De terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke arah belakang. Dia tidak ingin terpengaruh oleh wajah Cyara yang terlihat sendu. Pasti itu semua salah satu taktik, agar orang-orang merasa kasihan. De tidak mau sampai terperangkap oleh tipu muslihat gadis itu.
De menormalkan deru nafasnya yang terdengar terengah-engah. Dia sudah sampai di dalam mobil. Sementara Cyara hanya bisa menatap kepergian De dengan tatapan nanar. Gadis cantik itu menyadarkan punggungnya di dinding, lalu perlahan turun hingga dia terduduk di lantai yang dingin.
Dia benar-benar merasa sendiri sekarang. Di usianya yang baru saja beranjak dewasa. Cyara harus mengalami kenyataan pahit seperti ini. Dia bagaikan seseorang yang terbuang.
"Aku harus ke mana? Siapa orang mau yang mau menolongku? Bunda Anna dan Clarissa tidak akan mungkin bisa, mereka pasti sudah diancam oleh Paman," gumam gadis cantik itu dengan bibir yang bergetar, dia kembali memeluk dirinya, mencari kehangatan dari angin yang terus menampar kulitnya dengan keras.
Sementara otak Cyara terus memikirkan cara untuk melindungi diri dari kejahatan Austin. Andai dia meminta pertolongan pada teman yang juga merupakan tetangganya. Itu sama saja Cyara membahayakan nyawa temannya. Austin tidak akan mungkin diam saja.
Gadis itu menghela nafas panjang, dia sedikit melirik ke arah mobil De yang baru saja melaju meninggalkan rumah sakit. Pria yang diyakini akan menjadi malaikat penolongnya malah meninggalkan dia seorang diri.
Bahkan De dengan tega mengusirnya tanpa rasa belas kasih.
Di saat Cyara menyaksikan kepergian De. Pada saat itu juga Cyara melihat bayangan salah satu algojo yang Austin kirim untuk menjaganya tengah mondar-mandir di sisi jalan raya.
"Itu, itu pria jahat suruhan Paman."
Mata Cyara terbelalak lebar. Sepertinya pria itu tengah mencari keberadaan Cyara. Gadis itu langsung beringsut ketakutan, dia merasa cemas, bagaimana kalau dirinya tertangkap lagi? Apa yang akan Austin lakukan padanya?
Cyara yakin, setelah ini dia tidak akan selamat andai algojo itu menemukannya.
Dia segera bangkit dengan perlahan, perasaan gadis itu mulai was-was. Cyara menempelkan kedua tangannya di dinding dengan wajah yang terus celingukan. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah sakit yang terbuka untuk pasien selama 24 jam.
Semoga saja pria itu tidak melihatnya.
***
Di sisi lain.
De masih sedikit memikirkan Cyara. Namun, perlahan-lahan dia mencoba untuk tidak peduli dan terus menyetir mobilnya sampai di mansion. Sebab sang ibu pasti sudah menunggu kepulangannya.
Sebuah kebiasaan yang tak pernah berubah, Zoya pasti akan menunggunya dengan berbaring di sofa. Tak peduli sebanyak apapun usia mereka. Sang ibu tetap menganggap De dan keempat saudara kembarnya anak kecil yang belum mengerti apa-apa.
Setelah mengukur jalan raya sampai beberapa puluh menit. Akhirnya De sampai juga di mansion dengan selamat. Dia segera turun, hingga tepat di ambang pintu Zoya dan Ken sudah menyambutnya.
Sang ibu terlihat sumringah, lain halnya dengan sang ayah.
"De, kenapa pulangnya malam sekali? Kamu juga tidak mengabari Mommy? Apa kamu sedang banyak pasien?" tanya Zoya saat De meraih tangannya.
De mengulum senyum tipis lalu menganggukkan kepala. "Iya, Mom."
Kemudian pria itu berganti mencium punggung tangan Ken yang senantiasa memasang wajah masam. De tahu mengapa sang ayah bersikap seperti itu, sebab Zoya pasti tidak akan menurut untuk diajak istirahat sebelum memastikan semua anaknya berada di dalam rumah.
"Harusnya kamu menghubungi orang rumah De, ingat 'kan Mommy-mu sedang hamil?" cetus Ken yang terus mengkhawatirkan keadaan Zoya.
"Iya maaf, Dad. Tadi aku benar-benar sibuk. Dan untuk Mommy, Mommy harus dengarkan apa kata Daddy. Jangan terlalu khawatir pada kami, kami sudah dewasa, Mom. Lebih baik Mommy pikirkan kesehatan adik," jelas De lalu mengelus lembut perut ibunya.
Zoya baru saja hendak buka suara, tetapi Ken segera meraih pundak istrinya. "Sekarang kita istirahat."
"Benar apa kata Daddy. Mommy harus istirahat."
Zoya menghela nafas panjang, dan akhirnya mengangguk patuh. Sementara De tersenyum ke arah Zoya, meyakinkan diri bahwa di akan senantiasa baik-baik saja. Pria tampan itu terlebih dahulu menatap ayah dan ibunya yang menapaki anak tangga. Baru setelah itu dia masuk ke dalam kamar.
Pada saat De memegang gagang pintu, dia sempat membayangkan wajah Cyara. Namun, secepat itu pula dia mengusirnya dengan menggelengkan kepala.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
Ney Maniez
udah dewasa jg punya ade🤭🤭
2024-04-07
1
Alexandra Juliana
Kakak² si jabang bayi sdh berumur 25 thn, ntar sama ponakan seumuran krn istri si sulung anaconda lg hamil juga
2023-03-27
1
Dewi Zahra
lanjut lagi
2023-02-07
0