"Kau!"
Cyara melebarkan kelopak matanya, melihat pria berseragam dokter itu melotot tajam, tetapi detik selanjutnya dia malah memeluk tubuh De sembarangan. "Maafin Cia, Om Dokter."
Mendengar panggilan Cyara, sontak saja mata De terbelalak lebar. "Om?" Beonya tak habis pikir.
Pria itu bergeming, belum sadar akan situasi yang tengah dia hadapi. Sementara gadis yang masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi, masih memeluknya dengan sangat erat sambil memohon ampun.
Rasa takut yang menyelimuti dada Cyara, menjadi satu-satunya alasan mengapa Cyara langsung memeluk tubuh De. Dia seperti mengalami sebuah trauma kecil, akibat apa yang dilakukan sang paman, Austin.
De mengernyit dengan kening yang terasa berdenyut, saat itu juga dia sadar. Manik mata pria itu turun ke bawah, menatap Cyara dengan tatapan yang begitu tajam, sementara kening pria itu sudah membiru.
De segera menarik tubuh Cyara dengan kasar hingga pelukan itu terlepas. De berganti mencengkram lengan Cyara dengan kuat. "Siapa kamu? Berani-beraninya masuk ke ruanganku sembarangan!" Cetus De, dia bersikap seperti itu sebab dia yakin Cyara bukanlah pasien di rumah sakitnya.
Cyara tersentak dan hampir saja terhuyung akibat gerakan De yang begitu kasar. Gadis itu terlihat mengerucutkan bibir dengan tampang memelas. "Maafin Cia, Om Dokter. Cia sedang dikejar-kejar orang jahat tadi, jadi Cia reflek buka pintu." Jelas Cyara apa adanya.
Dia kembali mengatupkan tangan di depan dada untuk meminta pengampunan dari pria yang ada di hadapannya. Pria yang menurutnya seram, sebab De terus melotot, sementara wajah tegasnya ditumbuhi jambang yang cukup lebat.
Sementara De tidak langsung percaya begitu saja, di kota-kota besar seperti ini biasanya banyak sekali orang yang pandai mengelabuhi. Dan dia menyangka bahwa Cyara adalah salah satunya. Luka di sudut bibir gadis itu hanya sebuah luka buatan, De yakin itu.
"Tidak usah bohong kamu!" ketus De dengan menunjuk wajah Cyara, hingga gadis itu mengangkat kepala.
Dia menggeleng cepat. "Cia tidak bohong, Om. Sumpah, Cia tadi dikejar-kejar sama penjahat." Cyara melirik ke arah jendela, kebetulan dari dalam semua aktivitas di luar terlihat dengan jelas. "Makanya Cia ke sini, Cia butuh pertolongan."
Bukannya kasihan, De malah mendesah keras. Dia berpikir bahwa Cyara mengarang cerita dan mengada-ada.
Gadis ini pasti penipu. Cih, jangan harap aku akan percaya padamu!
"Aku tidak percaya! Kamu pasti sedang membual, atau jangan-jangan kamu itu salah satu dari mereka?" Tuding De tanpa perasaan. Pria itu kembali memberikan tatapan tajam, hingga Cyara terus menelan ludahnya.
"Tidak, Om. Kenapa Om tidak percaya padaku?"
"Tentu saja, kamu orang yang baru aku kenal. Dan lagi, aku bukan Om-mu, memangnya kapan aku menikah dengan tantemu?" cetus De merasa tak terima dengan panggilan Cyara padanya. Dia masih muda, tampan, dan berbakat. Masa harus dipanggil om-om. Yang benar saja. Apa Cyara tidak bisa melihatnya?
Cyara semakin mengerucutkan bibirnya, mendengar setiap bentakan De yang terus memenuhi telinganya. Namun, dia tidak akan menyerah begitu saja. De harus menolongnya. "Iya, Cia minta maaf. Lagi pula Cia tidak punya tante. Cia hanya punya Paman dan Daddy saja, tapi Daddy—"
"Haish, siapa yang menyuruhmu bercerita? Hah?"
Cyara berjengit kaget, sementara De sudah tidak tahan, dia segera mengangkat tangan dan menarik kerah baju Cyara, gadis itu sudah seperti anak kucing yang akan dibuang karena mengganggu ketenangan. "Sekarang pergi dari ruanganku, Kucing Dekil!"
"Om!"
"Aku bukan, Om-mu!!!" pekik De.
"Cia juga bukan Kucing Dekil!" balas Cyara tak kalah memekik.
De memicing dengan rahang yang mengeras. Merasa benar-benar geram. "Aku akan mengantarmu ke pos satpam, biar mereka membawamu ke kantor polisi karena masuk ke ruanganku sembarangan." Seketika Cyara langsung mengatupkan bibirnya mendengar ancaman De.
Cyara kembali ditarik oleh De, tetapi gadis itu malah kembali memeluk tubuh De dengan erat. Seperti seseorang yang ketakutan, Cyara enggan untuk melepaskan.
"Pak Dokter! Jangan laporin Cia. Cia tidak mau dipenjara, Cia takut. Jangan, jangan bawa Cia ke sana." Gadis itu tiba-tiba menangis dalam pelukan De, membuat tubuh De membeku, hingga lama semakin lama tanpa sadar dia melepaskan tangannya yang bertengger di kerah baju Cyara.
Tangis gadis itu menganggu perasaannya. Hingga De terus terdiam, sementara Cyara semakin sesenggukan dan meminta agar dia dimaafkan.
***
Cyara (Cia)
Om Dokter (De)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
aphrodite
ih emang kelihatan om om dari pandangan Cia😂😂
2024-10-11
0
Qaisaa Nazarudin
Gak mungkin De gak liat penampilan Cyara yg berantakan kek gitu..🤔🤔🤦🤦
2024-05-18
0
Ney Maniez🍒⃞⃟🦅
😍😍👍👍
2024-04-07
0