Sejak bangun pagi , Renjun berulangkali mengoleskan minyak angin di kening dan seluruh sendi-sendinya. Entah bagaimana ia merasa sangat letih pagi ini dan merasa tidak enak badan, padahal kemarin ia masih baik-baik saja.
Niatnya sih Renjun mau izin kepada Mami Wendy untuk tidak pergi ke sekolah, makanya ia berinisiatif berjalan ke kamar Mamanya dibandingkan menyantap sarapan terlebih dahulu.
Dengan langkah yang sedikit lemas dan meriang, ia berjalan pelan ke arah kamar Mama Wendy dan disanalah ia tak sengaja mendengarkan suara perbincangan diantara kedua orangtuanya.
Langkahnya terhenti saat mendengar tangisan pecah Mami Wendy, tangisan yang jarang sekali terlihat di wajah Wendy.
Dengan perlahan-lahan , Renjun mengintip dari lubang pintu kamar yang tampak jelas memperlihatkan Mami Wendy yang sedang menangis dipelukan Papi Chanyeol.
"Aku juga gak nyangka bakal ketemu Winwin lagi, tapi aku bisa melihat ada kebencian dari balik matanya kepadaku. Apa aku benar-benar telah menghancurkan hatinya, mas? Apa aku ini adalah ibu yang jahat sampai buat anakku membentakku seperti kemarin? Apa yang harus kulakukan, mas?" Wendy terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri, bahkan ia tidak memberikan jeda untuk Chanyeol bisa berkata apapun selain memberikan kenyamanan untuk menenangkan dirinya.
Saking terlalu sedihnya, mereka tak sadar kalau Renjun bisa mendengar jelas pembicaraan mereka.
"Aku telah melukai hati anakku sendiri.Apa masih adakah obat yang tepat untuk mengobati lukanya itu, mas?" tanya Wendy lagi.
Sebuah pertanyaan yang merobek perasaan Renjun, tanpa sadar ia telah menumbuhkan perasaan amarah terhadap perilaku Winwin kepada ibunya. Ia tak habis pikir mengetahui kalau Winwin telah melukai hati ibunya seperti ini.
"Aku beneran gak niat meninggalkan dia dengan ayahnya waktu itu, aku cuman terpaksa mas."
"Kamu belum cerita apapun samaku, sekarang kamu boleh cerita apapun denganku supaya kamu bisa berhenti untuk merasa tertekan sendirian seperti ini," tukas Chanyeol yang juga merasa hancur melihat air mata istrinya yang tak berhenti menetes, baginya ia harus mulai memberanikan diri untuk menanyakan masa lalu rumah tangga istrinya sendiri agar ia bisa menemukan solusi untuk menyudahi penderitaan Wendy dan Renjun.
"Maafkan aku mas," lirih Wendy yang tak lagi mengatakan apapun selain kalimat Maaf, sepertinya ia masih belum bisa berterus-terang menceritakan masa lalunya kepada Chanyeol.
Sementara itu, Renjun yang sudah tidak tahan lagi menyaksikan tangisan ibunya langsung pergi dari sana dengan terburu-buru.
Renjun melewati meja makan dengan acuh, suara panggilan Sarang saja tidak dipedulikan olehnya sama sekali.
Dengan buru-buru ia keluar dari rumah, seolah-olah ia segera ingin menemui Winwin untuk memberikan pelajaran pada sang kakak.
"Oppa!!!" suara teriakan Sarang yang terakhir kali di dengar oleh Renjun sebelum akhirnya ia menghilang dari rumah itu.
****
Renjun berjalan terburu-buru memasuki lingkungan Sekolah begitu turun dari taksi , matanya sudah membara dan tak ada lagi ekspresi ramah uang terpancar diwajahnya.
Namun selain itu, wajahnya juga semakin lama semakin pucat tanpa ia sadari tetapi sama sekali tidak lagi digubris olehnya.
Renjun setengah berlari menaiki anak tangga, ia sama sekali tidak perduli dengan tatapan tajam para senior yang menganggapnya tidak sopan karena melewati mereka tanpa salam.
Dan begitu tiba di ambang pintu kelas Winwin, ia melirik sekilas Winwin yang sedang membaca buku di atas meja seperti biasanya sebelum akhirnya ia berlari ke arah papan tulis dan meraih penghapus spidol.
Lalu tanpa rasa takut sama sekali, ia lemparkan penghapus spidol itu tepat di kepala Winwin sama menimbulkan bunyi keras dan mengundang perhatian semua siswa dalam kelas.
Perbuatan tidak sopan Renjun ini jelas saja mengundang kebencian dari semua siswa di kelas, terutama Taeyong dan Lukas .
"Dasar anak sialan!" bentak Taeyong yang berniat ingin memukul Renjun, tetapi langsung ditahan oleh Winwin.
Disamping itu Lukas yang selama ini masih bersabar ingin juga menghantam wajah Renjun dengan tangannya karena telah melukai sahabatnya Winwin, tetapi sekali lagi Winwin berusaha menahan Lukas agar tidak perlu ikut campur.
"Kalian jangan ada yang ikut campur!" geram Winwin seraya melirik ke semua mata yang ada di dalam kelas, sontak dalam sekejap keheningan mulai menyelimuti seisi kelas.
"Dia sudah kurang ajar samamu!" tukas salah seorang siswa yang ada di kelas itu, disusul juga oleh siswa-siswi lain yang sudah datang sejak pagi sebelum kedatangan Renjun.
"Bukan urusan kalian, Diamlah!" bentak Winwin dengan wajah tenangnya, lalu ia memberikan lirikan isyarat kepada Ten yang dibalas anggukan oleh temannya itu.
"Oke Guys, kalian bisa keluar kelas sekarang atau kalian bisa mati kalau tetap disini!" ancam Ten penuh percaya diri, bahkan ia masih sempat-sempatnya menyengir sembari berkacak pinggang.
Siswa-siswi lain dikelas 12-A yang memang sudah mengenal sikap Winwin dan teman-temannya tersebut hanya menurut saja, mereka berhamburan keluar kelas dengan tatapan kesal tetapi tidak berani untuk membantah perintah dari Ten sama sekali.
"Cepat keluar sekarang!" teriak Ten lagi , disusul oleh langkah kaki yang mulai bergerak meninggalkan kelas sampai meninggalkan Winwin dan segerombolan teman-temannya saja.
"Jaga di luar, pastikan gak ada yang masuk termasuk juga guru!" perintah Winwin yang hanya dituruti oleh Ten saja. Sementara itu Winwin langsung berjalan mendekati Renjun dengan tatapan penuh amarah.
Namun langkah itu semakin lama mulai cepat dibarengi oleh tatapan sinis yang akan siap memintanya mangsanya. Dan benar saja, tanpa perlu hitungan detik tubuh Renjun di dorong keras ke arah papan tulis oleh Winwin.
Lalu tanpa mengatakan apa-apa, Winwin yang sudah dikuasai nafsu kemarahan langsung mencengkram kerah baju Renjun.
"Sekali lagi kau bersikap kurang ajar, bakal kupatahkan lehermu ini!" ancam Winwin yang kini tidak lagi berniat lembut pada adiknya itu.
"Kau yang harusnya berhenti kurang ajar, Hyung!" tukas Renjun yang masih dikuasai oleh Amarah dengan tatapan yang Sangat tidak pernah diinginkan oleh Winwin sama sekali.
"Kau yang selama ini bersikap kurang ajar denganku!" bantah Winwin yang semakin mencengkram keras tangannya sampai membuat robekan pada bagian sudut kerah baju Renjun.
"Kau harusnya gak bersikap kasar dengan Mami, apa kau tahu rasanya melihat Mami menangis karenamu?" tanya Renjun dengan nada sedikit meninggi dan hentakkan gigi yang mulai geram.
"Kau itu terlalu naif, sudah kubilang kan kalau sampai kapanpun aku bukan bagian dari keluarga terkutuk itu lagi dan aku juga gak akan pernah merasa menyesal sekalipun kehilangan salah satu diantara kalian!" bentak Winwin yang suaranya jauh lebih meninggi daripada Renjun, sampai membuat teman-temannya terbungkam tanpa menyeringai lagi.
Kali ini suasana kelas mulai menggelap, aura kebencian yang tidak lagi dapat tergambarkan dari sosok Winwin sampai membuat teman-temannya memilih berdiri didekat pintu untuk memberikan ruang lebih luas kepada Winwin.
"Jadi berhenti bersikap seenaknya atau aku akan membunuhmu!" ancam Winwin kembali, ia bahkan sudah bersiap-siap mengepal tangan kirinya.
"Kau lebih buruk daripada binatang, Hyung!" pekik Renjun yang semakin menaikan emosi Winwin, lalu dalam hitungan detik Kepalan tangan Winwin mulai mengeras dan bersiap memukul wajah adiknya itu.
Akan tetapi, saat akan mendaratkan pukulan itu ke wajah Renjun tiba-tiba saja tetesan darah mengalir turun dari hidungnya Renjun sampai mengenai cengkraman tangan Winwin.
Winwin buru-buru melepaskan cengkramannya dari Renjun dan melirik tangannya yang terkena darah bewarna merah segar.
Kini kemarahannya mulai runtuh dalam sekejap, entah perasaan apa yang saat ini dirasakannya terhadap sang adik selan perasaan takut.
"Apakah penyakit itu kambuh lagi?" tanya Winwin yang mulai berjalan mundur untuk memberikan jarak diantara mereka.
Renjun bisa melihat perasaan takut dan bayangan kesedihan dibalik raut wajah Hyungnya, ia sampai merasa bingung ingin mengatakan apapun dan langsung menghapus darah di hidungnya dengan tangan.
Sialnya darah itu tak kunjung berhenti dan semakin membuat wajahnya belepotan darah.
"Harusnya aku udah sembuh, harusnya -" kalimatnya berhenti saat melirik pada Winwin yang hanya menatapnya saja tanpa mengatakan apapun dengan kedua tangan yang gemetaran.
Tampak jelas ada perasaan takut yang jauh lebih besar di dalam diri Winwin dibandingkan rasa takut Renjun, bahkan Lukas saja sampai menyadari hal tersebut tetapi ia memutuskan untuk tetap menahan teman-temannya yang lain agar tidak mencampuri urusan Winwin dan Renjun saat ini.
"Aku...aku -" Renjun langsung berlari meninggalkan Winwin saat itu juga tanpa berniat menyelesaikan kalimatnya, ia melewati gerombolan Lukas Dan yang lainnya seraya mencupit hidungnya.
Sementara itu Winwin masih terdiam mematung menatap papan tulis sambil membiarkan tubuhnya terduduk di lantai.
Winwin bergumam pelan sambil melihat tetesan darah yang terjatuh di dihadapannya, "Harusnya ia gak menderita lagi, kenapa harus kambuh lagi?"
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Yuta yang ingin mendekati Winwin, tetapi langsung ditahan oleh Lukas.
"Biarin aja dulu, kasih waktu 10 menit untuk dia menyendiri sebelum bel masuk!"
"Tapi gimana sama teman yang lain? Mereka mau masuk kelas loh," ucap Taeil.
"Biarin aja masuk, Tutupi aja dulu Winwin pakai jaket si Ten supaya gak menghancurkan reputasinya." Lukas berusaha bersikap tenang melihat temannya yang sudah kehilangan akal hanya karena melihat adiknya mimisan.
"Oke," ucap Taeil yang dibarengi oleh siswa lainnya. Untungnya semua teman Winwin tampak menghormatinya dan bersiap melindungi harga diri Winwin saat ini.
Mereka tidak ingin semua siswa lain melihat Winwin yang terduduk mematung dengan darah disekitar tangannya seperti orang aneh, mereka akan selalu melindungi Harga diri Winwin sebagai seorang sahabat sejati selayaknya Winwin yang menghargai usaha mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments