BRAK!
"RASAKAN!" teriak Cyara setelah menghantam pria yang mengantarnya dengan sebuah balok. Pria itu langsung memekik, sebab balok itu mengenai wajahnya dengan sangat keras, menyisakan rasa sakit yang begitu luar biasa.
Cyara tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia kembali menyerang pria tersebut dengan menendang kepunyaannya, dan mengayunkan balok itu kembali hingga ujung paku mengenai salah satu mata pria itu.
"Argh!" pekik pria itu kesakitan, sementara darahnya sudah mengalir deras. Cyara sampai tercengang melihat darah begitu banyak mulai berhamburan. Tubuh gadis itu gemetar dengan ludah yang tercekak, tetapi sekuat tenaga dia membawa kakinya untuk melangkah.
Mendengar pekikan rekannya, satu algojo yang ditugaskan untuk menjaga Cyara langsung berlari menuju sumber suara. Dia begitu terkejut saat melihat rekannya yang sudah berdarah-darah, sementara gadis yang mereka jaga terlihat berlari menjauh dari gedung tersebut.
"Hei, jangan kabur!" pekiknya lalu mengejar dengan kaki yang melangkah dengan sangat cepat. Cyara mulai merasa was-was, balok di tangannya terus dia genggam erat. Sementara kaki gadis itu menapaki lantai demi lantai, berharap dia tidak akan tertangkap lagi oleh para algojo itu.
Cyara menoleh ke belakang, pria itu menyeringai dan terlihat sangat menyeramkan. Jarak mereka cukup dekat, Cyara terus menyusuri gedung penyekapan itu mencari jalan keluar.
Ya Tuhan, tolong Cia. Cia tidak mau di sini.
"Berhenti, atau kamu akan tahu akibatnya!" pekik pria itu sambil terus mengejar Cyara. Namun, gadis yang dipanggil namanya itu tidak peduli, dia terus berlari dengan sekuat tenaga. Di antara tangis dan doanya, dia kembali menoleh dengan rasa cemas yang mendera.
Cyara melebarkan kelopak matanya, saat jarak pria itu hampir menjangkau tubuhnya. Rasanya sungguh menegangkan, Cyara terengah-engah. Dia kembali menoleh, dia berteriak dan mengayunkan balok tersebut saat pria itu hendak meraih pergelangan tangannya.
"Argh!" Pria itu memekik, dia tersungkur di lantai dengan bahu yang terasa sakit. Cyara hendak menghajarnya kembali, tetapi pria itu justru memegang baloknya. Cyara melebarkan kelopak matanya. "Jangan harap bisa kabur kamu!"
Cyara menggelengkan kepala, dia memilih untuk melepaskan balok tersebut dengan menghentaknya keras. Setelah itu Cyara kembali berlari dengan tunggang langgang. Hingga akhirnya dia menemukan jalan keluar. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, dia harap segera mencapai gerbang sebelum pria itu kembali datang.
"Cia pasti bisa," lirihnya di antara langkah yang terasa sangat berat. Perjuangan Cyara belum usai, sebelum dia menemukan tempat yang aman, atau seseorang yang dapat menolongnya.
Gadis cantik itu mengusap kasar air matanya yang sedari tadi sudah merembes. Dia tersenyum kecil, saat melihat sebuah pintu gerbang yang tak jauh darinya. Dia kembali mengecek situasi, jantung Cyara memompa dengan cepat, saat satu pria itu masih berusaha mengejarnya.
Namun, dia tidak akan patah semangat, Cyara terus mengerahkan seluruh tenaganya dengan semangat yang membara. Hingga entah sudah sejauh apa dia melangkah, dia sampai di belakang sebuah gedung. Cyara menyelinap masuk melalui gerbang kecil, di mana seorang staf baru saja melewatinya.
Cyara benar-benar yakin, bahwa di dalam sana, dia bisa aman. Cyara menoleh ke sana ke mari dan terus mengikuti ke mana pun kakinya melangkah. "Sepertinya ini sebuah rumah sakit." Gumam Cyara saat melihat beberapa peralatan medis.
Gadis itu terus menyusuri beberapa lorong kosong dengan mengendap-ngendap. Hingga dia melihat sebuah bayangan, Cyara yang merasa terkejut sekaligus was-was langsung mendorong sebuah ruangan, hingga tubuhnya masuk ke dalam.
Beruntungnya ruangan itu tidak terkunci, tetapi jantungnya malah seperti ingin terjun bebas saat melihat seseorang di sampingnya, seseorang yang tengah mengaduh kesakitan sambil memegangi kening.
"Haish, keningku? Siapa orang yang berani-beraninya membuka pintu tanpa—"
Deg!
Tak hanya Cyara yang terkejut, tetapi Derick Mojave Tanson—seorang dokter, sekaligus pemilik rumah sakit ini juga terlihat terperangah saat melihat seorang gadis manis tiba-tiba masuk ke ruangannya dengan penampilan yang berantakan.
"Kau!"
Cyara melebarkan kelopak matanya, tetapi detik selanjutnya dia malah memeluk tubuh De sembarangan. "Maafin Cia, Om Dokter."
Mata De terbelalak lebar. "Om?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
aphrodite
bagus Cia...hajar lagi palanya terus kabur
2024-10-11
0
H
😂😂😂
2024-08-01
0
Aishyandra Junia
thor aku dtang lg membaca untuk kesekian kali nya
2024-07-29
0