Isak tangis Cyara memenuhi ruangan itu. Terdengar sangat nyaring dan memilukan, sebab bibir itu terus mengucapkan kata maaf dengan bibir yang bergetar. Sementara Dada De sudah terasa basah oleh air mata gadis cantik itu.
De seperti tidak memiliki kekuatan untuk menghempaskan tubuh Cyara, agar terlepas dari tubuhnya. Pria itu hanya bisa mengepalkan tangan di bawah sana, dengan perasaan tak menentu.
Kenapa hatinya malah terusik dengan tangisan pilu itu? Kenapa dia malah merasa kasihan?
Cih, benar-benar merepotkan!
De menelan salivanya dengan berat, dia menarik nafas hingga rongga udara dalam dadanya kembali terisi penuh. Waktu semakin bergulir, sementara di rumah pasti sang ibu sudah mengkhawatirkannya.
Akhirnya dengan terpaksa De mengalah, dia memegang kedua bahu Cyara hingga gadis itu menghentikan tangisnya. Cyara terpaku dan tersadar, bahwa dia telah melakukan tindakan yang memalukan.
Pelan, De menarik tubuh Cyara hingga menyisakan jarak. Dia sudah tidak memedulikan keningnya yang terasa sakit, sekarang lebih baik dia melepaskan Cyara dan segera pulang ke rumah.
"Pergilah, aku sudah memaafkanmu," ucap De dengan suara yang cukup lembut. Namun, masih terasa begitu dingin. Cyara tidak merasakan keramahan pada sikap pria itu. Sebab ini pertama kalinya, De peduli pada seorang gadis yang menangis di depannya.
Padahal dulu dia benar-benar menjadi orang yang angkuh. Pernah suatu saat ada seorang gadis yang mengungkapkan perasaan padanya. Sampai gadis itu menangis, De tetap tidak peduli dan lebih memilih untuk meninggalkannya.
Mendengar ucapan De, Cyara yang semula menunduk, perlahan mengangkat kepalanya. Dia melirik De yang melengoskan wajah. Pria itu menurunkan tangan dari bahu Cyara, lalu melangkah ke arah meja. Berharap setelah ini Cyara segera pergi dari ruangannya.
Namun, dugaan De salah. Gadis manis itu malah kembali merengek di belakang sana. "Tapi aku tidak mau pulang, Om."
Om lagi?
De memejamkan matanya sejenak, kepala pria itu kembali terasa pusing. Bukan hanya karena hantaman pintu, tetapi dia juga merasa sakit kepala karena meladeni Cyara. Apa sebenarnya yang gadis ini inginkan?
De berbalik dengan tangan yang sudah bertolak pinggang. "Lalu kamu mau apa? Kamu memintaku untuk membawamu?"
Tiba-tiba senyum Cyara terbit begitu saja. Dia mengangguk, tanda setuju dengan rencana De. "Iya, Om. Kalau boleh aku ikut ke rumah Om saja. Aku tidak akan nakal, istri Om pasti akan menerimaku."
"Hei, hei, istri apa maksudmu?" tukas De menanggapi ucapan Cyara yang begitu sembarangan. Istri dari mana? Punya kekasih saja belum, bagaimana bisa dia punya istri?
Mendengar bantahan De, Cyara dibuat bingung. Memangnya dia salah bicara? Pria setua ini pasti sudah menikah 'kan? Gadis itu terlihat garuk-garuk kepala. "Memangnya Cia salah?"
"SALAH! KARENA AKU BELUM MENIKAH!" bentak De dengan keras, hingga membuat Cyara kembali berjengit. Kenapa dokter satu ini suka sekali marah-marah? Bukankah seorang dokter harusnya memiliki sikap ramah? Pikir gadis cantik itu.
"Cia minta maaf," sesal Cyara sambil menundukkan kepala. Dia menatap lantai dengan nanar, sementara jari-jarinya memilin ujung baju yang ia kenakan.
"Minta maaf terus. Makanya kalau tidak tahu itu tanya dulu, jangan asal bicara!"
"Iya-iya, Om. Pantas saja tua, suka marah-marah sih," gumam gadis itu tanpa sadar, mulutnya yang ceplas-ceplos mulai tak bisa dikondisikan, membuat tangan sang dokter mengepal, menahan geram.
"Apa katamu?" Suara De kembali meninggi, dia merasa sebal dengan Cyara, tetapi entah kenapa dia juga merasa kasihan.
"Eh, eh maaf, Om, Cia keceplosan."
De mengembuskan nafas kasar. "Sudahlah lupakan! Sekarang aku minta kamu pergi sekarang!" Usir De, mencoba untuk tidak peduli dengan wajah Cyara yang memelas.
"Tapi, Om—"
"Aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu, cepat pergi sebelum aku menyuruh petugas keamanan untuk mengusirmu."
Cyara bergeming, entah kenapa tubuhnya terasa kaku untuk digerakan. Dan lebih anehnya lagi, dia merasa tidak takut De akan bertingkah macam-macam. Cyara percaya sosok pria di depannya adalah salah satu orang baik. Namun, benarkah De tidak bisa menolongnya?
"Om, setidaknya tolong aku malam ini saja." Gadis itu kembali membuat permohonan. Akan tetapi De sama sekali tidak terpengaruh, dia malah mendekat ke arah pintu dan membukanya lebar-lebar memberi isyarat agar Cyara secepatnya keluar dari sana.
Cyara menatap De sebentar, mimik wajah pria itu terlihat sangat serius. Sepertinya Cyara tidak memiliki kesempatan. Gadis itu menunduk dengan mata yang berkaca-kaca, kakinya yang telanjang begitu kotor. Dia memaksa kedua alat gerak itu untuk melangkah keluar.
Sepertinya malam ini, dan malam-malam seterusnya, Cyara akan tidur di jalanan. Sebab dia takut untuk pulang ke rumah.
Cyara mengelap pinggiran matanya yang sudah menggenang. Dia sempat menatap pintu ruangan De, lalu gadis itu kembali melangkah dengan gontai hingga keluar dari rumah sakit.
Gadis itu terlihat kebingungan, sementara tubuhnya sudah terasa sangat lelah. Akhirnya dia memutuskan untuk duduk di pinggiran rumah sakit, dan berniat untuk bermalam di sana.
Namun, baru saja Cyara menutup mata, gadis yang memeluk erat tubuhnya itu mendengar sebuah suara gesekan sepatu pantofel. Pelan, Cyara kembali membuka kelopak matanya, hingga dia bisa melihat sebuah tangan yang terulur dengan telapak yang terbuka.
"Om?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
aphrodite
hahahaha iya bener marah mulu
2024-10-11
0
Ney Maniez
kasian
2024-04-07
0
Juan Sastra
kokDe ggak kasihan sama cya,,aku aja sampai mewek loh om
2023-02-12
1