Hah?!! Bukankah uang sejumlah dua ratus juta cukup untuk membeli keperawanannya?!! Pokoknya Mama tidak setuju!! Titik!!”
“Ma… Jangan seperti itu. Pikirkan bila itu anak gadis Mama. Kasihan sekali kan nasibnya…”
“Mama tidak punya anak gadis! Mama hanya punya kalian bertiga! Gak ada yang lain!”
“Ma… gadis itu sangat takut pada Zico. Dia menderita trauma Ma. Psikisnya terganggu. Zico hanya ingin gadis itu tinggal bersama Kita sampai anaknya lahir. Setelah itu Zico akan membawa gadis itu keluar dari rumah ini…” Nathan membujuk dengan halus.
“Beneran Zico akan membawanya pergi setelah anaknya lahir? Zico tidak akan menikahi wanita itu kan?”
“Iya Ma… setelah bayi itu lahir, Zico akan membawa gadis itu keluar dari rumah ini. Zico tidak akan pernah menikahi dia Ma. Di hati Zico sudah ada Zevana, mana mungkin gadis lain bisa memasuki hatinya.” Nathan membujuk kalem. Sementara Erick tidak suka mendengar kata-kata itu. Di banding harus membela Zico, dia lebih merasa kasihan terhadap nasib wanita itu.
“Apa kata-kata Zico bisa di pegang? Mama tidak ingin punya menantu seperti dia! Dari penampilan saja sudah terlihat kalau tidak berpendidikan. Yang berhak mendamping Zico hanyalah Zevana seorang!”
“Iya Ma, Iya… Zico juga mengatakan hal yang sama. Jadi Mama gak perlu khawatir lagi ya. Izinkan gadis itu untuk tinggal disini ya?” Nathan merayu. Mama tampak berpikir. Tak berapa lama kemudian, beliau pun menjawab.
“Ya sudah. Untuk sementara Mama akan terima dia. Siapa pun yang tinggal di rumah ini akan mengikuti peraturan Mama. Tak terkecuali dia!”
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Sweet Girl
Sing penting perlakuan juga yg dimaksud dia, dengan baik Ma...
2024-12-05
0
Sweet Girl
wes onok sing meking barang mu Nis...
2024-12-05
0
Win wina
Sepertinya cuma keluarga semits yg bisa menerima menantu miskin wkwkwk 😅
2024-06-19
0